
Zavier membeli Villa baru untuk di tempati Lisa dan anak-anaknya. Memastikan lokasi itu aman dari bahaya, bahkan beberapa Bodyguard di rekrut untuk menjaga Villa itu. Sehingga tidak ada seorangpun yang bisa masuk sembarangan.
“ Istriku, ini tempat tinggal kita yang baru. Aku harap kalian bisa tinggal di sini dengan tenang. Aku sudah pastikan bahwa di sini sangat aman, kalian bisa melakukan aktivitas seperti biasa di lingkungan ini. Selama di luar masih gawat, kalian tidak di perbolehkan bepergian dari sini.” ucap Zavier melirik Villa itu.
Darvi dan Laura saling berpandangan.
“ Ayah, bukan 'kah kau berjanji akan memasukan aku ke sekolah? kapan?.” tanya Darvi.
“ Untuk sementara, ayah akan mengundang beberapa Guru Internasional ke rumah. Jadi kalian bisa belajar di rumah.” ucap Zavier.
“ Hmm. Ayah, apa boleh Guru Andra saja yang mengajari kita?.” tanya Darvi.
Zavier melirik Lisa, lalu menganggukan kepala pada Darvi.
“ Terima kasih ayah.” balas Darvi dengan senang.
Darvi dan Laura memilih kamar baru untuk mereka. Merapihkan semua mainan dan pakaiannya tanpa bantuan dari seorang pelayan.
Di dalam kamar, Zavier memeluk Lisa dari belakang. Kemudian berbisik di telinga Lisa.
“ Sayang, kamu tidak keberatan 'kan tinggal di sini?.”
Lisa meraih tangan Zavier dan berbalik badan.
“ Tidak. Aku akan selalu mengikutimu ke manapun kamu pergi.”
“ Aku minta kamu jangan pergi ke perusahaan terlebih dulu, istirahat di rumah saja untuk beberapa hari ini.” menggengam wajah Lisa dengan lembut.
“ Iya.” menganggukan kepala dengan patuh.
Zavier pergi meninggalkan Lisa bersama anak-anaknya di Villa, dengan berat hati Zavier mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Tibanya di Rumah Sakit, tuan Sanjaya sudah berdiri dan menatap mobil yang di tumpangi Zavier. Zavier turun dari mobil, menghampiri tuan Sanjaya dengan rasa cemas.
Plak!
Tuan Sanjaya menampar Zavier begitu saja.
“ Kurang ajar! apa yang sudah kau perbuat pada nyonya Sara? Hmm.” bentak tuan Sanjaya.
Zavier tidak menjawab pertanyaan tuan Sanjaya, ia hanya menunduk dan memegang wajahnya yang baru saja di tampar oleh tuan Sanjaya.
“ Ikuti aku. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.” ucap tuan Sanjaya berjalan masuk.
Para Bodyguard berjaga di luar kamar pasien, Bodyguard itu mengecek tubuh Zavier dan tuan Sanjaya untuk memastikan tidak ada senjata tajam yang di sembunyikan.
“ Silahkan.” ucap Bodyguard membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Zavier tertegun setelah tahu kalau Sara terbaring di atas ranjang dalam keadaan koma.
“ Tuan.” sapa tuan Sanjaya.
__ADS_1
Wilson Break menoleh. Menggertakan gigi dan mendekati Zavier.
“ Tuan tenang, istri Anda lagi sakit. Tidak baik berkelahi di sini.” tuan Sanjaya menghadang Wilson Brean dengan sekuat tenaga.
“ Minggir! biarkan aku memukul anakmu malam ini. Sebagai kekesalan istriku.” bergumam.
“ Tidak tuan, ini bukan tempat yang tepat. Biarkan dia meminta maaf pada istrimu.” tuan Sanjaya menenangkan Wilson Break agar tidak marah.
