
“ Bolehkah saya menantang tuan Zavier?.” ujar Balin sambil memberi hormat.
Semua orang terkejut mendengar apa yang di katakan Balin.
“ Ternyata benar kataku, dia bukan orang biasa yang bisa aku remehkan.” batin Zavier
Zavier berdiri dan berkata. “ Baik, kapan dan di mana?.”
Lisa berdiri dan ingin menghentikan Zavier.
“ Tanggal 15 jam 20:00 wib di lapangan penembakan.”
“ Kuterima tantanganmu.” sambil menunjuk.
Zavier menggenggam tangan Lisa dan membawanya ke ruangan pribadi.
“ Apa yang kau lakukan? apa kau akan bertarung dengan dia, apa kamu lupa kalau pernikahan kita sebentar lagi.” Lisa terlihat marah pada Zavier.
“ Apa yang bisa aku lakukan sayang?.”
“ Kamu bisa menolaknya dan membuat dia mengerti kalau kamu tidak mau bertarung dalam hal apapun.”
Zavier mendekati Lisa dan menggenggam wajahnya, lalu berkata. “ Sayang, dia itu bukan orang sembarangan. Kamu lihat tadi bukan, cara dia berkelahi lebih hebat dari yang lain, orang yang dia kalahakan adalah orang yang lama berlatih di sini.”
“ Apa hubungannya dengan semua itu?.”
“ Ada sayang, aku curiga kalau dia anak buah musuh dari ayahku. Pesaing bisnis.”
“ Apa itu benar?.”
“ Yaa, itu sebabnya aku menerima tantangannya, hanya ingin tahu siapa orang yang telah mengirimnya kemari.”
“ Tapi bagaimana dengan pernikahan kita? bahkan kamu belum mempersiapkan satupun.”
“ Pernikahan kita akan berjalan lancar sayang, kamu tenang saja, aku sudah menyuruh Li untuk mempersiapkannya, nanti Li akan bertanya padamu tentang desain baju pengantin dan dekorasinya.”
“ Yaa aku mengerti, tapi aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku gak mau lihat kamu kenapa-napa.” sambil menangis.
“ Berdoa saja sayang, semoga aku bisa membongkar dan menghabisi musuh bisnis ayahku.” dengan percaya diri.
“ Selalu seperti itu, dia suka mempermainkan nyawa manusia, tanpa berpikir bahwa nyawa lebih penting dari apapun, bahkan bisnis pun tidak ada artinya jika kita mati.” batin Lisa dengan kesal sekaligus sedih.
“ Sayang, aku mencintaimu.”
“ Aku juga mencintaimu.” mereka berciuman dengan mesra lalu saling berpelukan.
Di Villa Arya.
Jam 02:15 wib, Balin bersembunyi untuk menyelinap keluar dari Markas Zavier, Li sengaja mengikuti Balin untuk mengetahui rencana Balin.
Li terus mengikuti Balin sampai di tempat yang di tuju Balin, rupanya Balin sadar kalau dirinya di ikuti seseorang. Balin sengaja mengarahkan Li agar lewat jalan yang salah, Balin bersembunyi di balik pohon tanpa di ketahui Li.
Balin segera mengirim pesan pada Arya. “ Tuan, pertemuan kita batal, Asisten Li sengaja mengikutiku, sepertinya Zavier sudah mencurigaiku sejak lama.” isi pesan singkat di kirimkan Balin pada Arya, kemudian menghapusnya dengan segera.
“ Sial! dia menghilang begitu cepat, bagaimana aku memberitahu tuan jika aku tidak berhasil.” gumam Li.
Arya membaca pesan dari Balin. “ Bagus, kerja yang bagus, tidak sia-sia aku menerimamu jadi anak buahku.” gumam Arya sambil tertawa sinis.
__ADS_1
Balin segera mencari kesempatan untuk pergi dari dalam hutan. Li yang tidak berhasil mengumpulkan informasi satupun merasa kesal pada dirinya yang tidak berguna bagi tuannya.
“ Maafkan aku tuan, aku mengecewakanmu kali ini.” batin Li sambil terduduk di bawah.
Di ruangan pribadi Zavier.
Zavier sedang tidur sambil memeluk Lisa, tiba-tiba ponsel Zavier berbunyi dan membuka pesan dari Li dan membacanya. “ Sudah kuduga, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada keluargaku.” batin Zavier.
Li yang kembali ke Markas pun segera mengecek Balin di tempat istirahatnya, dan benar saja, Balin sudah ada di tempat tidurnya dan terlihat pulas tertidur.
Sambil memandang Balin yang tertidur. “ Dia sungguh hebat bersandiwara, tadi seperti orang yang tidak tahan ingin membunuh seseorang, sekarang dia pura-pura tidur dan wajah polosnya itu selalu di gunakan untuk menipu semua orang.” batin Li.
Li pergi dari tempat istirahat para prajurit. Balin bangun ketika mendengar suara pintu tertutup. “ Heh, mau meremehkanku, tidak mudah. Kamu harus siap-siap jika waktunya telah tiba, apa yang akan aku lakukan pada tuan mu nanti.” batin Balin.
Tok tok! Li mengetuk pintu kamar Zavier.
“ Tuan.”
