TEROR

TEROR
|143| PENGANTIN


__ADS_3

Setelah mengantar Aira ke rumah Mutiara, kini Echa menunggu Bara yang meeting. Dia melihat beberapa berkas yang ada di meja. Echa juga mengamati ruangan Bara. Apa Bara betah dengan ruangan seperti ini? Jujur saja, dia tidak menyukai gaya dari ruangan Bara. Namun, ruangan ini paling menenangkan dibanding ruangan lainnya. Echa juga melihat ada ruangan lain disebelah Bara. Mungkin ruang Sekertaris nya. Terlihat dari papan nama yang bertengger di atas meja.




"Sekertaris nya perempuan? Cantik gak ya?" tanya Echa pada dirinya sendiri.


Saat Echa sedang membaca beberapa peraturan perusahaan yang terpampang jelas, tiba-tiba saja ada seseorang masuk kedalam ruangan Bara.


Cklek.


Echa langsung melihat kearah pintu dan melihat pria paruh baya yang sudah terlihat tua namun tidak memudarkan kewibawaannya. Siapa lagi jika bukan Daniel? Pemilik dari perusahaan yang sedang Bara pegang saat ini.


"Lho, Caca kenapa disini?" tanya Daniel dengan senyuman manisnya.


"Caca disuruh sama kak Bara buat nemenin, ayah apa kabar?" Echa menghampiri Daniel sembari mencium punggung tangannya.


"Baik, Bara nya rapat? Udah lama?" tanya Daniel.


Echa menggelengkan jawaban sambil tersenyum kearah Daniel yang sedang mengambil beberapa berkas dari rak. "Baru beberapa menit, Bunda An ikut kesini, yah?"


"Engga, bunda langsung ke rumah, katanya capek pengen istirahat," jawab Daniel.


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tidak ingin menganggu aktivitas Daniel.


"Ayah mau nyamperin Bara dulu, kamu gak apa-apa kan sendiri?" tanya Daniel diselingi tawa pelan.


"Gak apa-apa yah," jawab Echa.


Setelah mendapat jawaban dari Echa, Daniel langsung keluar dari ruangan Bara.

__ADS_1


Echa menyipitkan mata, melihat ada sesuatu yang aneh di ruang Sekertaris.


Dia melihat seorang wanita menggunakan gaun pengantin berwarna hitam, wajahnya terlihat manis namun di dominasi oleh kesedihan yang mendalam.



Tatapan murung dihari bahagia bukanlah hal yang menyenangkan, tapi tunggu. Kenapa dia ada di ruangan sekertaris? Apa ada sesuatu yang belum atau bahkan ingin disampaikan?


Echa mencoba untuk memejamkan mata, berkomunikasi dengan arwah tersebut. "Apakah kamu ingin menyampaikan sesuatu?"


Tidak ada jawaban dari arwah tersebut. Dia hanya menatap kearah Echa seolah meminta pertolongan. Echa tersenyum manis ketika arwah tersebut menatapnya. Dia sudah mencoba berkomunikasi dengan sosok tersebut. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.


Arwah tersebut memperlihatkan lehernya, Echa melototkan matanya banyak luka sayatan di leher tersebut. Bahkan ada yang menganga lebar. Pantas saja dia tidak menjawab pertanyaannya.


Cklek.


Pintu ruangan Bara terbuka, menampilkan seorang wanita cantik dengan pakaian yang lumayan minim masuk kedalam ruangan. Menatap tidak suka kearah Echa.


Echa hanya diam tidak menjawab perkataan wanita tersebut, bahkan sosok pengantin tadi hilang begitu saja.


"Kamu kerja kok diem aja, baru magang kok belagu, nanti dimarahin tuan baru tau rasa!" celetuk wanita tersebut.


Safira. Itu nama yang tertera di name card nya.


"Saya bukan karyawan magang." Echa menjawab perkataan Safira tanpa merendahkannya.


