TEROR

TEROR
|68| TENANG


__ADS_3

30 menit telah berlalu Echa sudah bangun dari tidur siangnya, dia tidak pernah lama-lama jika tidur siang terlalu lama itu akan membuat kepalanya pusing.


Echa masih sedikit kesal dengan Bara ketika perempuan bernama Keyla itu dibiarkan bergelayut manja.


Inilah Echa, ketika marah dia lebih memilih diam karena jika meluapkan semuanya, dia takut ada kata yang bisa membuatnya menyesal. Seperti kata putus.


Bara memang tidak bersalah sepenuhnya tapi tetap saja ada rasa sakit didalam hatinya, nanti juga Echa akan kembali baik-baik saja setelah mengoreksi bagian mana saja yang harus dia perbaiki ketika menghadapi situasi seperti ini.c


Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk melihat taman yang ada disekitar gedung dan itu adalah self healing terbaik menurutnya.


Sesampai nya di taman yang tidak jauh dari gedung Echa mendudukkan dirinya di kursi taman sambil menikmati pemandangan yang memanjakan mata.


Caca gak marah cuman mau tenangin diri dulu, rasanya sakit.


Kalau Caca di posisi kakak, Caca juga gak bakalan bisa ngapa-ngapai, apalagi ada Tante Mala sama om Ferdi.


Echa terus bergulat dengan hatinya, dia hanya sedang menenangkan hatinya saja dari rasa sakit.


Dia menghela nafasnya panjang sambil tersenyum manis, ternyata ngeliat kedalam diri orang lain itu perlu.


"Hai." Sapa seseorang. Echa yang mendengar sapaan tersebut tidak jauh dari tempatnya duduk langsung menoleh kebelakang.


"Eh hai, kamu temennya Algi kan?" Tanya Echa ketika melihat pria yang menyapanya itu adalah salah satu teman Algi.


Pria bertubuh tinggi, berparas tampan, memiliki mata yang indah dan pesona yang memikat itu mendudukkan dirinya disebelah Echa namun masih memiliki jarak.


"Iya." Jawab pria tersebut sambil menatap pemandangan didepannya.


"Rayhan." Sambung pria tersebut sambil tersenyum manis kearah Echa.


"Caca." Ucap Echa yang juga membalas senyuman pria yang menyebut namanya sebagai Rayhan.


"Are you okay?" Tanya Echa ketika melihat senyuman yang tercetak di bibir pria di sampingnya itu.


Echa bisa membaca pikiran sekaligus membaca raut wajah yang ditampilkan Rayhan ketika sedang menatap lurus kedepan.


"Not fine." Jawab Rayhan.


"Why?" Tanya Echa.


"Susah, rasanya egois ketika harus menyalahkan satu pihak." Jawab Rayhan sambil tersenyum pedih.

__ADS_1


Echa dapat melihat deretan kejadian dirumah Rayhan, adiknya yang memiliki kesehatan psikologis yang tidak baik karena ditinggal oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab, ibunya yang berfoya-foya hingga lupa memiliki anak dirumah sedangkan ayahnya sering bermain dengan wanita lain dan itu dirumahnya sendiri.


Keluarganya bisa dibilang orang berada, rumah mewah, barang branded, mobil berjejer, motor keluaran terbaru pun berjajar rapih tapi sayangnya kehidupan didalam rumah itu tidak serapih fasilitasnya.


Rayhan tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, sempat ingin mengakhiri hidupnya beberapa kali tapi itu bukan jalan terbaik.


"Keluarin aja gak apa-apa, kalau capek, berat, rumit nangis aja, itu bukan suatu kelemahan bagi Caca tapi itu adalah sebuah kekuatan karena kita udah bertahan sejauh ini ditengah keadaan yang gak baik." Ucap Echa sambil menatap kearah depan.


Rayhan yang mendengar perkataan Echa itu langsung menatap gadis yang berada di sampingnya.


Cantik. Ucap Rayhan dalam hati.


Ternyata jika dilihat sedekat ini cantik, tidak hanya parasnya saja yang cantik hatinya juga cantik. Echa yang dapat membaca pikiran itu hanya bisa tersenyum.


"Kayaknya kalau teriak enak ya?" Tanya Echa ketika Rayhan terus menatapnya.


"Teriak?" Tanya Rayhan bingung.


