
Di Kediaman Sanjaya.
" Bagaimana, apa Lisa sudah ketemu?." Tanya tuan Sanjaya.
" Belum, tuan."
Tuan Sanjaya sangat marah dan murka. Akhirnya tuan Sanjaya turun tangan untuk mencari Lisa, karena tuan Sanjaya tidak mau kalau Zavier akan ketemu lagi sama Lisa.
" Ikuti aku! kita akan mencari mereka, walaupun ke ujung dunia, aku harus menemukannya." Ucap tuan Sanjaya.
" Baik tuan."
Tuan Sanjaya bergegas pergi mencari Lisa. Sedangkan Lisa pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Zavier, Lisa sangat takut dan gugup ketika sampai di Rumah Sakit, karena Lisa tidak yakin kalau dirinya akan di izinkan masuk oleh Keluarga Sanjaya.
" Ibu, kenapa kau berhenti? bukankah kita harus bertemu Zavier, untuk mengucapkan perpisahan." Tanya Darvi.
" Apa keputusanku ini sudah benar, kalau aku akan pergi lagi dari kota ini untuk kedua kalinya. Hanya untuk menghindar dari orang yang membenciku. Apa aku akan di bilang seorang Pengecut? karena lari dari masalah yang sangat besar ini." Lisa sangat bimbang.
" Darvi? ayo kita pulang!."
" Loh! kenapa bu? bukannya ibu bilang mau mengucapkan perpisahan dulu, agar Zavier tidak mencari kita lagi di kemudian hari." Dengan heran.
" Tidak perlu, nanti biar ibu yang bicara dengan Ayahmu di telpon saja. Ibu tidak nyaman ada di sini, lagi pula, kita pasti tidak akan di izinkan menemui Ayahmu."
Lisa pun membawa pergi Darvi dari depan Rumah Sakit.
" Nona Lisa? tunggu!." Asisten li memanggil dengan tergesa-gesa.
" Asisten li? ada apa?." Lisa menengok ke belakang.
" Nona, tuan mau bertemu dengan Anda! tolong Nona ikuti aku sekarang ya."
" Tapi?." Bimbang.
" Ayo cepat Nona!." Asisten li menarik tangan Lisa dan juga Darvi.
" Asisten li, ini sebenarnya ada apa? kenapa aku harus ke sini, aku harus pergi sekarang."
__ADS_1
" Nona, tolong Nona temui tuan terlebih dulu. Tuan baru sadar dan terus memanggil nama Nona, dan Darvi." Asisten li memohon sama Lisa.
Akhirnya Lisa menuruti permintaan Asisten li untuk menemui Zavier. Dengan hati yang sakit dan tubuh gemetar, Lisa berusaha tenang dan menguatkan diri untuk mengucapkan perpisahan.
Zavier membuka matanya dengan perlahan, Zavier kaget karena melihat Lisa di depan matanya.
" Lisa? itu kau?." Sapa Zavier dengan lemah.
" Iya, ini aku!." Jawab Lisa.
" Benar itu kau?." Dengan tidak percaya.
" Kemarilah! tolong biarkan aku menggenggam tanganmu."
Melihat Zavier yang terbaring dengan lemah, Lisa merasa sedih karena semua ini disebabkan oleh dirinya. Lisa membiarkan Zavier untuk menggenggam tangannya.
" Lisa, kumohon! kau jangan tinggalkan aku lagi, aku janji, aku akan menjadi Suami dan ayah yang baik untuk kalian berdua. Tolong berikan kesempatan kedua buat aku, kumohon Lisa!." Zavier mengeluarkan air matanya, yang selama ini ia terkenal dengan sikap acuh dan kejam terhadap siapapun.
" Zavier menangis? baru kali ini aku melihat air mata yang keluar dari mata Zavier. Apa semua yang ia ucapkan itu sungguh-sungguh? atau hanya air mata palsu, untuk menipuku lagi yang kesekian kalinya." Gumam Lisa dalam hatinya.
" Lisa, tolong Maafkan aku!." Zavier Memelas.
" Lisa? kamu mau kan Maafin aku? dan kembali lagi bersamaku, aku janji, aku akan mengadakan Pernikahan yang kedua kalinya denganmu. Agar semua orang tahu, kalau kamu adalah Istriku satu-satunya, yang tidak akan pernah tergantikan, dan juga Putra kita." Ujar Zavier sambil menunggu jawaban.
