
“ Ternyata Lisa mau mengobati luka aku, aku pikir dia akan marah dan tidak peduli lagi padaku.” batin Zavier dengan merasa lega.
“ Apa yang akan nyonya lakukan pada tuan? aku khawatir jika mereka bertengkar.” Li sangat gelisah.
“ Sepertinya Li ada benarnya juga, tuan sangat mencintai nyonya sekarang. Walau aku cemburu dan menginginkan mereka berpisah, tapi aku tidak tega jika harus melihat tuan bersedih lagi.” batin Luciana dengan perasaan bimbang.
Para pelatih beristirahat karena Zavier pergi dari tempat latihan.
Zavier mengirimi pesan singkat pada Li. “ Suruh mereka bubar sekarang, besok aku akan lanjutkan untuk latihan.”
Li segera membubarkan semua orang agar Lisa tidak marah lagi sama Zavier.
“ Kenapa kamu tidak beritahu aku jika kamu terluka?.” tanya Lisa.
Zavier terdiam dan merasa bersalah.
“ Jawab pertanyaanku Zavier! jangan seperti ini terus, bukankah kamu berkata jika di antara kita tidak boleh ada rahasia lagi.” Lisa merasa kesal pada Zavier.
“ Aku takut kamu marah padaku.” dengan ragu.
“ Kenapa aku harus marah, jika kamu tidak bersalah maka aku tidak akan marah padamu. Sebaliknya, jika kamu salah aku tidak bisa membenarkanmu. Apa kamu paham?.”
“ Tuh kan, belum apa-apa tapi kamu sudah memarahiku seperti itu, bagaimana jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu, pasti marah lebih dari ini.”
“ Astaga, aku lupa kalau aku tidak boleh marah padanya.” batin Lisa.
“ Baiklah-baiklah, aku tidak akan marah padamu, jadi katakan dengan jujur padaku.” Lisa membujuk Zavier.
Akhirnya Zavier menceritakan yang sejujurnya pada Lisa, betapa terkejutnya Lisa ketika mengetahui kalau Arya yang sudah memukul Zavier hingga parah.
“ Tunggu sebentar! jika Arya melakukan itu padamu, kenapa dia mengirimiku vidio yang memperlihatkan kamu sedang memukulnya. Apa jangan-jangan?.” berpikir sebentar.
“ Yaa, kamu benar, aku juga berpikir seperti itu.” Zavier memotong kata-kata Lisa.
“ Apa?!.” Lisa kebingungan dengan maksud Zavier.
“ Hah, iya, itu.” Zavier merasa Lisa tidak peka padanya.
“ Itu? itu apa?.” dengan polosnya.
“ Ya Tuhan, aku pikir dia mengerti maksudku, tapi dia begitu bodoh tidak seperti dugaanku.” batin Zavier.
“ Jangan memarahiku!.” Lisa bertindak seperti mengetahui isi hati Zavier.
“ Tidak-tidak, aku tidak marah padamu sayang. Hihiii.” merasa bersalah.
Zavier memeluk Lisa dan menciumnya dengan merasa bersalah.
“ Sebenarnya apa yang di inginkan Arya? kenapa dia bisa melakukan hal curang seperti itu?.” batin Lisa di pelukan Zavier.
Secara perlahan luka yang ada di kaki Lisa mulai sembuh, Lisa bisa berjalan normal tanpa bantuan tongkat lagi. Zavier sangat senang melihat Lisa bisa sembuh hampir 99%.
“ Sayang.”
“ Iya, kenapa?.”
__ADS_1
“ Apa kamu tidak menghubungi Darvi dan bertanya kabarnya?.”
“ Astaga, aku hampir lupa sama Darvi, untung kamu ingetin aku. Tunggu sebentar, aku mau menelpon nya dan bertanya sesuatu padanya.”
“ Apa yang ingin kamu tanyakan?.”
“ Tentu saja kabar dia! lalu apa lagi?.”
“ Oo, ya sudah, aku juga kangen sama Darvi.”
Lisa menelpon Darvi dan berbincang hari yang telah di lewati Darvi dan dirinya. Lisa begitu sibuk mempertanyakan apakah Darvi rindu padanya atau tidak.
