
Di kediaman keluarga Fhui.
Setiap hari Mika hanya mengurung diri dan menolak bertemu orang lain, orang tua Mika sampai bingung dengan sikap Mika yang terus berubah dan menolak untuk makan, sampai badannya kurus dan menghitam. Tuan Fhui dan nyonya Fhui panik saat tahu Mika mengalami kurang gizi, beberapa dokter datang untuk mengobati Mika dan membujuknya agar mau makan, tapi semua dokter menyerah walau tuan Fhui menjanjikan uang sebesar 2 juta Yuan jika berhasil membujuk Mika untuk makan.
Beberapa dokter berkata yang sama pada taun Fhui. “ Tuan Fhui, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak bisa membujuk putri Anda, dia terlihat depresi dan selalu melemparkan apa yang saya berikan. Tuan Fhui boleh melihatnya sendiri bagaimana keadaan putri Anda.”
“ Apa yang kau katakan dokter?! apa kau mengira kalau putriku tidak akan sembuh, begitu maksudmu.” balas tuan Fhui dengan keras.
“ Bukan begitu maksudku, aku hanya, tidak bisa mengobati putri Anda.”
“ Dasar tidak berguna! untuk apa kau jadi dokter kalau tidak bisa mengobati putriku, sekarang kau pergi dari sini dan ambil surat pensiunmu di tempat kerjamu.” bentak tuan Fhui.
“ Apa!? tuan maksud Anda??.” dengan terkejut.
“ Iya, apa kau bodoh sampai tidak mengerti maksudku! kamu akan di pecat karena tidak bisa mengobati putriku.”
Dokter itu terduduk lemas dan tercengang dengan ucapan tuan Fhui. “ Saya, saya, maafkan saya tuan, nyonya maafkan saya, jangan pecat saya, saya masih harus bekerja sampai umur saya 60 tahun. Saya masih punya 3 orang anak yang belum lulus sekolah, tolong tuan dan nyonya berikan saya kesempatan kedua untuk membujuk nona Mika.”
“ Pengawal! bawa dia keluar dari sini.” teriak tuan Fhui.
“ Baik tuan.” pengawal itu sangat sangar dan bersikap kasar pada dokter.
“ Tuan, tolong jangan seperti ini padaku, aku masih harus bekerja, jangan pecat saya tuan.” dokter itu terus berteriak histeris.
Nasib dokter itu akan menyedihkan, karena tuan Fhui berencana akan menyulitkan pekerjaannya dan segala keuangannya.
“ Aish, benar-benar tidak berguna, untuk apa jadi dokter kalau tidak bisa buat pasiennya meminum obat dan makan.” gumam tuan Fhui.
Nyonya Fhui membujuk Mika penuh dengan kelembutan. “ Mika putriku sayang, ibu tahu kamu sangat terpukul sampai sekarang, tapi ibu mohon padamu nak jangan menyiksa diri dengan tidak makan, setidaknya kamu harus sehat agar kamu bisa beraktifitas kembali seperti biasanya.”
“ Ibu, tinggalkan aku sendiri.” ucap Mika.
“ Tapi nak??.” dengan ragu.
“ Sudahlah, biarkan saja Mika istirahat, nanti kita coba cari cara agar dia mau makan.” balas tuan Fhui.
“ Hemm, baiklah.” nyonya Fhui pasrah dan keluar meninggalkan Mika.
Setelah orang tuanya pergi ke luar, Mika beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel yang di simpan di laci meja kerja. Mika mulai penasaran dengan perintah yang di berikan pada Bodyguard nya, Mika mengambil laptop untuk mengecek Informasi yang telah di kirimkan Bodyguard padanya.
Mika mulai mengutak-atik laptop dengan serius, menginginkan nama baiknya kembali seperti semula, Mika terus mencari bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan orang lain yang sudah membawa Brian masuk ke kamarnya dan sengaja menguncinya.
Mika terlalu emosi dan membanting barang yang ada di hadapannya. “ Sial! sudah hampir seminggu tapi aku masih belum mendapatkan rekaman apapun.”
“ Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan bukti rekaman itu, kalau tidak Brian akan mengira aku yang membuatnya sampai melakukan hal kotor itu denganku.” gumam Mika Fhui.
Karena terlalu marah ponsel miliknya di banting. “ Kemana perginya bajingan itu, sudah mengambil keperawananku dan sekarang dia menghilang begitu saja. Setiap hari aku mencari bukti untuk memperbaiki reputasiku, tapi sampai sekarang bajingan itu tidak menunjukan batang hidungnya.”
Di Villa.
__ADS_1
Zavier membawa Lisa pulang ke Villa karena merasa sudah tenang setelah merayakan hari ulang tahun Lisa. Zavier sengaja menyuruh Puy membawa Darvi dan Laura ke Villa untuk bertemu Lisa.
Dari depan Villa tampak Darvi dan Laura sedang berdiri menunggu kepulangan Lisa. Lisa terkejut dan menangis dari dalam mobil karena terlalu rindu pada anak-anaknya.
“ Istriku, kamu kenapa nangis?.” Zavier mengusap air mata Lisa.
“ Hemm, aku, aku tidak apa-apa sayang, mungkin beberapa hari ini aku merindukan mereka sampai tidak bisa menahan air mata ini. Hihihi!.” Lisa berusaha tertawa dalam kesedihannya.
“ Maafin aku sayang, aku salah karena tidak membawa anak-anak ke acara waktu itu.” merasa bersalah.
“ Tidak apa-apa sayang, kalau kita membawa mereka mana mungkin kita akan sebahagia ini.” balas Lisa.
“ Maksudnya? maksud kamu apa sayang??.” tidak mengerti maksud Lisa.
“ Tidak ada, aku akan keluar sekarang.” wajah Lisa memerah karena salah bicara pada Zavier.
Tak tak tak!
“ Darvi, Laura, ibu rindu kalian berdua.” Lisa langsung memeluk kedua anak itu dengan penuh kelembutan.
“ Aku juga rindu ibu.” jawab kedua anak itu secara bersamaan.
“ Baiklah, ayo kita masuk, ibu bawa oleh-oleh untuk kalian berdua.” Lisa menggiring kedua anaknya masuk ke dalam.
“ Hore! ibu bawa oleh-oleh.” Laura kesenengan.
Darvi menatap Laura dengan tidak senang.
Lisa memberikan oleh-oleh pada Darvi dan Laura, semua pekerja yang ada di dekatnya juga kebagian. Lisa baik hati dan tidak pernah membeda-bedakan antara majikan dan bawahannya, itulah yang membuat Zavier menyukainya sampai cinta mati dan tidak mau di pisahkan.
Setelah selesai bermain dengan anak-anaknya, Zavier meminta Lisa untuk pergi ke ruang kerjanya, Lisa sudah curiga kalau Zavier akan melakukan sesuatu padanya.
Tak tak tak!
“ Zavier? apa ada masalah?.” tanya Lisa.
“ Tidak ada. Sayang, kemarilah! duduk di sini.” Zavier menyuruh Lisa duduk di pangkuannya.
“ Ada apa dengannya? kelihatnya dia lagi ada masalah, tapi apa??.” batin Lisa dengan cemas.
Lisa tidak mau membuat Zavier sedih apa lagi membuatnya marah, terlihat dari raut wajahnya Lisa tahu kalau Zavier sedang ada masalah. Lisa hanya bisa menuruti perkataan Zavier tanpa membantahnya.
Zavier menginginkan saat dirinya sibuk bekerja, Lisa selalu ada di sampingnya untuk jadi penyemangatnya. Zavier pokus bekerja sambil memeluk Lisa.
“ Zavier, biarkan aku duduk di sofa, aku tidak mau menganggumu bekerja.” dengan lembut.
“ Tidak, biarkan aku memelukmu seperti ini.” Zavier malah memeluk Lisa dengan erat.
“ Tapi aku takut menganggu konsentrasimu.”
