Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part89


__ADS_3

Waktu berlalu.


Zavier menggendong Lisa ke toilet untuk mandi. Lisa merasa malu karena Zavier membantunya mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.


“ Hemm, anu, bisakah kau keluar terlebih dulu. Aku mau membersihkan badanku yang lainnya.”


“ Biar aku bantu. Yang mana? tunjukan padaku.”


“ Tidak, tidak perlu. Kau bisa keluar sekarang, aku akan selesaikan mandinya.” Lisa berusaha membuat Zavier mengerti apa maksudnya.


Zavier tertegun dan mengingat apa yang di maksud Lisa, dengan peka Zavier keluar sambil tersenyum. “ Cuci dengan bersih ya, biar tidak bau.” bisik Zavier sambil meniup telinga Lisa.


Wajah Lisa memerah di sertai dengan telinga yang terasa panas, membuat sekujur badan Lisa merinding dengan ulah Zavier. “ Hemm. Apa maksud dia?.“


Setelah selesai, Lisa berusaha berdiri walaupun susah tapi Lisa berusaha untuk berjalan dengan sekuat tenaga. “ Hei! Sayang, mengapa kamu keluar sendiri? kau bisa memanggilku jika kau butuh bantuan. Kau tidak perlu memaksakan diri seperti ini.” dengan cemas.


“ Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu berlebihan.”


“ Aku khawatir jika kaki mu sakit lagi. Kau mengerti maksudku kan?.”


“ Iya, aku mengerti, maafkan aku.”


Zavier menggendong Lisa dan mencarikan pakaian di lemari untuk di pakai Lisa. Zavier sangat hangat pada Lisa, sampai-sampai Zavier membantu mengeringkan rambut Lisa yang basah.


“ Kau terlihat cantik tanpa makeup.” Zavier mencium pipi Lisa dari belakang.


“ Kamu,, nakal.” dengan senang.


“ Kamu menyukainya kan? jika kau menyukai kenakalanku, akan aku perlihatkan bagaimana aku bersikap nakal padamu.” canda Zavier.


“ Aku tidak mau.”


Tok tok.


“ Nyonya, mari makan malam terlebih dulu, Darvi sedang menunggu di meja makan.”


“ Baiklah.” saut Lisa.


“ Biar aku menggendongmu ke bawah.” ucap Zavier.


“ Terima kasih.” balas Lisa.


“ Wahh, mereka semakin mesra aja ya. Gemes deh lihat mereka seperti ini.” gumam Puy.


Zavier mendudukan Iisa di kursi, tepat di sebelahnya. “ Kamu mau makan apa? mau iga bakar yang ini, atau yang sup iga.”


“ Yang itu, iga bakar aja.”


Zavier mengambilkan iga bakarnya dan melayani Lisa dengan baik. Darvi tertegun dan merasa ada yang aneh dengan ibu dan ayahnya.


“ Apa kalian sudah baikan?.” tanya Darvi dengan tiba-tiba.


“ Hemm.” Lisa berhenti makan dan menyimpan sendok beserta garpu.


“ Iya, aku dan ibumu sudah baikan. Dan kami akan merencanakan pernikahan di minggu depan.” ujar Zavier.


“ Apa itu benar ibu? katakan padaku jika kalian sudah baikan.” Darvi merasa senang.

__ADS_1


“ Iya, yang di katakan ayahmu benar nak. Apa kau keberatan dengan itu?.” tanya Lisa.


“ Tidak bu, malah aku seneng kalian bisa akur kayak gini.”


Lisa tersenyum dan mencium Darvi. Tiba-tiba Zavier berdiri dan berkata. “ Aku ada urusan sekarang, mungkin besok aku akan datang ke sini. Apa kau tidak keberatan jika aku tinggal.”


“ Kemana kau akan pergi?.” dengan sedih.


“ Aku ada urusan sayang, aku tidak akan macam-macam. Hanya urusan pekerjaan saja, kau tidak usah khawatir ya.” Zavier mengusap kepala Lisa dengan lembut.


“ Iya, tapi pekerjaan apa selarut ini?.” Lisa tidak mengijinkan Zavier untuk pergi.


“ Ada masalah di perusahaan, aku harus membereskannya malam ini juga.” Zavier mencoba menjelaskan maksudnya.


“ Apa itu benar?.”


“ Iya benar.”


“ Baiklah, kau boleh pergi sekarang, tapi jika ada masalah besar kasih tau aku, mungkin aku bisa bantu perusahaanmu.”


“ Siap sayang, terima kasih atas perhatiannya.”


Zavier mencium kening Lisa dan mencium Darvi, setelah Zavier pergi Darvi bertanya untuk kedua kalinya, karena Darvi tidak percaya kalau ibunya sudah memaafkan Zavier dalam beberapa jam.


“ Ibu, katakan dengan jujur padaku, apa ibu yakin sudah memaafkan Zavier? apa alasannya?.”


“ Ibu tidak bisa menjelaskannya padamu. Bukankah ini yang kau inginkan, keluarga yang utuh dan harmonis.”


“ Tapi aku tidak mau jika ibu tersakiti lagi, aku tidak mau ibu berkorban demi aku.”


“ Tidak Darvi, ini adalah kemauan ibu. Ibu sudah memutuskan akan menikah dengannya.”