Zavier tampak melamun dan tidak bersemangat. “ Aku harus bisa membongkar orang yang telah menyuruh Balin datang ke sini.” batin Zavir.
Lisa menghampiri. “ Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?.”
“ Hemm, tidak ada.”
“ Bohong! kamu pasti nyembunyiin sesuatu dariku ya kan?.”
“ Tidak sayang, aku tidak berbohong padamu.”
“ Benarkah?.”
“ Yaa.”
“ Aku tidak bisa melibatkan Lisa dalam peperangan ini, sudah cukup Lisa menderita karena terlibat masalah yang aku buat di masa lalu. Sekarang aku berjanji padanya kalau aku tidak akan membiarkannya susah lagi.” batin Zavier.
Hari berikutnya.
Di mana Zavier harus bertarung dengan Balin di lapangan penembakan, yang mana di belakang lapang terdapat tebing yang sangat jurang.
“ Kamu mau ke mana?.” tanya Lisa sambil menggosok matanya yang masih ngantuk.
“ Aku harus latihan sekarang, nanti malam adalah petarungan yang akan menentukan hidup dan matiku.” ujar Zavier sambil memakai pakaian biasa.
“ Tapi ini masih pagi sayang! dan aku juga tidak ingin kalian bertarung seperti itu, tolong hentikan sayang, hentikan Balin agar dia tidak mengajakmu bertarung lagi. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Lisa segera beranjak dan memohon sama Zavier agar membatalkan pertarungannya.
“ Tidak bisa sayang, aku sudah menyutujuinya di tempat latihan waktu itu, jika aku membatalkan pertarngannya dia akan merendahkanku ke depannya.” Zavier memegang tangan Lisa dan membuat Lisa mengerti.
“ Kenapa, kenapa seperti itu? apa aku tidak bisa bicara pada Balin untuk membatalkan niatnya itu?.” Lisa kekeh ingin membatalkan pertarungannya.
“ Sayang, ini bukan permainan biasa yang bisa di batalkan begitu saja. Jadi aku mohon kamu mengerti ya, aku yakin aku bisa menang. Apa kamu tidak percaya padaku?.” Zavier semakin capek membuat Lisa mengerti.
“ Yaa, aku percaya padamu.” sambil memeluk Zavier.
Lisa mengantar Zavier untuk latihan dan menaiki tebing yang tinggi tanpa alat pengaman, Lisa sempat khawatir jika Zavier tidak bisa naik ke atas, tapi dugaan Lisa salah, Zavier berhasil menaklukan tebing dan sampai di puncak atas.
“ Aku tidak menyangka jika Zavier akan sampai ke atas dalam waktu 15 menit.” batin Lisa.
“ Sepertinya istri tuan tidak tahu jika tuan lebih lihai dalam memanjat tebing. Cih, sungguh di sayangkan, seorang istri tidak mengetahui aktifitas suaminya yang sebenarnya.” batin Luciana sambil meledek Lisa.
Tiba-tiba Lisa merasa aneh dan melirik Luciana yang berdiri di samping Li. “ Kenapa aku merasa dingin secara tiba-tiba, siapa yang sedang memakiku tadi.” batinnya.
Luciana membuang muka begitu Lisa meliriknya.
__ADS_1
Zavier menghampiri Lisa dan menggenggam wajah Lisa. “ Ada apa sayang? apa kamu kurang enak badan?.” tanya Zavier.
“ Yaa, sepertinya aku tidak enak badan.” jawab Lisa dengan lemah.
“ Ya sudah kalau gitu aku anatar kamu pulang ya.”
Lisa menganggukan kepalanya.
Lisa berdiam diri di kamar dan sedang memikirkan sesuatu untuk bisa membatalkan pertarungannya.
“ Aku harus bisa bicara pada Balin dan membatalkan niatnya itu, ya aku harus mencari dia.” gumam Lisa dengan tidak tenang.
Akhirnya Lisa mendapatkan no telpon Balin dari salah seorang prajurit yang berlatih di markas, Lisa langsung bergegas kembali ke kamar dan mencoba menghubungi Balin berkali-kali.