Wilson Break merapihkan jasnya dan mundur dengan perlahan. Sedangkan Zavier berjalan mendekati Sara.
“ Nyonya Sara, jika ini kesalahanku. Tolong maafkan aku.” gumam Zavier di telinga Sara.
“ Enyahlah.” menarik baju Zavier dan mendorongnya keluar.
Zavier berdiri dan menatap Wilson Break dengan tatapan suram. Zavier mengepalkan tangan dan ingin memukul Wilson Break saat itu, tapi Zavier tahu kalau tuan Sanjaya ada di sampingnya.
“ Dasar rubah tua. Berani sekali mendorongku.” batin Zavier menggertakkan gigi.
Tuan Sanjaya tahu kalau amarah Zavier sudah di puncak, tidak ingin bisnisnya hancur tuan Sanjaya segera membawa Zavier pergi dari Rumah Sakit itu.
“ Aku menyuruhmu meminta maaf pada Wilson Break dan istrinya. Kenapa kamu malah membuat Wilson Break marah, apa yang sudah kamu lakukan Zavier?.” teriak tuan Sanjaya di dalam mobil.
“ Sudah cukup ayah, aku sudah melakukan apa yang kau suruh. Jangan menyalahkanku lagi dalam hal ini, karena ini semua bukan kesalahanku. Aku hanya menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan.” bentak Zavier memukul kaca mobil.
“ Apa rahasiamu dengannya? apa kau berniat memberontak padaku?.” tuan Sanjaya salah paham pada Zavier.
“ Aku katakan padamu ayah, aku sudah menemukan putri nyonya Sara. Aku tahu keberadaannya sekarang.” dengan serius.
“ Siapa dia? di mana dia sekarang? Zavier.” menarik dasi Zavier dengan kasar.
“ Aku sudah membawanya, dia aman untuk saat ini.” melepaskan tangan tuan Sanjaya dari dasinya.
Tuan Sanjaya berpikir jika dia bisa mendapatkan anak itu maka dirinya bisa menguasai kekayaan Wilson Break. Dia berniat untuk menjadikan anak itu sebagai sandera dan mendapatkan sebagian kekuasaan dari Wilson Break.
“ Kau sangat licik ayah, aku tidak akan memberitahumu tentang Identitas Laura.” batin Zavier.
Di kediaman Sanjaya.
Mika Fhui tengah duduk bersama nyonya Ratih, mereka berbincang sambil menikmati kue hangat buatan nyonya Ratih.
Tak tak.
Suara langkah terdengar dari luar, Mika Fhui tidak sabar ingin melihat batang hidung tuan Sanjaya setelah berhasil menghancurkan keluarganya.
“ Suamiku, kau sudah pulang?.” sapa nyonya Ratih menoleh ke arah pintu utama.
Melihat Mika yang duduk di sofa, tuan Sanjaya langsung pergi ke kamarnya dengan tidak peduli.
“ Kamu yang sudah menghancurkan keluargaku. Kau juga penyebab ayahku sakit sampai tidak bisa seperti orang normal lagi. Aku akan membunuhmu ba*ingan ke*arat.” batin Mika menggertakkan gigi.
Tuan Sanjaya merasa kalau seseorang sedang mengata-ngatainya. Ia segera menoleh ke belakang dan melihat Mika yang tengah menundukan kepalanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Mika pergi pamit pulang. Ia sangat khawatir pada ayahnya yang sendirian di rumah.
“ Mika, ini ada uang sedikit buat kamu. Semoga membantu, nanti setelah Brian pulang ibu akan menyuruhnya menjemputmu ke rumahmu.” ucap nyonya Ratih memasukan uang ke dalam tas milik Mika.
“ Terima kasih bu.” balas Mika menunduk.
Tuan Sanjaya sedang berdiri di balkon sambil memandang Mika dan istrinya dari atas. Ia melihat nyonya Ratih memberikan uang pada Mika, membuat dirinya kesal dan memalingkan wajahnya.
