
Hari sudah mulai menjelang malam, Echa sedang bersiap-siap untuk pergi dari rumah sakit bersama dengan bunda An, Aira dan Daniel menggunakan mobil milik Nathan dan Bara.
Bara meminta kepada Nathan untuk mengantar kedua orang tuanya bersama Hanin sedangkan Aira bersama dengan Echa dan Bara, dia memaksa untuk mengelilingi kota Jakarta walau hanya sebentar.
Bahkan ketika bara meminta izin kepada dokter untuk membawa Aira pulang, dokter saja bilang keadaannya belum sangat baik tetapi Aira tetaplah Aira, dia malah memarahi dokternya.
Mau tidak mau, dokter membiarkan Aira untuk pulang kerumah bahkan bujukan yang keluar dari mulut Echa pun sama sekali tidak di gubris oleh Aira.
"Kak Caca, waktu Aira lagi naik mobil sama papa, mama. Aira ngeliat yang aneh." Ucap Aira tiba-tiba yang sedang berada di pangkuan Echa.
"Liat apa?" Tanya Echa sambil merapikan rambut Aira.
"Aira gak tau itu apa, kayak inget gak inget." Jawab Aira.
"Aira ngeliat bayangan?" Tanya Echa yang kembali teringat tentang mimpi yang seperti nyata tapi tidak memiliki bukti yang nyata.
Namun saat Aira ingin menjawab pertanyaan Echa, tiba-tiba saja ponsel Echa bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya.
Drt.. drt.. drt..
"Sebentar ya sayang." Ucap Echa sambil tersenyum kearah Aira dan mengangkat telpon tersebut. Aira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sedangkan Bara masih melajukan mobil dengan kecepatan standar.
"Halo, siapa ya?" Tanya Echa ketika di layar ponselnya terpampang nomor tidak dikenal.
"Hai Ca." Jawab orang tersebut ketika tersambung dengan Echa.
"Siapa ya?" Tanya Echa bingung.
"Ini aku Algi." Jawab orang tersebut.
Echa yang mendengar nama itu langsung melihat kearah Bara yang masih menatap kearah jalan, bisa bahaya jika Bara tahu Algi menelpon dirinya.
"Siapa?" Tanya Bara yang dapat melihat Echa menatap dirinya dari ekor matanya.
"Em, Algi." Jawab Echa.
Bara yang mendengar nama itu langsung menatap singkat kearah Echa, tatapannya sulit diartikan.
"Halo Ca, masih disana kan?" Tanya Algi yang sejak tadi tidak mendapat jawaban dari Echa.
"Eh, iya, Caca masih disini." Jawab Echa bingung, entah kenapa tangannya seolah susah untuk mematikan sambungan tersebut.
__ADS_1
"Dari tadi aku cerita loh, gak di dengerin?" Tanya Algi.
"Em, itu.." jawab Echa, namun ketika dia ingin berbicara sesuatu tiba-tiba saja Bara merebut ponselnya.
"Ngapain Lo?" Tanya Bara ketus kepada Algi yang berada di sambungan telponnya.
"Suka-suka gue lah." Jawab Algi tertawa sinis.
"Gak usah basa basi, mau ngapain?" Tanya Bara menatap tajam kearah depan.
"Oke kalau Lo gak mau basa basi." Jawab Algi.
"Gue mau Echa kembali." Sambung Algi tersenyum sinis dengan mata yang berubah menjadi hitam beberapa detik.
"Damn it!" Ucap Bara yang langsung memutuskan sambungan telponnya.
Sedangkan Algi yang merasa sambungan telponnya itu langsung di tutup oleh Bara langsung tersenyum sinis dengan mata yang sepenuhnya menghitam.
"Lain kali jangan di angkat lagi." Ujar Bara sambil memberikan ponsel yang dia ambil secara tiba-tiba kepada Echa.
"Algi bilang apa?" Tanya Echa penasaran.
Echa yang dapat merasakan Bara sedang emosi itu memilih diam, dia tahu bagaimana Bara jika sudah marah dan terus di berikan pertanyaan, itu semakin membuatnya emosi.
"Kak, Aira mau pulang." ucap Aira yang seperti ingin istirahat. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aira tidur aja kalau mau tidur." ujar Echa mengelus lembut kepala Aira.
"Tapi Aira berat, gak apa-apa kan Kak?" Tanya Aira menatap kearah Echa yang sedang tersenyum manis.
"Kata siapa Aira berat? Enggak kok." Jawab Echa yang masih mengelus kepala Aira lembut.
"Tidur ya, masih jauh, nanti Kak Caca bangunin kalau udah sampai." Ucap Echa. Aira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan menyamankan tubuhnya agar bisa tertidur di pangkuan Echa.
Echa yang melihat Aira memejamkan matanya itu terus mengelus kepala Aira lembut.
"Aira terus, kakak enggak?" Tanya Bara ketus.
Echa yang mendengar celetukan dari Bara itu hanya tertawa kecil, bisa-bisanya Bara cemburu dengan perilaku dirinya kepada Aira.
"Apa kakak harus sakit dulu biar bisa kayak Aira?" Tanya Bara lagi.
__ADS_1
"Apa si kak, jangan bilang gitu." Jawab Echa menatap tajam kearah Bara.
"Kakak gak pernah di panggil sayang sama Caca." Ucap Bara. Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika Bara berbicara seperti itu.
"Giliran Algi di angkat telponnya." Sambung Bara ketus.
"Apa hubungannya kak?" Tanya Echa yang tidak tahu apa maunya Bara. Namun Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, dia memilih bungkam.
"Caca mau tanya sesuatu kak." Ucap Echa sambil melihat kearah Aira yang sudah tertidur. Terlihat dari nafasnya yang teratur.
"Hm." Gumam Bara.
"Serius kak, udahan dulu marahnya." Ucap Echa kini beralih menatap Bara yang sedang memasang wajah dinginnya.
"Hm." Gumam Bara.
"Kakak tau Algi?" Tanya Echa to the point. Dia tidak peduli bara akan meresponnya seperti apa yang penting pertanyaan di kepalanya sudah keluar.
"Gak tau tapi gak asing sama mukanya." Jawab Bara yang masih memasang wajah dinginnya.
"Caca ngerasa Algi kenal sama kakak." Ucap Echa.
"Ya tapi kakak gak kenal." Ujar Bara sambil menatap kearah Echa.
"Kenapa nanya tentang Algi?" Tanya Bara.
"Ya kan Caca cuman tanya aja." Jawab Echa.
"Nanyanya jangan tentang dia." Ucap Bara ketus sambil menatap jalanan.
"Yaudah Caca minta maaf." Ujar Echa.
"Hm." Gumam Bara.
"Yang jaga bunda sama ayah siapa?" Tanya Echa.
"Tante Helena sama Om Edwin." Jawab Bara.
"Siapa?" Tanya Echa yang asing mendengar nama tersebut.
"Adiknya Papa." Jawab Bara. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dia kembali mengelus lembut kepala Aira yang berada di pangkuannya.
__ADS_1