
Di Mall.
Lisa sengaja meminta Li untuk mengantarnya ke Mall yang tidak jauh dari sana, Lisa merasa kasihan pada Laura yang begitu gemetar ketakutan. Pakaian yang kotor dan kaki penuh luka akibat tidak memakai alas kaki. Sebelum pergi untuk makan Lisa membawa Laura memilih pakaian dan memandikannya di toilet Mall.
“ Sekarang Laura mandi dulu ya, setelah bersih baru pakai baju bagus ok?.”
“ Apa kau bisa memandikanku?.” Laura sangat imut.
“ Apa dia tidak bisa mandi sendiri?.” tanya Zavier.
“ Dia masih anak kecil, biarkan aku memandikannya sayang.”
“ Baiklah, aku akan menunggu dia sana, jangan lama-lama sayang.” Zavier membawa Darvi duduk di sofa yang telah di siapkan pemilik toko.
30 menit kemudian, Lisa membawa Laura keluar dengan pakaian yang bagus, Laura tampak cantik setelah mandi dan memakai pakaian yang bersih, Darvi tertegun melihat Laura yang begitu cantik.
“ Hei! terpesona ya?.” Zavier sengaja menggoda Darvi yang tertegun melihat Laura.
“ Apa maksudmu ayah?.” Darvi menundukan kepalanya.
“ Hahaha! aku tahu kalau kamu suka sama gadis itu, benarkan? ayah pernah muda dan bisa merasakannya sayang.” bisik Zavier di telinga Darvi.
“ Apa yang ayah katakan? aku hanya tidak menyangka kalau gadis yang terlihat kotor itu sangat cantik setelah memakai pakaian bersih.” batin Darvi dengan kesal.
Zavier tahu kalau Darvi tidak suka kalau anak lain mendekati ibunya, Zavier semakin yakin kalau Darvi ada perasaan khusus pada Laura sampai mengizinkan Lisa memandikan Laura.
“ Sayang, lihatlah anak ini, dia sangat cantik bukan? bagaimana menurutmu Darvi, apa dia cantik?.” Lisa menggandeng tangan Laura.
“ Biasa saja, tidak ada yang menarik.” dengan nada ketus.
“ Tidak, nama Laura sangat cantik seperti orangnya.” Lisa membujuk Laura agar tidak marah pada Darvi.
Laura hanya terdiam dan melihat orang yang tengah makan di resto, Laura menunjuk ke arah resto dan berkata. “ Ibu, aku lapar.”
Zavier dan Darvi terkejut mendengar Laura memanggil Lisa dengan sebutan ibu.
“ Apa-apaan ini? aku tidak mengizinkanmu memanggil ibu ku dengan sebutan ibu, dia ibu aku, bukan ibu kamu! apa kamu mengerti Laura?.” Darvi berdiri dan memarahi Laura.
“ Apa itu benar ibu? kau bukan ibu aku? lalu siapa ibu aku, di mana dia sekarang?.” Laura bersedih dan meminta Lisa menjawabnya dengan jujur.
“ Laura, tolong jangan salah paham, aku memang bukan ibu kamu, tapi kamu bisa menyebutku bibi, hanya bibi Lisa, jangan lupa itu ya. Kamu tenang aja, aku akan berusaha mencari orang tua kandungmu.” Lisa merasa sedih harus mengatakan hal demikian pada Laura.
“ Tidak mau, aku mau kamu jadi ibu aku. Hiks hiks! kamu adalah ibuku, kamu ibuku.” teriak Laura sambil menangis.
__ADS_1
“ Sudah-sudah, ayo kita makan, kamu sudah lapar bukan?.” Lisa mengalihkan pembicaraan.
Di saat semuanya menikmati makanannya, Laura meminta Lisa untuk menyuapinya. “ Ibu, apa kau bisa menyuapiku makan?.”
“ Hemm! aku, aku,.”
“ Tidak bisa! kau bisa makan sendiri tanpa menyusahkan ibuku.” Darvi memotong kata-kata Lisa.
“ Baik kakak tampan. Maafkan aku sudah merepotkan kalian.” ujar Laura.
Zavier semakin bingung melihat kedua anak itu, yang satu adalah putranya, yang satu adalah anak tidak tahu asal usulnya tapi Zavier merasa kasihan pada Laura.
“ Sayang, ikut aku sebentar, aku mau pesan cemilan pencuci mulut.” Zavier menggenggam tangan Lisa.
“ Iya sayang, kalian tunggu di sini ya, jangan kemana-mana.” perintah Lisa.
“ Baik bu.” saut Darvi.
Zavier sengaja membawa Lisa ke toilet untuk mengatakan sesuatu yang tidak boleh di dengar Laura.
“ Ada apa sayang? kenapa kamu membawaku kesini?.”
“ Sayang, apa kamu tidak berencana untuk mengantar Laura pulang? aku khawatir kalau Darvi akan semakin marah karena kamu terlalu perhatian sama Laura. Aku takut kalau Darvi akan berpikir jika kita memiliki anak lagi maka kasih sayang kita akan terbagi untuknya, lihat bagaimana cara Darvi menatap Laura, dia semakin kesal mendengar kamu di panggil ibu sama Laura.” Zavier terlalu khawatir.
