Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part138


__ADS_3

Di kediaman Sanjaya.


“ Zavier, bagaimana apa sudah selesai?.” tanya tuan Sanjaya dari kejauhan.


“ Sesuai perintahmu ayah, Brian dan Mika bekerja sama untuk jadi pasangan di awak media. Tidak akan membutuhkan waktu lama, berita akan masuk di seluruh dunia dan semua orang akan tahu pekerjasamaan antara perusahaan Sanjaya dengan Fhui.” menjawab sambil duduk dengan bangga.


“ Bagus kalau begitu, kamu memang pantas jadi putra kesayanganku, dengan kecerdasanmu membuat perusahaan Sanjaya semakin maju dan berjaya.” bertepuk tangan menyanjung Zavier dan tertawa bahagia.


“ Kau hanya memanfaatkan semua putramu untuk jadi pion ayah, kecerdasanku sangat di butuhkan olehmu sehingga rencanamu berhasil di tanganku.” batin Zavier dengan menyeringai.


“ Zavier, dengarkan aku. Ketua Mafia, Wilson Break, dia baru saja mengumumkan tentang kehilangan sebuah Lencana miliknya pada saat pergi ke pelelangan.” mengatakan sesuatu yang sangat penting.


“ Wilson Break?! dari mana ayah tahu tentang dia?.” Zavier teringat dengan Lencana yang ada di tubuh Balin.


“ Tentu saja ayah mendengar sendiri, kebetulan ayah di undang ke sebuah pelelangan antara Klien. Ayah mendengar dari beberapa orang di sana, ternyata tuan Wilson Break juga mengumumkannya di acara pelelangan kemarin malam.” tidak mau di anggap bohong oleh Zavier.


“ Begitu rupanya. Berapa lama dia kehilangan Lencana miliknya itu?.” Zavier menundukan kepalanya sambil mengepalkan tangannya.


“ Sekitar satu minggu yang lalu. Kenapa, apa kamu mengenalnya atau tahu keberadaan Lencana itu??.” tuan Sanjaya curiga akan sesuatu pada Zavier.


“ Ayah ini bukan masalah kecil, aku rasa kita di jebak oleh seseorang dan menyebabkan permusuhan di antara keluarga Sanjaya dan tuan Wilson.” Zavier memukul sofa dengan penuh dendam.


“ Apa maksudmu Zavier?! permusuhan apa? katakan dengan jelas padaku, jangan membuatku bingung seperti ini.” tuan Sanjaya berdiri dari tempat duduknya dan bicara dengan nada tinggi.


“ Ayah, kesehatanmu kurang baik hari ini, aku akan pergi ke perusahaan sekarang. Jaga keadaanmu agar tetap sehat ayah, sampai jumpa.” Zavier tidak ingin berdebat dengan ayahnya dan mengalah dengan pergi dari kediaman Sanjaya.


“ Tunggu! Zavier jangan pergi! kamu masih belum menjawab pertanyaanku, cepat kembali. Uhuk uhuk.” teriak tuan Sanjaya, karena sudah tua tuan Sanjaya batuk dan menyebabkannya kesulitan bernafas.


“ Maafkan aku ayah, aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu, aku takut mengganggu kesehatanmu, jadi lebih baik ayah tidak perlu tahu masalah ini. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya.” Zavier menengok ke belakang dan mengabaikan tuan Sanjaya yang hampir jatuh.


Tuan Sanjaya melambai ke arah Zavier seolah-olah ingin menghentikan langkah Zavier, seorang pelayan segera datang berteriak meminta bantuan pada orang di sekitarnya.


Pelayan membawa tabung oksigen dan memasangkannya pada tuan Sanjaya, membawa tuan Sanjaya masuk ke kamarnya dengan cara menggotong secara bersamaan.


Nyonya Ratih yang baru saja kembali berbelanja panik melihat suaminya terpasang oksigen dan di bawa menuju ke lantai atas.


“ Ada apa ini? apa yang terjadi sama tuan?.” nyonya Ratih menjatuhkan barang miliknya dan menghampiri pelayan yang sedang membawa tuan Sanjaya.


“ Nyonya, saya juga tidak tahu, tadi pas saya lihat tuan sudah jatuh di lantai dan sulit bernafas. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tuan besar.” pelayan itu memberitahu nyonya Ratih.