"Jangan belagu! Kalau magang ya magang aja, penampilannya juga tolong diperbaiki. Saya tidak suka pakaian berantakan seperti itu!" seru Safira menatap dari atas sampai bawah.


"Sudah saya bilang, saya bukan karyawan magang, mungkin mba nya salah orang." ucap Echa yang tidak suka dengan gaya bicara Safira.


"Baru magang aja belagu apalagi udah sarjana kayak saya nanti. Kalau magang ya magang aja! Gak usah ngelak! Ayo kerjakan beberapa dokumen ini, dalam satu jam harus selesai! Saya sudah telat, tuan sudah menunggu saya!" titah Safira sambil memberikan dokumen yang dia bawa sejak tadi.

__ADS_1


"Saya?" tanya Echa menatap kearah dokumen tersebut.


"Iya! Siapa lagi kalau bukan kamu!" bentak Safira sambil mencengkram kuat dagu Echa.


Sedangkan Echa menatap tajam kearah Safira. Dia ingin tahu seberapa jauh tindak kekerasan yang Safira lakukan.


Apa Bara sungguh merekrut orang seperti ini dengan mudah? Dilihat dari gelar, Memang pangkatnya tinggi tapi tidak dengan sikapnya.


"Saya tidak suka anak baru belagu! Dan catat beberapa poin penting jika kamu ingin bekerja disini!"


"Pertama, saya tidak suka dibantah. Kedua, saya tidak suka rekan kerja yang berantakan seperti kamu. Ketiga, kamu harus selalu ada ketika saya butuh bantuan. Keempat kamu tidak boleh menatap seperti itu kepada saya, bahkan tidak ada karyawan disini yang berani menatap seperti itu kepada saya selain Bara. Kelima, jangan pernah mencoba mendekati Bara. Dia hanya milik saya. Dan akan tetap seperti itu. Paham?!" ucap Safira penuh penekanan.


Echa menepis tangan Safira, membuat si pemilik tangan tersebut mengaduh kesakitan. "Saya tidak mau! Saya disini hanya untuk Bara! Bukan untuk anda!"


Safira mengepalkan tangannya kuat sembari menarik rambut Echa, membuat Echa harus mengangkat kepalanya. Rasa perih di rambutnya membuat Echa meringis kesakitan. "Tapi anda akan bekerja untuk saya!"


"Lepas!" Bentak Echa sembari memberontak. Namun nihil Safira malah lebih menarik rambut Echa.


"Kamu membantah saya dan ini baru hukuman pertama dari saya, akan saya pastikan kamu menderita selama bekerja dengan saya!" ucap Safira.


"Dan saya pastikan kamu tidak akan pernah bekerja disini lagi!" jawab Echa penuh penekanan sambil mencengkram kuat tangan Safira, membuat dia harus melepaskan tangannya dari rambut Echa.


Echa segera menghempaskan tangan Safira kasar dengan senyuman miring yang jarang Echa keluarkan. Terlihat mengerikan bagi yang belum pernah melihatnya.


"Anda mengancam saya? Bahkan pangkat anda saja tidak lebih tinggi dari saya, lantas bagaimana cara anda mengeluarkan saya? Cari muka? atau jual diri?" Safira memutar bola matanya malas. Dia sama sekali tidak mengindahkan ucapan Echa yang mungkin saja akan terjadi.


"Saya tidak mengancam, tapi itu peringatan," jawab Echa sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Berani-beraninya kamu duduk disitu! Kamu harus bekerja, dasar anak magang tidak tahu diri! Cepat kemari!" bentak Safira sambil menarik tangan Echa.


"AW... Lepas..." Echa berhasil menarik pergelangan tangannya yang memerah karena tarikan Safira. "Saya sudah bilang! Saya bukan karyawan magang!"

__ADS_1


Safira hanya memutar bola matanya, menatap tidak percaya kearah Echa. "Apa wajah saya terlihat peduli?"


__ADS_2