TEROR

TEROR
|153| ARGUMEN


__ADS_3

Sedangkan keadaan di dalam mobil Bara dan Echa malah beradu argumen. Padahal baru saja hari paling bahagia yang Echa rasakan.


"Kenapa harus pake gaun kayak gitu?" tanya Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


"Emangnya kenapa? biarinlah, orang tadi kakak marah sama Caca," jawab Echa sembari menatap kearah Bara. "Jadi terserah Caca."


"Jangan lagi pake gaun yang pendek gitu," ucap Bara sembari menatap sekilas kearah Echa yang menggunakan gaun di atas lutut, bahu yang terbuka memperlihatkan kulit putih mulusnya. "Kakak gak suka."


"Kakak gak su...."


CKITTT


Tiba-tiba saja Bara menginjak rem nya, membuat Echa tidak melanjutkan bicaranya, di depan sana, mereka berdua melihat kecelakaan hebat, beberapa pengendara motor terlempar karena hantaman keras dari depan truk yang sedang melaju cepat. Ada beberapa mobil lainnya yang mengalami kerusakan, entah bagaimana keadaan orang di dalam mobil tersebut.


"Diem di dalem," ucap Bara melihat banyak nya korban di tempat kejadian. Dan tangisan pilu seorang anak kecil membuat mereka merasakan teriakan rasa sakit yang hebat.


"Ikut, Caca takut," ujar Echa sembari menggenggam tangan Bara. Seolah dirinya merasa lebih aman bersama Bara daripada sendirian di dalam mobil.


Bara mengembuskan nafasnya pelan, dia membuka jas yang sejak tadi melekat di tubuhnya dan memberikannya kepada Echa. "Pake."


Echa mengambil jas tersebut dan menggunakannya untuk menutupi sebagian tubuhnya. Bara dan Echa keluar dari mobil, mereka juga melihat teman-temannya sudah membantu beberapa orang yang berteriak meminta tolong, sedangkan Hanin menelepon polisi untuk segera ke tempat kejadian. Dan Ivy menelepon rumah sakit terdekat untuk membawa korban agar segera di tangani.


Echa melihat banyak sekali korban yang tidak sadarkan diri, untung saja dia dan teman-temannya cekatan dalam menghadapi situasi yang mungkin akan mencelakakan diri mereka juga.


Dia melihat kearah seorang anak berusia sekitar 10 tahun yang terus menangis di dalam mobil dan di tolong oleh Bara, sedangkan orang tua nya mungkin sudah tiada.


"Mama... Papa..." lirih anak tersebut ketika sudah bisa keluar dari dalam himpitan mobil.


"Its okay baby," ucap Bara sembari menenangkan anak tersebut.


Echa merasakan kepalanya pusing, dadanya sesak, dia seolah kembali mengingat kejadian di masa lalu, dimana dia dan keluarganya kecelakaan.


Suara klakson truk dan mobil memenuhi pendengaran, matanya mulai buram, kepalanya pening, dia melihat cahaya silau dari lampu truk yang akan menabrak mobil orang tuanya.


"Ca, are you okay?" tanya Devan saat melihat Echa mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Dia langsung tersadar sembari menatap kearah Devan yang sedang memegang bahunya. E ha segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Caca masuk ke dalam mobil, disini gak nyaman."


Devan hanya menganggukkan kepala sembari menatap kepergian Echa masuk kedalam mobilnya. "Dan semuanya berakhir, cintaku harus segera di ganti, mungkin tidak sekarang. Namun, perlahan akan aku lakukan."


Echa masuk kedalam mobil dia menangkap wajahnya yang terasa panas, kejadian yang kini ada di depan mata, mengingatkan dirinya dengan kejadian masalalu. Jika saja dulu dia tidak bersikukuh untuk pergi ke rumah paman, mungkin kejadian yang merenggut kedua orang tuanya tidak akan terjadi. "Maafin Caca Ma, Pa..." lirih Echa dengan nafas yang masih sesak.


Echa mencoba menahan tangis, namun dia malah sesegukan dan dadanya sakit.


"Nangis aja," ucap Bara yang kini sudah masuk kedalam mobil, melihat tunangannya itu sedang menahan tangisannya.