" Sudahlah, kau jangan terlalu banyak bicara, pikirkan dulu ke sehatanmu, jika kau mau cepat sembuh." Jawab Lisa dengan dingin.
" Aku tahu kalau kau masih peduli denganku Lisa, kau cemaskan melihatku terbaring di sini, jadi kau mau aku cepat sembuh agar kita bisa bersama kembali." Gumam Zavier dengan senang.
" Sudah cukup menyentuhnya? tanganku keram kalau terlalu lama di pegang."
" Belum, belum cukup! aku mau menyentuhmu sepuasnya, bolehkan?." Zavier bersikap manja.
" Apaan si! jangan keterlaluan deh, aku paling tidak suka kalau di pegang-pegang, apa lagi kamu memegang tanganku cukup lama, pastinya sudah cukup buat kamu cepet sembuh." Lisa melepaskan tangannya.
Zavier hanya tersenyum melihat Lisa bersikap dingin padanya, karena Zavier sadar kalau dirinya terlalu banyak menyakiti hati Lisa, hingga Lisa enggan untuk Memaafkan dirinya lagi.
" Aku akan pulang sekarang." Lisa berbalik badan.
__ADS_1
" Tunggu!." Zavier menarik tangan Lisa sampai Lisa terjatuh di pelukannya.
Mulai deh! keempat mata dari mereka saling bertatapan dengan penuh kemesraan. Dada Lisa menindih dada Zavier sehingga kedua Jantung saling berdetak satu sama lain. Sudah terlalu lama Lisa Menindih badan Zavier, tanpa di sadari Darvi masuk ke ruangan dan melihat kejadian seperti itu.
" Ibu? kau sedang apa?." Pertanyaan Darvi mengagetkan keduanya yang sedang berpelukan.
" Hah? tidak, tidak ngapa-ngapain kok! iya kan? Ibu hanya jatuh dan,, dan,, dan begitulah! Ehh! tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan kok." Dengan gugup.
" Ibu apa kau sudah selesai bicaranya? jika sudah, ayo kita pulang!." Balas Darvi.
" Iya, udah kok! ayo kita pulang."
" Darvi? apa kau tidak kangen sama Ayah nak?." Tanya Zavier.
Darvi mengacuhkan perkataan Zavier, dan langsung menarik tangan Lisa keluar dari ruangannya. Darvi marah karena Lisa berbohong padanya, Darvi mendiami Lisa dan bersikap dingin. Lisa mencoba menjelaskan semuanya tapi Darvi tetap marah.
" Tadi,, Jantung Lisa berdetak kencang sekali, apa mungkin Lisa masih mencintaiku?." Zavier tersenyum dengan bahagia.
Di Villa Lisa.
Darvi marahan sama Lisa. Sedangkan Asisten puy terus bertanya-tanya dengan keadaan Lisa, Asisten puy merasa senang karena Nona nya sudah kembali lagi ke Villa.
" Aku mau istirahat, tolong kamu jaga Darvi ya."
" Tapi Nona?!."
" Tidak ada tapi."
" Nona kenapa ya? kok kelihatannya lagi bete gitu, padahal baru aja aku mau ngerayain kepulangan Nona dan tuan muda Darvi. Malah galau duluan, gak jadi deh dengerin Curhatan Nona, padahal,, banyak yang mau aku tanyain sama Nona." Asisten puy sedikit kecewa.
Hari telah larut malam.
Zavier kembali ke Villa Pribadinya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Zavier hanya berpura-pura koma dan sakit parah di Rumah Sakit hanya ingin bertemu dengan Lisa.
Zavier selalu di bayangi dengan kejadian di Rumah Sakit dengan Lisa, sambil menatap Bulan Purnama yang indah, membuat suasana Hati Zavier sangat baik.
" Seandainya Lisa ada di sampingku, dan menatap Bulan bersama, aku pasti akan bahagia. Di tambah lagi,, dengan Darvi yang mau menganggapku sebagai Ayahnya, hidupku pasti tidak akan ada duanya." Lamunan Zavier.
__ADS_1
Zavier tersenyum sendiri, dan membayangkan dirinya berpelukan lagi dengan Lisa, sampai Akhirnya, Zavier tertidur pulas sambil di terangi dengan Bulan yang penuh berkat itu.
BERSAMBUNG