
Berita skandal begitu cepat menyebar di media, membuat semua orang tahu bahkan tuan Sanjaya dan nyonya Ratih. Mereka syok melihat berita yang tidak mengenakan di pandang, tuan Sanjaya murka dan marah besar karena Brian sudah mencoreng nama baiknya.
“ Setelah sekian lama aku menutupi bangkai di keluargaku, baru kali ini aku tidak bisa menutupinya, bahkan aku tidak bisa membersihkan nama Sanjaya lagi. Ini sungguh penghinaan besar bagiku.” ujar tuan Sanjaya.
“ Sebenarnya ada apa ini? kenapa bisa terjadi seperti ini, aku tidak bisa membayangkan kalau ini akan terjadi pada Brian. Putraku, kau sungguh anak malang, maafin ibu nak.” batin nyonya Ratih merasa bersalah.
“ Istriku, beritahu Brian untuk pulang ke rumah.”
“ Tapi suamiku??.”
“ Kenapa? apa kamu akan membiarkan dia di luar dan di caci maki sama orang banyak, itu yang kau inginkan?.” tidak sabaran.
“ Bukan itu maksudku suamiku, tapi kau harus berjanji padaku jangan menyakiti Brian. Aku tidak mau melihatnya terluka lagi.”
“ Tidak bisa, aku harus menghukumnya atas apa yang telah ia perbuat saat ini.”
Nyonya Ratih tidak bisa membujuk suaminya, nyonya Ratih terpaksa menyuruh Brian pulang dan harus menyaksikan putra tertuanya di cambuk sama ayahnya sendiri.
Setelah beberapa jam kemudian Brian pulang mengenakan kaos dan celana training seperti habis olahraga. Sudah tidak ada harga diri lagi di mata semua orang, Brian hanya bisa pasrah dengan hidupnya.
“ Ayah, apa kau menyuruhku pulang?.” tanya Brian.
Tuan Sanjaya berdiri dan mendekat ke arah Brian, tuan Sanjaya memolototi Brian dengan tatapan kejam. Plak! tuan Sanjaya memukul Brian sampai terjungkal, Brian tidak kaget sama sekali, reaksinya biasa saja karena sudah tahu kalau ayahnya sangat kejam padanya.
Brian melirik ayahnya dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya. “ Ayah, aku bisa jelasin semuanya padamu.”
Plak! tuan Sanjaya tidak mau dengar kata-kata yang di ucapkan Brian.
“ Diam! aku tidak menyuruhmu berkata apapun. Apa kau mengerti Brian??.” dengan dingin.
“ Iya ayah, aku mengerti.” Brian hanya bisa pasrah pada ayahnya.
Tuan Sanjaya sangat kejam dan sadis pada putranya itu, berkali-kali Brian mendapat pukulan keras dari tuan Sanjaya, sampai memerintahkan pengawalnya untuk membawakan cambukan.
Nyonya Ratih tidak tega melihat Brian terluka parah, nyonya Ratih menangis histeris dan meminta pengampunan untuk Brian.
“ Sudah cukup! cukup! aku memintamu untuk berhenti memukulnya, dia anakmu! bagaimana kalau dia mati.” teriak nyonya Ratih.
“ Apa kau ingin bernasib seperti putramu ini istriku?.” tatapan dingin.
“ Apa maksudmu suamiku?? apa kau akan memukulku?.” nyonya Ratih kaget bukan main-main.
__ADS_1
“ Jika kau ingin mencobanya silahkan saja peluk putramu yang tidak berguna ini, aku akan mencabukmu bersama dengannya.” tanpa perasaan.
Nyonya Ratih tertegun dan terduduk lemas setelah mendengar perkataan tuan Sanjaya yang ingin memukulnya.
“ Tidak! jangan sakiti ibu! jika ayah marah padaku pukul saja aku sampai mati ayah. Aku ini tidak berguna untukmu bukan??.” dengan lemah.
Nyonya Ratih panik dan berlutut di kaki tuan Sanjaya untuk pengampunan Brian. “ Jangan! jangan pukul lagi, hentikan itu suamiku, aku tidak bisa melihat putraku mati di cambuk karenamu. Tolong ampuni dia suamiku, demi cinta kita dan putra kita biarkan dia merenungkan diri di penjara bawah tanah.”
Akhirnya hati tuan Sanjaya lunak dengan ucapan nyonya Ratih. Seperti yang di katakan nyonya Ratih, Brian di kurung di penjara bawah tanah untuk waktu yang cukup lama.
“ Ayah, ibu, aku datang.” teriak Zavier dari luar.
Pemandangan yang sangat mengerikan terlihat oleh Zavier, perlahan-lahan Zavier masuk setelah melihat lantai penuh dengan darah.
