TEROR

TEROR
|78| TIDAK ADA


__ADS_3

Saat ini Bara dan Echa sedang berada didalam mobil untuk pergi ke gedung pernikahan Mutiara.


"Nanti disana jangan deket-deket lagi sama Algi." Ucap Bara yang sedang menyetir mobil sambil menatap singkat kearah Echa yang sedang memainkan ponselnya.


"Iya kak." Ujar Echa yang sedang asik dengan ponsel miliknya itu.


"Lagi ngapain?" Tanya Bara penasaran ketika Echa lebih tertarik pada ponsel.


"Gak ngapa-ngapain." Jawab Echa sambil menatap kearah Bara.


"Denger yang kakak bilang tadi?" Tanya Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang masih terlihat lenggang.


"Apa?" Tanya Echa.


"Kalau dikasih tau denger-dengeran." Jawab Bara menatap kearah Echa.


"Iya Caca denger." Ucap Echa sambil menyimpan ponsel milik Bara.


"Apa coba?" Tanya Bara.


"Gak boleh deket sama Algi." Jawab Echa.


Bara hanya tersenyum sebagai jawaban menanggapi ucapan Echa, dia kembali fokus menatap kearah jalan, tidak ada percakapan apapun lagi di dalam mobil tersebut hingga Bara sudah sampai di depan gerbang gedung yang sangat mewah itu.


Bara memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang ada di gedung pernikahan Mutiara, masih belum ada tamu yang datang dan hanya ada beberapa wedding organizer yang berlalu lalang, maklum saja ini baru pukul 05.40


Saat Echa keluar dari mobil bersama dengan Bara, banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Siapapun yang melihat mereka berdua sudah seperti couple goals.


"Ayo." Ajak Bara sambil menggenggam tangan Echa. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil menatap kearah Bara yang sedang memasang wajah dingin andalannya.


Echa selalu saja risih jika di tatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia merasa sedang terintimidasi. Meskipun Echa dapat membaca pikiran orang bahwa dirinya dengan Bara sebuah hubungan yang sangat sempurna. Tapi tetap saja, siapa yang nyaman ditatap dari atas hingga bawah?


Namun saat Echa dan Bara berada diambang pintu, Echa berhadapan langsung dengan Algi dan Rayhan.


"Hai Ca." Sapa Rayhan sambil tersenyum.


"Eh.. hai." Jawab Echa dengan senyuman yang tak kalah manis.


Algi hanya menatap tidak suka kearah Bara bahkan menyapa Echa pun enggan. Echa tidak berharap untuk disapa Algi, mantan kekasihnya ini sudah membuat Bara dan Echa salah paham, terlihat dari tatapan matanya seolah Bara itu adalah musuh bebuyutannya.


"Udah ayo." Ajak Bara yang masih memasang wajah dingin andalannya. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melangkahkan kakinya pergi menuju kamar teman-temannya.


"Kakak mau ke rumah Kak Vero?" Tanya Echa.


"Iya." Jawab Bara.

__ADS_1


"Kenapa gak tadi aja? Langsung berangkat." Ucap Echa menatap kearah Bara yang lebih tinggi darinya.


"Mau ke Tante Mala dulu." Ujar Bara yang juga menatap kearah Echa.


"Kak key." Panggil Echa saat melihat Keyla melangkahkan kakinya menuju tempat souvernir.


"Eh, hai Ca." Sahut Keyla sambil melihat kearah Echa.


"Kak, Caca sama kak Key dulu." Ucap Echa. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tanpa melihat kearah Keyla.


Echa yang mendapat jawaban seperti itu langsung melangkahkan kakinya pergi menuju kearah Keyla yang sedang membuka kunci pintu ruangan souvernir.


"Gimana keadaan Aira?" Tanya Keyla sambil membuka pintu ruangan dan melangkahkan kakinya masuk kedalam diikuti Echa dibelakangnya.


"Udah mendingan kak." Jawab Echa.


"Sekarang udah gede ya?" Tanya Keyla sambil menatap kearah Echa.


"Iya." Jawab Echa membantu Keyla untuk menata souvernir agar bisa diambil dengan mudah.


"Dulu terakhir kali liat Aira pas lagi imut-imutnya, anak kecil umur 2 tahun yang ucapannya itu udah kayak orang dewasa, coba bayangin dia selalu bilang 'kak gak boleh gitu, biarin aja itu hak nya mereka.' siapa yang gak kaget denger ucapan itu keluar dari anak umur 2 tahun yang gigi aja baru tumbuh sedikit." Jelas Keyla yang mengingat beberapa kejadian antara dirinya dan Aira.


"Iya, Caca juga awalnya gitu kak. Diumur 3 tahun pemikiran Aira udah kayak orang dewasa." Ucap Echa.


Namun saat Keyla ingin menjawab perkataan Echa tiba-tiba saja Bara menghampiri kearah Echa.