Echa melihat kearah Bara yang sedang menatap kearahnya, tanpa berpikir panjang lagi, Echa langsung menghambur ke pelukan Bara. Dia menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan rasa sakit yang ada di dalam dadanya sejak tadi.


Bara hanya bisa mengelus punggung Echa untuk memberinya ketenangan sekaligus kekuatan. Dia mencium singkat kepala Echa.


Suara tangisannya beradu dengan beberapa suara sirine ambulan dan suara sirine polisi yang saling sahut menyahut, bahkan ada beberapa mobil wartawan. Persis sekali seperti keadaannya dulu. Dia mendengar suara sirine polisi dan ambulan saling beradu.


Bara menutup telinga Echa dengan Earphone agar tidak mendengar suara yang membuat traumanya kembali datang. "Gak apa-apa kan kalau putar jalan lagi?" kalau nunggu ini pasti lama."


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tanpa berniat melepaskan pelukannya dari Bara.


"Ca, gak apa-apa kan kalau kakak minta lepas dulu?" tanya Bara sembari mengelus lembut rambut Echa. Tangisannya masih belum reda.


,Echa menggelengkan kepala, dia semakin mempererat pelukannya. "Caca takut, kakak jangan pergi."


"Kakak gak pergi, kakak disini, di samping Caca dan akan selalu kayak gitu," ucap Bara sembari menangkap wajah Echa.


"Janji?" tanya Echa menatap penuh harap kearah Bara.


"Janji." jawab Bara sembari mencium kening Echa.


Echa memejamkan matanya, dia merasakan ketenangan yang dalam.


"Oke, sekarang kita jalan lagi," ucap Bara sembari menghapus jejak air mata Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Echa melihat beberapa polisi lalu lintas sedang menormalkan riuhnya orang dan kendaraan yang akan lewat, di tambah lagi dengan beberapa kendaraan dari keluarga korban. Dia kembali menatap lekat wajah tampan Bara yang membuatnya bisa setenang ini dalam sekejap.

__ADS_1


Hidung mancung,bibir tipis, matanya yang indah membuat Echa merasa saat ini dan seterusnya Bara sepenuhnya milik Echa.


"Kenapa hm?" tanya Bara yang sedang menghidupkan mesin mobilnya.


"Sini deketan," jawab Echa dengan suara khas orang habis menangis.


Bara mendekatkan dirinya kepada Echa, menatap teduh mata yang penuh dengan sinar harapan. Echa mengelus hidung mancung Bara. "Caca suka liatnya," jarinya kembali turun ke bibir Bara sembari mengelusnya. "Ini juga."


CUP


Satu kecupan mendarat di bibir Bara, membuat sang pemilik melototkan matanya kaget, ini sangat tiba-tiba sekali dan ini juga kali pertama Echa yang melakukan. Jantungnya berdetak tidak karuan.


"Kak, ayo jalan," ucap Echa sembari menggenggam tangan Bara.


"Eh ..." ucap Bara sembari mengerjapkan matanya gemas.


"Ayo." Echa mengalihkan wajah Bara ke jalanan.


Menggemaskan sekali melihat Bara salah tingkah seperti itu. Bara tersenyum tipis sembari memegang bibirnya.


"Lagi boleh gak, Ca?" tanya Bara sembari tertawa pelan.


"Kak..." ucap Echa sembari menatap tajam kearah Bara yang sedang menyetir mobil.


"Hm? Boleh lah kakak minta..."


"Minta apa? Gak ada ya." tanya Echa yang belum mendengar penjelasan Bara.


"Belum kakak selesai bilang nya," jawab Bara.


Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia menatap keluar jendela. Bayangan tentang bagaimana tidak ada orang yang menolongnya saat dia kecelakaan menjadi nasib buruk baginya. Bahkan Echa yang masih membuka mata saja tidak berdaya hanya untuk menggenggam telepon yang ada di genggaman tangannya ketika melihat orang tuanya penuh dengan darah.


Dihari ulang tahunnya ini dia mendapat hikmah tersendiri, tentang bahagia dan rasa sakit yang menghantui dirinya selama ini.


"Udah ya, liat kakak aja sini," ucap Bara sembari menggenggam tangan Echa yang sudah disematkan cincin di jari manisnya.

__ADS_1


__ADS_2