"Apa yang ada dihati, entah itu marah, kecewa, sakit, sesak, berat, lelah sedikit terobati dengan teriak." Jawab Echa sambil menggenggam tangan Rayhan, membawa lelaki itu menuju ke tepi danau yang ada di taman tersebut.


Sesampainya di tepi danau Echa langsung melepaskan genggam tangannya, menatap kearah Rayhan yang seolah berbicara kenapa?


"Entah itu amarah, rasa sakit, kecewa, lelah, ingin mengakhiri hidup coba simpen di dalam hati, semua memori tentang rasa sakit dan kecewa itu bermunculan secara tiba-tiba. Sakit kan?" Tanya Echa ketika melihat Rayhan sudah meneteskan air matanya.


"Sakit banget." Jawab Rayhan membiarkan air matanya tumpah dihadapan Echa.


"Keluarin semuanya, teriak sekeras-kerasnya, keluarin semua beban yang ada dihati." Ucap Echa.


"Buka matanya, kita teriak sama-sama." Sambung Echa.


Rayhan langsung membuka matanya menatap kearah Echa yang sedang melihat kearah danau berteriak dengan suara yang lantang seolah benar-benar mengeluarkan beban yang ada dihatinya Rayhan pun mengikuti hal sama seperti yang Echa lakukan.


"Lega?" Tanya Echa ketika Rayhan sudah selesai dengan teriaknya itu.


"Udah." Jawab Rayhan sambil tersenyum manis, senyuman tanpa beban.


"Laki-laki itu harus kuat, bahunya gak boleh sampai luruh, langkahnya harus tangguh, pendiriannya gak boleh goyah." Ucap Echa sambil tersenyum.


"Tapi semua orang itu punya kekuatan, ketangguhannya masing-masing, suatu saat bener-bener berada di titik bawah teriak aja di tempat yang tenang kayak gini." Sambung Echa.


"Makasih." Ujar Rayhan.

__ADS_1


"Sama-sama, Caca pergi dulu. Makasih udah mau kuat sampai sejauh ini." Ucap Echa sambil menghapus air mata Rayhan dan melangkahkan kakinya pergi.


Rayhan menatap punggung gadis yang baru saja membuatnya tenang dari segala bimbang.


"Caca." Gumam Rayhan sambil menatap kearah Echa.


Namun tiba-tiba saja Rayhan melihat Echa yang ditarik paksa oleh Algi.


"Lepasin Caca." Ucap Echa ketika pergelangan yang terlukanya itu ditarik paksa oleh Algi.


"Ikut sebentar." Ujar Algi yang masih menarik tangan Echa.


"Algi! Sakit." Ucap Echa ketika perban yang ada di pergelangan tangannya itu kembali basah karena darah.


"Sebentar Ca, aku mau ngomong." Ujar Algi.


"Biasakan lepasin tangannya?" Tanya Echa.


"Kamu suka pergi gitu aja." Jawab Algi yang masih menggenggam pergelangan tangan Echa kuat.


"Algi, lepasin dia." Ucap Rayhan yang berada di belakang Echa.


"Ngapain Lo?" Tanya Algi ketus.


"Lepasin dia, Lo gak liat dia terluka?" Tanya Rayhan yang melihat perban di tangan Echa berwarna merah.


"Itu bisa diobatin lagi, Lo gak usah ikut campur sama urusan gue." Jawab Algi.


"Gue gak pernah ikut campur sama apapun tentang yang Lo lakuin tapi kali ini Lo sama sekali gak ngehargain cewek dan Lo tau hal itu. Gue gak suka sama orang yang kasar sama cewek." Ucap Rayhan sambil menepis tangan Algi dari pergelangan tangan Echa.


"Dia punya gue dan gue berhak ngelakuin apapun." Ujar Algi menatap tajam kearah Rayhan.


"Harusnya karena dia milik Lo, Lo jagain baik-baik." Ucap Rayhan.


"Caca gak ada hubungan apa-apa sama Algi." Ujar Echa ketika mendengar Algi mengklaim dirinya begitu saja.


"Jangan mentang-mentang ganteng dan bisa dapetin cewek manapun. Sikap tempramental yang Algi punya itu sama sekali gak berubah." Sambung Echa.


Dia melangkahkan kakinya pergi dengan mata yang berkaca-kaca sambil menahan rasa perih ditangannya.


"Ini semua gara-gara Lo." Ucap Algi menatap tajam kearah Rayhan.

__ADS_1


__ADS_2