
Malam hari telah tiba, ini waktunya Echa sudah pulang ke rumahnya beberapa menit yang lalu bersama dengan Bara. Namun, kekasihnya itu sudah pergi lagi tanpa berpamitan kepada ibunya.
"Bu..." panggil Echa sembari melepaskan high heelsnya.
"Iya, Ca? Ibu ada di atas lagi sama Qiara." Teriak Roslyn dari dalam kamarnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Echa langsung melangkahkan kaki ke kamar Roslyn.
"Ibu," ucap Echa sembari memeluk tubuh Roslyn. Sedangkan Roslyn yang mendapat pelukan tiba-tiba itu tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga terjatuh ke tempat tidur.
"Ya ampun, Ca. Kira-kira kalau mau meluk, ibu belum siap, sakit pinggang ibu." ucap Roslyn seraya membalas pelukan Echa.
"Kak Caca, ibu beliin gaun bagus banget buat kakak," ucapan yang keluar dari mulut seorang anak kecil membuat Echa melepaskan pelukan sembari tersenyum kearah Qiara. Rasanya, sudah lama sekali tidak bertemu anak kecil manis ini.
"Oh ya? Coba kak Caca liat," ucap Echa antusias sembari duduk di bawah Qiara.
Qiara yang mendapat jawaban seperti itu langsung menunjukkan gaun pilihan Roslyn untuknya.
"Ibu sengaja beli gaun ini buat kamu pake sekarang juga," ucap Roslyn ketika gaun tersebut telah berada di tangan Echa. Tidak terlalu mewah, namun jika Echa yang memakainya, laki-laki mana yang tidak terpesona dengan kulit putih mulusnya? Di tambah wajahnya yang manis.
"Malam ini juga?" tanya Echa sembari menatap Roslyn.
"Iya, Malam ini juga, pokoknya gak mau tau dalam satu jam dari sekarang Ibu tunggu kamu siap-siap." jawab Roslyn.
"Mau kemana si, Bu?" tanya Echa bingung.
"Cepetan, Ibu gak mau nunggu lama." titah Roslyn.
Sedangkan Echa langsung menatap kearah Qiara sembari tersenyum manis. "Qiara sayang, malam ini..."
"Echa Aprilia Anjani. Sekarang atau ibu tinggal." ucapan yang keluar dari mulut Roslyn membuat Echa memberhentikan ucapannya seraya berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Kamu jangan bilang apa-apa ya sama Kak Caca," ucap Roslyn sembari mengelus lembut rambut Qiara.
Qiara menganggukkan kepala seraya mengacungkan jempolnya dan tersenyum manis. "Siap, Bu."
"Ibu ngapain si harus nyuruh Caca pake gaun segala? sepenting apa acaranya?" gerutu Echa yang menenteng handuk. "Kan Caca jadi penasaran ada acara apa."
__ADS_1
...----------------...
30 menit telah berlalu Echa telah selesai dengan acara mandinya tersebut dengan gaun pemberian Roslyn yang sudah melekat di tubuhnya.
Echa berdiri di depan kaca, melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Baginya, gaun ini sangat bagus, namun. Beda hal nya dengan Bara. Gaun ini sangat tidak layak di gunakan. Tapi untungnya, Roslyn yang membelikan gaun ini, Bara tidak akan bisa mencegahnya.
"Caca telepon dulu kak Bara kali ya?" tanya Echa sembari menggenggam ponselnya. Dia menelepon nama Bara yang tertera di layar ponselnya.
"Halo Kak?" panggil Echa ketika sudah tersambung dengan telepon Bara.
"Hm?" gumam Bara, Namun Echa mendengar ada sedikit suara gaduh di telepon Bara.
"Kakak..."
"Ca! bisa gak jangan hubungin kakak dulu! Kakak lagi sibuk!" bentak Bara membuat Echa secara spontan menutup bibirnya rapat-rapat. Biasanya Bara tidak semarah ini, dia juga tidak pernah membentaknya meskipun dalam keadaan yang sibuk. Tapi kenapa malam ini, Bara begitu berbeda.
"Jangan ganggu kakak!"
Tut.
