
Setelah sarapan, Echa dan Bara berangkat ke rumah sakit untuk membantu bunda An membereskan barang-barang Aira. Dokter sudah memperbolehkan Aira untuk pulang, karena ketika di check kembali, tidak ada penyakit apapun ditubuh Aira.
"Bunda, biar Caca aja yang beres-beres, Bunda istirahat ya," ucap Echa yang melihat bunda An sudah kelelahan.
"Enggak, Ca. Bunda kuat kok," ujar Bunda An sambil tersenyum manis, seolah dirinya memang baik-baik saja.
"Mama... Udah istirahat aja, Aira tau Mama capek," ucap Aira melihat kearah bunda An yang sedang memegang kepalanya.
"Enggak sayang... Mama baik-baik aja, kasian kak Caca kalau beres-beres sendiri," kata bunda An meyakinkan Aira bahwa dirinya memang baik-baik saja.
"Bunda, istirahat aja ya, tinggal sedikit lagi beres-beresnya juga, Caca mohon ya..." ucap Echa sembari menuntun Bunda An agar duduk di sofa.
Bunda An mengikuti ucapan Echa, dia paling tidak bisa menolak calon menantunya itu. Bahkan, jika Echa lecet sedikit saja maka Bara yang akan di marahi habis-habisan. Buktinya, saat Echa datang keruangan Aira dengan dahi yang terluka sedikit, satu ruangan sudah heboh dengan suara menggelegar milik bunda An.
"Bara sama Ayah udah pulang?" tanya bunda An sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Bara dan Daniel pergi keluar untuk mengurus administrasi dan ada beberapa obat yang harus dibeli, agar Aira cepat pulih.
"Belum," jawab Echa sambil membereskan barang-barang yang masih berserakan.
"Mama... Mama gak apa-apa kan?" tanya Bara yang berada di ambang pintu sembari menenteng kantung plastik berisi obat.
"Mama gak apa-apa," jawab Bunda An menatap kearah Bara yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"Mama udah makan, Ca?" Tanya Bara sambil duduk di samping bunda An.
"Udah, tapi sedikit" jawab Echa.
"Ma.. kenapa sedikit?" tanya Bara sembari menatap kearah bunda An yang sedang memejamkan matanya.
Bunda An yang sedang memejamkan matanya itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Namun saat Bara ingin mengucapkan sesuatu, Echa langsung menatap kearah Bara sambil menggelengkan kepalanya, seolah berkata untuk 'jangan di paksa.'
Echa tahu betul bagaimana bunda An, wanita tangguh yang mampu membagi waktu, antara pekerjaan dan keluarganya itu paling tidak suka di paksa.
"Bara. Ikut papa." ucap Daniel yang berada diambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Bara yang sedang duduk di samping bunda An langsung beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti Daniel. Sedangkan Echa kembali mengemas beberapa barang yang belum ditata rapi.
Daniel membawa Bara ke taman yang sama sekali tidak banyak di lalui oleh orang-orang.
"Kamu apakan uang 5 Miliar?" tanya Daniel pelan namun menusuk.
"Di pake." jawab Bara.
"Kenapa sampai habis 5 Miliar? Papa liat rekening kamu, coba untuk tidak boros, Bara!" bentak Daniel menatap tajam kearah Bara.
"Pa, itu uang Bara. Jadi, terserah Bara." ucap Bara dengan tatapan dingin andalannya.
Inilah Daniel, selalu saja sensitif tentang uang. Uang memang membawa kebahagiaan namun uang juga akan menghancurkan segalanya.
"Papa kerja keras urus 3 perusahaan secara sekaligus dan kamu sama sekali gak ngehargain kerja keras itu?" tanya Daniel ketika Bara mulai berani menatapnya.
"Oke, mau papa sekarang apa? Papa mau lepas perusahaan itu ke Bara? Bara siap pa." jawab Bara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu? Ngurus perusahaan? Udah sejauh mana pengetahuan kamu?" tanya Daniel dengan tatapan mengejek kearah Bara.
"To the point aja, Pa. Papa mau apa? Mau gimana? Yang pasti uang 5 Miliar itu gak Bara pake foya-foya." jawab Bara dengan tatapan seperti elang yang akan menerkam mangsanya.
Meskipun berulang kali Daniel mengucapkan kata maaf, ayahnya itu akan tetap mengulangi hal yang sama, lagi.
"Papa cuma minta kamu jangan boros. Kamu gak tahu gimana kerasnya dunia bisnis." jawab Daniel.
Jika ditanya, berapa kali Daniel pulang? Hampir tidak memiliki waktu untuk pulang, karena bagi Daniel yang adalah anaknya.
Daniel memang baik hati, namun dia gila akan pekerjaan. Daniel tidak akan membiarkan keluarganya susah, namun dia membiarkan keluarganya tumbuh tanpa kasih sayang utuh.
