Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part155


__ADS_3

Di Barr.


Banyak wanita cantik dan lajang di Barr, memakai pakaian sexii dan mini membuat penampilan mereka mengundang para pria hidung belang. Tapi itulah tujuan mereka, untuk mendapatkan uang mereka berusaha menggoda pria kaya.


Brian duduk dan memesan Wine, para wanita itu mendekat bahkan mengelus punggung Brian.


“ Tuan, apa kau sendirian aja di sini? biar aku temani.” tanya wanita itu sambil mengelus dada Brian.


Brian mengangguk sambil menikmati Wine yang ada di tangannya.


“ Siapa namamu?.” tanya Brian menatap wanita itu.


“Zizi, tuan bisa panggil Zi jika mau.” jawab wanita itu.


“ Emm, apa kau masih perawan? karena aku lebih suka jika bermain dengan gadis polos dan belum berpengalaman.” ujar Brian dengan santai.


Wanita itu menggelengkan kepala.


“ Sayang sekali, padahal kamu sangat cantik.” dengan kecewa.


“ Tapi Anda tenang saja tuan, walaupun saya sudah pernah melakukan beberapa kali tapi aku yakin tuan akan menyukaiku ketika di ranjang. Aku bisa muaskan Anda tanpa bayaran jika Anda mau.” wanita itu sungguh terpesona dengan ketampanan Brian.


“ Hahah, aku tidak kekurangan uang. Untuk apa memanfaatkan gadis sepertimu.” tertawa sedikit karena merasa di rendahkan.


“ Bukan itu maksudku tuan, aku hanya.” wanita itu terlihat panik dan berusaha menjelaskan maksudnya pada Brian, tapi Brian melarangnya.


“ Aku tahu.” memotong tanpa perasaan.


“ Itu berarti tidak ada paksaan atau memanfaatkan di sini. Ini murni kita sendiri yang ingin melakukannya.” Brian menebak dengan mengangguk.


“ Tuan benar.” menunduk dengan senang.


“ Baiklah, temani aku minum. Setelah mabuk kita pergi ke hotel malam ini.” Brian berbalik badan dan meminta pelayan menuangkan Wine untuknya.


“ Dengan senang hati.” duduk di dekat Brian dan membantu menyalakan rokok untuk Brian.


“ Emm, nikmat, sangat nikmat.” gumam Brian mengeluarkan asap roko dari mulutnya.


Setelah beberapa jam terlewati, Alea keluar dari kamar VIP saat menemani pelanggan bersenang-senang.


“ Hei! mau ke mana kau gadis kecil? jangan coba-coba pergi setelah mendapatkan uang dariku.” ucap pria tua mengejar Alea.


Teman dari pria tua itu menghadang Alea dan membuatnya tidak bisa melarikan diri.


“ Tuan, tolong beri aku waktu sebentar. Aku harus temui nenek di Rumah Sakit. Setelah selesai aku akan kembali aku janji pada tuan.” Alea bingung karena pria tua itu punya banyak rekan dan menghadang jalan keluar.


“ Kamu ingin membuatku menunggumu? Hahah, itu konyol sekali. Bagaimana bisa seorang gadis kecil sepertimu membuatku menunggu saat aku bersenang-senang di sini.” tertawa tidak senang.


“ Aku tidak berani, tapi tuan harus percaya kalau aku bisa datang kembali ke sini.” Alea berusaha meyakinkan pria tua itu untuk menemui nenek nya.

__ADS_1


“ Tidak bisa, tidak ada orang yang berani membuatku menunggu sepertimu. Berani sekali kamu!.” bentak pria tua.


“ Jika kau mau pergi berikan uang itu padaku, aku tidak puas karena kamu pergi saat aku masih menginginkanmu.” melihat uang yang ada di tangan Alea.


“ Ini, bukankah tuan berjanji akan memberikan uang setelah aku menemani tuan. Ini namanya tuan menipuku, jangan bodohi aku karena aku masih kecil tuan. Aku begini karena butuh uang, bukan cari kesenangan sendiri.” Alea marah dan memasukan uang itu ke dalam bajunya.


“ Kurang ajar! berani mengataiku penipu, aku tidak pernah menipu siapapun, justru kamu 'lah yang berusaha menipu dengan bawa uang sebelum perjanjian kita selesai di lakukan.” pria tua itu marah karena malu di lihat banyak wanita di Bar.


“ Tuan Anda berbohong, uang ini bayaran karena aku menemanimu minum. Tidak ada perjanjian sampai di atas ranjang, kau berbohong.” Alea takut dan tidak mau terjebak oleh pria tua itu.


“ Kamu! cepat seret dia ke kamar. Aku akan membayar dia dua kali lipat jika perlu.” pria tua itu marah dan menyuruh rekannya membawa Alea ke kamar yang telah ia pesan.


“ Baik teman.” mencengkram sekuat tenaga.


“ Tidak! kumohon lepaskan aku, aku tidak menjual tubuhku demi uang, aku hanya menemani tamu minum saja tidak lebih.” Alea berontak sampai uang yang ada di bajunya keluar berantakan.


“ Tunggu!.” Brian berjalan mendekat.


Para pria tua itu menengok ke belakang, Alea juga ikut berbalik melihat orang yang berani para pria tua itu.


“ Tuan? Anda di sini?.” gumam Alea.


Alea berpikir kalau Brian baik dan akan menolongnya dari cengkraman pria tua itu.


