TEROR

TEROR
|45| BAHAYA


__ADS_3

Saat ini Echa dan Bara sedang melangkahkan kakinya menuju ruangan Aira, Echa baru saja mendapat kabar bahwa Aira sudah di pindahkan keruangan biasa, keadaanya sudah membaik namun masih belum sadarkan diri sedangkan keadaan Bunda An sudah sadarkan diri.


Namun saat di lorong menuju ruangan Aira, Bara merasakan ada seseorang yang mengikuti setiap langkahnya.


Bara mencoba untuk berpura-pura tidak tahu ada orang yang mengikutinya, bahkan dia tidak berbicara kepada Echa bahwa ada orang yang sedang mengintainya. Biarkan ini menjadi urusannya sendiri.


Sesampainya di ruangan Aira. Echa dan Bara melangkahkan kakinya menuju Aira yang masih memejamkan matanya.


"Aira.. ini kak Caca, kapan mau bangun?" Tanya Echa sambil mengelus lembut kepala Aira.


"Aira, cepet bangun sayang.." sambung Echa lirih.


Bara yang mendengar suara Echa itu langsung mengelus kepala Echa, untuk menenangkannya.


Echa akui, dirinya sangat sakit melihat keadaan Aira yang tidak berdaya. Lebih baik Echa terus diikuti oleh Aira kemana-mana daripada harus melihat keadaan Aira yang seperti saat ini.


"Udah.." ucap Bara sambil mengelus bahu Echa.


"Kapan Aira bangun kak?" Tanya Echa tanpa mengalihkan pandangannya dari Aira.


"Sebentar lagi." Jawab Bara sambil memeluk Echa.


"Caca takut.." Ucap Echa yang berada di pelukan Bara. Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia juga sendiri takut dengan keadaan Aira yang seperti ini.


Drugh..


Bara dan Echa dibuat kaget oleh suara yang ada di luar ruangan. Bara langsung melepaskan pelukannya kepada Echa sambil menatap kearah pintu.


Ini hal yang perlu di waspadai, pasalnya ruangan Aira adalah ruangan terakhir dan paling ujung. Tidak ada lagi ruangan lainnya.


"Tunggu disini, jangan keluar ruangan sampai kakak kesini." Ucap Bara sambil menatap kearah Echa.


"Tapi.." Ujar Echa khawatir, perkataan Echa langsung di sanggah oleh Bara.


"Gak lama, inget jangan keluar ruangan tanpa kakak." Ucap Bara kini melangkahkan kakinya kearah pintu.

__ADS_1


Echa yang melihat Bara keluar dari ruangan dengan permintaannya itu menjadi penasaran tapi dia tidak ingin terjadi sesuatu.


Jika bara sudah berkata sepeti itu maka itu sebuah peringatan bahaya baginya dan bagi Aira.


"Aira.." panggil Echa sambil menggenggam tangan Aira yang dingin.


"Bangun, kasih tau kak Caca, apa yang Aira liat. Kenapa Aira bisa sampai gini?" Tanya Echa menatap mata Aira yang masih terpejam.


Saat Echa sedang menggenggam tangan Aira dalam keheningan tiba-tiba saja tangan Aira menggenggam tangannya kuat, membuka matanya dengan nafas yang memburu.


"Kak Bara." ucap Aira sambil menggenggam tangan Echa erat.


"Aira sayang, Aira denger kakak kan? Tunggu sebentar ya, jangan tutup matanya." ujar Echa yang langsung memencet tombol untuk memanggil perawat.


Echa terus menekan tombol itu sambil melihat Aira yang seperti sesak nafas terus memanggil nama Bara dengan tangan yang menggenggam tangan Echa erat.


"Aira.. kenapa sama Kak Bara?" Tanya Echa sambil mengelus kepala Aira untuk menenangkannya mencoba agar Aira tidak memejamkan matanya lagi.


"Kak Bara.." ucap Aira.


"Bahaya." Jawab Aira dengan mata yang mulai memejam dan pegangan tangan yang mulai melemah.


"Aira.. hei.. jangan tutup matanya dulu, Aira belum bilang apa-apa sama Kak Caca, kenapa sama Kak Bara?" Tanya Echa yang melihat Aira mulai memejamkan matanya.


Tak lama kemudian satu orang perawat dan satu orang dokter datang keruangan Aira, Echa memberi akses kepada dokter dan perawat itu untuk memeriksa keadaan Aira.


Echa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, dia juga merasakan Bara dalam bahaya tapi dia ingat peringatan yang telah Bara berikan padanya untuk tidak keluar ruangan.


"Kak Bara.." panggil Echa dalam hati sambil memejamkan matanya.


Echa langsung teringat dengan Shila, ya. Dia harus meminta tolong kepada Shila. Echa memanggil nama Shila dan tak lama kemudian Shila ada dihadapannya.


"Ca.." ucap Shila khawatir.


Tadi, Aira bilang kak Bara dalam bahaya. ucap Echa dalam hati sambil melihat kearah dokter yang masih memeriksa keadaan Aira.

__ADS_1


"Iya, itu bener. Shila liat sendiri." ujar Shila.


Dimana?


"Caca gak boleh kesana, itu bahaya buat Caca sama Aira." Jawab Shila.


Tapi Caca harus kesana, Caca gak bisa biarin Kak Bara sendirian. ucap Echa dalam hati yang langsung melangkahkan kakinya kearah pintu.


Namun Shila yang bisa membaca pergerakan Echa itu langsung mengeluarkan kekuatannya untuk membuat pintu itu tidak bisa terbuka.


"Ca. Dengerin Shila." Ucap Shila yang melihat Echa berusaha untuk membuka pintunya.


Buka pintunya Shila! Bentak Echa.


"Ca! Dengerin Shila! Itu bahaya! Biarin Bara sendirian yang hadapin semua itu sendirian!" ucap Shila dengan nada tinggi ketika Echa terus memaksa ingin keluar ruangan.


Tapi Shila! Itu gak mungkin! Caca bisa ngerasain kekuatan itu!


"Tenang.. Caca percaya sama Bara kan?" tanya Shila dengan suara lembut sambil menghampiri Echa yang tidak bisa berpikir jernih.


Echa yang melihat Shila ada di belakangnya itu langsung menatap kearah Shila dan menganggukkan kepalanya lemah sebagai jawaban.


Shila tolongin kak Bara.. ucap Echa lirih sambil menatap kearah Shila seolah meminta pertolongan.


"Shila lagi berusaha buat tolongin Bara, tapi dia terlalu kuat. Shila janji Bara gak bakalan kenapa-kenapa." ucap Shila sambil menatap mata Echa.


"Tapi Caca juga harus janji buat gak keluar ruangan." sambung Shila sambil menatap kearah dokter dan perawat yang masih belum selesai memeriksa Aira.


"Jaga Aira, jangan sampai tinggalin dia sendirian." ucap Shila kini menatap mata Echa lekat. Echa yang mendengar perkataan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah sambil menatap Aira.


"Shila janji bakalan bawa Bara kembali ke Caca, meskipun ada luka lecet, tapi Shila bakalan lindungi Bara kalau dia kenapa-kenapa, percaya kan sama Shila? Tenang ya." Ucap Shila yang langsung menghilang dari hadapan Echa.


Echa yang sudah tidak melihat Shila itu langsung duduk di sofa sambil menatap kearah Aira dan meneteskan Air matanya.


Dia khawatir terjadi apa-apa pada Aira ataupun pada Bara, dia tidak ingin hal buruk menimpa kakak beradik itu.

__ADS_1


__ADS_2