
Tuan Fhui mengeluarkan kontrak pranikah antara Mika dan Brian.
“ Mika ayah minta kamu tanda tangan di kontrak ini, dengan begitu kamu bisa cerai dengan Brian suatu saat nanti.” ucap tuan Fhui.
“ Ayah, apa ayah yakin akan mengorbankanku untuk bisnis ayah? apa ayah tega melihat putri ayah satu-satunya hidup tidak bahagia?.” Mika menangis di hadapan ayahnya.
“ Suamiku, apa keputusanmu ini sudah bulat? jangan sampai kamu menyesal karena telah membiarkan Mika jadi pion untuk bisnis kita.” nyonya Fhui tidak tega melihat Mika menangis.
“ Istriku, sebenarnya aku tidak memanfaatkan putriku, aku hanya melakukan ini sebagai balasan Mika karena sudah membuat perusahaan rugi dalam jumlah besar, aku berjanji pada Mika setelah bisnis kita berkembang dengan baik dan kembali normal aku akan memutuskan pernikahan Mika. Jadi kamu tenang saja, begitupun dengan tuan Sanjaya, perusahaan dia juga sama berdampak sejak berita itu muncul di dunia.” tuan Fhui mencoba membuat istrinya mengerti.
“ Berapa lama pernikahan berjalan?.” tanya Mika dengan serius.
“ Apa dia gila? untuk apa dia berkata seperti itu, apa dia setuju dengan rencana pranikah ini?.” batin Brian dengan heran.
“ Mika ada apa denganmu? kenapa malah bertanya seperti itu? tunggu ibu akan membujuk ayahmu untuk mengubah rencananya.” nyonya Fhui tidak rela jika Mika harus menikahi Brian yang kasar.
“ Tidak ada yang bisa di ubah, semuanya sudah di rencanakan sesuai dengan keuntungan bisnis. Mika, katakan pada ayah kalau kamu menyutujuinya.” balas tuan Fhui.
“ Iya ayah aku setuju.” jawab Mika.
“ Tidak! aku menolak perjodohan ini! dengar ayah aku tidak akan pernah menikah dengan wanita itu.” Brian berdiri dan menolak perjodohannya.
“ Brian! apa yang kau lakukan? apa kamu akan menentang perintahku? cepat duduk dan tanda tangani berkas itu, kita sudah harus pergi dari sini.” tuan Sanjaya tidak akan membiarkan rencananya berantakan hanya karena Brian.
“ Tidak, jika ini demi keuntungan ayah lebih baik ayah saja yang menikahi dia, aku tidak sudi jadi pion untukmu.”
“ Anak sialan!.” Plak tuan Sanjaya menampar Brian dengan sangat keras.
“ Apa kamu akan mempermalukan ayahmu di depan semua orang? di mana otakmu Brian?.”
Tuan Sanjaya sangat ingin memukul Brian sampai mati, tapi Zavier membantu Brian dan menenangkan tuan Sanjaya.
“ Ayah sudah hentikan! jangan memukul kakak lagi, biarkan aku yang bicara dengan kakak sebentar.”
“ Baiklah, jika dia masih menolaknya aku akan membunuhnya saat ini juga.” mengancam.
“ Ayo kakak kita bicara di luar.” Zavier membujuk Brian agar mau menerima perjodohannya.
“ Sebenarnya apa yang terjadi di sini? kenapa begitu rumit untuk di mengerti, aku tidak habis pikir kalau ayah mertua akan berkata seperti itu di depan banyak orang. Aku benar-benar kasihan pada kakak ipar, dia pasti tersiksa saat ini, memilih antara hidup menderita dan mati mengenaskan itu pasti sulit untuk kakak ipar.” batin Lisa dengan sedih.
Beberapa saat kemudian Zavier dan Brian kembali dengan wajah santai.
“ Apa kamu berhasil Zavier?.” tanya tuan Sanjaya tidak sabaran.