"Sekarang?" Tanya Echa sambil menatap kearah Bara.


"Hm.." Gumam Bara melangkahkan kakinya pergi kearah luar.


"Caca kok bisa sih tahan pacaran sama Bara?" Tanya Keyla geram dengan sikap Bara yang dingin.


"Jalanin aja kak, nanti juga luluh." Jawab Echa sambil tersenyum.


Kak key gak tau aslinya kak Bara kalau cuman berdua udah selalu bikin Caca kesel, susah kemana-mana. Maaf Caca gak bilang jujur, takut diambil Kak. Ucap Echa dalam hati.


Wajar kan jika Echa takut Bara diambil oleh wanita lain? Bersanding di pelaminan bukan dengan dirinya? Rasanya sakit jika harus menerima kenyataan itu.


Tidak apa jika dia di cap wanita egois karena tidak memberitahu sikap Bara yang asli, yang penting tidak ada wanita lain yang bisa menaklukan Bara selain dirinya.


"Sabar banget mau luluhin kulkas 12 pintu." Ucap Keyla.


"Ya gimana lagi kak, Caca keatas dulu ya." Ujar Echa sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar Mutiara.


"Hati-hati Ca banyak kabel takut kesandung." Ucap Keyla. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


...----------------...


Sesampainya dikamar Mutiara, Echa melihat Mutiara yang menggunakan gaun pengantin sangat indah dan berkilau karena pantulan dari berlian yang harganya bisa dibilang sangat mahal.


"Ca." Panggil Mutiara yang wajahnya sedang di rias.


"Kenapa Kak?" Tanya Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Mutiara.


"Deg degan banget, tangan kakak sampai keringetan gini." Jawab Mutiara menatap kearah Echa lewat pantulan cermin.


"Tenang kak, semuanya bakalan lancar." Ucap Echa sambil menggenggam tangan Mutiara yang basah oleh keringat.


"Udah coba buat tenang tetep aja gak bisa." Ujar Mutiara dengan raut wajah khawatir.


Echa tidak dapat menyangkal bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama seperti Mutiara, tidak tenang. Padahal yang menikah adalah Mutiara, mungkin hanya terbawa suasana.


...----------------...


Sedangkan disisi lain seorang wanita berjubah hitam berada di satu ruangan gelap sedang menahan amarah dalam hatinya.


"Kenapa harus ada pernikahan?" Tanya seorang wanita sambil mengepalkan tangannya ketika mendapat kabar Bahwa Mutiara dan Alvero akan menikah saat ini.


"Maaf tuan, mereka sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari." Jawab sosok yang sedang menundukkan kepalanya ketika sedang berhadapan dengan wanita misterius itu.


Entah siapa nama wanita misterius yang sedang menatap dirinya dipantulan cermin, wajahnya sama sekali tidak dapat terlihat.


"Kau harus bisa menghentikannya. Bagaimanapun caranya, kau harus menghentikannya sekarang." bentak wanita itu.


"Tapi tuan aku sudah tidak kuat.." ucap sosok itu dengan tubuh yang terlihat hancur karena aura yang dimiliki oleh Bara dan teman-temannya.


Sosok yang menjadi budak dari wanita itu selalu mengawasi Echa dan teman-temannya dari jarak yang lumayan dekat, sosok itu selalu mencoba masuk kedalam dinding pertahanan dari permata milik Bara, Nathan dan Azka dengan terpaksa.


Tubuhnya selalu hancur berkeping-keping ketika menghadapi Bara, Nathan dan Azka tapi itu tidak membuat sosok dari budak wanita misterius itu jera karena itu sudah menjadi kontrak baginya.


Apapun yang tuannya minta dia akan mengabulkannya, apapun kondisinya sosok itu akan terus berusaha menghancurkan Echa dan teman-temannya meskipun tubuhnya sudah sangat hancur.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menghancurkan pernikahan mereka semua." ucap wanita tersebut.


"Jika pernikahan itu terjadi, bagaimana dengan nasibku? semuanya akan hancur. Semua perjuanganku akan sia-sia untuk bisa keluar dari tempat terkutuk itu." sambung wanita tersebut dengan amarah yang memuncak.


"Baik tuan, akan saya lakukan." ucap sosok yang ketakutan melihat amarah dalam diri tuannya.


"Jika kau tidak bisa maka aku akan mencari penggantinya." ujar wanita berjubah hitam sambil menatap kearah sosok yang sedang menundukkan kepalanya takut.


"Baik, akan saya lakukan dengan maximal, sesuai dengan perintah tuan." ucap sosok mengerikan dan menghilang begitu saja dari hadapan tuannya.

__ADS_1


"Akan ku pastikan tidak ada pernikahan bagi mereka." ujar wanita berjubah hitam dengan senyum sinis tercetak dibibirnya.


__ADS_2