
Di dalam mobil.
Lisa mengajarkan Darvi membaca dan menghitung ketika akan pulang ke rumah. Zavier yang iseng sengaja menyentuh pinggul Lisa dan membuat Lisa kegelian.
“ Apa yang kau lakukan?.” Lisa menepis tangan Zavier dan menjauhkannya dari pinggulnya.
“ Ada apa bu? apa ibu merasa tidak nyaman?.” Tanya Darvi dengan polosnya.
“ Tidak, ibu tidak apa-apa sayang.” Senyum Lisa dengan keterpaksaan.
Zavier terus membuat Lisa tidak nyaman ketika duduk bersama Darvi. Lisa kesal karena Zavier terus menyentuh bagian belakangnya dengan sengaja.
“ Apa yang kau lakukan? kamu mau aku melakukannya di sini? Hah!.” Teriak Lisa.
Darvi bengong mendengar kata-kata ibunya yang aneh itu. “ Ibu, apa yang terjadi?.”
“ Hah?!.” Lisa terkejut dengan pertanyaan Darvi.
“ Hihii,, tuan pasti melakukan sesuatu pada nyonya. Lihat betapa marahnya nyonya pada tuan.” Batin Li tidak bisa menahan tawanya.
“ Ini semua ulah Zavier. Dia sengaja melakukan itu padaku di depan Darvi.” Batin Lisa.
“ Ibu tidak apa-apa nak. Ibu hanya,, ibu hanya,,.” Lisa gugup ketika menjawab pertanyaan Darvi padanya.
“ Sudah sampai.” Ujar Li dengan sengaja memotong kata-kata Lisa agar Darvi tidak mengetahuinya.
Zavier menggendong Lisa dan membawanya turun dari mobil. “ Apa yang kau lakukan? turunkan aku!.” Teriak Lisa.
“ Apa kau tidak bisa lebih lembut lagi ketika berbicara padaku? kau selalu saja berteriak seperti itu padaku!.” Gumam Zavier.
Lisa tertunduk dan merasa bersalah pada Zavier. Kemudian Zavier membawa Lisa masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di ranjang.
“ Aku akan membawakanmu teh hangat.” Ujar Zavier dengan dingin.
Lisa melirik Zavier yang keluar dari kamarnya dengan sedikit kesal. “ Apa aku salah bicara padanya, dia terlihat marah padaku. Aku bodoh! seharusnya aku tidak perlu berteriak padanya tadi.” Gumam Lisa dengan sangat menyesal.
Zavier menyandar di pintu dan menyalakan korek api dan merokok, dengan wajah yang sedikit suram Zavier pun terlihat menyeramkan, lalu Zavier turun ke bawah dan pergi ke dalam mobil.
“ Tuan, kemana kita akan pergi?.” Tanya Li.
“ Suruh Puy untuk bawakan teh hangat untuk Lisa.” Ujar Zavier.
“ Ba,, baik tuan.” Li ketakutan mendengar suara Zavier yang geram.
Li berlari masuk ke dalam rumah dan segera menemui Puy. “ Sekertaris Puy?.”
“ Yaa. Ada apa? mengapa kau berlari?.”
“ Hmm, aku di utus tuan untuk menyuruhmu membawakan teh hangat buat nyonya Lisa, sekarang.” Dengan gugup.
“ Sekarang?.”
__ADS_1
“ Yaa, sekarang. Tolong cepat laksanakan!.” Li semakin panik.
“ Iya. Aku pergi sekarang.”
“ Huft,, untunglah. Selamat, selamat.” Li menghela nafas dan merasa lega.
Li hendak duduk sebentar untuk menghilangkan kecemasannya, tapi Zavier menelponnya dan berkata “ Cepat kemari!.” Dengan nada tinggi.
Li berlari lagi keluar dan segera masuk ke dalam mobil. “ Maaf saya terlambat tuan.”
“ Jalan sekarang!.”
Zavier menyuruh Li memberhentikan mobilnya di depan Mall yang ada di pusat perbelanjaan. Zavier turun dan di sambut dengan hormat oleh pegawai Mall. Semua karyawan wanita memandang Zavier dengan penuh kagum, tapi mereka tidak berani mendekat karena Zavier sangat terhormat dan di segani.
Pelayan menawarkan beberapa pakaian dan perhiasan yang edisi teratas. “ Tuan, silahkan di pilih.”
“ Carikan aku dres yang sesuai dengan ukurannya, semua ukuran ada di sini.” Zavier memberikan catatan berisi semua kesukaan Lisa.
“ Baik tuan”
Setelah beberapa saat, semua barang yang di inginkan sudah selesai di kemas dan Zavier siap pulang ke rumah Lisa.
Sesampainya di rumah, Zavier naik ke atas untuk memberikan kejutan pada Lisa. Lisa yang tengah membaca buku terkejut melihat begitu banyak pelayan yang masuk ke kamarnya, Lisa bertanya-tanya dalam hatinya. “ Ada apa ini?.” Batin Lisa.
Lisa melihat Zavier masuk setelah para pelayan itu keluar dari kamar Lisa. “ Apa kau menyukainya?.“ Tanya Zavier.
“ Jadi tadi dia tidak marah padaku?! aku pikir dia akan marah dan mengabaikanku seperti dulu.” Batin Lisa.
“ Apa?” jawab Lisa dengan penasaran.
“ Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya, jika kau tidak mau aku akan nyerah.” ujar Zavier dengan serius.
