Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part158


__ADS_3

“ Sialan! sudah tidak ada waktu lagi. Arya pasti sudah lari jauh dari sini.” dengan kesal Zavier menembak pintunya, sampai pengawal yang berusaha membuka pintu itu terkejut seketika.


Brian menggendong Alea keluar, berharap Zavier dan pengawalnya bisa membuka pintunya.


“ Zavier, apa sesusah itu membuka pintunya?.” Brian berdiri melihat pengawal yang berusaha membuka pintunya.


Zavier melirik Brian yang menggendong Alea keluar, luka tembakan yang ada di kaki Alea mengeluarkan banyak darah walaupun sudah di perban menggunakan dasi milik Brian.


“ Kau bisa lihat sendiri. Kita tidak mungkin bisa keluar secepat ini.” memalingkan wajah dan pokus melihat ke arah pintu.


Brian menurunkan Alea di lantai, berjalan menuju pintu dan memukulnya, Brian tidak bisa biarkan Alea terluka terlalu lama, menendang pintunya bahkan menembak beberapa kali.


“ Bren*sek! Arya sialan.” teriak Brian.


Zavier berjalan mendekat dan merusak kunci otomatis itu, menghancurkan kuncinya dan berharap pintu itu bisa terbuka sendirinya.


“ Kenapa kamu merusaknya? kamu tidak berencana tinggal di sini selamanya 'kan?.” bentak Brian.


Zavier hanya mengisyaratkan menggunakan tangannya agar Brian diam, Asisten Li juga mendekat dan berkata. “ Tuan tertua, Anda tenang.”


Brian patuh dan melihat apa rencana Zavier, bisa-bisanya merusak kunci itu tanpa berpikir pintu itu tidak akan bisa terbuka.


“ Bodoh! kau memperlambat pintunya.” bentak Brian.


“ Diam!.” bentak Zavier tidak sabaran.


Setelah beberapa saat kemudian pintu itu kebuka dengan sendirinya, rencana Zavier berhasil dengan merusak kuncinya sampai hancur.


“ Tuan, pintunya! pintunya kebuka.” ujar Asisten Li terkejut.


“ Cepat tangkap Arya, sebelum dia lari lebih jauh lagi.” teriak Zavier dengan semangat.


Asiaten Li dan pengawal berlarian keluar, Brian menggendong Alea dan membawanya ke Rumah Sakit.


“ Alea, kamu tidak apa-apa 'kan? tahan sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit.” Brian cemas melihat ekspresi Alea yang kesakitan.


“ Terima kasih tuan, sudah menolongku.” gumam Alea, Alea pingsan karena kehabisan darah yang cukup banyak.


“ Alea, Alea bangun.” Brian panik dan berusaha membangunkan Alea yang tidak sadarkan diri.


“ Lebih cepat bawa mobilnya!.” teriak Brian.


“ Diam! aku bukan supirmu, untuk apa berteriak padaku?.” Zavier membanting setir.


“ Karena kamu harus bertanggung jawab Zavier, Alea seperti ini karenamu.” bentak Brian.


Bruum!


Zavier menyetir mobil dengan kecepagan tinggi, Brian takut mobilnya oleng dan akan menyebabkan kecelakaan.


“ Pelankan mobilnya! ini berbahaya.” Brian berpegangan sekuat tenaga sambil memeluk Alea.


Zavier berhenti mendadak dan membuat Alea terjatuh ke bawah, bahkan kepala Brian terbentur ke kursi depan.


“ Zavier! apa kamu sengaja melakukan ini?.” berteriak sambil menahan amarahnya.


Zavier keluar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang.


“ Keluar!.” ucap Zavier dengan dingin.


Brian melihat kesekeliling dan ternyata Zavier berhenti tepat di depan Rumah Sakit.

__ADS_1


“ Sudah sampai? bantu aku cari suster.” Brian menggendong Alea keluar.


“ Tuan, baringkan pasien di sini. Aku akan membawanya ke ruang IGD.” suster itu buru-buru menghampiri Brian.


Brian segera menidurkan Alea dan membiarkan suster membawanya. Melihat Zavier duduk di kursi Brian ingin tahu hubungan antara Alea dan Zavier.


“ Zavier.” berbicara dengan ragu.


