
Di kediaman Fhui.
Banyak orang yang berkerumun di kediaman Fhui, kebakaran besar dan sulit untuk di padamkan membuat PDAM dan Polisi yang berjaga di sana kewalahan saat mematikan api.
“ Ayah, ini? rumah kita kebakaran ayah. Ayah bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan? rumah kita ayah.” Mika melongo setelah melihat rumahnya kebakaran.
“ Istriku, ibu? di mana kalian?.” teriak tuan Fhui berlari ingin menerobos kebakaran itu.
“ Tuan Fhui, Anda tenang! api sangat besar Anda tidak boleh masuk.” seorang Polisi menghadang tuan Fhui.
“ Lepaskan! lepaskan aku! aku mau menyelamatkan istriku, dia masih di dalam bersama ibuku. Menyingkirlah dariku!.” tuan Fhui terus berontak sampai Polisi itu kewalahan dengan tenaga tuan Fhui yang lumayan kuat.
“ Cepat bawa tuan Fhui pergi dari sini.” teriak Polisi ke rekannya.
“ Ayah, ayah baik-baik saja 'kan? ibu masih di sana, bagaimana ini?.” Mika mendekat memeluk tuan Fhui sambil menangis histeris.
“ Mika ayah juga tidak tahu, kenapa bisa seperti ini. Ibu dan nenekmu masih di sana, anggota keluarga kita berada di dalam, mereka, mereka pasti sudah.” tuan Fhui tak mampu berbicara setelah membayangkan jika keluarganya hangus kering terbakar.
“ Sudah ayah, jangan bicara sembarangan. Aku yakin mereka akan selamat, mungkin saja mereka lagi pergi keluar sekarang, jadi mereka selamat dari api itu.” Mika menenangkan ayahnya dan mengusap air mata ayahnya.
“ Yaa, kamu benar.” tuan Fhui mengusap air matanya sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat api berhasil di padamkan, Polisi masuk ke dalam mencari korban yang mati terjebak api.
“ Tuan, apa ini kalung milik anggota keluargamu?.” Polisi itu bertanya dan memperlihatkan kalung yang pernah di berikan tuan Fhui untuk istrinya.
“ Ini, ini milik istriku.” gumam tuan Fhui masih tidak percaya.
“ Pak, aku menemukan tongkat ini di dekat mayat di sana.” seorang Pilisi bawahan menghampiri atasannya dan memperlihatkan tongkat milik ibu dari tuan Fhui.
“ Di mana kamu menemukan ini? ini milik ibuku, kalung ini juga milik istriku.” tanya tuan Fhui tercengang.
“ Di sana, ada sekitar 8 mayat yang hangus.” jawab seorang Polisi.
“ Apa?! ini tidak mungkin! tidak mungkin. Mereka semua keluargaku. Kenapa bisa jadi seperti ini??.” tuan Fhui memegang kepala dan merasakan depresi yang hebat.
“ Ibu, hiks hiks! ibu jangan tinggalkan aku.” ucap Mika terduduk lemas di bawah.
“ Bawa semua korban ke Rumah Sakit.” ucap Polisi.
“ Baik pak.”
“ Tidak, ini pasti ulah ayah mertua. Dia yang sudah membunuh keluargaku, aku yakin dia pelakunya.” mengepal dan memukul jalanan yang keras, membuat tangan Mika berdarah.
__ADS_1
“ Pak Polisi, aku tahu siapa yang sudah membakar rumahku. Dia tuan Sanjaya pemilik perusahaan Sanjaya, dia pelaku di balik kebakaran ini.” Mika berdiri dan berniat mencari keadilan untuk keluarganya.
“ Nona, jaga bicaramu, jangan sembarang bicara. Kamu bisa di hukum atas pencemaran nama baik.” Polisi itu tidak percaya dan tidak mau terlibat sama urusan mereka.
“ Itu benar, dia pelakunya, dia sendiri yang bilang akan membunuh keluargaku. Aku mendengar dengan telingaku sendiri dia mengatakan itu. Anda harus percaya pdaku, bantu aku mengadili dia atas semua perbuatannya.” Mika menggoyangkan tangan Polisi dan meminta bantuan.
“ Maaf nona, aku hanya pangkat rendah. Jika benar itu masalahnya Anda bisa cari Kapten di kantor untuk membantumu, maafkan aku, aku tidak bisa bantu kamu dalam masalah ini.” Polisi itu ketakutan dan menyerah lebih dulu sebelum kena imbas dari kekesalan tuan Sanjaya.
“ Kenapa pak? jangan takut, kita tidak bersalah, kita hanya ingin mencari keadilan untuk korban kebekaran ini. Anda jangan takut, aku akan membantumu berbicara padanya, kamu hanya minta bantuan rekanmu untuk pergi denganku ke kediaman Sanjaya sekarang.” berbicara dengan nada pelan.
“ Aku tidak bisa.” menggelengkan kepala.
“ Bagaimana jika aku berikan tubuhku untukmu? jika kamu membantuku malam ini aku akan memuaskanmu di hotel.” bisik Mika seperti pe*acur.
Pria itu melirik Mika dari atas sampai bawah, merasa Mika sangat cantik dan punya postur tubuh idaman para lelaki, pria itu tidak bisa menolaknya.
“ Baik, jangan coba-coba bodohi aku.” memolototi Mika.
