
Tibanya di perusahaan Sanjaya, Zavier terus menggenggam tangan Lisa dan tidak mau melepaskannya. Banyak karyawan yang sedikit bergosip tentang perut Lisa yang semakin membuncit, mereka juga tidak ragu membicarakan kehamilan Lisa setelah Lisa dan Zavier melewatinya.
“ Aku pikir tubuh nyonya muda agak berisi setelah menikah dengan tuan muda. Tidak di sangka sekarang perut nyonya sudah besar, dia pasti hamil. Tapi kenapa tuan muda tidak memberitahu media tentang kehamilannya?.” ucap beberapa wanita bergosip.
Zavier menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang.
“ Siapa yang baru saja bergosip di sini? katakan! siapa?.” bentak Zavier menatap para wanita itu.
Semua karyawan menggelengkan kepala termasuk wanita yang sudah bergosip.
“ Baiklah, karena kalian tidak mau ngaku. Kalian semua aku pecat, ambil surat pengunduran diri kalian masing-masing. Aku tidak mau melihat kalian ada di sini sampai besok. Mengerti?!.” Zavier sengaja menggertak agar tidak ada yang berani bergosip lagi di kantornya.
“ Mengerti.” sahut para karyawan dengan keterpaksaan.
Zavier berjalan menuju Lift, para pengawal berjaga agar tidak ada orang asing yang masuk ke perusahaan Sanjaya.
Di ruangan kerja Zavier tampak mendiami Lisa selama bekerja, ia terus pokus pada pekerjaannya tanpa menoleh ke arah Lisa.
Drrrring!
“ Hallo! Darvi?.” ucap Lisa menelpon.
Zavier menoleh ke arah Lisa.
“ Ibu, ada orang yang datang kemari. Dia menyebut dia pelayan yang di suruh olehmu untuk menjemputku, apa itu benar?.” tanya Darvi di telpon.
“ Apa? siapa, berapa orang di situ?.” dengan panik Lisa berdiri.
Zavier berdiri menghampiri Lisa yang terlihat panik, mengambil ponselnya dan berbicara dengan Darvi.
“ Aku tidak tahu siapa dia, ada 2 orang di depan pintu, tapi aku bertanya padamu untuk memastikan apa dia benar-benar pelayan suruhanmu.” Darvi waspada pada orang yang belum ia kenal.
“ Darvi, ini ayah. Ayah tahu Darvi sudah besar, sekarang dengarkan ayah, kunci semua pintu dan masuk ke kamar bersama Laura, katakan pada suster untuk menutup semua jendelanya. Ingat jangan keluar dari kamar, ok?.” Zavier khawatir jika kedua orang itu adalah orang suruhan Arya untuk menculik anaknya.
“ Ada apa? apa kamu tahu mereka siapa?.” tanya Lisa dengan cemas.
“ Sayang, ayo ikuti aku.” Zavier meraih tangan Lisa membawanya ke lantai paling atas, tempat di mana Hellikopter terparkir di sana.
“ Kamu mau bawa aku ke mana?.” Lisa melepaskan tangannya dan mundur perlahan.
“ Sayang, kita akan pergi menemui Darvi sekarang. Patuhlah demi keselamatan putra kita.” kata-kata Zavier membuat Lisa panik.
“ Maksudmu apa? kenapa berkata seperti itu?.” menepis tangan Zavier dengan kesal.
__ADS_1
Zavier tidak mampu menjelaskan semuanya pada Lisa, jika terlambat takutnya orang suruhan Arya bisa masuk ke dalam rumah.
“ Dengar! sekarang aku tidak punya waktu menjelaskan semua ini padamu, setelah aku membawa Darvi aku akan menjelaskan semuanya padamu.” menggenggam tangan Lisa dan berharap Lisa bisa patuh padanya.
Lisa hanya pasrah dan masuk ke Hellikopter, berdiam diri melihat Zavier dari ketinggian Helikopter yang membawanya pergi.
Zavier memerintahkan Li untuk segera pergi ke kediaman Lisa, menyelamatkan Darvi dan Laura dari bahaya.
“ Sial! jika dia berani menyakiti anakku aku tidak akan memaafkannya.” gumam Zavier memukul setir mobil.
Kecepatan mobil membuat kendaraan lain oleng dan hampir tertabrak olehnya.
Tidak lama kemudian Zavier sampai di kediaman Lisa, tampak dari luar sudah kacau dan musuh menyerangnya dari depan rumah.
Drorrr!
Tembakan itu membuat Darvi dan Laura ketakutan yang sedang berada di dalam kamar, Laura menutup telinga dan bersembunyi di bawah ranjang untuk menghilangkan ketakutannya.
“ Kakak tampan, suara apa itu? kenapa keras sekali?.” dengan suara pelan.
“ Aku juga tidak tahu, tapi ayahku bilang kita jangan keluar dari kamar ini.” balas Darvi sambil berpikir.
Brak!
“ Mungkinkah itu ayah?.” dengan senang.
“ Tunggu! jangan membuka pintu jika dia tidak bicara. Takutnya itu adalah orang jahat, bukan tuan besar.” suster itu menarik tangan Darvi.
“ Benar yang di katakan suster, jika itu ayah dia akan memanggilku dan Laura.” batin Darvi mulai gelisah.
Darvi memikirkan cara untuk menghindar dari penjahat itu, Darvi membuka jendela dan mengintip untuk memastikan di luar halaman tidak ada penjahat yang berjaga.
“ Tuan muda apa yang Anda rencanakan?.” suster itu mulai panik karena pintu hampir terbuka.
“ Sttt! jangan bersuara, kita akan pergi lewat jendela ini. Bawa Laura bersamamu.” menyuruh suster itu diam.
“ Tapi bagaimana denganmu?.” kebingungan.
“ Jangan pedulikan aku, Laura lebih membutuhkanmu.” berbicara seperti orang dewasa yang menyelamatkan gadisnya.
Suster itu segera menggendong Laura untuk loncat dari jendela.
Bruk!
__ADS_1
“ Cari anak itu! kita harus membawanya ke bos.” ucap kapten dari penjahat itu.
Penjahat itu tidak menemukan Darvi di kamarnya, hanya jendela yang terbuka dan melihat Darvi melarikan diri bersama suster itu.
“ Kapten, anak itu melarikan diri.” teriak penjahat itu menunjuk ke arah Darvi.
“ Bodoh! kenapa malah teriak? kejar dia! kejar sampai dapat.” memukul kepala penjahat itu dengan kesal.
“ Ah, baiklah, aku pergi sekarang.”
Zavier tiba di kamar Darvi, menembak semua penjahat itu sekaligus. Tapi Darvi tidak terlihat di kamar maupun di luar, tandanya penjahat itu berhasil membawa Darvi pergi.
“ Tuan, tuan muda Darvi di culik! mereka membawanya menggunakan Hellikopter di depan sana.” Asisten Li panik menghampiri Zavier.
“ Cepat suruh Hellikopter datang untukku sekarang! aku harus mengejar dia, dia pasti Arya.” Zavier berlari keluar melihat Hellikopter itu terbang jauh.
Zavier melemparkan pistolnya karena merasa tidak berguna, menangkap penjahat kecil saja Zavier tidak mampu sampai membuat Darvi dan Laura terlibat dalam masalahnya.
“ Tuan tidakkah kita menembak Hellikopter itu?.” berbicara tanpa pikir panjang.
“ Kau mau putraku celaka? dia ada di dalam bersama Laura, jika aku menembaknya bukan hanya penjahat itu yang mati, tapi Darvi dan Laura juga pasti akan kena.” bentak Zavier.
“ Hah! maafkan aku tuan.” tertegun.
Zavier berlari masuk ke dalam mobil, mengejar menggunakan mobil sebelum Hellikopter datang menjemputnya.
“ Sampai kapan aku mengejar Hellikopter menggunakan mobil? sialan! aku benar-benar tidak berguna, hanya bisa menciptakan masalah bagi keluargaku saja. Untuk apa aku hidup jika putraku dalam bahaya karenaku.” menghentikan mobil dan memukul stang mobil.
“ Sudah tidak terlihat lagi, mereka mau membawa putraku ke mana? akankah dia menyakiti putraku??.” gelisah.
Asisten Li sampai bersama pasukannya, menggunakan Hellikopter.
“ Maaf terlambat tuan.” ucap Asisten Li dari dalam Hellikopter.
Zavier naik ke Hellikopter menggunakan tali, meninggalkan mobil mewah berwarna merah di pinggir jalan begitu saja. Kunci mobil dan barang miliknya ada di dalam mobil itu, sepertinya Zavier sudah tidak peduli lagi dengan barang miliknya. Yang ada di pikiran Zavier hanya membawa Darvi dan Laura kembali ke pelukan Lisa.
“ Anda tenang saja tuan, aku sudah menyuruh pengawal untuk membawa mobil milikmu kembali ke Villa.” ucap Asisten Li.
“ Aku tidak peduli! yang aku mau hanya putraku! aku akan senang jika kau membawa putraku ke padaku.” bentak Zavier memukul bahu Asisten Li.
“ Aku akan berusaha semampuku tuan.” balas Asisten Li menunduk.
BERSAMBUNG
__ADS_1