“ Kamu bisa tanyakan pada gadis itu, dia akan memberitahumu yang seharusnya kamu ketahui.” Zavier berdiri tegap.


“ Aku harus pulang sekarang, sampaikan permintaan maafku padanya.” menghela nafas dan pergi dari Rumah Sakit.


Brian masuk menemui Alea setelah Zavier pergi.


“ Dok, bagaimana? lukanya tidak seriuskan?.” tanya Brian berjalan mendekat.


“ Lukanya tidak terlalu parah, mungkin saja pasien akan membutuhkan waktu lama untuk bisa berjalan.” jawab dokter.


“ Dok, maksud dokter aku tidak bisa jalan?.” Alea terkejut.


“ Iya, tapi ini hanya sementara saja, nona harus memakai kursi roda untuk memudahkan aktivitas sehari-hari. Satu minggu sekali datang ke sini untuk mengecek lukanya.” balas dokter tidak tega.


“ Baik dok. Aku yang akan menanggung semua biaya Alea, tolong percepat penyembuhannya.” Brian berbicara karena tidak tega melihat Alea yang sedih.


“ Akan kami usahakan.” menunduk dan keluar dari ruangan itu.


“ Hiks hiks! nenek, aku rindu padamu.” gumam Alea sambil menangis.


“ Alea, itu, aku sudah persiapkan pemakaman nenek kamu. Besok pagi kita pergi hadiri pemakamannya.” berbicara dengan ekspresi khawatir.


“ Terima kasih tuan, Anda baik sekali padaku. Ke depannya aku akan balas budi padamu.” menunduk sambil menyeka air mata.


“ Jangan pikirkan hal itu, aku ikhlas membantumu.” menepuk pundak Alea dengan tersenyum sedikit.


“ Sudah pagi. Aku harus bangun sekarang.” Alea melihat jam dan mengucek mata.


“ Itu, tuan, kenapa dia tidur di sana? kupikir dia akan pulang setelah melihatku tidur, tapi dia malah tidur di sofa tanpa selimut. Cuacanya lumayan dingin, aku harus menyelimuti dia takutnya dia sakit.” batin Alea dengan cemas.


Alea turun dari ranjang sambil membawa selimut, menyelimuti Brian dengan perlahan agar tidak mengganggunya.


Brian menarik tangan Alea dan memeluknya. Alea terkejut sampai berteriak, tapi Brian tidak dengar dan malah tidur pulas sampai mendengkur.


“ Sakit sekali, sepertinya luka di kakiku keluar darah lagi.” batin Alea meringis.


“ Tuan, tuan, bisakan Anda melepaskan tanganmu? aku harus bangun dan pergi ke pemakaman sekarang.” berbicara dengan orang yang tidur, berharap Brian bangun dan membiarkan Alea berdiri.


Brian tidak merespon dan berbalik badan bahkan Alea di peluk erat dan tidak melepaskannya.


“ Huft! sakit, kenapa dia tidur bisa mengangkat orang seberat diriku? tenaganya kuat sekali.” Alea tidak habis pikir kalau Brian bisa mengangkat dirinya dalam keadaan tertidur.


Brak!


Mika Fhui datang menobrak pintu dengan keras, Mika sangat emosi setelah melihat Brian memeluk seorang gadis di hadapannya.


Mika mengambil gelas yang berisi air dan menumpahkannya di wajah Brian. “ Brian! apa kau sudah gila?! berani-beraninya memeluk gadis lain di belakangku.”


Brian membuka mata sambil mengusap wajah yang basah, melihat Alea berada di pelukannya Brian langsung menarik tangannya dan duduk tegap.


“ Ada apa ini? pagi-pagi sudah ribut.” ucap Brian.


“ Ada apa, ada apa. Aku tanya padamu kenapa bisa ada di sini?.” teriak Mika.

__ADS_1


“ Kenapa memangnya? apa urusannya denganmu? aku mau kemana dan mau ngapain aja itu bukan urusanmu.” menatap Mika yang tengah marah padanya.


“ Bukan urusanku, palamu pecah! ayahku datang ingin bertemu denganmu, dia terus menunggumu dari semalam.” melemparkan bantal ke arah Brian.


“ Suruh dia jangan temui aku, aku sudah muak dan ingin mengakhiri pernikahan ini. Hari ini aku akan pergi ke urusan sipil untuk menceraikanmu.” Brian berdiri dengan memolototi Mika yang tidak sopan padanya.