Panggilan telepon itu tiba-tiba saja putus secara sepihak. Sedangkan Echa masih diam mematung mendengar Bara meninggikan suaranya. Sedikit kaget dan kecewa tapi dia juga harus bisa mengerti keadaan Bara yang saat ini mungkin sedang super sibuk. Ditambah lagi perusahaannya sedang mencari beberapa karyawan untuk mengisi kekosongan bidang yang sangat dibutuhkan. Tidak sembarang orang bisa masuk ke perusahaan Aditama.

"Perfect." ucap Echa ketika melihat dirinya di depan cermin dengan gaun yang sangat indah.
"Ca, udah siap?" tanya Roslyn yang berada di depan pintu kamar Echa.
"Udah, Bu. masuk aja," ucap Echa.
Roslyn perlahan membuka pintu kamar Echa, dia melihat putri sematawayangnya itu terlihat manis dan anggun. Kulit putihnya membuat dia seolah paling bersinar malam ini. Begitupun dengan Roslyn dan Qiara. mereka menggunakan gaun yang juga berwarna hitam.

"Anak ibu emang gak pernah gagal," ucap Roslyn sembari mengelus lembut pipi Echa.
Echa tersenyum manis menatap Roslyn yang juga sama cantik seperti dirinya. "Siapa dulu ibunya."
__ADS_1
"Kamu bisa aja," ucap Roslyn tersipu malu.
"Ayo, Bu. acara nya mulai jam berapa?" tanya Echa.
"Sekarang," jawab Roslyn. "Oh iya, gimana Bara?"
Pertanyaan itu membuat Echa kembali merasakan sedikit rasa sakit di hatinya. "Em, Kak Bara lagi sibuk, kita naik mobil sendiri aja Bu, kalau ibu capek biar Caca aja yang nyetir."
"Biar ibu aja, ini udah malem takutnya di jalan ada apa-apa," ucap Roslyn seperti mengerti kekecewaan yang di rasakan oleh Echa.
"Emang ada acara apa, Bu?" tanya Echa penasaran.
"Biasa, ibu lagi mau ketemu klien, temen bisnis, sama mau kenalin sama anaknya pak direktur." jawab Roslyn.
"Oh iya, Bi Neni kemana? Caca gak ngeliat?" tanya Echa penasaran sembari mengikuti Roslyn menuruni anak tangga.
"Em, itu... Bi Neni katanya mau pulang kampung dulu," ucap Roslyn gugup.
"Oh ya? Kenapa gak bilang sama Caca?" tanya Echa.
"Mungkin lagi buru-buru," jawab Roslyn yang kini sudah masuk kedalam mobil.
"Qia mau duduk sama Kak Caca," ucap Qiara sembari duduk di pangkuan Echa.
"Qia cantik banget, waktu ibu sama kak Caca gak ada, main sama bi Neni?" tanya Echa sembari merapikan rambut Qiara.
"Engga, Qia main sama kakak cantik," jawab Qiara yang sedang memainkan tas milik Echa.
"Kakak cantik?" tanya Echa dan Roslyn serempak.
Namun tiba-tiba saja ponsel Echa berdering membuat perhatiannya teralihkan.
Bara. Itu nama yang tertera di layar ponsel milik Echa. Namun dia tidak mengangkat telepon tersebut.
"Kenapa gak di angkat, Ca?" tanya Roslyn tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Engga Bu, takut ganggu, Caca juga lagi males." jawab Echa.
__ADS_1
40 menit telah berlalu, mereka sudah sampai di tempat tujuan, cafe dengan nuansa serba gelap itu membuat Echa agak bergidik ngeri. Meskipun terlihat mewah dan elegan namun tetap saja pandangannya tidak bisa lepas dari banyaknya hantu yang berlalu lalang.
Mereka bertiga memasuki cafe tersebut, mencari seseorang. Roslyn melangkahkan kaki menuju seorang pria tampan yang usianya sekitaran 21. wajah nya yang tampan dan tatapan yang tajam membuat Echa sedikit bergidik. Di samping pria tampan tersebut ada seorang pria dengan usia sekitaran 40. Wajahnya pun tidak kalah tampan dengan pria di sampingnya.