"Perlu Bara tegasin berapa kali pa? Uang itu punya Bara." ucap Bara dengan penuh penekanan.
Plak..
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Bara, kulit putih itu meninggalkan jejak tamparan berwarna merah dengan sudut bibir yang kembali berdarah.
Bara hanya tersenyum sinis sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, inilah Daniel. Dia akan melakukan kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Sampai dia benar-benar bisa mengendalikan semuanya, terutama uang.
__ADS_1
"Apa perlu papa jodohin kamu sama perempuan yang lebih hemat, lebih pinter jaga uang, lebih tau mengelola uang dari Caca?" tanya Daniel dengan tatapan penuh amarah.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Daniel mampu membuat Bara menatap ayahnya tajam dengan tangan yang mengepal kuat.
Bara tidak akan pernah melepas Echa, gadis cantik, lugu, sabar dan tabah itu mampu mengubah pribadi Bara menjadi lebih baik. Dia tidak akan melepas calon istri pilihan ibunya, hanya demi ayahnya yang sama sekali tidak akan pernah mengerti dimana letak kebahagiaan anaknya.
"Pa, cukup! Papa tampar Bara, Bara terima. Papa gak pernah pulang, Bara maklumin. Papa selalu gak ngerti mama, Bara yang gantiin papa. Diri papa mana lagi yang harus Bara ngertiin, pa?" tanya Bara dengan amarah yang sudah tidak bisa di tahan lagi. "Dari pada Papa jodohin Bara sama perempuan selain Caca, mendingan papa jodohin uang papa sama perusahaan yang gak ngerugiin papa." Bara masih menatap tajam kearah Daniel yang sedang dipenuhi oleh amarah. "Selama ini Bara diem, pa. Tapi kali ini, Bara gak bakalan diem. Papa bisa ngatur keuangan, tapi papa gak bisa ngatur kehidupan Bara."
"Kamu..." ucap Daniel tertahan ketika Bara menyela ucapannya itu.
"Apa pa? Tampar Bara sampai papa puas, setelah itu papa gak boleh nentuin kehidupan Bara. Biar Bara sendiri yang tentuin kehidupan Bara sendiri!" ujar Bara dengan tatapan dingin. "Dan sekarang Bara tau gimana papa. Uang. kasarnya, itu yang bisa beli waktu papa kan?" tanya Bara menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
Meskipun Bara laki-laki, apa dia tidak boleh menangis? Bara benar-benar lelah dengan perlakuan ayahnya itu, bahkan Bara terus bertanya pada dirinya sendiri. Apa Daniel benar ayah kandungnya?
PLAK..
satu tamparan yang sangat keras kembali mendarat di pipi Bara, perih. Itu yang saat ini Bara rasakan. Entah itu fisik maupun batin, dua-duanya sedang perih.
"Kamu emang anak yang gak tau di untung! kamu anak gak tau diri!" bentak Daniel.
Kalimat yang singkat itu terdengar sangat indah di telinga Bara, bagaikan sebilah pisau yang sedang menari-nari diatas hatinya. Hanya karena uang 5 Miliar? Daniel berani mempertaruhkan hubungan dengan anaknya.
"Udah? Puas?" tanya Bara sambil menundudukkan kepala dengan mata yang sudah meneteskan air mata.
"Papa serahin perusahaan yang Oma kamu waris, dalam waktu satu bulan, kamu harus bisa kembaliin uang 5 Miliar itu." jawab Daniel dengan tangan mengepal kuat.
"Oke. Bara bayar uang 5 Miliar itu. Asal papa tau, uang 5 Miliar itu gak ada artinya buat Bara, kalau Bara gak keluarin uang itu, Aira tinggal nama." ucap Bara.
Bara sudah tahu tentang Aira dari cerita Echa. Jika tidak ada Qiara, mungkin saat ini jasad Aira sudah bersatu dalam tanah, namun roh nya masih hidup.
Plak..
Lagi dan lagi, Daniel kembali menampar pipi Bara yang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya karena ulah dari tangan Daniel.
"Kamu tahu berapa biaya untuk pengobatan Aira?" tanya Daniel dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Uang lagi, pa? Apa nyawa serendah itu buat papa? Ternyata bener ya, waktu Papa buat keluarga cuman bisa dibeli sama uang." jawab Bara sambil menatap tajam kearah Daniel dengan air mata yang sama sekali tidak bisa berhenti keluar. "Mulai detik ini, Papa gak berhak ngatur keuangan Bara apalagi sampai ngatur kehidupan Bara."
__ADS_1
Bara melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Daniel, dia sudah tidak ingin lagi berdebat dengan ayahnya itu. Daniel kembali membangkitkan diri Bara yang dulu. Namun, yang Bara butuhkan saat ini adalah Echa. Ya, itu nama yang melintas dalam pikiran Bara saat ini. Dia harus segera bertemu Echa sebelum Bara kehilangan kendali lagi.