Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part173


__ADS_3

Brian mengantar nyonya Ratih sampai depan gerbang utama, membuka pintu mobil dan mempersilahkan nyonya Ratih masuk ke rumah.


“ Brian kamu mau pergi ke mana?.” enggan keluar dari dalam mobil.


“ Aku ada urusan bu, jadi aku antar ibu sampai sini saja.” balas Brian memalingkan wajah.


“ Baiklah, selagi itu tidak ada hubungannya dengan wanita itu maka ibu tidak keberatan jika kamu pergi.” turun dari dalam mobil dan menepuk bahu Brian.


Tanpa basa-basi Brian langsung masuk dan tancap gas, pergi meninggalkan nyonya Ratih tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dulu.


“ Selama ibu masih hidup, kamu dan Mika tidak boleh cerai. Ibu sangat berharap kamu dan Mika segera diberi momongan.” berbalik badan dan masuk ke Rumah.


Mika pergi ke Super Market untuk belanja bulanan, senang karena nyonya Ratih memberikan uang secara cuma-cuma padanya, Mika tidak segan memakainya dan pergi memanjakan diri.


“ Aish, sudah lama aku tidak pergi ke salon. Hidup susah membuatku tidak nyaman, pakaian dan rambut semuanya berantakan, tidak terurus. Ini semua gara-gara si tua bangka itu, kalau saja aku bisa membunuhnya maka aku akan melakukannya sekarang juga.” batin Mika menghela nafas.


Setelah beberapa jam kemudian, Mika selesai merawat diri dan memakai pakaian bagus. Ia berjalan sambil menatap cincin berlian yang baru saja ia beli, Mika tidak hati-hati sampai ia menabrak seorang pria berkacamata hitam dan menggunakan mantel hitam, sama seperti pria yang ia temui waktu di Barr.


“ Permisi, apa kita pernah bertemu?.” mengibas tangan ke wajah sang pria.


Pria itu tidak merespon dan malah diam sambil menatap Mika dari balik kaca mata hitamnya.


“ Hmm, maaf, mungkin aku salah orang.” ucap Mika pergi dari hadapan pria itu.


Pria itu tiba-tiba mengejar Mika dan menariknya ke sebuah toilet wanita. Ia membuka kaca matanya dan tersenyum aneh.


“ Ternyata itu kamu. Aku pikir aku salah orang, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi? malah membawaku ke toilet wanita?.” perasaan senang.


“ Sttt, jika kamu tidak mau di cap pe**cur maka kamu harus diam. Di luar banyak orang yang masuk ke toilet, kamu tidak mau 'kan mertuamu tahu kalau kamu berselingkuh dari anaknya.” bisik Arya menyeringai.


“ Apa maksudmu? aku tidak selingkuh. Jangan bicara sembarang kamu.” kesal dan memukul dada Arya.


“ Sebesar itu 'kah setiamu pada suamimu? apa kamu tidak tahu kalau suamimu itu juga punya simpanan di luar sana, bahkan dia jauh lebih manis dari kamu.” mengejek dan memanasi hati Mika.


Mika menggertakkan gigi karena pria yang baru ia kenal tahu rahasia pribadinya.


“ Dari mana kamu tahu itu?! apa jangan-jangan kamu menyelidikiku dan berniat jahat padaku?.” curiga dengan wajah kesal.


“ Tidak, kamu salah paham padaku. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh, tidak di sangka aku melihat suamimu bergandengan dengan wanita lain.” mengangkat tangan menyerah.


“ Mengenal lebih jauh?? bukankah kita sudah pernah melakukannya? apa masih tidak cukup jauh, tuan?.” meraba dada Arya dengan lembut.


“ Kau mengingatnya?.” menyeringai.


“ Tentu saja, aku tidak akan lupa dengan pelayananmu malam itu.” menyandar di dada Arya.


“ Sama denganku, aku juga tidak lupa padamu. Malam itu aku terus terbayang-bayang wajah cantikmu ini.” mencubit dagu Mika lalu menciumnya.


Sejak saat itu hubungan Mika dan Arya semakin dekat, dan tumbuhlah cinta di antara mereka. Mereka berjanji akan sehidup semati di dunia, bahkan mereka merencanakan kejahatan terhadap keluarga Sanjaya untuk balas dendam.


“ Ayah, aku sudah pulang.” ucap Mika membuka pintu.


“ Mika, kamu sudah pulang nak? bagaimana pekerjaanmu? cape tidak?.” bertanya dengan khawatir.


“ Tidak, selama ayah ada di sisiku, rasa lelahku hilang seketika.” memeluk tuan Fhui dengan hangat.


Tuan Fhui baru sadar kalau pakaian dan riasan Mika terlihat beda dari biasanya, dress yang berkilau dan cincin berlian di jari manisnya.