“ Tentu saja, aku ingin memiliki satu anak perempuan yang imut dan cantik, kenapa? apa kamu tidak mau mengandung anakku?.”
“ Tidak-tidak, bukan seperti itu maksudku, aku hanya, aku hanya berpikir kenapa kalau kita mengadopsi Laura sebagai anak angkat?.”
“ Apa?! Laura?.”
“ Iya, apa kamu tidak lihat, betapa cantiknya Laura, aku menyukainya sayang.”
“ Aku tidak bisa sayang. Aku hanya ingin anak dari darah dagingku, bukan anak orang lain. Aku tidak bisa, maaf!.”
“ Sayang, coba kamu pertimbangkan terlebih dulu, Laura menceritakan padaku kalau dia tidak punya orang tua, sejak bayi dia sudah tinggal sama brandalan itu, aku kasiahan padanya, tolonglah sayang.” Lisa sampai memohon agar Zavier mau mengangkat Laura sebagai anak angkat.
“ Tapi aku tidak bisa sayang, aku hanya mau anak kandungku, bukan anak orang lain.” Zavier terlihat marah.
Zavier sudah marah dan memukul tembok, Lisa terdiam dan tidak berkata sepatah katapun, Lisa membiarkan Zavier pergi meninggalkannya di toilet.
Lisa menenangkan dirinya dan mencuci muka, sambil melihat dirinya di pantulan cermin.“ Aku harus bagaimana? aku tidak tega jika harus meninggalkan Laura di panti asuhan. Tapi bagaimana dengan Zavier, dia tidak mau aku membawa Laura pulang ke Villa.”
Setelah merasa baikan Lisa kembali ke meja untuk melanjutkan makannya. Tapi Zavier sudah tidak ada di kursi, hanya ada Li yang berdiri de belakang Darvi.
__ADS_1
“ Li, ke mana perginya tuan?.”
“ Tuan ada urusan di kantor nyonya, tuan juga berpesan padaku untuk mengantar nyonya pulang, tapi sebelum itu kita harus pergi ke panti asuhan untuk mengurus nona Laura.” menyampaikan pesan dengan terpaksa.
“ Baiklah, aku mengerti.”
Lisa melihat Laura yang sangat lahap makannya merasa kasihan, Lisa tidak tega melihat Laura harus di antar ke panti asuhan, tapi apa boleh buat, Lisa tidak mau membuat Zavier marah hanya karena anak kecil.
Di perjalanan, Lisa sengaja mengajak Laura pergi ke tempat boneka dan wahana, Laura sangat senang dengan itu, tapi Darvi selalu menjaga jarak agar ibunya tidak terlalu perhatian sama Laura.
“ Aku menyukainya, terimakasih ibu, ehh! bibi.”
“ Sama-sama.” Lisa merasa bahagia jika Laura menjadi anaknya.
Tidak lama kemudian waktunya untuk mengantar Laura ke panti, Laura tidak mengetahui kalau dirinya akan di titipkan di panti asuhan oleh Lisa. Tiba saatnya di mana Lisa membawa turun Laura dan masuk ke panti itu, karena Laura tidak bisa membaca jadi Laura merasa kalau panti itu adalah rumah Lisa.
“ Ibu, bibi apa ini rumahmu? sangat besar dan bagus.” Laura kagum melihat panti yang megah.
“ Hah! apa kau menyukainya?.”
“ Iya tentu saja, ini sangat indah, banyak tempat bermain di sini, aku pasti akan betah tinggal di sini.”
“ Itu lebih baik, aku tidak akan memberitahu Laura kalau ini adalah panti asuhan, di mana tempat anak kecil yang di telantarkan.” batin Lisa.
“ Darvi, sebaiknya kamu tunggu ibu di dalam mobil saja ya, ibu akan bicara sama ibu panti untuk menitipkan Laura di sini.”
“ Tapi bu, apa ibu yakin?.”
“ Kenapa sayang? bukankah kamu tidak suka ada Laura di antara kita.”
“ Bukan seperti itu bu, aku hanya, aku tidak mau kalau dia menyebutmu ibu, kau hanya ibuku seorang.”
“ Ternyata benar yang di katakan Zavier, Darvi merasa tersaingi sama Laura, ia merasa kasih sayang dariku akan terbagi jika ada anak kecil yang dekat denganku.” batin Lisa.
“ Baiklah, sekarang kamu masuk ke dalam mobil dan tunggu ibu.”
Lisa membawa Laura masuk ke dalam, Laura di persilahkan bermain dengan temannya di ruangan khusus. Tidak butuh waktu lama, Lisa menyelesaikan semuanya dan menceritakan kronologinya pada ibu panti, ibu panti menerima Laura dan berjanji akan merawatnya dengan baik.
“ Untuk sementara waktu Laura tinggal di sini dulu ya, ibu janji ibu akan mengunjungi Laura sesering mungkin ke sini, sekarang ibu harus pergi. Jaga diri baik-baik ya nak, bermain sama teman baru di sini dan jangan nakal.”
“ Ibu janji ya, ibu akan datang ke sini untuk memelukku.”
“ Yaa, ibu janji.” Lisa memeluk Laura penuh dengan kehangatan membuat Laura nyaman berada di dekat Lisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG