
“ Kamu! dasar tidak tahu malu! kau mesum.” teriak Lisa.
“ Baiklah, akan aku perlihatkan bagaimana mesum dari seorang pria, aku akan membuatmu merasakan kemesuman dariku.”
“ Ahhh! tidak mau, aku tidak mau.”
Yang tadinya berontak kini Lisa mendesah “ Ah, ah, uh, pelan sedikit, terlalu lemah.”
Zavier tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Lisa yang begitu imut. “ Hahaha! gadis nakal. Bilang tidak mau tapi sekarang malah membuatku kelelahan seperti ini.”
“ Ah, itu, itu adalah tugasmu sebagai suami. Aku tidak berhak bekerja terlalu lelah hanya untuk memuaskanmu, aku hanya ingin menikmati tanpa rasa lelah.” dengan terbata-bata.
“ Sudahlah, jangan bicara saat melakukan hal ini. Kau nikmati saja permainannya, aku yang akan memuskanmu.” bisik Zavier.
Lisa tidak tahan dengan keagresifan Zavier yang membuatnya terus ketagihan, selalu ada sisi baik dan lembut dari Zavier bahkan sikap kasar yang membuatnya sampai kesakitan, Zavier tidak akan berhenti sampai Lisa memohon padanya dan mengakui kalau Zavier adalah pemain yang hebat.
“ Suamiku, aku, aku tidak tahan, sudah cukup! berhenti sayang, aku mengaku kamu sangat kuat dan hebat, tidak akan ada pria yang kuat sepertimu di dunia ini.” dengan terbata-bata dan menahan rasa sakitnya.
Seketika Zavier berhenti dan membiarkan Lisa tidur, Zavier menyelimuti Lisa dan membawanya ke kamar.
Krek!
Saat Zavier keluar dari ruang kerjanya, tiba-tiba Darvi dan Laura sudah ada di depan pintu.
“ Darvi, Laura? sedang apa kalian berdiri di situ?.” dengan panik.
“ Paman, aku hanya ingin pamitan sama bibi Lisa, aku dan kakak tampan harus pulang sekarang. Bibi Puy sudah menunggu di luar dari tadi.” ucap Laura.
“ Pulang? kenapa harus buru-buru pulang? tinggal lah di sini sampai nanti malam. Ibu Lisa pasti masih rindu pada kalian berdua.”
“ Hah, itu ya, itu tergantung pada kakak tampan saja, kalau kakak tampan harus pulang sekarang ya aku ikut.” melirik Darvi.
“ Ayah, aku tahu ibu merindukan aku, tapi aku harus pulang sekarang, aku harus belajar di rumah karena aku sudah harus sekolah.”
“ Sekolah?? iya Darvi maafin ayah, ayah terlalu sibuk sampai lupa kalau kamu sudah waktunya sekolah. Kamu tenang aja, ayah akan mencari sekolahan yang terbaik di dunia untukmu.”
“ Tidak perlu ayah, seseorang dari teman ibu sudah memilih sekolah yang baik untukku.” menolak.
“ Teman?? siapa? siapa yang di maksud Darvi? siapa teman Lisa yang begitu baik sampai merepotkannya mencari sekolah untuk putraku.” batin Zavier tidak senang.
“ Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Jaga ibu dengan baik ayah, bilang padanya untuk menemuiku besok pagi.” ujar Darvi.
“ Baik.” sahut Zavier.
Zavier tertegun beberapa saat, setelah itu membawa Lisa masuk ke dalam kamarnya. Zavier terus mondar-mandir dan masih penasaran dengan apa yang di katakan Darvi padanya.
“ Li, cari tahu apa belakangan ini ada orang yang mencurigakan di kediaman Lisa. Aku ingin tahu siapa orang yang di maksud Darvi tadi.” ujar Zavier di telpon.
“ Baik tuan, akan segera saya laksanakan perintah dari Anda.” sahut Li.
__ADS_1
Zavier menutup telponnya dan meleparkan ponselnya ke ranjang. Zavier pergi ke toilet untuk mandi, saat mandipun Zavier masih kepikiran dan penasaran orang yang sudah mendekati Darvi sampai mencarikan sekolahan untuk Darvi.
“ Sebenarnya apa tujuan dia mendekati Darvi, sampai mencari sekolah untuk putraku. Apa jangan-jangan orang itu ingin menyakiti Darvi! tidak, aku tidak akan biarkan semua itu terjadi.” rasa khawatir yang di miliki Zavier begitu dalam untuk Darvi.
Zavier segera bersiap memakai kaos dan celana pendek selutut, penampilan itu sangat menawan dan ****, Zavier membawa switter berwarna abu-abu untuk menyembunyikan identitasnya.
“ Sayang, aku pergi dulu, ada urusan yang harus di urus sekarang juga.” Zavier pamitan walau Lisa sedang tidur lelap.
Zavier berjalan terburu-buru, bahkan pengawal yang berada di Villa sampai tidak mengenali Zavier karena berpakaian seperti orang biasa.
Saat tahu itu Zavier semua pengawal memberikan hormat. “ Tuan??.” sapa pengawal.
“ Emm!.” Zavier hanya membalasnya seperti itu dan melanjutkan jalannya.
