
Hari mulai gelap.
Zavier menggendong Lisa dan membawanya pergi ke dalam mobil, tidak lupa membawa ikan hasil tangkapannya untuk di masak besok pagi.
“ Aku mencintaimu.” Zavier mencium Lisa dan menidurkannya di mobil.
Zavier menyetir mobil dengan pokus dan hati-hati, karena tidak ingin membuat Lisa terbangun Zavier sengaja melajukan mobilnya perlahan sambil menikmati indahnya Matahari terbenam.
“ Kalau Lisa tahu Matahari terbenam di sini sangat indah, dia pasti senang, entahlah, dia pasti tidak mau pulang dan mau menghabiskan malam di sini.” gumam Zavier sambil menatap Lisa yang tengah tidur.
Di perjalanan tiba-tiba turun salju dan menutupi jalanan secepat mungkin, membuat Zavier kesusahan saat melewati jalan yang penuh dengan salju itu.
“ Bagaimana ini, sudah jam 7 malam tapi aku malah terjebak salju, belum lagi Lisa tidak memakai pakaian yang lengkap, dia pasti kedinginan sekarang.” Zavier menghentikan mobilnya dan melihat salju turun dengan lebat.
Zavier melepaskan kemejanya untuk menutupi badan Lisa, Zavier tidak memakai baju demi membuat Lisa tetap hangat. Zavier kebingungan dan hanya berdiam diri di mobil, sedangkan perjalanan menuju Villa masih cukup jauh dari lokasi kejadian.
Dengan terpaksa Zavier membangunkan Lisa untuk menepi sebentar. “ Sayang, bangun, sayang bangun.”.
“ Ada apa sayang? apa kita sudah sampai? kenapa tidak menggendongku masuk saja ke dalam.” Lisa masih enggan membuka mata dan hanya menguceknya.
“ Kita tidak bisa pulang sayang, kita terjebak salju di depan.” ujar Zavier.
“ Jangan becanda sayang? aku, aku tidak suka.” dengan terbata-bata.
Lisa terkejut melihat jalan penuh dengan salju, belum lagi salju masih turun dengan lebat dan akan menyebabkan mobil beku bersamaan.
“ Sayang bagaimana ini? kenapa tiba-tiba turun salju?.” dengan panik.
“ Sudah sayang, kita harus segera keluar dari sini sebelum pintu mobil terjebak salju.”
Lisa menganggukan kepala dengan takut.
Tidak membutuhkan waktu lama, Zavier berhasil membawa Lisa keluar dari mobil, Zavier menggenggam Lisa untuk berlari sebisa mungkin. Tapi apa daya, kaki Lisa yang kecil dan lemas tidak kuat jika harus berdiam di tempat dingin, apa lagi salju itu sudah menumpuk sampai lutut kaki, membuat Lisa kesusahan berjalan.
“ Sayang aku tidak kuat lagi!.” Lisa kelelahan dan kakinya pun mulai gemetar.
Zavier tidak tega melihat Lisa kedinginan, tanpa basa basi Zavier menggendong Lisa dan segera berjalan ke depan. Lisa tidak mengetahui kalau Zavier sangat kesusahan membawa barang miliknya.
Tiba di mana ada sebuah gua besar yang tidak jauh dari pinggir jalan, tapi Zavier harus melewati tebing untuk masuk ke gua itu.
“ Sayang, untuk sementara waktu kita bermalam di gua itu.”
“ Apa? gua, yang benar saja sayang, aku tidak mau, takut.”
__ADS_1
“ Kenapa harus takut kan ada aku!.”
“ Tapi sayang, sepertinya kita tidak mungkin bisa naik ke tebing itu deh, itu sangat sulit dan licin, aku takut jatuh.”
“ Kamu tenang saja sayang, aku akan melakukan sebaik mungkin, kamu hanya menutup mata maka kita akan sampai ke puncak gua itu.”