“ Ayah kamu boleh bertanya pada kakak sekarang.” jawab Zavier.
“ Jangan buang-buang waktu Brian, katakan padaku apa pilihanmu?.” dengan nada keras.
“ Ayah aku bersedia menerima perjodohan ini, dengan satu sarat. Ayah tidak boleh mengekangku dan berjanji akan membebaskanku, berikan aku satu Villa yang ada di danau tua itu untukku, dan satu lagi aku mau ayah menjamin hidupku dan memberikan pasilitas yang sama yang ayah berikan pada Zavier.” dengan tegas.
“ Anak ini berani sekali menuntutku.” batin tuan Sanjaya tidak senang.
__ADS_1
“ Jika ayah tidak bisa jangan harap aku akan mau di jodohkan dengan dia, lebih baik ayah sendiri yang menikah dengannya.”
“ Baik, itu bukan apa-apa bagiku. Sekarang tanda tangani berkasnya maka kamu akan memiliki apa yang kamu inginkan.” menunjuk ke berkas yang siap di tanda tangani.
Tanpa banyak pikir Brian berjalan menuju meja dan mengambil pena untuk tanda tangan, dengan hati yang ragu Brian mentanda tangani berkas dengan gemetar.
“ Sudah selesai, aku akan pergi sekarang.” Brian buru-buru ingin pergi.
“ Tunggu Brian! kita harus diskusi tentang pernikahanmu dengan Mika.”
“ Ayah urus saja sendiri, ketika waktunya tiba aku akan datang untuk menikahi wanita itu.” menoleh saja Brian tidak sudi dan berbicara membelakangi semua orang.
“ Mika sekarang giliranmu tanda tangan di sini, ayo cepat.” ucap tuan Fhui.
“ Baik ayah.” Mika hanya bisa pasrah dengan perjodohan itu.
Mika mentanda tangani berkas itu dan menyerahkannya pada ayahnya.
“ Hahaha, kita akan jadi besan tuan Sanjaya, selamat selamat, aku sudah tidak sabar menantikan pernikahan mereka yang sangat meriah.” tuan Fhui gembira dan berjabatan tangan dengan tuan Sanjaya.
“ Yaa, selamat untuk kita, selamat atas bisnis kita, dengan ini kita akan mendapatkan keuntungan yang besar.” ucap tuan Sanjaya dengan tertawa lepas.
Kedua pebisnis ini saling tertawa bahagia tanpa memikirkan korban dari keuntungan mereka, semua orang yang ada di situ termenung melihat keduanya yang begitu gembira karena akan mendapatkan keuntungan yang besar.
Setelah lama berbincang tuan Sanjaya pamit untuk pulang.
“ Tuan Fhui terima kasih sudah menjamu kami dengan baik, lain kali kita harus mengadakan pertemuan khusus antara keluarga kita untuk mempererat hubungan kita, bukan hanya hubungan bisnis tapi putra putri kita juga bisa saling mengenal satu sama lain. Hahahha!.” ujar tuan Sanjaya.
Acaranya berakhir dengan sempurna, walaupun banyak kendala dan hambatan tapi itu semua hanya pemula saja, rencana tuan Sanjaya menjadi besan tuan Fhui berhasil dengan baik.
Di dalam mobil.
“ Sayang, aku harus pergi ke Markas, kamu tidak apa-apa 'kan di Villa sendirian? oo, bagaimana kalau kamu tunggu di kediamanmu bersama anak-anak, mungkin Darvi khawatir sama kamu, lebih baik jika kamu menemuinya agar Darvi tidak cemas padamu.” ujar Zavier dengan semangat.
“ Baiklah.” dengan dingin.
“ Ada apa sayang? apa kamu tidak rela aku pergi ke Markas? atau kamu tidak mau jauh dariku?.” tanya Zavier.
“ Tidak apa-apa, aku akan pergi ke kediaman lamaku untuk bertemu anak-anak. Kamu bisa pergi jika ada urusan penting.”