“ Siapa kamu? jangan sok jadi pahlawan di sini. Kamu tahu siapa aku? aku adalah pemilik perusahaan terbesar di kota H. Aswar Lingh.” dengan bangga tanpa tahu kalau Brian anak dari pemilik perusahaan Sanjaya.


“ Aku tidak peduli siapa kamu. Yang jelas dia wanitaku, kau tidak boleh membawanya. Berikan dia padaku atau kau akan menyesal nanti.” Brian memolototi pria tua itu.


“ Tenang, kalian jangan takut. Aku Aswar Lingh tidak takut pada siapapun.” bentak Aswar Lingh.


“ Bodiguard! tangkap pria muda ini dan berikan dia pelajaran. Aku ingin lihat apa dia akan berlaku sombong setelah di pukul beberapa kali di kepalanya.” dengan bangga menunjuk Brian.


“ Hah, tidak! jangan sakiti tuan itu, dia tidak bersalah. Kamu hanya berurusan denganku, kenapa ingin memukul dia?.” teriak Alea dengan panik.


Brian hanya berdiri tegak dan tidak berkata sepatah kata pun, hanya ingin melihat seberapa beraninya pria tua itu padanya.


“ Diam! dasar jal*ng. Ini karena kamu membangkang, itulah akibatnya jika berani menyinggungku.” plak! pria tua itu menampar Alea sampai terjatuh ke bawah.


Brian tidak tega melihat gadis kecil di perlakukan tidak adil di depannya. Tanpa banyak kata Brian langsung menyerang pria tua itu.


Bruk!


“ Kamu! berani memukulku? kubunuh kau!.” teriak pria tua memegang wajahnya yang terkena pukulan.


“ Bunuh? lancar sekali mengucapkan kata itu. Aku rasa banyak orang yang sudah kau habisi dengan kekayaanmu itu. Biarkan aku bantu kamu merasakan lebih baik mati dari pada hidup.” Brian mendekat dan memukul pria tua itu.


“ Ah, hentikan! kenapa kau terus memukulku?.” berteriak kesakitan.


Bodyguard pria tua itu hanya berdiri tercengang melihat Brian sangat lihai dalam bertarung.

__ADS_1


“ Kalian! kenapa diam di sana? cepat bantu aku atau kubunuh kau.” berteriak pada Bodyguard nya.


Bodyguard itu langsung menghajar Brian dari belakang, Brian di kelilingi para Bodyguard, tapi Brian berhasil memusnahkan para penjahat itu dalam waktu 2 menit.


“ Hah, tidak! tidak mungkin! berhenti, jangan sakiti anak buahku. Aku akan berikan uang padamu, berapa pun yang kau inginkan aku akan berikan.” pria tua itu seperti pecundang setelah melihat Brian memukul semua Bodyguard nya.


“ Sudah nyesal sekarang?.” tanya Brian menginjak tangan pria tua itu.


Pria tua itu mengangguk dengan kesakitan.


“ Astaga, tidak di sangka ternyata tuan itu sangat kuat. Bukan hanya banyak uang tapi dia juga lebih kuat dari yang kupikikan.” batin Alea kagum.


“ Hallo, apa ini kantor Polisi? iya aku mau melapor di sini ada penjahat yang berusaha membunuh orang. Tolong datang ke Barr sekarang juga.” ucap Brian di telpon.


Brian mematikan telponnya dan menyimpan ponselnya di kantong celana.


“ Tunggu Polisi datang menjemput kalian.” gumam Brian melotot.


Pria tua itu menelan ludah karena ketakutan.


Brian menghampiri Alea dan menggenggam tangannya.


“ Tuan, Anda mau ke mana?.” teriak wanita yang menemaninya minum Wine.


“ Wanitaku sudah ketemu, aku tidak butuh kamu lagi.” menengok ke belakang.


“ Tuan, Anda tidak boleh pergi. Bukankah Anda akan menemaniku malam ini, kenapa malah pergi bersama gadis ini?.” wanita itu menarik tangan Brian dan berusaha melepaskan tangan Alea dari genggaman Brian.


“ Sudah kukatakan dia wanitaku, jadi aku tidak butuh kamu lagi.” Brian menepis tangan wanita itu dan pergi meninggalkannya.


“ Ayo.” Brian menggenggam tangan Alea dan membawanya pergi.


Di dalam mobil Alea sangat malu karena Brian tidak melepaskan tangannya.


“ Tuan, tadi terima kasih banyak.” gumam Alea sambil menarik tangannya.


“ Ah! maafkan aku.” Brian kaget dan menarik tangannya.


“ Tidak apa, aku berterima kasih banyak karena tuan sudah menolongku.” wajah Alea memerah karena malu.


“ Emm, aku tidak suka orang kuat menindas orang lemah.” Brian bersikap dingin agar Alea tidak salah paham padanya.


“ Bukankah kau bilang ingin pergi ke Rumah Sakit? Rumah Sakit mana tempat nenek mu di rawat?.” teringat.


“ Rumah Sakit Wati. Tapi tuan tidak apa aku bisa pergi ke sana sendiri, tuan pasti sangat sibuk, aku tidak mau merepotkan Anda.” mengibas tangan.


“ Uhuk uhuk! Tidak merasa di repotkan, aku hanya ingin membantumu sampai tuntas. Tidak ada maksud lain.” Brian mulai canggung dengan suasana.


Alea diam dan nunduk sambil tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2