“ Mika, dari mana saja kamu seharian ini? jangan bilang kamu pergi ke tempat Sanjaya dan mengemis minta uang.” menebak sambil menatap cincin di jari Mika.


Mika langsung menyembunyikan tangannya ke belakang, tapi itu terlambat, tuan Fhui sudah menyadarinya dari tadi. Tuan Fhui sangat kesal dan mendorong kursi rodanya keluar dari rumah.

__ADS_1


“ Ayah kau mau ke mana? ayah tunggu aku!.” Mika segera mengejar tuan Fhui untuk menjelaskan kesalah pahaman itu padanya.


Tuan Fhui terlalu lemah, dengan cepat Mika menghentikan kursi rodanya.


“ Ayah, apa kau marah padaku?.” tanya Mika berjongkok di hadapan tuan Fhui.


Tuan Fhui membuang muka dan berkata. “ Kamu ingkar janji Mika, kamu tidak sayang lagi pada ayah. Jadi ayah akan pergi dari kehidupanmu sekarang.” berontak ingin pergi.


“ Tidak ayah, tolong jangan seperti itu. Dengarkan alasanku kali ini, aku pergi ke tempat Sanjaya karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada mereka.” memeluk kaki tuan Fhui agar tidak pergi.


“ Apa yang mau di jelaskan?.” tertegun.


Mika berbohong pada tuan Fhui kalau dirinya hamil dengan Brian, yang membuat dirinya harus pergi meminta tanggung jawab pada keluarga Sanjaya. Tuan Fhui mendengar ucapan itu sontak membuatnya terkejut dan menyebabkan serangan jantung, Mika segera membawa tuan Fhui masuk kedalam dan menyuruh Dokter memeriksanya.


“ Bagaimana keadaannya Dok? ayahku baik-baik saja 'kan?.” khawatir.


“ Nona, sudah kukatakan jangan buat tuan Fhui terkejut. Jangan berikan berita yang akan membuatnya serangan jantung, jika terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong.” Dokter itu terlihat marah pada Mika karena lalai menjaga tuan Fhui.


“ Yaa, ini salahku.” Mika duduk di samping tuan Fhui sambil menangis.


Beberapa saat kemudian tuan Fhui sadar dan melihat suster di sampingnya, ia terkejut dan menyuruh suster itu pergi dari hadapannya.


“ Pergi! pergi kamu!.” teriak tuan Fhui.


“ Tuan, Anda sudah sadar? kalau begitu aku akan memanggil nona untuk datang kemari.” suster itu segera pergi karena ketakutan.


Saat suster tidak ada, tuan Fhui berusaha duduk di kursi roda, tapi dirinya sangat lemah dan membuatnya terjatuh ke lantai.


“ Ayah! kau tidak apa-apa?.” Mika mengangkat tuan Fhui kembali keranjang.


Tuan Fhui marah pada Mika, ia enggan melihat Mika yang duduk di sampingnya.


“ Ayah, mulai sekarang dia akan merawatmu saat aku tidak ada. Mohon ayah mau menerima dia untuk merawatmu.” ucap Mika dengan pasrah.


Lisa sedang duduk menyandar di sofa sambil mengelus perutnya, tidak sengaja Darvi melihat perut Lisa yang membesar, dan membuat Darvi penasaran. Darvi berjalan perlahan dan memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


“ Ibu.” ucap Darvi berdiri di samping Lisa.


Lisa terkejut, ia segera menutup perutnya menggunakan bantal sofa.


“ Darvi, kau sedang apa berdiri di situ nak? duduklah.” Lisa meraih tangan Darvi agar duduk di dekatnya.


“ Ibu?.” dengan ragu.


“ Iya, ada apa? apa ada sesuatu yang mau di bicarakan? jika iya bicara saja.” mengelus rambut Darvi sambil tersenyum.


“ Ibu hamil??.” menatap mata Lisa dengan serius.


Lisa melotot karena terkejut, tapi ia mengalihkan pembicaraan agar Darvi tidak banyak tanya padanya.


“ Ah, iya ibu lupa. Ibu lagi masak air di dapur, tunggu sebentar ya, ibu segera kembali.” Lisa hendak berdiri tapi Darvi menahan tangannya.


“ Jangan mengalihkan pembicaraan ibu, aku baru saja kembali dari dapur, ibu tidak sedang memasang air.” meraih tangan Lisa.


Lisa tahu kalau dirinya tidak bisa mengelabui Darvi, Lisa terpaksa duduk dan akan mengatakan yang sebenarnya pada Darvi.


“ Maafkan ibu Darvi, ibu baru kasih tahu kamu sekarang. Sebenarnya, ibu, ibu sedang hamil. Kamu akan punya adik kembar sebentar lagi.” mengatakan dengan ragu.


Darvi tertegun, ia menundukkan kepala dengan sedih.