“ Apa kamu yakin tidak akan marah padaku?.”
“ Tentu saja tidak, untuk apa aku marah, kalau kamu mencari wanita lain aku akan sangat marah padamu, jika urusan pekerjaan aku tidak akan melarangmu.”
“ Baiklah aku mengerti, aku tidak akan selingkuh darimu, aku janji.” Zavier mencium tangan Lisa dan enggan melepaskannya.
Sesampainya di kediaman.
“ Sayang aku pergi dulu, nanti aku akan menjemputmu ke sini, jangan lupa untuk makan sayang.” teriak Zavier dari dalam mobil.
“ Iya, kamu juga hati-hati suamiku.” balas Lisa.
__ADS_1
Setelah Zavier pergi tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan rumah, Lisa menunggu dan melihat siapa yang parkir di depan rumahnya.
“ Hai! kita bertemu lagi.” sapa Andra.
“ Andra itu kamu? aku pikir siapa.” dengan kaget.
“ Memangnya siapa lagi yang datang ke sini selain aku?.” tanya Andra sambil berjalan menuju ke arah Lisa.
“ Tidak ada.”
“ Emm, tadi aku lihat suamimu pergi, mau ke mana?.” tanya Andra.
“ Oo, suamiku pergi karena ada urusan pekerjaan, mungkin nanti malam dia kembali menjemputku.”
“ Kebetulan, aku tidak ada kelas hari ini, hanya mengajar 2 kelas setelah itu pulang, aku pikir kamu belum pulang dari kediaman mertua kamu, tidak di sangka kita bertemu di waktu yang tepat.” ujar Andra.
“ Jadi kamu tidak ada acara hari ini?.”
“ Tidak.” Andra menggelengkan kepalanya.
“ Benarkah! ini akan jadi hari yang lebih menyenangkan, ayo ikut aku masuk.” Lisa menarik Andra untuk masuk ke rumah.
“ Eh, tunggu! kita mau ngapain?.” Andra terkejut tiba-tiba Lisa menariknya tanpa permisi.
“ Kita akan bersenang-senang di dalam.”
“ Ibu, paman? kalian di sini?.” sapa Darvi.
“ Darvi, di mana Laura? kita akan bersenang-senang hari ini panggil Laura datang kemari.” dengan gembira.
Darvi tercengang melihat tingkah ibunya yang aneh.
“ Darvi kenapa kamu malah diam! cepat panggil Laura, kita akan pergi belanja ke Super Market.” tidak sabaran.
“ Ada apa dengan ibu? kenapa dia kelihatan aneh, apa ayah melakukan sesuatu pada ibu sampai ibu bertingkah seperti itu.” batin Darvi.
“ Baik bu, aku akan manggil Laura ke sini sekarang.”
“ Bibi Lisa sudah? aku rindu sama bibi Lisa.” Laura memeluk Lisa setelah melihatnya.
“ Yaa, aku juga rindu sama Laura, gadis cantik apa kamu mau ikut belanja bersama ibu?.”
“ Hore! hore, bibi Lisa ngajak aku jalan-jalan. Aku mau aku mau, kita akan pergi ke taman hiburan 'kan ibu?.” Laura kesenengan.
“ Hah, taman hiburan?! tapi aku tidak pernah mengatakan akan pergi ke taman hiburan, aku hanya ingin pergi belanja ke Super Market.” batin Lisa dengan bingung.
“ Laura, ibu mau mengajak kita ke Super Market bukan ke taman hiburan.” ucap Darvi.
“ Hah, begitu ya. Tapi bukankah itu sama saja, di sana kita bisa beli beberapa cemilan, kalau bibi Lisa mengijinkannya.” dengan kecewa.
“ Aish, itu tidak masalah, ibu akan mengajak kalian beli beberapa cemilan kesukaan kalian.” Lisa menghela nafas.
__ADS_1
BERSAMBUNG