
Seseorang dalam gelapnya malam sedang tersenyum sinis menatap kearah seorang pria yang sedang duduk di sofa.
"Kau bodoh atau naif? Kenapa malah menusuk Gavin? Bukan Bara?" tanya seorang wanita dalam gelapnya malam.
"Dia yang menghalangiku," jawab seorang lelaki yang sedang menyesap sebatang rokok.
"Arsenio, kenapa kau tidak melukai kekasihnya saja? Itu kelemahan Bara," ucap seorang wanita misterius.
Dia, Arsenio Hans Pratama. Orang yang ingin membunuh Bara dengan tangannya sendiri.
"Aku mencintai kekasihnya." ucap Arsenio sambil membuang rokok dan menginjaknya.
"Kau gila? Kenapa banyak sekali yang mencintai gadis bodoh dan lemah itu?" tanya wanita misterius yang masih diam dalam kegelapan.
"Kau tidak akan pernah tahu! Gadis itu mampu membuatku terlena hanya dengan menatap matanya saja! Siapapun pasti akan mencintainya! Gadis lugu, penyabar, penuh kasih sayang, manis dan menyejukkan hati itu mampu membuat dunia gelap ku runtuh dalam sekejap!" bentak Arsenio.
Arsenio menatap penuh dendam kearah depan. "Jika saja, malam itu Bara tidak datang, aku sudah memiliki Echa saat ini, tidak ada yang boleh memiliki Echa selain diriku."
"Itu masa lalu, kenapa kau terus memikirkannya? Lupakan Echa, cari wanita lain untuk dijadikan persembahan berikutnya. Sudah berapa wanita yang kau persiapkan untuk persembahan?" tanya wanita tersebut.
"Lantas, bagaimana dengan dirimu? Apa kau sudah melupakan masalalu mu? Tidak kan? Kenapa kau menggurui ku, seolah kau sudah melupakan semua yang terjadi di masalalu!" seru Arsenio.
"Hanya itu saja?" tanya wanita misterius.
"Kau memang tidak akan pernah mengerti tentang mencintai!" jawab Arsenio geram, dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan gelap tersebut dengan amarah yang memuncak dan tangan yang mengepal kuat.
"Echa Aprilia Anjani. Wanita yang membuat hidupku hancur lebur. Dia telah merebut semuanya! Seharusnya aku yang mendapatkan Bara! Tapi dia mampu membuatnya berubah drastis menjadi pribadi yang hangat! Aku benci nama itu! Aku benci cinta! Aku benci semua yang terjadi dalam hidupku!" teriak wanita tersebut dalam hening nya ruangan gelap. "Aku harus menghancurkannya! Dan aku sudah mendapatkan salah satu temannya," wanita tersebut tersenyum sinis dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Tapi, apa yang harus aku hancurkan? Aku pernah menghancurkan hubungannya, namun Echa bisa merekatkannya lagi, aku sudah menghancurkan semuanya, namun dia selalu saja berhasil keluar dari perangkap ku. Apa yang harus aku hancurkan lagi darinya?" tanya wanita tersebut sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Pasti ada cara menghancurkannya," ucap wanita tersebut.
Sedangkan disisi lain, Echa sedang menatap langit bertabur bintang lewat jendela kamarnya.
Semua orang sudah tertidur pulas, hanya dia saja yang belum menjemput alam mimpinya.
"Ma, pa, Caca kangen, Caca pengen ketemu lagi sama mama papa," ucap Echa yang sejak tadi sudah meneteskan air matanya.
Echa menyeka air mata yang sudah lama membasahi pipinya, dia tidak ingin larut dalam kesedihan yang menimpa hidupnya. Dia menatap kearah Bara yang sudah tertidur di tempat tidurnya.
Kepalanya sudah terasa pening,dia tidak ingin mahluk tak kasat mata masuk kedalam tubuhnya.
Namun, saat dirinya ingin beranjak dari tempat duduknya di jendela, matanya menangkap satu sosok yang sangat mengenaskan sedang menatap kearahnya.
Dia sangat tertarik terhadap sosok tersebut, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
"Kemarilah," ucap Echa sambil tersenyum menatap sosok tersebut.
"Tidak, aku sudah membuat jalan untukmu," ucap Echa.
"Terimakasih," ujar sosok tersebut dengan senyuman tulus.
Echa tahu betul mana sosok yang benar-benar tulus dan tidak. Dia sudah bisa membedakannya. Mereka yang palsu akan hancur ketika berada di dekat Bara meskipun sudah diberi jalan oleh Echa. Namun, dia yang tulus akan bisa melewatinya dengan aman.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa pergi dari sini?" tanya Echa.
"Tidak, aku tahu kesalahanku, nanti pasti akan ada yang menjemput ku," jawab sosok tersebut sambil menatap mata Echa.
Sosok berwajah pucat dan dipenuhi darah disekitar wajahnya itu memiliki kehidupan yang sangat menyakitkan. Hampir mirip seperti Mira. Di paksa dewasa oleh keadaan.
__ADS_1
"Aku melihatmu menangis, kau sedang tidak baik-baik saja kan?" tanya sosok tersebut dengan wajah yang berubah menjadi cantik.
Echa tersenyum manis menatap sosok yang ada dihadapannya, dia seolah mengerti ketakutan Echa terhadap wajahnya yang mengerikan. "Apa aku bisa mempercayaimu? Setelah apa yang telah aku lewati? Kau tahu kan banyak sekali hal-hal yang membuatku takut akhir-akhir ini, kau bisa merasakannya."
"Aku tidak akan pernah memaksa seseorang untuk bercerita, jika memang membutuhkan tempat untuk bisa di dengar, aku siap menjadi pendengar yang baik. Manusia terlalu jahat untuk dijadikan teman berkeluh kesah," ucap sosok tersebut yang masih tersenyum manis kearah Echa.
"Apa kau ingin bercerita?" tanya Echa.
"Tidak, hidupku sudah selesai. Tidak ada cerita apapun, aku tidak ingin membebankan ceritaku kepada orang yang sedang menyimpan beban yang lebih berat daripada aku," jawab sosok tersebut.
Echa tersenyum manis sambil menatap kearah sosok yang sedang menatap Bara. "Dia sangat tampan apa itu kekasihmu?"
"Iya, itu kekasihku" jawab Echa sambil tersenyum menatap Bara yang terlihat begitu tampan saat tertidur.
"Apa aku sedang melihat seorang dewa? Mengapa pahatannya begitu sempurna?" tanya sosok tersebut, kini beralih menatap Echa. "Bagaimana caramu mendapatkannya?"
"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dia memilihku, padahal banyak sekali wanita yang lebih daripada aku," jawab Echa.
"Karna hatimu. Hatimu, layak untuk disinggahi oleh seorang pria yang bisa menghargai, cinta tulus penuh kasih sayang membuat dia merasa kau adalah tempat yang dia cari selama ini," ucap sosok tersebut sambil menatap lekat mata Echa. "Banyak orang yang mencintaimu, apa kau tidak menyadarinya?"
"Mencintai ku? Siapa?" tanya Echa penasaran.
"Kekasihmu tahu siapa orang yang saat ini mencintaimu, jika dia menyuruh untuk menjauh dari orang itu, maka dia orang yang mencintaimu," jawab sosok tersebut.
"Ca," panggil Bara yang membuat Echa mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Bahkan sosok yang ada dihadapannya sudah hilang.
"Kenapa kak?" tanya Echa ketika Bara melihat kearahnya.
"Tidur," jawab Bara.
__ADS_1
"Iya, ini juga mau," ucap Echa.