“ Ada apa Darvi? kau tidak senang punya adik kembar? iya ibu tahu, ini sangat mendadak buat kamu, tapi mau bagaimana lagi, kehamilan ibu sudah hampir 24 minggu.” Lisa merasa bersalah karena menutupi semua itu dari Darvi.

__ADS_1


“ Tidak ibu, siapa bilang aku tidak senang? malah aku bahagia karena aku akan punya adik kembar. Katakan apa calon adikku itu laki-laki?.” ekspresi Darvi berubah dengan cepat, ia tersenyum pada Lisa dan mengaku kalau dirinya bahagia.


“ Hah, jadi Darvi mau punya adik? baguslah, ibu pikir kamu akan marah dan merajuk. Putra ibu benar-benar sudah dewasa, ibu percaya Darvi akan jadi kakak yang baik dan menyayangi semua adik-adiknya.” memeluk Darvi dengan perasaan lega.


Darvi mengangguk.


Tak lama kemudian Zavier kembali dengan pakaian lusuh, ia melihat Darvi sedang berbaring di pangkuan Lisa sambil menciumi perut Lisa.


“ Ada apa ini?.” Zavier menghentikan langkahnya dan tertegun beberapa saat.


Zavier menatap Lisa dan mencoba membuat Lisa agar melihat ke arahnya. Akhirnya ia berhasil, Lisa menengok ke arahnya, Zavier langsung mengisyaratkan pada Lisa agar tidak berbicara padanya.


“ Ada apa dengan Darvi? kenapa dia terus menciumi perutmu? apa dia sudah tahu?.” berkali-kali Zavier berbicara menggunakan isyarat, tapi Lisa tidak mengerti dan terus menggelengkan kepala. Pada akhirnya Lisa mengerti apa yang ingin di ucapkan Zavier padanya.


“ Iya.” balasan Lisa.


Zavier kelelahan karena berbicara menggunakan isyarat, alhasil ia terduduk lemas dan menyenggol vas bunga di sampingnya.


“ Apa itu??.” Darvi beranjak dan segera melihat kejadian itu.


“ Ayah, kau tidak apa-apa?.” Darvi berlari membangunkan Zavier setelah melihat Zavier tergeletak di lantai.


Zavier pura-pura pingsan agar selamat dari amarah Darvi.


“ Ibu, ayah kenapa? dia pingsan?.” teriak Darvi khawatir.


Lisa memegang keningnya dengan keheranan.


“ Ibu, kenapa kau diam saja?.” berteriak karena Lisa terdiam.


“ Ah, iya. Pengawal tolong bawa tuan masuk ke kamar.” teriak Lisa terkejut.


Pengawal itu memboyong Zavier ke kamar, mereka juga melepas sepatu milik Zavier lalu menyelimutinya.


“ Ibu, haruskah kita menyuruh dokter memeriksa ayah?.” gelisah.


“ Tidak perlu, sebentar lagi ayahmu pasti bangun.” percaya diri.


“ Benarkah? bagaimana jika terjadi sesuatu pada ayah?.” cemas.


“ Tidak akan, kamu tunggu ayahmu di sini. Ibu akan pergi suruh pelayan bawakan air hangat.” tidak peduli.


Darvi terus memandang wajah Zavier, ia menyesal karena ia berniat akan memarahi ayahnya karena sudah menyembunyikan kehamilan ibunya.


“ Kalau saja ayah tidak sakit, mungkin sekarang aku sedang memukulmu sampai puas. Melihatmu tak berdaya seperti itu membuatku iba saat ingin memukulmu.” gumam Darvi.


“ Sudah kuduga, aku dalam masalah saat ini. Untung saja aku pura-pura pingsan tadi, jika tidak mungkin sekarang aku sudah habis di pukul olehnya.” batin Zavier menggigit bibir.


Tak lama kemudian Lisa kembali membawa segelas air hangat. Ia meletakkan gelasnya di meja dan memandang Zavier dengan heran.


“ Darvi, ini sudah larut malam. Apa kamu tidak tidur?.” tanya Lisa melirik jam dinding.


“ Tentu saja aku akan tidur, besok paman Andra akan datang mengajariku di sini. Jadi, aku akan tidur di sini bersama ibu.” balas Darvi.


“ Hmm, bagaimana dengan Laura? dia tidur sendiri di kamarnya.” melirik ke arah Zavier.


“ Dia sudah besar ibu, biarkan saja dia tidur sendiri.” lantas Darvi tidur di ranjang dengan nyenyak.


Lisa menutup pintu dan jendela, menyelimuti Darvi yang tengah tertidur lelap. Pada saat Lisa hendak tidur Zavier memanggilnya.


“ Sttt, sayang! sayang. Jangan tidur!.” berbicara dengan perlahan.

__ADS_1


Lisa menoleh dan berkata. “ Ada apa lagi? Darvi di sini sekarang, lupakan pikiran me*um kamu itu.” tidur sambil memeluk Darvi.


BERSAMBUNG


__ADS_2