
Sesampainya di rumah Hanin, sudah banyak sekali orang yang berdatangan untuk mempersiapkan dekorasi dan beberapa perlengkapan lainnya.
"Kak, badan Caca kenapa kayak berat banget ya?" tanya Echa yang kini melangkahkan kaki masuk kedalam rumah Hanin.
"Caca ngeliat apa aja di kantor?" tanya Bara sembari mengelus punggung Echa.
"Perasaan gak ngeliat yang jahat banget," jawab Echa yang kini mulai merasakan mual ketika Bara mengelus punggungnya.
"Sakit kak..." ucap Echa ketika merasakan tubuhnya seperti terbakar dan ditusuk banyak pisau.
"Tahan sebentar," ujar Bara yang masih mengelus punggung Echa.
Echa menggenggam erat tangan Bara sembari memejamkan matanya,dia belum pernah merasakan sakit yang begitu luar biasa seperti ini.
"Hihihi...." Tawa yang melengking keluar dari mulut Echa.
"Engga, Caca gak mau," ucap Echa yang kini memeluk tubuh Bara.
Echa merasakan sedang di kelilingi oleh mahluk berwarna hitam yang sangat tinggi bahkan dia tidak bisa melihat bagaimana rupanya. Dia tahu akan dibawa kemana, kealam mereka dan Echa tidak akan bisa kembali lagi jika sudah di kelilingi seperti itu.
Sesak dan sakit menyatu di dadanya, Echa seolah di paksa untuk tidak bernafas dan itu sangat sakit.
Bara masih terus mengelus punggung Echa. "Ca."
Echa masih memeluk tubuh Bara sembari mengatur nafasnya. Dia seolah mendapatkan udaranya kembali.
"Udah gak apa-apa," ucap Bara sembari mengelus kepala Echa.
"Takut dibawa lagi," ujar Echa sembari menatap Bara.
"Engga," ucap Bara.
"Caca." Panggilan itu mampu membuat Echa dan Bara menatap kearah sumber suara. "Kenapa diluar? Ayo masuk kedalam."
Echa melepaskan pelukannya. "Bentar Nin, lagi nunggu Irina dulu."
"Nathan ada di dalam gak, Nin?" tanya Bara.
__ADS_1
"Ada, lagi di kamarnya." jawab Hanin.
"Ca, kakak keatas dulu," ucap Bara sembari melangkahkan kakinya setelah mendapat anggukan dari kekasihnya itu.
"Itu Irina sama Devan," ucap Echa ketika melihat motor Devan yang masuk ke halamannya.
Hanin menyipitkan matanya ketika melihat wajah Irina. "Lho, kok mirip kak Mira ya? Apa cuman perasaan Hanin aja?"
"Caca juga pertama kali liat gak percaya, tapi ya emang mirip kalau di liat-liat, apalagi kalau Deket," ucap Echa ketika melihat Irina mendekat kearahnya.
"Hai kak," sapa Irina dengan senyuman manisnya.
"Hanin," ucap Hanin yang juga membalas senyuman Irina.
Rasanya seperti tidak percaya bahwa wanita ini mirip sekali seperti Mira. Bahkan Hanin juga merasakan sudah lama kenal dengan Irina padahal batu pertama kali, auranya juga bagus sekali.
"Irina."
"Btw masuk yuk," ajak Hanin sembari menggenggam tangan Irina. Diikuti Echa.
"Gimana dibonceng sama Devan?" tanya Echa sembari tertawa pelan.
"Hanin udah bilang kan, Ca. Kenapa gak nyuruh Rey aja? Devan kalau naik motor emang suka ngajak mati, iya kan Ri?" tanya Hanin.
"Iya Kak," ucap Irina.
"Vivi sama shiren belum kesini, Nin?" tanya Echa ketika tidak melihat keberadaan kedua sahabatnya itu.
"Tadi kesini sebentar, tapi sekarang pulang dulu." jawab Hanin.
Saat ini mereka sudah berada di kamar Hanin, nuansa berwarna biru langit begitu melekat di kamar ini. Rasanya sangat tenang.
"Irina nyaman pake baju kantor kayak gitu?" tanya Hanin ketika melihat pakaian Irina yang terlihat formal.
Irina menatap kearah Hanin sembari menggelengkan kepalanya.
"Yaudah pake baju Hanin aja, mandinya di kamar mandi yang ada di kamar tamu," ucap Hanin sembari memberikan baju yang dia miliki kepada Irina.
__ADS_1
"Gak apa-apakan kak?" tanya Irina terlihat tidak enak.
"Santai aja, kita kan sekarang udah kenal, pake aja," jawab Hanin sembari tersenyum.
"Makasih ya kak," ucap Irina. "Kamar tamu nya dimana?"
"Di sebelah kamar ini," ucap Hanin.
Irina yang mendapat perkataan seperti itu menganggukkan kepala sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hanin.
"Eh Ca, kenapa bisa mirip kayak gitu?" tanya Hanin bingung.
"Caca juga gak tau, Kak Bara yang nemuin Irina." jawab Echa. Dia kembali merasakan tubuhnya sakit dan mual.
"Are you okay?" tanya Hanin ketika melihat wajah Echa tidak seperti biasanya.
Echa menggelengkan kepalanya, dia menggenggam tangan Hanin seolah ingin memberitahu apa yang dia rasakan saat ini.
"Pas Caca mau masuk juga ngerasain ini sebelumnya, tapi udah kak Bara keluarin, sekarang kerasa lagi." jelas Echa ketika Hanin sudah merasakan apa yang dia rasakan.
"Caca ngeliat apa aja?" tanya Hanin.
"Caca cuman liat perempuan pake gaun terus banyak darah tapi tubuh dia juga basah," jawab Echa.
"Terus apa lagi?" tanya Hanin.
"Caca juga sekilas liat bayangan item, kayak lewat gitu aja, gak terlalu mikirin sosok item itu, terus Caca coba komunikasi sama sosok yang pake gaun ini, tapi dia gak mau," jawab Echa yang masih merasakan sakit dan mual di tubuhnya.
"Coba mediasi, panggil sosok yang buat Caca ngerasa kayak gini," ucap Hanin sambil menggenggam tangan Echa. "Jangan lepasin tangan Hanin juga sebelum mediasi nya selesai."
Echa menarik nafasnya panjang sembari memanggil sosok yang sudah membuat tubuhnya seperti ini.
"Saya takut, tolong saya," ucap Echa yang sudah di rasuki oleh sosok bergaun yang dia lihat di kantor bara.
"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Hanin.
"Saya takut," jawab sosok tersebut sembari melihat kesana kemari seolah dirinya diawasi.
__ADS_1
"Tidak perlu takut, kamu aman disini, kamu bisa cerita apa yang kamu rasakan?" tanya Hanin sembari menenangkan sosok tersebut.