Walaupun Lisa ragu dengan kata-kata Zavier, tapi Lisa percaya kalau Zavier bisa menaklukan tebing itu dengan mudah. Zavier sangat lihai dan punya kemampuan bela diri yang bagus, bahkan Zavier sanggup menaklukan tebing 500 ribu kaki tanpa alat pengaman.
Hanya saja tebing ini cukup ekstrem dan licin akibat salju. Zavier terus berusaha memanjat tebing itu dengan kedua tangannya, Lisa berpegangan sekuat tenaga agar tidak jatuh ke bawah.
Tidak di sangka, Zavier berhasil naik dan sampai di gua itu. “ Sudah sampai.”
“ Apa? sudah sampai?.” Lisa tidak mempercayainya.
“ Sekarang buka matamu, kita benar-benar sudah sampai di gua.” Zavier tidak tahan lagi menggendong Lisa yang berat.
Lisa membuka matanya dengan perlahan. “ Wooaahh! sayang! kamu hebat, kamu hebat sekali sayang, aaahhh! suamiku.” Lisa jingkrak-jingkrak sambil mencium Zavier.
Tiba-tiba kaki Zavier lemas dan terduduk di bawah sampai tergeletak tidak sadarkan diri.
“ Sayang, kamu kenapa? jangan becanda sayang, aku takut! sayang bangun. Hiks hiks!.” Lisa yang panik terus membangunkan Zavier.
“ Wooaahhh! ini tidak adil! kalian tidak adil padaku! Hiks hiks!.” Lisa berteriak sekeras mungkin sambil menangis.
“ Apa ini?! aku bilang berhenti! jika aku terus menangis, sampai kapan api ini akan nyala.” Lisa merasa kesal pada dirinya dan memukul matanya agar tidak mengeluarkan air mata lagi.
Akhirnya Lisa bisa menyalakan api hanya dengan batu dan kayu bakar, Lisa juga mencari kayu bakar tambahan agar api tetap nyala dalam semalaman.
“ Sempurna! sekarang giliran aku membawa Zavier mendekat ke arah apinya. Tapi bagaimana caranya, aku tidak mungkin menggendong Zavier sebesar ini.” gumam Lisa.
Lisa memiliki ide untuk menarik Zavier agar dekat dengan api, Lisa menidurkan kepala Zavier di pangkuannya. Secara perlahan Lisa mengambil kehangatan dari api itu dan menyentuhkannya di badan Zavier.
“ Sadar sayang, jangan lama-lama pingsannya, aku takut di sini.” Lisa menepuk pipi Zavier.
“ Apa itu? Zavier bawa apa dari mobil?.” Lisa penasaran yang ada di dalam plastik hitam.
“ Ikan?! Zavier ke sini bawa ikan hasil tangkapan kita tadi. Tak ku sangka dia begitu perhatian, sudah tahu akan jadi begini, sudahlah, aku akan bakar ikan ini untuk makan nanti.”
Zavier masih belum sadarkan diri, tapi Lisa malah sibuk makan ikan bakar dengan lahap. Zavier membuka matanya dan sudah mendapati dirinya di selimuti menggunakan kemeja dan jas miliknya, Zavier melirik Lisa yang tengah asik makan ikan tanpa pakaian, hanya memakai bra saja.
“ Astaga! suami pingsan tapi dia malah asik makan ikan bakar yang kubawa. Tapi melihat dia seperti itu kenapa aku malah tergoda di saat seperti ini?! tahan Zavier tahan! kamu pasti kuat, tahan dulu dan lihat apa yang akan di lakukan istrimu ketika kamu pingsan. Apa dia akan peduli atau melupakanmu dan terus menyantap ikan dengan lahap.” burung Zavier berdiri melihat pay*dara Lisa yang montok.
“ Kenyang-kenyang. Hemm! belum bangun juga ya?.” gumam Lisa sambil melempar duri ikan.
