
Zavier menunggu di luar dengan tersenyum. Seketika Zavier sadar dengan pertanyaan Lisa padanya mengenai cincin. Zavier mengirimi pesan dan menyuruh Li mencari keberadaan cincin yang di maksud Lisa.
Zavier mengetuk pintu toilet karena khawatir akan terjadi apa-apa sama Lisa. “ Lisa, apa kau sudah selesai?.”
“ Iya.”
Krek! Zavier membuka pintunya dan membawa Lisa kembali ke ranjang. “ Terima kasih.” Kata-kata itu sangat sulit di ucapkan dari bibir Lisa.
“ Sama-sama.”
Suster membawakan makanan yang tersedia di rumah sakit. “ Nyonya makan dulu, setelah itu Anda harus minum obat pereda nyeri. Silahkan.”
“ Kau pergi saja, aku yang akan menyuapinya.” Zavier beranjak dari duduknya dan meninggalkan laptop yang masih menyala.
“ Baik tuan.”
Zavier mulai mengaduk makanannya dan ingin menyuapi Lisa. “ Ayo, makanlah.”
Lisa menggelengkan kepalanya.
“ Mengapa?.”
“ Aku tidak suka makanan seperti itu. Aku mau makan Hotpot.”
“ Kau lagi sakit, tidak baik makan makanan seperti itu.”
“ Ya sudah, aku tidak mau makan sampai kapanpun.” Lisa membuang muka dengan marah.
“ Baiklah, aku akan menurutimu.”
Lisa senang akhirnya bisa makan Hotpot di Rs. Gak kebayang gimana pasien lain ketika tahu kalau Lisa makan Hotpot di Rs.
Beberapa saat kemudian, Li datang beserta koki dari resto yang di tugaskan untuk melayani Lisa. Banyak barang yang di bawa, sampai Lisa kegirangan.
“ Hotpot! Hotpot.” Gumam Lisa dengan senang.
Melihat Lisa begitu bahagia, Zavier tersentuh dan mengingat kejadian di masa lalu, di mana Zavier selalu memperlakukan Lisa seperti binatang.
“ Aku berjanji akan membahagiakan kamu di sisa hidupku. Di masa lalu kesalahanku banyak sekali sampai kamu pergi dari sisiku. Sekarang aku bahagia akhirnya kau datang membawa putraku, pewaris Sanjaya.” Batin Zavier.
Lisa menikmati makan Hotpot yang sangat pedas. Ketika Zavier menyuapi Lisa, tiba-tiba ada telpon masuk padanya. “ Aku akan mengangkat telpon dulu.”
Lisa menganggukan kepalanya dengan sedikit curiga pada Zavier. “ Siapa yang menghubunginya? sampai dia keluar untuk mengangkat telpon. Apa itu penting?.” Batin Lisa dengan rasa cemburu.
Zavier kembali setelah menerima telpon dari seseorang. “ Maaf, aku lama.”
“ Tidak apa-apa.”
__ADS_1
“ Ada apa dengannya, kenapa reaksinya seperti itu?.” Batin Zavier.
Hari telah pagi.
Zavier tidur seranjang bersama Lisa. Ketika Lisa membuka matanya Lisa terkejut karena tangannya memeluk Zavier. “ Ahh! aku tidak sengaja!.” Lisa segera bangun dan hampir jatuh ke lantai karena kecerobohannya.
Untungnya Zavier meraih tangan Lisa dan menarik kembali ke ranjang, Zavier menindih Lisa dan tersenyum. Secara perlahan Zavier menyentuh bibir Lisa di lanjut dengan meraba tubuh Lisa.
Lisa sempat menolak dengan ciuman yang di berikan Zavier padanya, tapi apa daya, Lisa malah mendesah karena merasa geli di sentuh bagian istimewanya.
Ketika Lisa sedang menikmati dan hampir terangsang, tiba-tiba ada seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Lisa terkejut dan berteriak sambil bersembunyi di bawah selimut. Zavier beranjak dan merapihkan resleting celana yang terbuka.
Arvan, dia adalah seorang Desainer terhebat di kota sebelah sekaligus teman masa kecil. Zavier sengaja mengundangnya untuk bekerja sama dengan Lisa di perusahaan. “ Hahaa! maaf! aku tidak melihat apapun. Sungguh!.”
“ Aku menyuruhmu datang nanti siang, mengapa datang sekarang?.” Zavier terlihat kesal sama Arvan.
“ Ayolah, aku tidak sengaja mengganggu kalian, aku hanya kebetulan saja.” Arvan mencoba membujuk Zavier agar tidak marah padanya.
Lisa mengintip Arvan dengan malu. “ Ya ampun! siapa dia? kenapa dia bisa begitu akrab sama Zavier.” Batin Lisa.