“ Yaa, ibu percaya kalau Zavier sudah berubah.”


Hari telah pagi, Zavier bersiap untuk pergi ke bandara. Dengan mengenakan pakaian yang tertutup membuat para paparizi tidak akan mengenali Zavier. Zavier sengaja menyembunyikan identitasnya karena tidak mau terekspos oleh media.


Brian tampak bingung ketika turun dari pesawat tidak mendapati keberadaan Zavier, tapi Zavier tepat berada di belakangnya dengan sengaja tidak menyapa Brian karena merencanakan sesuatu.


“ Dasar kakak bodoh, bahkan kau tidak mengenaliku sama sekali, seharusnya kau tahu kalau aku tepat di belakangmu. Kakak macam apa kau ini.” batin Zavier dengan kesal.


“ Kurang ajar, berani-beraninya dia tidak datang menjemputku. Awas aja, jika aku bertemu dengannya aku akan merobek mulutnya yang sombong itu.” Brian memaki-maki di belakang Zavier.


“ Sialan! dia berkata kasar di belakangku.” Zavier sengaja memukul Brian dari belakang.


Brian pingsan karena di pukul dari belakang. Bodyguard Brian panik dan langsung menangkap Zavier, tapi Li menunjukan kartu Indentitas bahwa Zavier adik kandung Brian.


Brian di bawa ke sebuah hotel yang tak jauh dari bandara. Zavier sengaja menunggu Brian tersadar dari pingsannya, tak lama kemudian Brian bangun dengan memegang kepala.


“ Kepalaku terasa sakit, dimana aku? siapa yang membawaku kemari?.” gumam Brian.


“ Aku!.” saut Zavier.


Brian melirik Zavier dan berusaha melihat wajah Zavier dengan jelas. “ Kau! ternyata kau yang memukulku tadi. Kau keterlaluan, kau menyakiti kakak mu sendiri.”


“ Jelas-jelas kau sendiri yang memaki-makiku di belakangku.”


“ Ahh,, sudahlah. Seharusnya kau menyambutku dengan baik dan hormat, tapi kau malah membuat kepalaku sakit.” Brian beranjak dari ranjang.

__ADS_1


“ Itulah caraku menyambutmu kakak! bagaimana, apa kau menyukainya?.” canda Zavier.


“ Adik bodoh! kau keterlaluan.”


“ Katakan padaku bagaimana kondisi ayah sekarang?.” tanya Brian.


“ Dia baik-baik saja. Bahkan sekarang dia lagi mempersiapkan pernikahan untukmu.”


“ Apa? pernikahan untukku?.” dengan terkejut.


“ Ya yaa. Jika kau tidak percaya kau boleh pulang dan lihatlah sendiri.” Zavier keluar dari kamar dan meninggalkan Brian.


“ Hei! kau mau kemana? beritahu aku dengan jelas apa yang kau katakan itu benar!.” teriak Brian.


Zavier malah pergi dan mengabaikan Brian begitu saja.


Di kediaman Sanjaya.


Seperti biasa, suasana mencengkam. Tidak ada kedamaian setelah kepergian orang tua Lisa.


Asisten Fla memberitahu ada seseorang yang datang ke halamannya. “ Tuan, di depan ada seorang pemuda menuju kesini.”


“ Siapa dia?.”


“ Saya tidak tahu. Saya tidak bisa mengenalinya.”


“ Biarkan dia masuk.”


“ Baik.”


Asisten Fla membawa masuk pemuda itu, betapa terkejutnya setelah Brian membuka kaca mata beserta jaket hitamnya.


“ Brian? itu kau putraku?.” ucap nyonya Ratih.


“ Ibu,, ibu! aku merindukanmu. Hiks hiks.” Brian tampak lemah setelah memendam rindu pada ibunya selama 10 tahun.


“ Brian, kemana saja kau pergi selama ini nak? ibu dan ayah sudah mencarimu kemana-mana tapi kami tidak bisa menemukanmu.” tangis nyonya Ratih


“ Maafkan aku ibu, aku tidak bermaksud meninggalkanmu, tapi aku terpaksa pergi dari rumah.” ujar Brian.


“ Sudah nak, jangan bicarakan itu lagi, mari kita makan dulu.” nyonya Ratih membawa Brian ke meja makan.


“ Tunggu!.” tuan Sanjaya menghentikan langkah Brian.


“ Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kediaman Sanjaya?.” ujar tuan Sanjaya dengan sinis.


“ Suamiku? dia putra kita, tidak seharusnya kau menyimpan dendam padanya.”


“ Tidak! dia yang tidak pernah menghormatiku sebagai ayahnya dan kepala keluarga Sanjaya di sini.” amarah tuan Sanjaya semakin tinggi.


“ Ayah, ayah maafkan aku, aku salah waktu itu aku tidak mendengarkan kata-kata ayah. Lihat sekarang nasibku yang begitu buruk, apa ayah tidak kasihan padaku?.” Brian memelas dan menyesali perbuatannya.


“ Sudahlah, bangun jangan bersujud lagi di kakiku.”


“ Ayah memaafkan aku? benar, ayah memaafkan kesalahanku. Ibu lihat! ayah menyayangiku lagi.” ujar Brian dengan bahagia.


Nyonya Ratih mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2