TEROR

TEROR
|115| FIRASAT


__ADS_3

"Tumben ya, Ca. Gak ada 'mereka'." ucap Hanin yang sama sekali tidak merasakan keberadaan mahluk tak kasat mata di kampusnya ini.


"Iya, aneh. Tapi bagus juga sih." ujar Echa.


Mereka masih mengelilingi kampus yang belum semuanya mereka lihat, hanya baru sebagian saja.


"Ngerasa aneh gak sih, Ca?" tanya Hanin.


"Aneh. tapi, ya mungkin ini awal yang baik." jawab Echa yang mencoba untuk positif meskipun sebenarnya ada sesuatu besar yang akan terjadi.


"Hanin ngerasa bakalan ada hal yang besar. Hanin juga ngerasa ada darah gitu." ucap Hanin menceritakan apa yang ada dipikirannya.


"Udah, positif aja. mungkin emang pembawaan dari luar aja." ujar Echa sambil tersenyum kearah Hanin.


"Iya juga ya, tapi aneh aja Ca. Hanin punya firasat buruk." ucap Hanin.


Echa pun merasakan hal yang sama seperti Hanin, sebuah firasat buruk. Dia tidak ingin hal itu terjadi, Echa menepis pikiran buruk itu dengan mengalihkan pembicaraan.


"Btw Vivi sama Shiren mana, ya? Kenapa gak keliatan?" tanya Echa ketika tidak melihat keberadaan Ivy dan Shiren. Padahal, mereka berdua masih di lantai satu.


Namun saat Hanin ingin menjawab perkataan Echa dan melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga, tiba-tiba saja seorang wanita berteriak hingga terjatuh dari tangga.


DUGH.


Kepala wanita tersebut menghantam lantai, tepat dibawah kaki Echa dan Hanin.


"Tolong..." ucap wanita tersebut yang terdengar lirih di sela-sela rasa sakit yang sangat hebat.


Echa dan Hanin hanya bisa diam mematung bahkan semua orang yang tadinya berbincang sembari tertawa kini sudah tidak terdengar lagi. Sepi, hening.


"Dia... Teman... Penghianat..." sambungnya dengan ucapan yang terbata-bata. Darah semakin mengalir dari kepala wanita tersebut.


"Siapa?" tanya Hanin dengan suara gemetar ketakutan.


"Dia..." jawaban wanita tersebut belum selesai, namun nyawanya sudah melayang.


"Hanin! Caca!" teriak seseorang dari belakang mereka berdua.


Echa dan Hanin langsung melihat kesumber suara. Mereka melihat Ivy yang sedang berlari kearah mereka berdua.

__ADS_1


Hanin dan Echa saling menatap satu sama lain, Hanin menatap singkat kearah mayat wanita yang matanya mengarah pada Ivy. Mungkin ini terlalu kejam untuk mengatakan bahwa Ivy si penghianat itu.


"Wait..." ucap Echa ketika melihat ada sesuatu yang akan terjadi lagi.


"Aaaaaaa!!"


BRUGH.


Lagi dan lagi seorang wanita terjun bebas dari rooftop. Bahkan kepalanya pecah, semuanya berceceran. Darah pun mengenai baju Ivy yang masih berada di pintu masuk kampus.


"Kenapa? Ini terjadi secara tiba-tiba?" tanya Hanin dengan ucapan pelan.


Darah dari mayat wanita yang jatuh di lantai kini mengotori sepatu Echa dan Hanin yang berwarna putih bersih.


Bau anyir menyeruak masuk tanpa permisi ke indera penciuman mereka berdua. Di saat yang bersamaan pun mereka melihat dua orang mati dihadapannya. Tanpa sensor.


"Vivi gak mungkin... Dia ada disini." ucap Echa pelan sambil menatap kearah Ivy yang diam mematung merasakan darah dari mayat yang terjun bebas dari atas mengenai tubuhnya.


"Shiren?" tanya Hanin menatap kearah Echa.


Semua orang yang berada di lantai atas bahkan yang berada di lantai bawah langsung berlarian kearah mayat yang terjun bebas tadi.