“ Ayolah, buka selimutnya. Jangan bersembunyi di balik selimut seperti itu. Aku mau berkenalan denganmu.” Arvan menghampiri Lisa.
Lisa membuka selimutnya dengan tersenyum malu. “ Ahh, aku,, aku.” Lisa terlihat gugup dan malu karena Arvan telah melihatnya tadi.
Wajah Lisa memerah dan merasa tidak nyaman di sentuh sama Arvan. Dengan lancangnya, Arvan ingin mencium bibir Lisa, tapi Zavier datang dan menutup mulut Arvan dengan tangannya.
“ Apa yang kau lakukan? jangan coba-coba menyentuhnya, apa lagi menciumnya.” Ujar Zavier.
“ Ayolah teman, kau selalu berbagi apa yang kau miliki denganku. Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya?.” Memelas.
“ Dia berbeda dengan yang lain.”
Arvan tertegun melihat reaksi Zavier setelah dirinya menggoda Lisa. “ Apa reaksinya barusan menunjukan kalau dia wanitanya.” Batin Arvan.
“ Duduk! aku menyuruhmu ke sini bukan untuk main-main denganku.” Dengan nada dingin.
Arvan menggaruk kepalanya dengan wajah yang takut. “ Hahaa,, aku tahu itu. Aku tidak bermaksud membuatmu marah.” Arvan mulai ketakutan ketika Zavier berbicara dingin padanya.
Setelah beberapa saat berbincang, Arvan pamit pulang. “ Kalau begitu aku akan pulang dulu. Kabari aku jika sudah waktunya. Dan untukmu sayang! semoga lekas sembuh.” Arvan tak henti menggoda Lisa.
Setelah Arvan menutup pintu, Zavier menghampiri Lisa dengan senyuman sinis. Secara perlahan Lisa mundur dan mencoba menghindar dari Zavier, karena Lisa tahu kalau saat itu Zavier sedang marah padanya.
Lisa hampir terjatuh karenanya, Zavier meraih Lisa dan menciumnya dengan agresif. “ Ini adalah hukuman untukmu, karena kau terlalu memikat hati lelaki.”
“ Hemm,, uh ah ah.” Lisa melepaskan ciumannya.
__ADS_1
“ Tidak, jangan di sini, aku tidak bisa melakukannya.” Lisa mendorong Zavier dengan lembut.
“ Tapi,, baik. Aku akan melakukannya setelah kau sembuh.” Kecup di kening Lisa.
“ Ibu,, aku datang menjemputmu.” Teriak Darvi dari luar.
“ Hemm.”
“ Ibu? apa yang kalian lakukan?.” Darvi bengong melihat ibunya yang tidak bereaksi.
“ Aww,, kakinya masih sakit. Apa Darvi bisa membantu ibu memijat lebih pelan kakinya?.” Lisa bersikap manja pada Darvi.
“ Baik bu, aku akan melakukannya sekarang.”
“ Terima kasih sayang.”
“ Sama-sama.”
“ Aku pikir ibu tidak senang, aku datang menjemputmu ke sini.”
“ Mana mungkin. Ibu senang karena anak ibu yang tampan ini sangat perhatian pada ibu.” Lisa mencubit hidung Darvi dengan gemas.
“ Hehee,, ibu, apa ibu sudah makan? aku bawa sarapan untukmu.”
“ Ibu tidak lapar, tapi jika Darvi membawa sarapan untuk ibu, ibu tidak bisa menolaknya.”
Darvi membuka makanannya dan menyuapi Lisa. “ Ibu, apa kau tahu? semalam kakek datang bersama nenek. Mereka mengajakku untuk tinggal di keluarga Sanjaya, tapi aku menolaknya bu. Karena aku tidak mau meninggalakan ibu sendirian di Rs.”
“ Mengapa kamu tidak pergi sama kakek nenek mu?.”
“ Aku tidak mau, aku tidak betah tinggal di sana.”
Lisa mengalihkan pembicaraan agar Zavier tidak sakit hati dengan kata-kata Darvi. Dokter datang ketika Darvi menyuapi Lisa.
“ Wah wah wah,, putramu sangat perhatian nyonya, dia terlihat sangat menyayangimu.” Ujar dokter.
“ Hemm.”
“ Aku akan memeriksa lukanya, tunggu sebentar ya anak tampan.” Dokter membersihkan luka di kaki Lisa.
“ Lukanya sudah mulai membaik. Tolong di ingat nyonya, lukanya tidak boleh terkena air selama beberapa hari. Setelah tiga hari Anda bisa datang ke sini untuk di periksa lebih lanjut.” Ujar dokter.
“ Jangan khawatir, aku akan membawanya kembali ke sini.” Zavier menghampiri Lisa dan menggenggam tangannya.
“ Baik tuan, kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya.” Dokter itu pergi dan meninggalkan catatan obat untuk di beli Lisa.
BERSAMBUNG
__ADS_1