“ Ayah, apa yang terjadi? apa kau memukul kakak lagi?.” tanya Zavier dengan suram.
“ Dia pantas mendapatkan itu, aku hanya memukulnya tidak akan bikin dia mati, kamu tenang saja.” jawab tuan Sanjaya dengan lantang.
“ Apa ini yang kau maksud hanya memukul? darah berserakan di sini, tidak mungkin sesederhana itu'kan ayah.”
“ Kau sangat cerdas Zavier, aku senang punya anak cerdas sepertimu.” tuan Sanjaya duduk di sofa.
Nyonya Ratih membersihkan darah yang ada di tangan tuan Sanjaya, nyonya Ratih bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, hanya bisa terdiam tanpa kata dan suara.
“ Tidak, ibu tidak apa-apa.” senyum nyonya Sanjaya.
“ Sebaiknya ibu jangan berbohong padaku, aku putramu dan lebih tahu tentangmu.”
“ Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Sekarang katakan padaku bagaimana perkembangan perusahaan? apa semuanya baik-baik saja?.” mengalihkan pembicaraan.
“ Aish! seperti yang ayah ketahui, banyak Klien yang membatalkan niatnya untuk bekerja sama dengan kita, aku tahu aku tidak bisa menekan mereka dengan kemampuanku saat ini, hanya ada sekitar ratusan Klien yang masih bertahan di perusahaan kita. Tapi itu tidak membuat kita untung, kita malah rugi sekitar satusan Triliun dalam waktu beberapa jam.” menjawab dengan putus asa.
“ Sudah kuduga, masalah ini sangat besar bahkan di jadikan berita populer di media, untung saja aku bisa menekan mereka untuk menghapus beritanya. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan kalau Klien akan pergi dan membuat perusahaan kita rugi banyak.” ucap tuan Sanjaya.
Zavier dan tuan Sanjaya berbincang tentang perusahaan, sedangkan nyonya Ratih pergi ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk di minum.
Setelah beberapa jam, Zavier pamit untuk pulang.
“ Ibu ayah, jaga kesehatan kalian.” ujar Zavier.
“ Iya, terima kasih.” jawab nyonya Ratih.
__ADS_1
Tuan Sanjaya pergi ke kamar untuk istirahat, nyonya Ratih tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menolong Brian.
“ Zavier, tunggu ibu nak!.” dengan suara pelan.
“ Ibu, ada apa?.”
“ Zavier, maukah kamu membantu kakak mu? ibu tidak tega melihat Brian di kurung di penjara bawah tanah oleh ayahmu.” tanya nyonya Ratih.
“ Baiklah bu, aku akan menolongnya, tapi apa yang harus aku lakukan untuk membantu kakak?.”
“ Itu, kamu bisa mengambil kuncinya di ruangan kerja ayahmu, tapi ayahmu pasti ada di sana, kamu tidak akan bisa mengambilnya dengan mudah.”
“ Tidak masalah, aku akan melakukan itu untuk kakak. Ibu tenang saja.” Zavier mengelus pundak ibunya.
“ Iya, ibu percaya padamu nak, kamu sangat cerdas dan pasti ayahmu tidak akan melarangmu untuk membantu kakak mu.”
Zavier kembali masuk ke rumah dengan tubuh yang sangat mengerikan, cara berjalanpun hampir sama seperti bos Mafia yang akan menyelamatkan seseorang dari bahaya.
Di depan pintu ruangan kerja.
“ Ayah, ini aku! apa boleh masuk?.”teriak Zavier dari luar.
“ Ada apa mencariku lagi?.” sahut tuan Sanjaya.
“ Ada yang harus aku katakan padamu ayah.”
“ Masuk.”
Krek!
“ Terima kasih sudah mengijinkan aku masuk.”
Tuan Sanjaya menyuruh Zavier untuk duduk. “ Apa yang ingin kau katakan?.”
“ Ayah sebenarnya aku kesini untuk kakak.” jawab Zavier.
Zavier sempat kesulitan mendapatkan ijin dari tuan Sanjaya, beberapa kali berdebat sampai Zavier mengancam akan mundurkan diri dari penerus Sanjaya. Tapi tuan Sanjaya mengalah dan memberikan kuncinya pada Zavier, dengan berjanji harus mematuhi peraturan yang ada.
“ Kalau begitu aku akan pergi menemui kakak dulu, terima kasih atas kebaikanmu ayah.” menyanjung.
“ Anak ini, kalau bukan karena dia berguna untukku, aku tidak akan memanjakannya seperti itu. Karena kau harus membantuku menyelesaikan beberapa masalah lagi, jadi aku akan mengalah untuk saat ini.” batin tuan Sanjaya.
__ADS_1
BERSAMBUNG