__ADS_1
“ Yang membuatku tidak konsentrasi adalah ketika kamu berada jauh dan aku tidak bisa melihatmu, di situlah aku sangat cemas dan tidak bisa bekerja dengan pokus.” kecup di leher Lisa.
“ Iya, tapi! anu, kamu jangan sembarang menyentuhku seperti ini, aku tidak nyaman. Tolong lepaskan tanganmu itu Zavier, aku merasa geli.” Lisa tidak kuat dengan ulah Zavier yang terus meraba tubuhnya.
“ Kenapa memangnya kalau kamu geli? aku malah ingin terus menyentuhmu seperti ini, aku suka saat melihat ekspresi wajahmu saat merasakan sesuatu dari tanganku, itu membuatku ketagihan dan ketagihan.” bisik Zavier di telinga Lisa.
“ Kamu mesum Zavier, aku tidak suka. Aku, aku, tidak tahan, tolong lepaskan aku Zavier.” Lisa malah terangsang sampai membuat wajahnya memerah.
“ Biarkan aku melakukan sesuatu denganmu. Wajahmu yang seperti itu membuatku nafsu sampai hilang kendali.” Zavier menggendong Lisa ke sofa.
“ Zavier??.”
“ Apa??.”
“ Itu, apa tidak akan ada yang masuk ke sini??.”
“ Tunggu sebentar.”
Zavier mengunci pintu dan menutup laptopnya. Zavier juga membuka pakaiannya sampai telanjang, Lisa menutup kedua matanya karena tidak sanggup jika harus melihat otot perut yang di miliki Zavier.
Zavier menyingkirkan tangan Lisa dari matanya. “ Kenapa menutup mata? apa kamu tidak sanggup melihat ke tampananku?.”
“ Bukan, bukan itu.”
“ Lalu apa?.”
“ Aku tidak bisa melihat otot perutmu, kalau tidak aku pasti akan ngiler sampai meleber ke mana-mana.” dengan wajah malu.
“ Hahaha! kenapa tidak bisa, ini bukan kali pertamamu melihatnya bukan? jika kau menyukainya katakan saja, dengan senang hati aku akan menampilkan tubuhku padamu tanpa pakaian setiap saat.” tertawa lucu.
“ Dasar narsis! tapi apa boleh buat, dia memang menarik, bukan hanya tampan dan tinggi tapi postur tubuhnya itu jadi idaman setiap wanita. Aku jadi takut kalau dia akan jadi incaran setiap wanita di sekitarnya.” batin Lisa dengan cemas.
“ Ada apa? kenapa sekarang ekspresimu jadi keriput seperti siput?.”
“ Hah! apa kamu bilang? keriput! wajahku seperti siput!.” dengan kaget.
“ Hahaha! tidak sayang, maksudku adalah wajahmu sangat imut seperti siput, bukan keriput.” panik melihat Lisa marah.
“ Sudahlah aku tidak budeg, aku mendengarmu mengatakan kalau aku keriput. Aku yakin kamu pasti tidak suka lagi padaku, kamu pasti akan mencari wanita lain yang lebih cantik dariku, benarkan?!.” nada marah.
“ Aku tidak seperti itu! kenapa kamu bisa punya pikiran jelek tentangku? aku tidak akan mencari wanita lain, yang aku cintai hanya kamu istriku, tidak akan ada wanita pengganti di dalam hatiku.”
“ Yang benar saja, baru saja kamu mengatakan kalau aku keriput seperti siput, aku yakin aku pasti jelek karena itu kamu berkata demikian tentangku.”
Lisa sangat susah di bujuk kalau hatinya sudah tersinggung.
“ Iya maaf, aku salah, aku tidak akan berkata apapun lagi tentangmu.” pura-pura nyerah.
“ Hemm!.” Lisa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“ Jangan marah lagi, aku dari tadi nungguin loh! lihat betapa jeleknya burungku saat di acuhkan olehmu.” ekspresi sedih.
BERSAMBUNG