TEROR

TEROR
|131| HATI-HATI


__ADS_3

Saat ini, Bara dan Echa sedang duduk bersama teman-temannya yang lain. Menikmati acara ulang tahun yang sedang berlangsung, meskipun nampak terlihat membosankan bagi Bara, Nathan, Azka, Devan dan Gavin. Banyak sekali pria yang berdansa dengan wanita-wanita cantik namun mereka sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu.


"Ca, pulang aja yuk," ajak Bara ketika dirinya sudah benar-benar bosan hanya duduk diam seperti ini. Dia saja aneh pada Echa dan teman-temannya kenapa mereka betah duduk seperti ini.


"Pulang?" Tanya Echa tanpa mengalihkan pandangannya, dia sedang melihat beberapa pria tampan yang menari dengan gadis-gadis cantik.


Bara menatap lekat mata Echa yang sedang menatap pria selain dirinya. "Lagi liatin apa?"



Echa yang di beri pertanyaan seper5i itu langsung menatap kearah Bara sembari tertawa pelan ketika melihat kekasihnya itu sedang menekuk wajahnya.


"Tuh lagi liat cowok yang itu," ucap Echa sembari menatap pria tampan dengan pahatan wajah yang sepertinya tuhan sedang berbahagia saat membuatnya. Kulit putih, tubuh kekar, tinggi, hidung mancung, alis tebal dan senyumannya sangat manis.


Bara semakin menekuk wajahnya ketika mendapat jawaban seperti itu sembari berdecak sebal. "Ngapain di liatin?"


"Kan Caca punya mata, Kak." Echa kembali menatap Bara sembari menggenggam tangannya.


"Lagian gantengan kakak daripada cowok itu," gumam Bara yang tidak di terdengar oleh Echa.


"Kakak mau pulang kan? Yaudah kita pulang," ucap Echa sembari mengelus tangan Bara yang ada di genggaman tangannya.


"Heem," gumam Bara sembari berdiri dari duduknya.


"Bar, mau kemana?" tanya Gavin ketika melihat Bara bangkit dari duduknya.


"Pulang," jawabnya singkat.


"Cepet banget," ucap Azka.


"Devan juga mau pulang, bosen disini," ujar Devan sembari bangkit dari duduknya.


"Kita juga pulang. Bosen ngeliat yang kayak begini," ucap Nathan sembari menggenggam tangan Hanin.


Mereka semua bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari tempat yang katanya membosankan itu. Satu per satu dari mereka mulai melangkahkan kakinya pergi. Namun saat Bara dan Echa akan melangkah pergi mengikuti teman-temannya, ada sebuah suara yang mampu memberhentikan langkah keduanya.


"Nona, apakah kau ingin berdansa denganku?" Suara berat seorang pria membuat Echa melihat kearah sumber suara.


"Saya?" tanya Echa, dia melihat seorang pria yang membuat Bara menekuk wajahnya.


"Iya, apa nona bersedia?" tanya pria tersebut.


"Maaf tuan, tapi saya yang lebih dulu mengajaknya." jawab Bara sembari menunjukkan tangan yabg di genggam oleh Echa.

__ADS_1


"Baiklah, saya pergi dulu," pamit pria tersebut sembari tersenyum manis kearah Echa.


"Gak usah senyum." ketus Bara ketika Echa ingin membalas senyuman tersebut.


"Iya, yaudah ayo, pulang" ucap Echa sambil melangkahkan kakinya pergi.


"Bara.Kamu mau kemana?" Lagi dan lagi suara seseorang mampu membuat langkah mereka terhenti.


Mereka berdua melihat kearah sumber suara yang memanggil nama Bara.


Bara mengernyitkan dahinya. "Siapa?"


"Kenalin, Angel." jawab wanita tersebut sambil mengulurkan tangannya. Namun, Bara hanya menatap tangan tersebut tanpa berniat membalasnya.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Eehh... Itu, gak apa-apa sih, cuman di suruh aja sama Anya buat kasih tau kesemua tamu pesta kalau tiup lilinnya sebentar lagi," jawab Angel sembari menatap tidak suka kearah Echa yang sedang menggenggam tangan Bara.


Dia Angel victoria yang dulu pernah memaki Echa karena berangkat bersama Devan.


"Heem," gumam Bara tidak tertarik dengan pertanyaan Angel.


"Jadi mau gimana?" tanya Echa.