Zavier mendengar Li memanggilnya dari luar, kemudian Zavier melepaskan pelukan Lisa secara perlahan.
Zavier membuka pintunya. “ Ada apa?.”
“ Tuan ini masalah.”
“ Jangan bicara di sini.” Zavier memotong pembicaraan Li.
“ Ma maaf tuan.”
Di ruangan bawah tanah.
“ Katakan padaku apa yang kau ketahui.”
“ Sebenarnya apa motip dia? aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia bisa memusuhi keluargaku.” Zavier berpikir.
“ Li, aku ingin Informasi Balin dalam 2 hari ini.”
“ Baik tuan. Tapi sepertinya kita tidak bisa mencari Informasi dia, aku sudah mencari tahu tentangnya sejak 2 minggu yang lalu, semua Informasi dia sudah di hitamkan dan tidak bisa di lacak.”
“ Siapa yang melindungi Balin, aku yakin kalau Balin hanya tameng dalam peperangan ini.” Zavier berpikir dan bertanya-tanya.
Zavier kembali ke ruangannya untuk melanjutkan tidur. “ Semoga Lisa masih tidur.” batin Zavier sambil mengelus dada.
Krek!
“ Sayang, kamu dari mana?.” Lisa langsung bertanya ketika Zavier masuk.
“ Aku baru saja mencari angin segar. Kenapa kamu bangun sayang?.” Zavier berusaha tenang.
“ Aku bermimpi buruk.”
“ Emm, benarkah, sini biar aku memelukmu untuk tidur.”
“ Kapan kita pulang? aku sudah rindu sama Darvi.”
“ Lusa saja ya, aku harus menyelesaikan masalah sebelum pulang.”
“ Aku berniat mengajaknya untuk pulang agar tidak berkelahi dengan Balin, tapi dia tetap tidak mau ngerti apa yang aku katakan.” batin Lisa.
__ADS_1
“ Sayang, apa kamu tidak merindukan Darvi?.”
“ Kenapa bicara seperti itu, aku sangat merindukannya.”
“ Kalau begitu kita pulang ya.”
Zavier tahu apa yang di maksud Lisa padanya. “ Sudah-sudah, lanjutkan tidurmu.”
Lisa merasa sedih karena akan melihat Zavier berkelahi sama Balin, walau Lisa tahu kekuatan Zavier lebih besar dari siapapun, tapi Lisa takut jika Balin bermain curang dalam berkelahi.
“ Tidak, aku tidak boleh diam saja dan melihat Zavier terluka, aku harus merencanakan sesuatu untuk menggagalkan semua ini.” batin Lisa.
Hari telah pukul jam 08:00 wib.
Zavier berlatih untuk menguatkan otot lengannya dan tendangan yang sempurna. Li sangat mengagumi ke hebatan Zavier dalam berkelahi. Luciana terlihat senang melihat Zavier yang berlatih tanpa mengenakan baju.
“ Aku tahu kalau Luciana menyukai tuan sejak lama, tapi tidak seharusnya dia tersenyum seperti itu untuk tuan, bagaimana jika nyonya Lisa melihatnya dan salah paham, bisa jadi masalah besar.” batin Li.
Li tidak berani menegur Luciana karena Luciana adalah dokter pribadi Zavier sejak dulu, belum lagi Luciana sangat baik dalam mengurus tuan ketika terluka.
Lisa masuk ke ruang latihan di antar oleh seorang prajurit, Lisa kaget melihat tubuh Zavier penuh dengan memar dan benjolan yang lumayan parah.
“ Apa? nyonya Lisa datang ke sini! bagimana ini, luka yang ada di tubuh tuan terlihat karena terkena keringat.” batin Li.
Lisa menghampiri Li dan melewati Luciana tanpa menyapanya. “ Li, suruh tuan untuk menemuiku sekarang.”
“ Baik nyonya.”
Li segera menghampiri Zavier dan berbisik sesuatu, kemudian Zavier melihat ke arah Lisa dan melihat luka yang ada di tubuhnya, Zavier terpaksa mendekati Lisa dan menerima amarah Lisa padanya.
“ Sayang, ada apa?.”
“ Ikuti aku!.”
“ Ke mana?.”
“ Ikut saja jangan banyak tanya.” Lisa terlihat kesal pada Zavier.
Lisa membawa Zavier ke dalam ruangan pribadi. Lisa tampak sibuk seperti mencari sesuatu di dalam lemari.
“ Sedang cari apa sayang?.” tanya Zavier dengan lembut.
“ Diam! lebih baik kau diam saja dan duduk di sofa.” Lisa menunjuk ke sofa.
Zavier panik dong mendengar kata-kata Lisa yang sinis padanya, Zavier segera mendekati Lisa dan memeluknya untuk membujuk agar tidak marah padanya.
“ Menyingkirlah dariku.” Lisa menepis tangan Zavier.
“ Sayang jangan marah padaku, tolong maafkan aku ya.”
Setelah menemukan apa yang Lisa cari, Lisa pun segera menyuruh Zavier berbaring di sofa.
“ Mau apa?.” Zavier terlihat pasrah.
Ternyata Lisa mau mengoleskan obat pereda nyeri untuk luka di tubuh Zavier.
BERSAMBUNG
__ADS_1