“ Apa?! cepat bawa tuan ke kamar, hati-hati jangan buat tuan tidak nyaman dengan tangan kalian.” terlalu khawatir.


Para pelayan itu menidurkan tuan Sanjaya di ranjang, memanggil dokter untuk memeriksa penyakit tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya sadar tapi tidak mampu bicara karena merasa lelah dan pernafasan belum stabil.


“ Dokter, cepat periksa suamiku.” nyonya Ratih berdiri dan membiarkan dokter mendekati suaminya.


“ Tuan tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut sampai membuat jantungnya tidak aman. Nyonya lain kali tolong di perhatikan kembali jika ingin menyampaikan sesuatu pada tuan besar. Kesehatan tuan sangat terganggu, dia tidak boleh di berikan berita yang membuatnya terkejut, itu akan beresiko kematian.” menaikan kaca mata dan memberitahu nyonya Ratih.

__ADS_1


“ Dokter maksud Anda??.” tertegun.


“ Iya nyonya, tuan besar tidak boleh berinteraksi dengan orang luar beberapa hari ini, jangan membuat tuan besar marah sampai kehilangan emosinya, bisa jadi saat tuan marah itu berdampak pada jantungnya dan mengakibatkan mati mendadak.” memperingati.


Nyonya Ratih tertegun dan sedih mendengar suaminya yang berpenyakit jantungan.


“ Nyonya ini obat untuk tuan besar, berikan dengan teratur agar tuan cepat sembuh.” dokter itu memberikan beberapa botol obat untuk di konsumsi tuan Sanjaya.


“ Baik dok.” menerima dengan tangan basah karena air mata.


“ Kenapa dia menangis? apa dia berpura-pura sedih untuk mendapatkan harta warisan setelah aku mati.” batin tuan Sanjaya sambil memejamkan matanya.


“ Pelayan, ambilkan sesuatu untuk di makan. Tuan harus minum obat tapi sebelum itu harus makan terlebih dulu.” ucap nyonya Ratih sambil melihat ke arah pelayan.


“ Baik nyonya.” jawab pelayan.


Tidak lama kemudian pelayan membawa makanan dan memberikannya pada nyonya Ratih.


“ Suamiku, bangun dan makan ini, kamu harus minum obat agar cepat sembuh.” menyuapi dan menunggu tuan Sanjaya membuka mulut.


“ Tinggalkan aku sendiri.” berbicara walau sulit bernafas.


Nyonya Ratih sedih karena suaminya sering bersikap dingin semenjak kejadian skandal Brian dan Mika.


Tuan Sanjaya merubah posisi untuk duduk, membuka infusan dan selang oksigen.


“ Benar-benar merepotkan.” melemparkan infusan dengan kesal.


Tuan Sanjaya mencari ponsel untuk menghubungi Zavier, tapi berkali-kali di hubungi Zavier tidak menjawab telponnya dan malah mematikan ponselnya, sontak membuat tuan Sanjaya marah besar.


“ Sialan! apa-apaan ini? apa dia mencoba membuatku mati secara perlahan! berani sekali dia menyembunyikan sesuatu dariku. Anak sialan!.” saking marahnya tuan Sanjaya melemparkan ponselnya ke cermin sampai rusak parah.


Nyonya Ratih mendengar ke gaduhan di dalam kamar suaminya, dia tidak tinggal diam dan menerobos masuk. Asisten pribadi tuan Sanjaya menghalangi nyonya Ratih untuk masuk, untuk mencegah terjadinya sesuatu pada nyonya Ratih pelayan pribadi tuan Sanjaya terpaksa mengunci pintu kamar agar nyonya Ratih tidak bisa masuk.


“ Kenapa kamu menghalangi jalanku? menyingkirlah dari pintu, aku ingin masuk ke dalam memastikan suamiku baik-baik saja.” nyonya Ratih berontak dan memukul para pelayan itu.


“ Mohon nyonya besar tenang! tuan besar baik-baik saja di dalam. Untuk saat ini tidak boleh ada orang yang mengganggu tuan besar, termasuk nyonya besar sendiri.” Asisten itu tahu kalau tuan Sanjaya lagi banyak pikiran.