Setelah Mika pergi, nyonya Ratih masuk ke rumah dengan senang. Tiba-tiba tuan Sanjaya turun dari tangga dan berteriak.
“ Sudah kukatakan, kau di larang berhubungan dengan gadis itu lagi. Brian sudah pergi ke pengadilan, untuk apa kamu membawa gadis itu ke sini lagi?.”
“ Apa? pengadilan? jadi maksudmu Brian menggugat Mika hari ini.” terkejut.
“ Iya, hari ini sidang pertama mereka. Jadi kau tidak perlu ikut campur lagi dalam masalah mereka.” balas tuan Sanjaya.
“ Tidak! itu tidak boleh biarkan.” nyonya Ratih berlari keluar dan mengemudikan mobil sendirian, ia pergi ke pengadilan untuk menentang perceraian antara Mika dan Brian.
Tuan Sanjaya tidak habis pikir dengan sikap istrinya, ia tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan rencananya pada istrinya.
“ Dasar anak sialan! sudah kukatakan tidak boleh cerai, kenapa masih keras kepala. Apa dia lupa kalau dia yang sudah bermalam dengan Mika? bagaimana kalau Mika hamil?.” nyonya Ratih terburu-buru menyetir dan menerobos lampu merah, bahkan nyonya Ratih nyaris tertabrak mobil kontainer karena kelalaiannya dalam mengemudi.
Sesampainya di pengadilan, nyonya Ratih masih berkesempatan untuk membatalkan sidang itu. Ia menerobos masuk dan tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya, sapam dan ketua hakim hanya bisa memaklumi tingkah nyonya Ratih yang sembrono.
“ Hentikan! aku menolak gugatan ini.” teriak nyonya Ratih.
Semua orang yang berada di ruang sidang menoleh.
“ Ibu? ibu apa yang kau lakukan di sini?.” Brian yang terkejut langsung menghampiri nyonya Ratih.
Sedangkan Alea yang berada di samping Brian hanya bisa terdiam tanpa kata.
“ Kamu! dasar anak tidak berbakti. Sudah kukatakan padamu aku tidak mengijinkanmu bercerai dengan Mika, kenapa kamu keras kepala? apa kamu sudah tidak sayang lagi pada ibu? Hmm.” nyonya Ratih menampar Brian dengan keras.
Alea menutup mata karena takut, ia takut jika nyonya Ratih menyalahkannya karena perceraian anaknya.
“ Mohon pengertiannya nyonya, ini pengadilan, jika mau ribut silahkan keluar dari sini.” ketua hakim berbicara karena nyonya Ratih terlalu lancang di ruang sidang.
“ Ayo ibu kita keluar dari sini.” Brian menggiring nyonya Ratih dengan lembut.
“ Ibu tidak mau pergi, ibu mau kamu membatalkan perceraianmu dengan Mika. Hanya ini permintaan ibu yang terakhir, jika kamu tidak bisa memenuhinya setelah ibu mati ibu tidak akan tenang.” ucap nyonya Ratih merajuk.
“ Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak mau menyakiti ibu, tapi aku juga tidak mau bertahan dengan pernikahan tanpa cinta ini. Lagi pula aku sudah menemukan wanita yang aku cintai.” batin Brian kebingungan.
Brian melirik Alea yang berdiri tidak jauh darinya, Alea mengedipkan mata dan berharap Brian menuruti permintaan ibunya.
“ Ya sudah, jika itu yang ibu inginkan, aku tidak akan bercerai dengan Mika.” berbicara dengan ragu.
“ Hah, apa kamu serius?.” terkejut.
Brian menganggukan kepala dengan tersenyum, kemudian ia membawa ibunya pulang ke kediaman Sanjaya. Alea tersenyum, ia senang karena Brian lebih memilih ibunya dari pada egonya.
__ADS_1
BERSAMBUNG