"Nasib kita gimana?" tanya Hanin saat melihat sepatunya sudah digenangi oleh darah dari mayat yang berada di belakangnya. "Apa ini firasat buruk Hanin?"


Echa hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu harus bagaimana bergerak dalam situasi seperti ini. Mungkin ini bukan pertama kalinya melihat korban berjatuhan. Tapi, jujur saja semua sangat tiba-tiba. Bahkan perkataan dari mayat yang berada di belakangnya adalah sebuah clue, bagi keberlangsungan hidupnya.


Seorang dosen membuyarkan lamunan Echa dan Hanin yang masih diam mematung di tempat kejadian.


"Kalian kenapa diam disitu?" tanya seorang dosen yang sudah lanjut usia namun masih memiliki karisma yang tinggi.


"Eh... Pak," ucap Hanin gugup.


"Pergi dari tempat itu, dan bersihkan sepatu kalian." ujar dosen tersebut yang seperti tahu sesuatu tentang kematian mahasiswi nya ini.


"Baik pak...." ujar Echa gugup yang langsung melangkahkan kakinya menuju toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Setelah itu kalian kumpul di lapangan." ucap dosen tersebut sebelum Echa dan Hanin melangkahkan kakinya menuju toilet.


"Tapi, pak. Disana ada yang jatuh lagi." ujar Hanin.

__ADS_1


"Jatuh lagi?" tanya dosen tersebut bingung sekaligus kaget.


"Iya, pak. Jatuh dari lantai atas." jawab Echa.


"Baik, terimakasih. Silahkan bersihkan diri kalian." ucap dosen tersebut yang langsung melangkahkan kakinya kearah lapangan.


"Menurut Hanin siapa penghianat itu?" tanya Echa sambil melangkahkan kakinya menuju toilet.


"Perempuan tadi bilang kalau, 'dia teman penghianat' disaat yang bersamaan Vivi datang. Di saat itu juga ada perempuan jatuh dari atas dan darahnya kena Vivi. Apa itu bukan clue buat kita?" tanya Hanin yang masih memutar beberapa kejadian yang menurutnya berkesinambungan.


"Menurut Caca itu bukan clue, tapi jebakan. Dia bisa saja memutar balikkan keadaan, biar dirinya aman dalam memakai topeng." jawab Echa.


"Bener juga sih, kejadian tentang Riana juga sama sekali gak ada yang tahu kan? Mereka emang manipulatif." ucap Hanin.


Kini mereka sedang membersihkan sepatunya dari cipratan darah mayat perempuan yang jatuh dari tangga.


Namun tiba-tiba saja ada dua orang mahasiswi masuk kedalam toilet sembari membicarakan hal yang baru saja terjadi.


"Padahal Kak Ivana sama Kak Intania baik banget, cantik lagi." ucap salah satu mahasiswi kepada teman disebelahnya.


"Iya, tapi siapa yang tau kan? Kematian pasti datang kapan aja, gak pandang baik atau buruk, bahkan gak pandang apa yang terjadi sebelumnya." ujar teman wanita tersebut.


"Tapi, tadi handphonenya kak Intania nyala. Ada note juga." ucap wanita yang sedang mencuci tangannya di wastafel.


Sedangkan Echa dan Hanin masih membersihkan sepatunya, sambil mendengarkan percakapan dua orang yang bagi mereka ini sangat menarik perhatian.


"Apa? Aku gak sempet liat tulisan di notenya." ujar teman wanita tersebut.


"Teman penghianat." ucap wanita tersebut yang sudah selesai mencuci tangannya.


"Really? Tapi yang kak Ivana bilang juga tentang penghianat. Apa mereka saling berhubungan?" tanya teman wanita tersebut.


"Udah, biarin aja. Kita gak perlu pusing-pusing mikirin itu, kita doain aja yang baik-baik." jawab wanita yang kini melangkahkan kakinya keluar dari toilet.


"Tungguin." ucap temannya menyusul wanita yang sudah keluar dari toilet.


Echa menatap kearah Hanin yang juga sedang menatap dirinya seolah mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.


"Kita diskusi di rumah. Disini takut ada mata-mata." ucap Hanin sambil melangkahkan kakinya keluar dari toilet diikuti Echa dibelakangnya.

__ADS_1


__ADS_2