__ADS_1
Lisa menghabiskan 4 ekor ikan yang sudah di bakar, hanya ada ikan mentah yang tersisa.
“ Celana nya masih basah, sangat sulit mengeringkan celana basah dalam keadaan di pakai. Lebih baik aku keringkan dulu celananya, kalau sudah kering baru di pakai lagi.” Lisa membuka celana nya dan di dekatkan ke arah api.
Lisa berdiri tepat di kepala Zavier, Lisa nyari kayu bakar untuk di jadikan tempat jemuran. Bokong Lisa yang indah dan mulus itu tepat di atas wajah Zavier, karena Lisa tengah sibuk mengeringkan celana nya yang basah.
“ Tadinya aku mau pura-pura tetap pingsan, tapi kalau begini caranya bagaimana aku bisa menutup mata kalau bokong Lisa ada di depan mata. Ya Tuhan, apa salahku sampai istriku sengaja menggoda imanku?.” batin Zavier merintih melihat bokong Lisa.
“ Waahh! tidak di sangka di sini ada daun pisang. Tapi bagaimana cara ngambilnya ya?.” Lisa berdiri di luar dan berniat untuk mengambil daun pisang.
Zavier langsung duduk dengan terkejut dan mau menghentikan Lisa, Zavier takut Lisa kenapa-napa jika mengambil daun pisang tersebut. Tapi siapa sangka, dengan mudahnya Lisa mengambil daun pisang itu tanpa kesusahan.
“ Sepertinya aku harus tidur di sini. Melihat cuaca yang tidak memungkinkan untuk pulang malam ini.” gumam Lisa dengan lesu.
Ketika Lisa mau memeluk Zavier, ada sesuatu yang gerak dan membuatnya kaget. “ Apa itu?!.”
Lisa melihat lebih dekat lagi dan ternyata burung Zavier sudah berdiri sampai sabuk celana pun lepas.
“ Astaga! kenapa bisa seperti ini? apa ini normal kah? dalam keadaan pingsanpun tapi burung suamiku gerak-gerak seperti ini. Iiihh! menakutkan, pantas saja ganas sekali, ternyata burung suamiku tetap hidup dan tidak pernah tidur.” gumam Lisa sambil menutup mulut karena terkejut.
“ Istriku, kamu berani mengatakan kalau burung milikku tidak pernah tidur, kamu pikir ini apa, kamu yang membuatku seperti ini. Kamu yang sudah membangunkan imanku sampai seperti ini.” batin Zavier dengan merintih.
Lisa terus melihat burung Zavier sambil tertawa terbahak-bahak. Zavier tidak tahan dan menarik Lisa lalu menindihnya.
“ Sayang? kamu sudah bangun? lapar tidak, aku bakar ikan dulu untukmu ya.” Lisa kaget karena Zavier langsung menindihnya.
“ Aku tidak mau, aku mau kamu menidurkan burung milikku.”
“ Apa?! jangan becanda sayang, burung apa yang kamu maksud?.”
“ Jangan pura-pura tidak tahu.”
“ Hahh! kita ini di gua, bisa di bilang di hutan. Tidak baik melakukan hal itu di sini, jadi tolong menyingkir ya, aku lapar aku mau makan ikan dulu.” Lisa pura-pura untuk menghindari Zavier yang ganas.
“ Dasar rakus! sudah makan banyak masih bilang lapar.” nyindir.
“ Kamu! kamu, kenapa bisa tahu?.” dengan gugup.
“ Itu karena, bokong dan pay*dara mu sangat indah, membuatku hilang kendali.” Zavier mengendus-ngendus di leher Lisa.
Aahh! aahh! aahh! huah.
Lisa sangat menikmati bercinta dengan Zavier, dalam keadaan dingin dan turun salju sangat cocok jika melakukan hubungan intim. Apa lagi Zavier tidak melepaskan burungnya dari sangkarnya, membuat Zavier nyaman dan hangat karenanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG