
Di ruangan Zavier.
Tuan Sanjaya tampak kesal karena Zavier tidak pokus saat Meeting dengan Klien, membuat tuan Sanjaya yakin kalau cinta telah merubah segalanya.
“ Zavier, kau tahu gadis semalam yang kamu beli di pelelangan. Dia datang ke rumah, bahkan dia berani menggodaku di depan ibumu, benar-benar sial membeli dia dari pelelangan.” ujar tuan Sanjaya sambil minum.
“ Lalu apa yang terjadi? apa ibu memukulnya atau.” menebak dengan penasaran.
“ Ya, kamu tahu sendiri bagaimana sikap ibumu, dia berteriak ingin membunuhnya. Ayah tidak tahu harus berbuat apa, ayah terpaksa membunuh gadis itu untuk membuat ibumu tenang.” dengan ekspreai kejam.
“ Ayah membunuhnya?.” dengan terkejut.
“ Iya, kalau tidak ibumu pasti akan terus marah padaku karena cemburu pada gadis itu.” sambil menyalakan rokok.
“ Dia memang ayahku, rela melakukan apapun untuk membuat istrinya nyaman dan bahagia.” batin Zavier.
Tok tok!
“ Tuan, ada yang harus saya sampaikan pada Anda.” ucap Asisten Li dari luar.
“ Masuk.” jawab Zavier.
Krek!
“ Tuan besar, tuan Zavier.” sapa Asisten Li dengan takut.
“ Ada apa? katakan padaku apa sesuatu telah terjadi?.” ujar Zavier tidak sabaran.
“ Ini adalah bukti pembayaran atas nama perusahaan, tuan tertua memakai berbagai Fasilitas atas nama perusahaan Sanjaya. Dengan begitu banyak pihak Bank dan yang lainnya berdatangan ke sini, untuk minta membayar tagihan tuan tertua.” Asisten Li menyerahkan berkas pengeluaran dana perusahaan.
“ Apa? Brian memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya! apa-apaan ini?!.” tuan Sanjaya emosi dan berdiri tegak dengan ekspresi marah.
Zavier mengecek berkasnya dengan keseluruhan, ternyata benar ada tanda tangan Brian Sanjaya di berkas itu. Zavier tidak bisa berkata apa-apa tentang masalah itu, Zavier hanya menenangkan tuan Sanjaya agar tidak emosi.
“ Ayah, tenanglah, aku pikir mungkin kakak kekurangan uang akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita mengirimi kakak uang untuk kebutuhannya selama sebulan, dengan begitu kakak tidak akan berani lagi memakai uang perusahaan.” Zavier berdiri dan menggiring tuan Sanjaya untuk duduk.
“ Tidak! dia sudah keterlaluan, berani-beraninya memakai uang perusahaan tanpa ijin dari Presdir di sini. Dia pikir dia siapa, jangan bilang kalau 40% saham ini adalah miliknya, dengan begitu dia seenaknya berlaku tidak sopan di perusahaanku. Dasar anak sialan!.” tuan Sanjaya tidak bisa di tenangkan dan malah melemparkan gelas yang ada di meja.
“ Sudah ayah, perhatikan kondisimu, tidak baik terlalu emosi saat ini, ingat kata dokter.” Zavier tidak habis pikir pada ayahnya, walau sudah tua tapi Tempramennya sangat buruk.
“ Aku tidak peduli, kalian semua hanya menginginkan harta dariku saja, kalian berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan sebagian dari warisanku saja. Benarkan?!.” tuan Sanjaya semakin marah dan emosi.
“ Asisten Li, bawa tuan pulang sekarang juga.” Zavier tidak sanggup mengatasi tuan Sanjaya saat sedang marah besar.
“ Baik tuan.” Asisten Li membujuk tuan Sanjaya untuk pulang.
Tuan Sanjaya berontak karena tidak mau pulang sebelum membekukan semua kartu milik Brian, tanpa pikir panjang itu semua akan menggagalkan rencanya untuk menikahkan Brian dengan Mika.
Asisten Li menenangkan tuan Sanjaya agar tidak marah dan menjaga imej di depan karyawan perusahaannya. Asisten Li berhasil membuat tuan Sanjaya patuh dan tidak marah lagi, berjalan dengan cepat menuju mobil tuan Sanjaya menunjukan ekspresi tidak senang, membuat semua orang yang melihatnya ketakutan, Asisten Li mengantarkan tuan Sanjaya pulang ke kediamannya.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
“ Tuan, tuan besar sudah sampai di kediaman dengan selamat.” pesan singkat dari Li.
“ Baguslah, jika ayah sudah di rumah, dengan begitu aku bisa tenang sekarang.” gumam Zavier menghela nafas.
Zavier mengambil ponsel dan mengecek isi pesan dari Lisa.
“ Astaga, aku lupa kalau ada janji makan siang sama Lisa.” Zavier berdiri dan berjalan dengan terburu-buru.
Di perusahaan Lin.
Zavier berjalan masuk untuk menemui Lisa, semua karyawan menghormati Zavier sebagai suami dari pemilik perusahaan Lin.
“ Selamat siang tuan.” sapa karyawan.
“ Tuan, tuan tunggu sebentar.” Asisten Li berlari menghampiri Zavier.
“ Ada apa?.” Zavier menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
Lisa yang baru saja keluar dari Lift bersama Arya, melihat Zavier ada di depannya Lisa sangat terkejut.
“ Zavier! dia di sini. Tidak, Zavier tidak boleh lihat kalau Arya di sini, aku takut Zavier akan berkelahi jika melihat Arya.” batin Lisa dengan panik.
Lisa mendorong Arya ke toilet, menyuruh Arya untuk tetap diam dan jangan keluar sebelum dirinya pergi bersama Zavier.
“ Tunggu! kenapa kamu tidak ingin aku bertemu dengan Zavier?.” Arya menarik tangan Lisa.
“ Tuan tolong lepaskan tanganku.” sambil melirik tangan yang di genggam oleh Arya.
Lisa pergi meninggalkan Arya sendirian untuk menemui Zavier yang ada di depan.
“ Lisa, kenapa kamu melarangku bertemu dengan Zavier? apa sesuatu terjadi padamu?.” gumam Arya.
“ Kamu tahu kalau aku sudah bersuami, untuk apa kamu terus menemuiku secara diam-diam? apa kau lupa kalau suamiku sangat Posesif dan cemburuan.” menjawab dengan ketus.
“ Suami? hahah, aku pikir Lisa tidak akan menyebutnya sebagai suami, kata-kata yang sangat menjijikan.” batin Arya dengan kesal.
Arya membiarkan Lisa pergi meninggalkannya.
“ Menarik! semakin menarik!.” gumam Arya dengan menjilat telunjuk jari.
Lisa merapihkan rambutnya dan menghela nafas agar tidak gugup saat bertemu dengan Zavier.
“ Sayang? apa kamu datang untuk mengajakku makan siang?.” teriak Lisa sambil berjalan terburu-buru.
“ Iya sayang.” sahut Zavier berbalik badan melihat Lisa.
“ Sukurlah tuan Zavier tidak lihat tuan Arya ada di sini tadi.” Asisten Li menghela nafas dengan lega.
“ Hei! perhatikan langkahmu! kenapa berlari begitu? apa tidak takut jatuh.” Zavier terkejut melihat Lisa berjalan terburu-buru menggunakan sepatu High Heels.
“ Aku tidak apa-apa, kamu tenang saja.” dengan senyum manis.
__ADS_1
Tanpa di sadari Zavier menyentuh perut Lisa dan mengelusnya dengan lembut.
“ Lain kali jangan pakai sepatu hak tinggi. Takutnya kamu tergelincir atau keseleo.” ujar Zavier sambil memapah Lisa berjalan dengan tangan memegang perut Lisa.
“ Iya-iya, cerewet!.” balas Lisa dengan ketus.
“ Kelihatannya ada yang aneh dengan nyonya Lisa, bukan hanya berhati-hati dalam melakukan segala hal, tuan Zavier juga terlihat khawatir pada nyonya. Apa yang terjadi pada nyonya? bukankah nyonya baik-baik saja.” ucap beberapa karyawan yang kepo.
“ Benar apa yang di bilang mereka, Lisa terlihat aneh akhir-akhir ini. Dia juga menolak bersulang denganku.” batin Arya mulai curiga.
Di Caffe tempat makan kesukaan Lisa.
“ Pelayan, tolong hidangkan beberapa makanan bergizi untuk kami, jangan lupa minuman yang sehat dan kue coklat penutup.” ujar Zavier.
“ Baik tuan, tunggu sebentar.” pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan Zavier.
Pelayan itu datang membawa makanan dengan buket bunga yang khusus di pesan Zavier dari toko bunga.
“ Tuan nyonya, makanan sudah tiba. Ini bunga untuk nyonya Lisa.” ujar pelayan dengan senyum ramah.
“ Bunga? dari siapa?.” Lisa melirik Zavier dengan cemas.
“ Di situ ada tanda pengirim, silahkan nyonya baca.” pelayan itu menunjukan kertas berbentuk love pada Lisa.
“ Selamat 2 bulan kehamilan istriku! semoga dede bayi dan ibunya sehat terus sampai lahir.” isi tulisan dari kertas itu.
“ Hah, ini? ini kamu yang pesan?.” tanya Lisa dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
Zavier menganggukan kepala dengan tersenyum.
“ Jangan nangis! aku tidak mau lihat air mata kamu jatuh sia-sia.” Zavier mengusap mata Lisa agar tidak nangis.
“ Ini bukan nangis, ini air mata terharu.” Lisa menggenggam tangan Zavier yang sedang mengusap matanya.
“ Benarkah? aku pikir kamu nangis lagi.” menghela nafas dengan lega.
Tiba-tiba Lisa berdiri dan memeluk Zavier dari belakang, Zavier yang sedang duduk di kursi terkejut karena Lisa memeluknya.
“ Suamiku, terima kasih sudah jadi suami yang baik untukku. Terima kasih juga karena kamu jadi ayah yang baik untuk anak-anak kita.” gumam Lisa di telinga Zavier.
Awalnya wajah Zavier merona dengan bisikan Lisa yang membuatnya terangsang, tapi Zavier sadar kalau dirinya tidak boleh berpikir mesum pada saat hal membahagiakan.
“ Sama-sama istriku, aku senang kamu bisa memberikan kesempatan kedua untukku. Aku tidak akan melakukn kesalahan lagi dan tidak akan pernah membuatmu kecewa.” ucap Zavier sambil berdiri berhadapan dengan Lisa.
“ Sama-sama suamiku.” Lisa memeluk Zavier dengan hangat dan bahagia.
Semua pengunjung yang hadir untuk makan siang, mereka terharu dan kagum dengan kisah percintaan mereka yang begitu kuat dan kekal.
“ Sungguh pasangan yang romantis. Aku ingin hidup seperti mereka, saling mengerti dan berubah setelah melakukan kesalahan pada pasangan. Benar-benar patut di contoh.” gumam para pengunjung.
BERSAMBUNG
__ADS_1