“ Apa dia sibuk? kenapa dia tidak mengangkat telpon dariku? apa mungkin no yang salah, tapi itu tidak mungkin, masa dia ngasih no yang salah.”
Karena Balin susah di hubungi Lisa mengirimi pesan singkat untuk Balin. “ Temui aku di hutan pinggir danau jam 11:00. Lisa.”
Waktu telah menunjuk jam 10:30.
Lisa pikir Zavier akan membutuhkan waktu yang begitu lama untuk latihan, jadi Lisa pergi untuk menemui Balin secara empat mata.
Sesampainya di tempat tujuan kaki Lisa terasa sakit lagi, Lisa berusaha tenang dan memijat kakinya agar lebih baikan. Lisa sudah dua jam menunggu Balin di pinggir danau sendirian, karena lapar Lisa makan cemilan yang di bawanya tadi.
“ Apa dia akan datang? aku sudah lelah terus duduk dan berdiri di sini.” sambil makan cemilannya.
Lisa mengecek pesan yang di kirimnya pada Balin. “ Di sini sudah ada pemberitahuan kalau pesan telah di terima, tapi kenapa Balin belum datang juga, apa mungkin Balin sibuk latihan dan tidak mengecek ponselnya sama sekali.” gumam Lisa.
Lisa sudah menghabiskan cemilan begitu banyak tapi Balin tak kunjung datang. Lisa memutuskan untuk pergi dan tidak berharap lagi bisa membantu Zavier dalam masalah ini.
“ Tunggu! aku datang.” teriak Balin.
Lisa menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang. “ Akhirnya dia datang juga, selamat-selamat, aku pikir dia tidak akan datang. Semoga dia bisa di ajak bicara secara baik-baik.” batin Lisa dengan merasa lega.
“ Ada apa kamu mencariku, dan mengajakku bertemu di tempat sepi seperti ini?.” dengan nada angkuh.
“ Ehem! aku mau membuat perjanjian denganmu yang bisa menguntungkan untukmu.”
Balin berbalik badan dan menatap Lisa. “ Apa? perjanjian apa yang kau tawarkan padaku?.” dengan penasaran.
“ Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau asal kamu batalkan pertarungan dengan Zavier.” memberikan pilihan untuk Balin.
“ Apapun? apapun itu?.” dengan tidak percaya.
“ Yaa, asal kamu bisa batalkan pertarungannya aku akan berikan semua yang kamu inginkan, termasuk dengan perusahaanku. Aku akan memberikan saham senilai 10% untukmu, dan kamu bisa jadi bagian di perusahaanku. Bagaimana? apa kamu setuju?.” tawaran yang begitu menggiurkan.
“ Bagiamana denganmu?.” Balin langsung berkata jujur tanpa basa-basi.
“ Aku? ada apa denganku? apa kamu tidak percaya padaku jika aku akan berikan kamu saham 10%?.” Lisa pokus dengan perjanjiannya.
Tapi niat Balin berbeda, apa yang di inginkan Balin tidaklah masuk akal. “ Aku menginginkanmu! aku mau kamu jadi istriku seutuhnya dan ibu dari anak-anakku.”
“ Apa?! apa kamu gila? aku mau menikah dengan Zavier, aku sangat mencintainya jadi itu tidak mungkin. Sampai kapanpun aku tidak akan menikah kecuali sama Zavier.” teriak Lisa dengan kesal.
“ Ya sudah, jika kamu tidak mau maka aku juga tidak mau batalkan pertarung ini. Kita lihat saja nanti, siapa yang kalah dan siapa yang menang, di situ akan menentukan siapa yang lebih berhak jadi suamimu. Sampai jumpa nanti malam, muah.” dengan nakalnya Balin memberikan ciuman untuk Lisa dari kejauhan.
__ADS_1
Lisa malah tertawa sinis. “ Heh, aku pikir aku bisa mengelabuinya dengan uang, tapi dugaanku salah. Ternyata benar apa yang di katakan Zavier, dia mengejar sesuatu yang tidak masuk akal. Dia gila! dia begitu gila sehingga mau bersaing dengan Zavier.” gumam Lisa.
BERSAMBUNG