TEROR

TEROR
|129| KAGET


__ADS_3

Malam hari telah tiba, Echa masih terbaring di tempat tidur memikirkan kejadian pagi hari tadi, dia merasa aneh ketika melihat Arsenio. Tubuhnya mendadak panas, kepalanya pusing dan ada sesuatu dalam diri Arsenio yang tidak bisa dilihat olehnya.


"Ca," panggil Bara sembari membuka pintu kamar Echa.


Echa menatap kearah Bara yang sedang membawa sepiring nasi dengan lauknya.


"Makan dulu," Bara mendudukkan dirinya di samping Echa.


Echa bangun dari tidurnya, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Kakak udah makan?"


Bara menganggukkan kepalanya sembari memberi suapan kepada Echa.


Echa menerima suapan demi suapan yang Bara berikan untuknya. Dia menatap lekat wajah tampan yang berada di hadapannya. Senyuman manis tercetak di bibirnya ketika melihat Echa menatap dirinya secara terang-terangan.


"Gimana kerjaannya? Selesai?" tanya Echa.


Bara masih tersenyum manis menatap Echa. "Sedikit lagi selesai, nanti malam kakak lanjut."


"Kenapa gak sekarang aja? Caca bisa makan sendiri," ucap Echa dengan wajah polosnya.


Ting tong ting tong


Saat Bara ingin menjawab perkataan Echa, bel rumahnya berbunyi beberapa kali.


"Sebentar," ucap Bara sembari menyimpan piring diatas meja dan melangkahkan kakinya untuk melihat, siapa yang bertamu malam-malam.


"Kak Caca!" teriak dua orang anak kecil sembari masuk kedalam kamar Echa. Sedangkan Echa yang mendapat teriakan itu hanya bisa memejamkan matanya, suara melengking dari dua orang yang sedang berada di sampingnya itu membuat telinganya berdengung.


"Aira, Qiara, jangan teriak, Kak Cacanya kan lagi sakit," ucap Bunda An yang berada di ambang pintu. Echa tersenyum manis menatap Bunda An dan Roslyn yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Kak Caca sakit apa?" tanya Qiara sembari memeluk Echa.


"Enggak, kak Caca cuman capek aja," jawab Echa seraya mengelus lembut kepala Aira dan Qiara yang berada di sampingnya.


"Ca, besok ada kelas?" tanya Roslyn sambil melangkahkan kakinya kearah Echa.


"Gak ada, Bu. Emangnya kenapa?" Echa mengerutkan dahinya menatap kearah Roslyn.


"Gak apa-apa, istirahat," Roslyn tersenyum manis menatap anak semata wayangnya itu.


"Iya, Bu. Sebentar lagi, ibu sama bunda mau tidur disini?" tanya Echa.


"Iya, nanti ibu, bunda, Aira sama Qiara tidur di kamar Bara. Biar Bara yang tidur di luar." jawab bunda An.


"Gak mau, Bunda. Aira mau tidur disini," sanggah Aira sembari memeluk erat tubuh Echa.


"Qiara juga mau sama kak Caca," sambung Qiara.


"Jangan berisik, cepet tidur, kalian mau kak Caca kenapa-kenapa?" tanya bunda An.


"Enggak." jawab Aira dan Qiara kompak. Mereka berdua memejamkan matanya sembari berbaring di samping Echa.


Echa tersenyum manis melihat dua anak yang akan beranjak remaja.


"Awas ya, kalau mama sama ibu tau berisik, kalian pulang." ancam bunda An.


"Enggak Ma, Bu..."

__ADS_1


"Istirahat, Ca." Roslyn mengelus lembut kepala Echa yang sedang tersenyum kearahnya.


"Iya, Bu. Caca tidur sekarang," ucap Echa sembari tersenyum manis.


Roslyn dan bunda An melangkahkan kakinya keluar dari kamar Echa sembari mematikan lampu. Sedangkan Echa membaringkan tubuhnya diantara Qiara dan Aira yang sudah menjemput alam mimpinya.


Echa masih membuka mata, menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya. Banyak pertanyaan di benak Echa. Dia menghela nafas panjang, melangkahkan kakinya menuju jendela yang ada di kamarnya yang langsung di suguhkan dengan taman yang terlihat sepi, gelap, hening dan tenang.


Kenapa Algi sama Arsenio datang barengan, ya?


Terus kenapa Arsenio bisa kenal sama kak Vero?


Apa tujuan Arsenio?


Echa terus saja bergulat dengan pikirannya hingga ada tangan seseorang yang melingkar di pinggangnya,membuat dia terlonjak kaget. "Kakak!"


