TEROR

TEROR
|119| BUCIN


__ADS_3

Setelah Hanin keluar dari rumahnya, Bara masuk kedalam rumah dengan wajah kusut. Dia mendudukkan dirinya di sofa.


Echa yang melihat Bara kelelahan langsung mendekat kearah Bara yang sedang memejamkan matanya sambil memegang kepalanya yang terasa pening. "Gimana? Udah beres semuanya? Bakalan kesana lagi?" Dia memeluk tubuh Bara.


"Udah, enggak. Paling lusa masuk," jawab Bara, dia sama sekali tidak keberatan jika Echa memeluk tubuhnya, justru itu yang Bara inginkan. Pelukan yang diberikan Echa bisa membuat rasa lelah dalam dirinya pulih kembali.


Namun, saat dalam pelukan Bara, Echa mencium wangi parfum yang asing, ini bukan parfum yang sering di gunakan Bara. wanginya seperti parfum wanita. Dia mencari dimana letak wangi yang membuat dirinya penasaran.


"Ngapain, Ca?" tanya Bara ketika Echa mengendus jas miliknya. Echa tidak menjawab pertanyaan Bara.


Dia melihat ada jejak lipstik merah bata dan bedak yang lumayan tebal di jas Bara.


"Abis jalan sama perempuan?" tanya Echa menatap mata Bara.


"Engga," jawab Bara yang juga menatap Echa.


"Ini apa?" tanya Echa sembari menunjukkan jejak lipstik dan bedak yang ada di jas Bara.


"Sekertaris, Papa" jawab Bara sembari tertawa pelan.


"Kenapa ketawa?" tanya Echa.


Bara memberhentikan tawanya, dia mengecup singkat kepala Echa. "Gak apa-apa, pengen ketawa aja."


"Gak jelas, sana mandi!" titah Echa sambil melepaskan pelukannya dari Bara.


"Jangan marah," ucap Bara menarik Echa kedalam pelukannya lagi.


"Engga, Caca gak marah. Mandi sana," ujar Echa.


"Nanti, masih capek, pengen gini dulu," ucap Bara kembali memejamkan matanya sambil memeluk Echa.


"Keburu malam, nanti masuk angin" ujar Echa.


"Gak apa-apa, tinggal kerokin aja," ucap Bara seraya tersenyum tipis.


"Kak, mandi sana, Caca gak suka parfumnya," ujar Echa yang meronta dalam pelukan Bara.


Bara melepaskan pelukannya . Namun, dia masih tetap memejamkan matanya.


"Kak, mandi sana," ucap Echa.


"Iya, Ca," ujar Bara sambil berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki kearah kamar mandi.


"Pengen mie instan, tolong buatin," titah Bara ketika berada di ambang pintu kamar mandi.


"Kuah atau goreng?" tanya Echa.


"Kuah," teriak Bara dari dalam kamar mandi.


Echa tidak langsung membuat mie instan, dia takut mie nya dingin jika di buatkan sekarang.

__ADS_1


Echa ingat dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Shila.


"Dia dan mereka ada diantara kalian," ucap Echa pada dirinya sendiri. "Dia adalah orang yang datang dari masa lalu dan mereka adalah orang yang sudah masuk kedalam lingkaran hitam."


Drt...Drt...Drt...


Tiba-tiba saja ponsel milik Bara yang ada di atas meja bergetar.


"Kakak, ada yang telepon," teriak Echa.


"Angkat aja, bilang kakak lagi mandi," sahut Bara dari dalam kamar mandi.


Echa yang mendengar perkataan itu langsung mengambil ponsel Bara sambil melihat nomor tidak di kenal tertera di layar ponselnya.


"Ha..." sapaan Echa tertahan ketika orang yang menelpon Bara langsung menyela ucapannya.


"Halo Bara, apa kabar? Ini aku, Syela. Sekertaris pilihan papa kamu. Apa kita bisa lebih dekat?" tanya seorang wanita yang berada di balik telpon.


"Maaf, Bara lagi mandi," jawab Echa.


"Kamu siapa? Kok bisa di kamu ponselnya Bara?" tanya Syela.


"Ada perlu apa ya, sama Bara? Nanti saya sampaikan," ucap Echa to the point.