"Pulang." jawab Bara sembari melangkah pergi, meninggalkan Angel yang berdecak sebal.


"Ca, kakak mau pulang, udah ya, kakak capek." Bara menatap Echa yang berada di sampingnya.


Echa tidak bisa menyangkal bahwa Bara sedang kelelahan, terlihat dari lingkar matanya.


"Ayo," ajak Echa sembari tersenyum manis.


Mereka kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran yang masih lumayan jauh.


"Kakak...." ucapnya terhenti ketika melihat Bara yang sedang melirik wanita cantik dengan dress diatas lutut.


Echa melihat kearah beberapa wanita yang Bara lihat. Dress diatas lutut membuat wanita tersebut tampil sangat cantik ditambah lagi kulitnya yang putih mulus.


"Kenapa?" tanya Bara ketika Echa tidak melanjutkan perkataannya.


"Caca bisa pake baju diatas lutut kayak perempuan yang baru aja kakak liat," ucap Echa sembari menatap tajam kearah Bara.


"Gak."

__ADS_1


Echa menghentakkan kakinya ketika mendapat jawaban dari Bara, dia melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk masuk kedalam mobil.


"Ini gimana si? Kenapa jadi dia yang marah? Emang salah ya?" tanya Bara pada dirinya sendiri sembari mengikuti Echa yang sedang menghentakkan kakinya dengan wajah masam.


"Ca, bunda nyuruh ke rumah," ucap Bara ketika Echa akan membuka pintu mobil miliknya.


"Iya," ujar Echa sembari masuk kedalam mobil.


"Kenapa, Bar?" tanya Gavin sembari tersenyum tipis. Bara hanya mengisikan bahunya sebagai tanda tidak tahu.


"Hati-hati," ucap Gavin yang kini sudah masuk kedalam mobil.


Bara tidak terlalu memperdulikan peringatan dari Gavin, dia masuk kedalam mobilnya. Dia melihat Echa yang sedang memejamkan matanya.


Keadaan di dalam mobil masih saja hening, Bara fokus pada jalan raya dan Echa terus saja memejamkan matanya tanpa mengucap sepatah katapun.


"Kenapa?" tanya Bara.


Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia memalingkan wajahnya ke jendela sembari menatap jalanan.


"Kenapa si?" tanya Bara lagi.


"Orang lagi cemburu aja gak peka." gumam Echa. "Emang kakak aja yang bisa marah? Caca juga bisa kali."


Bara mendengar perkataan yang keluar dari mulut Echa, dia mengulum senyumannya sembari menatap wajah Echa yang sedang merajuk padanya.


"Ca, kenapa?" tanya Bara pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Echa.


"Gak apa-apa, Caca mau tidur, jangan berisik." jawab Echa kembali memejamkan matanya. Setelah ucapan Echa, Bara tidak berani membuka suaranya.


Namun disaat Echa sedang menutup matanya tiba-tiba saja di pikirannya terlintas sosok yang mengerikan ada di hadapannya. Mata putih menyala dengan lingkar hitam di sekitarnya.



"Aaaa!!" teriak Echa ketika sosok mengerikan itu terlihat sangat nyata, padahal itu keluar dari pikirannya bukan ada di hadapannya.


Bara yang mendengar teriakan seperti itu langsung memberhentikan laju mobilnya.


"Ca," panggil Bara sembari menangkup wajah Echa yang sedang memejamkan matanya.


Echa membuka matanya, lagi dan lagi yang dia lihat adalah sosok mengerikan, matanya seolah di penuhi oleh sosok tersebut. Tidak ada celah sama sekali untuk menatap Bara ataupun jalanan. Yang ada hanyalah sosok mengerikan. Dia langsung memeluk Bara erat, entah apa yang harus Echa lakukan. Penglihatannya di penuhi oleh sosok mengerikan dengan seringai mengerikan.


"Kakak! Caca takut!" ucap Echa ketika sosok itu semakin menjadi di dalam penglihatannya.

__ADS_1


"Kakak ada di sini, jangan takut, ini kakak," ujar Bara sembari memeluk tubuh Echa yang sedang memeluk dirinya sangat erat.


Bara merasakan kemejanya sudah basah karena air mata Echa, dia tidak tahu harus melakukan apa, Bara sama sekali tidak bisa melihat atau merasakan makhluk yang membuat Echa ketakutan.


__ADS_2