Zavier membawa sepedah untuk mengelabui targetnya, sesampainya di tempat tujuan Zavier segera memakai masker dan earphone menutupi kepalanya menggunakan topi hitam, semua itu membuat Zavier tidak mudah di kenali oleh siapapun.
“ Mari kita lihat siapa yang berani mendekati putraku.” batin Zavier sambil duduk di kursi taman.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Zavier. “ Tuan, orang yang Anda maksud menuju tempat Anda.” pesan singkat dari Li.
Zavier pura-pura mendengarkan musik dan mengutak-atik ponsel, target berjalan di depan Zavier bersama Darvi dan Laura.
“ Ini dia! bagaimana bisa Darvi terus menggenggam tangannya.” batin Zavier.
Zavier beranjak karena merasa terancam melihat Darvi dan Laura berada di tangan orang lain. “ Tunggu!.”
Pria itu melihat ke belakang dan berkata. “ Iya, apa Anda memanggilku?.”
“ Emm, maaf! aku salah orang.” ujar Zavier.
“ Baiklah, itu tidak masalah.” balas Andra dengan sopan.
Zavier berbalik badan dan menaiki sepedah. “ Sial! kenapa bisa dia! apa dia mengetahui kalau Darvi adalah anak Lisa? tapi dari mana dia tahu?? aku harus menyeledikinya lebih dalam.” batin Zavier.
“ Paman, siapa orang yang tadi?.” tanya Laura.
“ Hah! itu ya, paman juga tidak tahu, paman tidak mengenalnya.” jawab Andra dengan lembut.
“ Sepertinya orang itu tidak asing, dari gerak-geriknya aku sangat tahu betul kalau orang itu pernah kujumpai, tapi di mana?.” batin Darvi melamun.
“ Darvi, apa ada masalah?.” khawatir.
“ Tidak, tidak ada.”
“ Apa kamu mengenal orang tadi? kelihatannya kamu terus menatapnya dari tadi.”
“ Tidak paman, mungkin aku salah ingat orang.”
“ Oo, ya sudah ayo kita pergi.”
__ADS_1
“ Baik.”
Andra membawa Darvi dan Laura jalan-jalan mengelilingi taman dan wahana tempat bermain, semua biaya dan makan Andra yang bayar.
“ Ikuti mereka, pastikan anak-anak pulang dengan selamat.” ucap Zavier di telpon.
“ Baik tuan.” sahut pengawal.
Li sengaja menunggu Zavier di persimpangan, Zavier masuk ke dalam mobil dan melepaskan semua pakaiannya dan menggantinya. Sedangkan Li tengah memasukan sepedah ke dalam mobil.
Li mengemudikan mobilnya dengan cepat. “ Tuan, ke mana kita akan pergi.”
“ Ke kediaman Sanjaya.” jawab Zavier.
Zavier ingin menemui tuan Sanjaya untuk mengubah rencananya, menginginkan perusahaan tetap berjalan tanpa ada kerugiana besar lagi Zavier akan merekomendasikan Brian jadi pion utama dalam perusahaan.
Sesampainya di kediaman Sanjaya, Zavier masuk ke dalam dan duduk di sofa menunggu ayahnya.
“ Zavier, kau pulang nak?.” sapa nyonya Ratih.
“ Ibu, apa kabar?.”
“ Baik.”
“ Bagaimana keadaan kakak? apa dia baik-baik saja?.”
“ Iya, berkat kamu ibu di ijinkan menemui Brian setiap hari dan memberinya makan. Sekarang dia lebih keurus dan terawat, hanya saja ibu tidak tega melihat Brian terus di kurung di penjara bawah tanah.”
“ Jadi apa maumu ibu.”
“ Kamu pasti tahu maksud ibu Zavier, ibu tidak tega melihat kakak mu terkurung sendirian dalam ke gelapan.”
“ Hentikan omong kosongmu itu istriku!.” teriak tuan Sanjaya dari tangga.
“ Hah, suamiku? aku, aku tidak bermaksud untuk.”
“ Cukup! buatkan teh hijau madu untukku. Akhir-akhir ini aku merasa lelah dan kurang tidur.” memotong dengan bentakan.
“ Baiklah, aku akan pergi ke dapur sekarang.” nyonya Ratih segera pergi.
“ Katakan padaku apa ada masalah!.” ucap tuan Sanjaya.
“ Ayah aku ingin bicara sesuatu denganmu.” jawab Zavier dengan serius.
“ Ikuti aku.” tuan Sanjaya tahu kalau Zavier ingin bicara masalah penting dengannya.
Tuan Sanjaya pergi ke ruang baca dan mengajak Zavier, terlalu banyak telinga yang mendengr jika bicara sesuatu di luar.
“ Untuk apa mereka pergi ke ruang baca? apa yang ingin di sampaikan Zavier sampai harus pergi ke ruang baca.” batin nyonya Ratih dengan penasaran.
__ADS_1
Nyonya Ratih berniat menguping pembicaraan suaminya dengan Zavier, tapi takut ketahuan dan malah menyebabkan masalah besar baginya. Nyonya Ratih hanya diam dan menunggu Zavier keluar dari ruang baca ayahnya.
BERSAMBUNG