
Saat ini Bara dan Echa sudah sampai dirumah Aira, Bara baru saja menidurkan Aira di kamar bernuansa pink milik Aira dengan selang infusan yang berada di sampingnya.
Kini Echa dan Bara sedang berada di dapur untuk memasak makanan, mengisi perutnya yang belum di isi lagi setelah memakan spageti.
"Jam berapa kak?" Tanya Echa yang sedang menggoreng ikan.
"7 malem." Jawab Bara melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Udah ada kabar dari om Edwin sama tante Helen?" Tanya Echa.
"Belum." Jawab Bara yang sedang mengiris bawang merah.
Bara sudah tidak lagi mempermasalahkan tentang Algi, Echa sangat bisa meluluhkan hatinya yang keras dengan caranya sendiri.
"Udah di cek ponselnya?" Tanya Echa.
"Baru aja, gak ada notif." Jawab Bara yang sudah selesai mengiris bawang.
Bara melangkahkan kakinya mendekat kearah Echa untuk memberikan bawang merah.
"Perih gak?" Tanya Echa melihat Bara memasukkan bawang merah kedalam teflon.
"Perihlah." Jawab Bara sambil menyimpan kepalanya di bahu Echa.
"Jangan gini berat." Ucap Echa yang merasa bahunya berat karena Bara.
"Hm." Gumam Bara tidak memperdulikan perkataan Echa, dia malah menyamankan kepalanya di bahu Echa.
"Kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Echa yang mengerti keadaan Bara jika dia sudah manja seperti ini padanya.
"Tadi pagi kakak ketemu Hans." Jawab Bara sambil menghela nafasnya panjang.
"Hans? Dimana?" Tanya Echa yang masih memasak makanan dengan kepala Bara yang ada di bahunya.
Bara menceritakan kejadian yang terjadi padanya dan pada Hans, tentang taruhannya untuk mendapatkan Echa dan mengembalikan Aira.
__ADS_1
Bara menceritakannya dengan hati-hati, takut jika Echa merasa sakit hati di jadikan taruhan seperti itu. Tapi Bara tidak memiliki pilihan lain.
"Marah gak?" Tanya Bara ketika sudah menceritakan semuanya kepada Echa.
"Marah kenapa?" Tanya Echa bingung.
"Taruhan." Cicit Bara.
"Enggak, lagian kakak gak ada pilihan lain kan? Caca tau kok gak bakalan ada opsi yang menguntungkan ketika berhadapan sama ilmu hitam dan mau gak mau kita harus mengiyakan pilihan mereka." Ucap Echa sambil tersenyum manis.
Echa pernah berada di posisi yang tidak menguntungkan seperti Bara, dimana dia diberikan pilihan lepaskan Bara atau hancur. Tidak ada yang menguntungkan bukan?
Bara tidak menjawab perkataan Echa dia malah menyamankan kepalanya di bahu Echa. Sedangkan Echa masih belum beres memasak.
"Kenapa Caca gak tau Hans punya kayak gitu ya?" Tanya Echa bingung.
"Gak tau tapi kakak udah tau dari awal kalau Hans punya ilmu hitam." Jawab Bara.
"Kenapa gak bilang dari awal sama Caca?" Tanya Echa.
Echa hanya tersenyum sebagai jawaban dari perkataan Bara yang panjang lebar tapi intinya menghawatirkan dirinya.
"Gimana keadaan Hans?" Tanya Echa.
"Gak tau." Jawab Bara ketus.
"Jangan cerita laki-laki lain ke kakak, kakak gak mau dengernya." sambung Bara.
"Cuman nanya keadaannya aja kak, gak cerita." ucap Echa yang sedang menyajikan masakannya.
"Tetep aja jangan." ujar Bara masih menyimpan kepalanya di bahu Echa.
"Jangan kayak gini, berat." ucap Echa.
"Biarin." ujar Bara.
__ADS_1
"Kak, berat, nanti ada ayah kesini." ucap Echa sambil mencoba menyingkirkan kepala Bara dari bahunya, namun Bara seolah tidak peduli dengan itu.
"Ayah lagi sakit, gak bakalan liat." ujar Bara malah memejamkan matanya di bahu Echa.
Echa sudah selesai menyajikan makan malam untuk dirinya dan Bara, sedangkan untuk Daniel, Bunda An dan Aira dokter menyarankan untuk memakan bubur dulu, satu Minggu.
"Bara." Panggil seseorang dari arah tangga.
Bara seolah tidak peduli dengan panggilan itu, dia masih memejamkan matanya di bahu Echa sedangkan Echa berusaha untuk menyingkirkan kepala Bara dari bahunya.
"Bara di dapur pa." Sahut Bara yang masih memejamkan matanya di bahu Echa.
"Ya ampun Bar, kasian Caca pasti ribet masak kayak gitu." Ucap Daniel yang melihat Bara sedang memejamkan matanya di bahu Echa sedangkan Echa hanya tersenyum canggung.
"Ayah, kenapa turun? Ayah butuh sesuatu?" Tanya Echa.
"Baru aja ayah dapet telpon dari om Edwin, dia udah di bandara." Jawab Daniel.
"Kak, cepetan jemput, kasian kalau harus nunggu lama." Ucap Echa.
"Hm." Gumam Bara yang kini sudah berdiri tegak, dia tidak lagi berada di bahu Echa.
"Caca juga ikut." ucap Bara sambil melangkahkan kakinya untuk Menganti baju, sedangkan Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak lelakinya itu sangat manja dan bucin. Tidak jauh beda seperti dirinya, berkarisma, penuh wibawa jika berada di luar namun beda halnya jika bersama istrinya.
"Dulu Bara manja banget sama Mama nya, kayak tadi sama kamu kalau lagi masak, jalan-jalan atau pergi keluar Bara selalu nempel. Tapi sekarang manja nya Bara pindah ke kamu. Banyakin sabar ya Ca." ucap Daniel sambil tersenyum kearah Echa.
"Eh, iya yah." ujar Echa.
"Ayah ke atas lagi." ucap Daniel sambil mengelus rambut Echa.
"Mau Caca anterin?" Tanya Echa.
"Gak usah, nanti Bara marah. Ayah bisa sendiri, itung-itung latihan buat sembuh." Jawab Daniel sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Echa sendirian.
"Hati-hati yah." ucap Echa yang melihat Daniel melangkahkan kakinya pergi ke kamarnya lagi.
__ADS_1