"Kenalin aku Syela, sekertaris Bara. Sekaligus pacarnya," ujar Syela dengan nada yang terdengar angkuh.


"Itu saja?" tanya Echa dengan nada yang masih santai.


Tut.


Echa langsung mematikan sambungan telponnya, tidak peduli jika di sebut tidak sopan. Dia hanya melindungi diri dan hubungannya dengan Bara.


"Ngeselin!" ujar Echa kesal.


Dia melangkahkan kakinya kearah dapur untuk membuat mie instan.


"Siapa Ca?" tanya Bara sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


"Syela," jawab Echa ketus.


"Syela?" tanya Bara sembari mengingat nama tersebut.


"Partner kerja." Echa menatap singkat kearah Bara dengan tatapan tajam.


"Yang parfum aja belum kelar, datang lagi yang partner kerja," gumam Bara sambil menghela nafasnya panjang dan melangkahkan kaki ke kamarnya.


Echa masih memasang wajah masam sembari memasak mie instan.


Ting tong


Suara bel rumah berbunyi. "Iya, sebentar," ucap Echa seraya mengecilkan api kompor dan melangkahkan kakinya kearah pintu.

__ADS_1


Cklek.


"Hai, Bara nya ada?" tanya seorang pria yang pernah bertemu dengan Echa sebelumnya.


"Kevin, ada kok, masuk dulu," jawab Echa sembari mempersilahkan Kevin untuk masuk.


"Bara nya mana?" tanya Kevin saat tidak melihat keberadaan Bara.


"Ada di kamar," jawab Echa sambil melangkahkan kakinya kearah dapur. "Kevin, mau mie instan?"


"Boleh, enak kayaknya," ucap Kevin melangkahkan kakinya ke dapur. Dia membawa mie instan goreng.


"Mau Caca buatin?" tanya Echa.


"Biar gue aja," jawab Kevin. Sedangkan Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Btw, gimana Bara? Udah tau jauh ya? Kewalahan gak?" tanya Kevin bertubi-tubi sambil memasak mie nya.


"Ya gitu, nyaris kewalahan untungnya sayang,"jawab Echa sambil tersenyum kearah Kevin yang sedang menatap dirinya.


"Ngapain Lo kesini?" tanya Bara yang melihat Kevin ada di dapur bersama Echa.


"Wih, santai. Gak bakalan di bawa pergi kemana-mana," jawab Kevin saat mendengar suara mengancam Bara.


"Awas,Lo." ancam Bara sambil memeluk tubuh Echa.


"Kalau mau pacaran, tolong ya om Bara, jangan depan orang jomblo. Nanti bisa mati mendadak," ucap Kevin yang melihat Bara menyimpan kepalanya dengan nyaman di bahu Echa.


"Mau ngapain kesini?" tanya Bara.


"Gak ngapa-ngapain. Cuman mau main aja, tadi mampir kerumah bunda An, sayangnya malah bosen, gak ada yang bisa di ajak ribut. Dan akhirnya memutuskan untuk kesini," jawab Kevin santai.


Bara tidak membalas perkataan Kevin, dia masih memeluk Echa dengan sangat nyaman. Sedangkan Echa kesusahan sendiri.


"Kak, lepasin dulu," ucap Echa sambil mengelus punggung tangan Bara yang melingkar di perutnya.


"Bentar," ujar Bara.


"Wah udah berubah jadi bucin ya," ucap Kevin ketika melihat saudara nya itu berubah drastis.


Bara yang dia kenal dulu adalah pribadi yang sangat amat dingin kepada perempuan kecuali kepada orang-orang yang menurutnya penting.


Dan saat ini, Bara sudah berubah menjadi orang yang se-bucin ini. Kevin tidak menyangka, pengaruh Echa sangat besar di kehidupan Bara.


"Apa Lo?!" ketus Bara ketika Kevin berbicara seperti itu padanya.


"Ya, peluang buat dapetin Caca kayaknya masih bisa ya, belum jadi istri kan?" tanya Kevin cengengesan.


"Mau di usir atau diem?" tanya Bara dengan tatapan tajam.


"Kak, udah. Makan dulu," ucap Echa yang kini sudah selesai menyiapkan mie instan untuk Bara.

__ADS_1


__ADS_2