“ Jangan khawatir.” balas Mika menyeringai.
Polisi itu pergi menemui rekannya.
“ Ayah, bangun, jangan khawatir kita pasti dapat keadilan untuk ibu dan nenek.” Mika membantu tuan Fhui berdiri.
“ Tidak ayah, mereka sudah tiada, ayah bisa lihat sendiri mayat ibu dan nenek. Semuanya di bawa ke Rumah Sakit.” Mika menggelengkan kepala dan menunjuk ke Ambulance.
“ Itu tidak mungkin! kenapa mereka tidak lari ke luar menyelamatkan diri? ayah tidak mau kehilangan ibumu Mika, ayah menyayanginya.” tuan Fhui menangis dan tubuhnya gemetar.
“ Aku tahu, aku mau ayah ikut denganku ke kediaman Sanjaya. Kita cari keadilan untuk ibu, tuan Sanjaya pasti akan mendapatkan karmanya.” ucap Mika.
Setelah lama terjebak macet akhirnya nyonya Ratih sampai di kediaman tuan Fhui.
“ Mika, ada apa ini? kenapa bisa rumahnya kebakaran?.” nyonya Ratih mendekat.
Mika dan tuan Fhui terdiam setelah melihat nyonya Ratih datang menemuinya.
“ Mika.” nyonya Ratih menyentuh tangan Mika.
“ Diam! untuk apa kau datang kemari hah?! mau menertawakanku? silahkan tertawa sepuasnya, aku tidak peduli lagi padamu.” bentak Mika menepis tangan nyonya Ratih.
“ Mika, kenapa berkata seperti itu pada ibu?.” dengan sedih.
“ Kau bukan ibuku! ibuku sudah mati hangus kebakar. Jangan menyebut namamu sebagai ibuku.” teriak Mika dengan kesal.
__ADS_1
“ Ada apa Mika? ibu tidak mengerti apa yang kamu katakan.” nyonya Ratih sakit hati di bentak Mika dengan keras.
“ Ini semua salahmu! salahmu! kau tahu semua keluargaku mati karena kebakaran ini. Suamimu penyebab kebakaran ini, dia ingin melenyapkan keluargaku demi kekayaan.” Mika terus menunjuk dengan amarah.
“ Jaga bicaramu Mika! kenapa bilang seperti itu? dia ayah mertuamu, bisa-bisanya berkata tidak sopan di hadapanku.” ucap nyonya Ratih menyingkirkan tangan Mika.
“ Ayah mertua? Hahah! kau terlalu naif. Sekarang dan selamanya dia hanya musuhku, setelah aku tahu dia penyebab kematian keluargaku, aku benci kalian semua. Lihat dan tunggu aku akan cari keadilan untuk semua ini.” Mika tertawa melihat ke arah langit yang cerah.
“ Nona, semuanya sudah siap. Korban sudah di antar ke Rumah Sakit, termasuk penggerebekan sudah di siapkan di depan.” ucap Polisi mendekati Mika.
“ Bagus! ayo kita pergi sekarang.” tertawa puas dan memapah ayahnya pergi bersama Polisi.
“ Mika kamu mau ke mana?.” tanya nyonya Ratih.
“ Tentu saja mencari hiburan, ke mana lagi memangnya.” menjawab sambil melirik nyonya Ratih.
“ Sopir, ikuti mereka, aku takut Mika akan melakukan sesuatu yang yang buruk.” dengan cemas.
Nyonya Ratih masuk ke mobil mengikuti mobil Mika dari belakang. Nyonya Ratih terkejut karena arah mobil yang di ikutinya mengarah ke rumahnya, nyonya Ratih punya pirasat buruk dan menghubungi suaminya.
“ Hallo, suamiku, sepertinya Mika akan datang ke rumah, bersama rombongan dan Polisi.” ucap nyonya Ratih dengan cemas.
“ Aku mengerti.” sahut tuan Sanjaya menutup telponnya.
“ Semoga saja tidak terjadi keributan di rumah, aku yakin mereka tidak bisa masuk ke rumah.” batin nyonya Ratih percaya diri.
Sesampainya di kediaman Sanjaya, para pengawal di kerahkan untuk berjaga di depan gerbang. Tidak boleh membiarkan rombongan Mika masuk ke dalam, apa lagi membuat keributan di depan rumah.
“ Cepat, suruh mereka menerobos gerbang ini.” ucap Mika ke Polisi itu.
Pria itu mengangguk dan memberikan kode pada anak buahnya. Seketikan mereka menobrak gerbang secara bersamaan, bahkan beberapa tembakan di keluarkan untuk memberitahu bahwa Polisi datang untuk menyelidiki kasus kebakaran.
Pengawal itu tidak takut dan membalas tembakan dari Polisi, mereka saling berperang di kediaman Sanjaya, membuat orang mati tertembak akibatnya.
“ Bagaimana ini? kenapa bisa jadi seperti ini?.” Mika membawa ayahnya bersembunyi bersama pria itu.
“ Kamu tenang saja, ini hanya pemulaan, setelah baku hantam ini selesai kita berpeluang bisa masuk ke dalam.” ucap pria itu menembak pengawal dari tuan Sanjaya.
“ Jangan mengecewakanku.” memperingati.
“ Tidak akan.” balas pria itu tersenyum.
BERSAMBUNG
__ADS_1