TEROR

TEROR
|85| PERGI


__ADS_3

"Bolehkah saya berbicara sebentar dengan anda?" tanya Hanin sambil menatap sekeliling ruangan yang ditempati oleh beberapa sosok anak kecil.


Echa, Hanin, Ivy dan Shiren sengaja memasuki ruangan itu ketika mendengar cerita Echa, mereka merasa iba. Ini waktu yang tepat bagi mereka untuk mengeluarkan anak kecil yang ditahan pergi oleh sosok mengerikan.


Namun tetap tidak ada jawaban dari sosok yang menahan anak kecil itu. Padahal, Hanin sudah beberapa kali memanggil sosok tersebut.


"Baiklah jika tidak ada jawaban maka aku akan membawa semua anak kecil yang ada disini untuk pergi." ucap Hanin.


"Jangan. Aku tidak akan membiarkan kalian membawa anak-anak itu pergi dari sini." ujar Shiren dengan suara yang terdengar berat.


Kompak semua orang yang berada di ruangan itu menatap kearah Shiren yang sedang dirasuki oleh sosok mengerikan.


Tubuh nya tinggi, tangannya panjang, menggunakan gaun indah namun sudah lusuh dan hanya terlihat tulang-tulangnya saja. Mungkin karena semasa hidupnya dia terlalu sombong dan angkuh. Dia selalu membuat kedua orang tuanya sakit hati atas setiap ucapan dan tingkah lakunya.



"Kenapa? Mereka anak kecil, yang tidak bersalah. Biarkan mereka pergi." ucap Hanin yang kini menatap kearah Shiren.


"Mereka yang datang kepadaku, bukan aku yang mengurungnya." ujar Shiren yang masih dirasuki oleh sosok penjaga anak kecil itu.


"Karena kamu berubah menjadi kedua orang tuanya, itu adalah salah satu kelemahan mereka." ucap Hanin menatap tajam kearah Shiren.


"Aku takut sendiri.." ujar sosok yang berada di dalam tubuh Shiren.


"Itu hukumannya, kamu sering menyakiti orang bukan? Tunggu saja proses nya, kamu pasti akan dijemput." ucap Echa menatap kearah sosok yang berada di dalam tubuh Shiren.


"Kapan? Aku selalu menunggunya tapi tidak ada yang menjemput ku." ujar Shiren sambil menundukkan kepalanya.


"Lepaskan anak kecil itu, maka proses pergi mu akan semakin cepat." ucap Ivy.


"Tidak. Mereka pergi aku pun harus pergi." ujar Shiren menatap tajam kearah Ivy, Hanin dan Echa secara bergantian.


"Kamu tahu apa yang membuat mu lupa wujud aslimu?" tanya Echa.

__ADS_1


"Aku memang sudah begini, aku sering menatap diriku sendiri di cermin dan ini adalah wajahku." jawab Shiren dengan tatapan mengerikan.


"Tidak, wajahmu sangat cantik, wajahmu berubah karena kamu sering memarahi anak kecil yang tidak berdosa," ucap Echa menatap lekat mata sosok yang ada didalam tubuh Shiren.


"Aku akan ikut pergi jika mereka pergi." ujar Shiren.


"Kamu bisa pergi, lepaskan anak kecil itu maka prosesmu akan cepat, percaya pada kami, ini bukan pertama kalinya." ucap Hanin meyakinkan sosok tersebut bahwa dia akan pergi setelah hukumannya sesuai yang telah dikerjakan semasa hidupnya.


"Tapi aku tidak akan memiliki teman, aku tidak bisa sendiri disini.. " ujar Shiren.


"Kamu bisa pergi disini, cari teman mu di luar." ucap Hanin.


"Aku bisa keluar?" tanya Shiren antusias.


"Iya, keluar saja, tapi ingat jangan pernah menganggu orang atau bahkan jahil." jawab Hanin yang masih menatap lekat mata Shiren, untuk mencari kebohongan melalui mata sosok yang berada didalam tubuhnya. Namun, Hanin sama sekali tidak menemukan kebohongan dalam sosok tersebut.


Wajah dan ketegasannya saja yang mengerikan, tapi ternyata jauh di dalam sosok itu ada kehampaan yang mendalam.