"Suth... Jangan berisik," ucap Bara sembari melihat kearah Qiara dan Aira yang sedang menggeliatkan tubuhnya.


Echa beralih menatap kearah Bara. "Kakak kenapa kesini?"


"Capek, jangan di tanya dulu," jawab Bara sembari menyimpan kepalanya di bahu mungil milik kekasihnya itu seraya menatap keluar jendela.


Echa menganggukkan kepala sebagai jawaban, dia membiarkan Bara menjadikan bahunya sebagai tempat istirahat.


"Ca," panggil Bara sambil menatap wajah Echa.


"Hm?"


"Love you."


Echa hanya diam, dia tidak membalas ucapan Bara. Jujur saja, terangnya bulan malam ini membuat dia terpesona.


"Denger," jawab Echa melirik kearah Bara yang sedang menatap dirinya.


"Apa?" tanya Bara.


"Kak, istirahat sana." Echa mengalihkan pembicaraan, seperti akan tahu selanjutnya. Bara tidak menjawab perkataan Echa.


"Tidur. Caca juga mau tidur," ucap Echa sembari melepaskan tangan Bara yang melingkar di pinggangnya.


"Gak." ketus Bara malah mempererat pelukannya.


"Kakak..."


"Ca. Enggak." Bara menggelengkan kepalanya.


"Caca mau istirahat," ucap Echa sambil merapikan rambut Bara.


"Satu jam lagi."


"Kakak..."


Bara malah membalikkan tubuh Echa menjadi menghadap kearahnya, dia menatap lekat sorot mata yang menenangkan, teduh dan bahagia.



Wanita yang saat ini berada di hadapannya, mampu membuat kehidupan Bara berubah drastis. Pribadi yang dingin bukan lagi pribadi Bara saat Echa ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Echa bingung ketika Bara terus menatap dirinya.


"Jangan pergi, ya." Bara mengulas senyuman manis, tatapan menenangkan dan wajah yang menyiratkan bahagia.


Echa terpaku pada mata yang berwarna coklat terang, sorot mata itu membuatnya teringat dengan kejadian Arsenio. Pantulan cahaya yang menyinari mata Bara, membuat Echa semakin jatuh hati.


"Ca, dari tadi kakak ngomong, di dengerin kan?" tanya Bara ketika melihat Echa terus menatap nya.


Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sedangkan Bara yang hanya mendapat anggukan langsung mengangkat tubuh Echa dan mau tak mau Echa mengalungkan tangannya ke leher Bara. Jika tidak, bisa dipastikan dirinya akan jatuh.


"Kakak!"


Bara tidak menjawab bentakan Echa. Dia malah gemas ketika melihat kekasihnya itu marah seperti ini.


Echa melototkan matanya, menatap Bara yang sedang tertawa pelan. "Kakak, turunin gak?! Caca takut jatuh."


"Panggil sayang dulu," ucap Bara.


"Bara Gatramana. Turunin gak?"


Bara malah tertawa pelan saat Echa memarahinya. "Enggak sayang, bilang dulu, turunin sayang. Nanti baru di turunin."


Echa mengembuskan nafasnya, menatap mata Bara yang terus menatap dirinya, Bara pasti melihat serabut merah di pipinya.


"Sayang turunin," cicit Echa.


"Apa? Gak kedengeran."


"Sayang, turunin."


Bara tersenyum puas saat melihat rona merah di pipi Echa. Sangat menggemaskan pikirnya.


"Kak. Turunin!" titah Echa.


Bara segera menurunkan Echa. Dia sudah puas melihat wajah menggemaskan kekasihnya itu.


"Kak..."


"Sebentar," ucap Bara yang masih menatap wajah Echa.


"Bara!"


Teriakan itu mampu membuat Echa dan Bara terlonjak kaget.


"Iya, Ma. Kenapa?" tanya Bara ketika mendengar teriakan yang bisa menembus dinding kamar Echa.


"Angkat telepon Papa."


Bara melangkahkan kakinya keluar dari kamar Echa.


"Kamu ngapain disana? Caca butuh istirahat," ucap Bunda An ketika melihat Bara keluar dari kamar Echa.


"Cari kunci motor."


Bunda An mengernyitkan dahinya sembari menatap ke arah meja dengan tumpukan berkas. "Itu kuncinya, Bara."


"Tadi Bara liat gak ada disana."

__ADS_1


"Mama tau kamu bohong. Gak perlu cari alasan lagi, Bara" ucap bunda An sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.


Bara menghela nafasnya seraya menatap kearah Echa yang sedang tertawa pelan ketika mendengar jawaban dari bunda An.


__ADS_2