“ Apa kamu yakin suamiku baik-baik saja di dalam? apa kamu tidak mendengar suara keras dari dalam, suamiku pasti kenapa-kenapa di dalam, biarkan aku masuk dan melihatnya.” teriak nyonya Ratih sambil menunjuk ke arah kamar yang bergaduhan.


“ Bawa nyonya besar ke kamar sebelah, tuan tidak mau di ganggu oleh siapa pun saat ini.” Asisten pribadi tuan Sanjaya tidak tahu harus berbuat apa.


“ Tidak! aku tidak mau! kamu pelayan kurang ajar aku akan menghukummu nanti, awas saja kau.” teriak nyonya Ratih dengan mengancam.


Para pelayan itu berhasil memasukan nyonya Ratih ke dalam kamar dan menguncinya.


“ Buka pintunya! pelayan sialan cepat buka pintunya.” nyonya Ratih memukul pintu sekuat tenaganya.

__ADS_1


“ Aish, maafkan aku nyonya besar, aku terpaksa melakukan itu padamu, aku takut tuan besar akan marah jika nyonya mengganggunya.” rupanya Asisten pribadi tuan Sanjaya ingin melindungi nyonya Ratih dari amukan tuan Sanjaya, dan terpaksa melakukan itu.


Di perusahaan Sanjaya.


Zavier tampak termenung sambil memandangi Lencana hitam, berusaha mencari tahu dalang dari semua itu Zavier sangat kewalahan akhir-akhir ini karena terlalu banyak masalah yang menimpanya.


Tok tok!


“ Tuan, Klien sedang menunggu Anda di ruang Rapat.” ujar Li dari luar pintu.


“ Aku mengerti.” Zavier menyimpan Lencana itu di laci meja kerjanya.


Ruang Rapat.


“ Tuan Zavier sudah datang, silahkan kalian duduk.” ucap Li dengan ramah.


“ Selamat datang tuan, senang kita bertemu kembali.” ujar Klien.


“ Hemm, senang bertemu kalian.” gumam Zavier.


Para Asisten dari beberapa Klien menunjukan tentang proyek yang mereka kerjakan selama ini, menjelaskan secara detail pada semua Klien yang hadir.


Zavier hanya memperhatikan laptop nya tapi pikiran dan hatinya melayang entah ke mana, begitu banyak masalah yang Zavier lalui selama hidup, dan sekarang ada orang yang tidak tahu asal usulnya sampai menjebaknya dengan tuan Wilson Break.


“ Baiklah kami mengerti.” ucap beberapa Klien.


“ Tuan, bagaimana dengan Anda? apa menurut Anda proyek yang mereka kembangkan itu sangat menarik?.” tanya Li mendekatkan kepalanya ke Zavier.


“ Emm, iya aku rasa seperti itu.” tersadar dari lamunan.


“ Tuan apa Anda baik-baik saja?.” tanya Li dengan cemas.


“ Baiklah semuanya, Rapat hari ini selesai sampai di sini. Masalah Investasi aku akan memikirkannya beberapa hari lagi, kalian boleh bubar sekarang.” Zavier berdiri dan buru-buru pergi, padahal Rapat masih membutuhkan waktu 30 menit tapi Zavier menutupnya tanpa alasan yang jelas.


“ Ada apa ini? Li katakan pada kami kenapa tuan Zavier menunda Rapat tanpa alasan?.” para Klien itu merasa di acuhkan karena Zavier pergi saat Rapat belum selesai.


“ Maafkan kami tuan tuan, aku rasa tuan sedang tidak enak badan, makanya menunda Rapat hari ini. Mohon tuan-tuan yang hadir di sini bisa memakluminya.” Li tidak ingin reputasi Zavier rusak karena masalah sepele.


“ Ternyata seperti itu, aku pikir tuan Zavier tidak mau Rapat dengan Klien kecil seperti kita.” menghela nafas dengan perasaan lega.


“ Itu tidak benar, mohon tuan-tuan segera bubar dari sini.” Li berhasil meyakinkan pada semua Klien.


“ Baiklah Asisten Li, kami akan pergi sekarang juga. Semoga tuan Zavier lekas sembuh.” Klien berdiri dan pergi dari ruang Rapat.


Drrring!


“ Ke ruanganku sekarang.” ucap Zavier di telpon.

__ADS_1


“ Baik tuan.” sahut Li, belum juga menjawab tapi Zavier sudah memutus telponnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2