Echa dapat merasakan hampa, sepi, sunyi dan kosong di dalam hati sosok tersebut seperti tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain melihat anak-anak kecil dengan tawanya yang membuat sosok itu menahan mereka.


"Aku janji." ucap Shiren sambil tersenyum.


Mereka sempat berpikir, bahwa sosok yang menjaga ruangan sekaligus sosok anak kecil itu adalah sosok yang sulit untuk diajak bernegosiasi, tapi ternyata tidak sesulit itu. Pikirannya terlalu banyak beranggapan buruk, namun itu akan menjadi pelajaran untuk kedepannya.


"Baiklah, silahkan pergi, aku akan mengantar anak kecil itu untuk segera pulang." ujar Hanin sambil tersenyum.


"Apa aku akan pulang?" Tanya Shiren yang kini senyumannya sudah luntur.


"Tentu saja, kamu pasti akan pulang." jawab Echa sambil tersenyum.


"Terimakasih.." ucap Shiren.


Wosh..

__ADS_1


Tiba-tiba saja sosok yang berada di dalam tubuh Shiren langsung keluar dari dalam tubuhnya ketika sudah mengucapkan kata terimakasih.


"Hufth... Akhirnya.." ucap Ivy sambil menghela nafasnya panjang, seolah ada kelegaan di dalam hatinya.


"Sekarang waktunya mengantar anak kecil itu." ujar Hanin.


Shiren dan Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil memejamkan mata memanggil nama sosok anak kecil agar bisa masuk kedalam tubuh mereka berdua.


"Kenapa dia?" tanya Echa yang sedang dirasuki oleh sosok bernama Fia.


"Tidak perlu takut, dia sudah pergi, sekarang giliran kalian yang pergi" jawab Hani sambil tersenyum manis dihadapan Echa.


"Kemana kita akan pergi? Bagaimana dengan teman-teman kita yang lainnya? Apa hanya kita saja?" tanya Shiren yang sedang dirasuki oleh sosok anak kecil bernama Geon.


"Ketempat yang seharusnya, teman-teman kalian pun akan ikut." jawab Ivy yang kini berada dihadapan Shiren.


"Tapi bagaimana dengan ibu dan ayah? Mereka akan baik-baik saja kan?" tanya Fia menatap kearah Hanin.


"Tentu saja. Mereka sudah baik-baik saja sekarang, tidak usah khawatir." jawab Hanin.


"Apa ibu menyayangiku?" tanya Geon menatap kearah Ivy dengan tatapan sedih.


"Tidak usah memikirkan mereka, lupakan semuanya, kamu mau kan memaafkan ayah dan ibu?" tanya Ivy sambil tersenyum menatap mata Shiren.


"Ibu dan ayah tidak salah padaku, jadi aku tidak perlu memaafkan mereka, harusnya aku yang meminta maaf pada mereka karena sudah menjadi anak yang tidak berbakti." jawab Geon dengan tatapan polosnya.


"Maka maafkanlah dirimu sendiri," ucap Ivy sambil tersenyum. Shiren menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ketika mendapat perkataan seperti itu dari Ivy.


"Mari kita pergi," ujar Hanin sambil menatap kearah Ivy seolah memberi kode untuk melakukannya sekarang, Ivy yang mengerti dengan tatapan Hanin itu menganggukkan kepalanya seolah dia sudah siap.


"Selamat tinggal.." ucap Hanin sambil memegang punggung Echa, mengantarkan sosok anak kecil bernama Fia itu pergi dari gedung ini. Begitupun dengan Ivy, dia menekan tepat di jantung Shiren untuk mengantarkan anak laki-laki bernama Geon pergi dari sini.


Mereka melakukan hal yang sama pada beberapa sosok anak kecil yang lainnya, mereka pergi dengan senyuman tercetak dibibirnya, tidak ada beban apapun, bahkan mereka sama sekali tidak benci atas perbuatan kedua orang tuanya kepada mereka.

__ADS_1


Rasanya seperti ada kelegaan tersendiri ketika mengantar mereka pergi, apalagi sosok yang mereka antar adalah sosok anak kecil yang sangat menggemaskan. Anak kecil itu melambaikan tangan kearah Hanin, Echa, Shiren dan Ivy sambil berterimakasih dengan senyuman yang sangat manis.


__ADS_2