Lisa semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan Zavier padanya.
“ Menikahlah denganku Lisa! aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu.”
Lisa tertegun dan memandang Zavier yang bersungguh-sungguh berkata demikian.
Zavier sangat pasrah dengan jawaban yang akan di berikan Lisa padanya. “ Jika kau tidak ingin bersamaku lagi, aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal.”
“ Aku mau menikah denganmu!.” teriak Lisa dengan meneteskan air mata bahagia.
Zavier langsung berbalik badan dan tidak percaya apa yang ia dengar barusan. “ Kau! kau mengatakan apa barusan?.”
“ Hah,, itu, anu. Aku, aku.” dengan terbata-bata Lisa merasa malu saat di tanya apa yang ia katakan pada Zavier.
“ Iya, itu apa? apa yang kau katakan tadi? Hemm.” Zavier merasa tidak puas dengan jawaban Lisa.
“ Iya, aku tadi bilang kalau aku mau kembali denganmu.” jawaban Lisa sangat kaku karena malu.
Zavier menghampiri Lisa dan ingin mendengar ucapan itu sekali lagi dari mulut Lisa. “ Coba katakan sekali lagi padaku.”
__ADS_1
“ Tapi kau sudah mendengarnya kan?.”
“ Tidak, aku tidak mendengarnya dengan jelas. Jadi tolong katakan padaku sekali lagi.” dengan memohon.
Lisa berusaha menghadap dan menatap mata Zavier dengan penuh malu dan grogi. “ Aku, mau, kembali bersamamu.”
“ Kembali kemana? ke rumah sakit? atau kemana?.” Zavier malah menggoda Lisa.
“ Iiii! kamu! kamu mempermainkan aku ya. Dasar.” Lisa kesal dan memukul Zavier dengan perlahan.
“ Tidak-tidak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu padamu.” Zavier meraih tangan Lisa dan menciumnya sebagai tanda cinta.
Lisa tersenyum bahagia akhirnya bisa merasakan ketulusan cinta dari Zavier. Seperti biasa, Zavier kehilangan kendali ketika berdekatan dengan Lisa. Sampai akhirnya Zavier menindih dan menidurkan Lisa dengan perlahan, di mulai dari ciuman dan berlangsung ke arah yang intim.
Lisa tidak berani membuka matanya ketika berciuman dengan Zavier, tapi Zavier menyuruhnya untuk menatap matanya. “ Buka matamu sekarang. Percayalah, aku akan berlaku baik padamu.” dengan lembut.
“ Tapi.” dengan ragu.
“ Apa kau tidak mempercayaiku?.” tanya Zavier dengan sedih.
“ Hah, bukan itu maksudku. Aku,, aku, baiklah. Aku menuruti perkataanmu.” Lisa mencoba mempercayai Zavier dengan 80%.
Lisa dan Zavier melakukan hal itu dengan penuh bahagia. Lisa ketiduran sampai pulas karena kelelahan, Zavier memandangi Lisa yang tengah tidur dan berkata. “ Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya.” kecup di kening Lisa.
Zavier beranjak dari ranjang dan pergi ke toilet untuk mandi, dengan tubuh yang gagah perkasa membuat Zavier tampak tampan dan memesona.
Ponsel Zavier berdering dan ada panggilan tak terjawab sebanyak 5 kali. Zavier langsung menghubungi nomor nya dengan penasaran.
“ Hallo, siapa di sana?.” tanya Zavier.
“ Dasar adik bodoh! kau bahkan melupakanku setelah kau sukses jadi Direktur di perusahaan ayah.” terdengar suara lelaki yang sedang memaki Zavier dengan kesal, Brian Sanjaya. Putra tertua di keluarga Sanjaya.
“ Kakak, itu kau?.”
“ Iya! ini aku. Bagaimana kabarmu? apa ayah sudah sembuh?.”
“ Yaa, ayah baik-baik saja. Dari mana kau tahu ayah sakit?.”
“ Aku tahu karena aku anaknya!.”
“ Bukankah kau pergi 10 tahun yang lalu, mengapa kau bisa mengetahuinya? dengar, aku sudah memperketat penjagaan di sekitarku dan ayah. Apa kau menyimpan mata-mata di rumah ayah?.” Zavier terlihat penasaran dan banyak tanya pada kakaknya.
“ Sudahlah, jangan banyak tanya lagi. Besok kau harus jemput aku di bandara, aku akan pulang untuk melihat kondisi ayah.” Brian tampak terburu-buru dan ingin memutuskan panggilannya.
“ Aku tidak,, dasar! kebiasan, pasti seperti ini. Aku belum sempat menjawab tapi dia malah menutup telponnya.” Zavier melemparkan ponselnya ke sofa kemudian duduk dengan menyandar.
Zavier melirik ke arah Lisa yang tengah pulas tidur, Zavier tidak bisa meninggalkan Lisa dalam keadaan sakit, apa lagi Lisa kesusahan berjalan membuat Zavier semakin bingung harus berbuat apa. Karena di satu sisi ada seoarang kakak yang sudah lama tidak jumpa, tapi di satu sisi ada orang yang ia cintai.
Kebingungan Zavier pun membuat dirinya merokok sampai lupa kalau dirinya hampir menghabiskan satu bks rokok. Terlihat banyak puntung rokok di atas meja yang berserakan.
BERSAMBUNG
__ADS_1