“ Apa maksudmu? ingin mengakhirinya tanpa persetujuan ayahku dan ayahmu. Kamu pasti sudah gila, kamu tidak berhak memutuskan pernikahan ini tanpa ijin dari mereka.” terkejut sampai mundur perlahan.


“ Bukankah kamu juga menginginkannya? kenapa sekarang kamu seperti menolak bercerai denganku?.” dengan heran.


“ Iya kau benar, tapi bagaimana kamu bisa berbicara semua itu dengan ayahku?.” mengingat kalau perkataan Brian ada benarnya juga.


“ Aku punya caraku sendiri. Silahkan kau pergi dari sini, kau menggangguku.” menyeringai.


“ Semoga tidak mengecewakan.” Mika bergegas pergi dari ruangan itu.


Alea terduduk di sofa setelah Mika pergi dari hadapannya. Melihat luka di kakinya dan berusaha menahan rasa sakitnya.


“ Alea, kamu tidak apa-apa 'kan? apa aku menyakitimu tadi?.” Brian jongkok di hadapan Alea dan memeriksa lukanya.


Alea menggelengkan kepala.


“ Astaga! kenapa kamu tidak bilang kalau kakimu terinfeksi lagi? lalu kenapa kamu bisa ada di tubuhku? apa semalaman kamu tidur di tubuhku?.” menatap Alea dan menunggu jawaban.


“ Tidak, aku tidak, Anda jangan salah paham padaku tuan.” panik sampai berbicara dengan gugup.


“ Aku tahu, kenapa kamu sepanik itu? mungkin aku melakukan kesalahan sampai membuatmu seperti ini. Tolong maafkan aku.” Brian membuka perban dan mengoleskan obat agar tidak infeksi.


“ Tuan, nona tadi??.” berbicara dengan ragu.


Brian berhenti mengobati luka Alea dan tertegun.


“ Dia, dia istriku. Pernikahan ini hanya keterpaksaan, kamu sudah dengar tadi bukan, aku akan bercerai dengannya hari ini. Itu pun kalau ayahku dan ayahnya menyetujuinya.” mengatakan walau sulit.


“ Maaf aku salah bicara.” ujar Alea merasa bersalah karena bertanya yang seharusnya tidak boleh ia ketahui.


“ Lukanya sudah tidak apa-apa, aku sudah membersihkan darahnya, lain kali jangan banyak bergerak atau tidak kamu akan sulit untuk sembuh.” mengalihkan pembicaraan.


Alea mengangguk.


Brian melepaskan bajunya dan memperlihatkan otot perutnya di hadapan Alea.


“ Tuan, kenapa Anda membuka baju?.” Alea kaget dan menutup matanya.


“ Bajuku basah, jadi aku melepasnya.” jawab Brian dengan polos.


“ Aku tahu, tapi tidak seharusnya membuka baju di depanku. Tuan ini benar-benar ceroboh, tidak tahu apa dia sudah terbiasa berlaku seperti itu di depan para wanita lain.” Alea menghela nafas dalam keadaan mata tertutup.


Brian mendekat dan menggendong Alea, Alea hendak berontak tapi Brian langsung mendudukkan Alea di kursi roda.


“ Astaga, ini sangat memalukan. Aku berpikir terlalu jauh tadi, apa yang aku harapkan tadi, dia seorang tuan besar yang kaya raya, sedangkan aku hanya gadis miskin yang tidak punya apa-apa, harga diri saja sudah tidak punya.” batin Alea dengan wajah memerah.


“ Apa sesuatu terjadi padamu? kakinya sakit lagi atau kamu mau minum?.” mendekatkan kepala sampai Alea terkejut.


“ Agrh! tuan Anda?!.” berteriak.


“ Aku hanya bertanya, kenapa kamu berteriak padaku?.” tanya Brian dengan heran.


“ Tidak, tuan ke mana kita akan pergi?.” menggelengkan kepala dengan malu.


“ Tentu saja ke pemakaman, kemana lagi memangnya?.” jawab Brian dengan santai.

__ADS_1


“ Baiklah, kita akan pergi sekarang.” Alea tidak sanggup jika harus berbicara dengan Brian, perkataan Brian membuat Alea salah paham terus padanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2