Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part113


__ADS_3

Keesokan harinya.


Lisa terbangun di awal pagi karena tidur lebih awal semalam. Lisa pergi untuk mandi karena merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang terasa lengket.


“ Semalam apa yang terjadi, apa aku tertidur lagi? aku tidak mengingat setelah Zavier melakukan hal itu padaku. Aish! sudahlah, biarkan saja, aku harus segera memasak sebelum anak-anak bangun.” gumam Lisa sambil membilas rambutnya.


Lisa turun ke dapur, dan mulai melihat isi dalam kulkas, semua persediaan makanan hampir habis dan tidak akan cukup untuk sarapan pagi ini. Lisa mengambil tas dan meminta Li untuk mengantarnya ke Super Market yang tidak jauh dari Villa.


“ Pagi buta begini aku buru-buru datang ke sini untuk belanja sayur dan daging, tapi tidak di sangka Super Market belum buka dan masih tertutup rapat. Apa aku harus menunggu di sini?.” batin Lisa dengan kecewa.


“ Nyonya, apa kita akan kembali ke Villa? butuh 1 jam menunggu Super Market ini buka.” tanya Li.


“ 1 jam? tidak apa-apa, kita menunggu saja di sini.” Lisa jongkok di depan Super Market layaknya seperti gelandangan.


“ Nyonya, sebaiknya Anda menunggu di mobil saja, di sini terlalu dingin aku takut Anda kenapa-kenapa.” Li mencemaskan Lisa.


“ Tidak perlu, aku baik-baik saja, ini pertama kalinya aku pergi belanja di awal waktu. Itu tidak terlalu buruk, aku menyukai angin segar di sini.” Lisa malah menghirup udara di sekitar.


“ Bagaimana kalau tuan tahu nyonya keluar sepagi ini? dia pasti marah karena khawatir.” batin Li.


Li pergi ke dalam mobil dan membawa mantel hitam berbulu di leher untuk di pakai Lisa. “ Nyonya, pakailah mantel ini, setidaknya nyonya tidak akan masuk angin.”


“ Terima kasih Li, kau baik sekali padaku.”


“ Itu, itu sudah seharusnya nyonya, ini adalah pekerjaanku melindungi keluarga Sanjaya. Termasuk tuan, nyonya dan tuan muda Darvi.” tersanjung.


“ Terima kasih sudah bekerja dengan baik Li.”


“ Sama-sama nyonya.” saut Li.


30 menit berlalu.


Turunlah hujan yang membuat genangan air di mana-mana, Li sangat panik dan segera mengambil payung untuk melindungi Lisa dari air hujan.


“ Nyonya pakailah payung ini, aku akan memarkirkan mobil di depan. Kita bisa pulang setelah hujan reda.” Li berlari masuk ke mobil.


“ Baiklah, berhati-hatilah jalanan sangat licin.”


“ Hihihii! itu tidak masalah nyonya, aku akan baik-baik saja kau tenang saja.” Li berjalan sambil menengok ke arah Lisa.


Brukk!


Li terjatuh tepat saat berkata tidak akan jatuh pada Lisa. “ Agrhhh! sakit sekali, aku tidak apa-apa nyonya tenang saja.” Li melambaikan tangannya pada Lisa.

__ADS_1


“ Apa kau yakin tidak apa-apa? bagaimana dengan pinggangmu, apa baik-baik saja?.” Lisa cemas melihat Li terjatuh.


“ Ini tidak begitu sakit, lebih tepatnya memalukan sekali.” batin Li sambil mengusap air mata.


“ Haish! dia pasti encok setelah pulang dari sini.” batin Lisa sambil memegang jidatnya.


Di tengah hujan, ada seseorang yang memayungi Lisa dari belakang, Lisa terkejut dan melihat ke belakang.


“ Kamu! kenapa bisa ada di sini? Ehemm! maksudku, kakak ipar sedang apa kau di sini?.” dengan terkejut.


“ Sama sepertimu. Belanja keperluan dapur, ini pertama kalinya bagiku belanja bahan dapur, kalau bukan ibu yang sedang tidak enak badan bagaimana mungkin aku akan datang ke sini untuk belanja.” Brian berbicara panjang lebar.


“ Apa?! ibu sedang sakit? bagaimana keadaannya sekarang, apa dia tidak apa-apa?.” Lisa terkejut mendengar ibu mertuanya sakit.


“ Ya begitulah, seseorang yang mulai menua pasti akan sering sakit, di tambah lagi ibu terlalu banyak pikiran dan itu berpengaruh pada kesehatannya.”


“ Kakak ipar benar, nanti aku harus menjenguknya dan membawa makanan enak buat di makan.”


“ Hemm! apa adik ipar akan ke kediaman Sanjaya untuk menjenguk ibu?.” tanya Brian.


“ Iya, kurasa begitu, Zavier dan Darvi akan ikut untuk menjenguk ibu.”


“ Baiklah, aku akan memberitahu ibu kalau adik akan datang menjenguk.”


Lisa memilih bahan dapur dengan teliti, memilih buah yang sudah matang tidak menyulitkan bagi Lisa, karena Lisa sudah biasa memilih makanan dan buah-buahan yang masih segar dengan kualitas baik.


“ Adik ipar, bisakah kau membantuku, daftar bahan dapur ada di sini semua, tapi aku tidak begitu tahu semuanya.” Brian memperlihatkan sebuah catatan.


“ Kenapa tidak menyuruh pelayan saja?.” Lisa mulai kesal karena Brian terus mendekatinya.


Brian tertegun. “ Baiklah, aku akan menyuruh pelayan saja.”


Lisa tidak enak hati karena menolak membantu Brian, tapi Lisa tidak ingin menciptakan salah paham di antaranya, Lisa tahu kalau Zavier akan mengetahui semuanya kalau dirinya belanja bersamaan dengan Brian.


“ Aish! mau tidak mau harus bantu kakak ipar, aku tidak mau di bilang sombong hanya karena masalah waktu itu.” batin Lisa.


“ Kakak ipar, tunggu! aku bisa bantu kamu, apa kau bisa memberikan daftar belanja itu padaku?.” Lisa mengejar Brian.


“ Apa adik ipar benar tidak keberatan membantuku?.” bertanya kembali karena tidak percaya.


“ Iya, biarkan aku yang memilih bahan dapur, kakak ipar bisa nunggu di kasir.”


“ Baiklah, terima kasih adik ipar.” Brian memberikan daftar belanja pada Lisa.

__ADS_1


1 jam berlalu.


Lisa pulang ke Villa untuk masak makanan lezat. Lisa masak dengan hati-hati agar masakannya lezat untuk di santap nyonya Ratih. Zavier sudah bangun dan turun ke dapur untuk melihat Lisa.


“ Sayang, dari mana kamu pagi-pagi begini baru pulang?.” tanya Zavier dengan dingin.


“ Sayang, aku baru saja belanja ke Super Market, aku menunggu di sana sampai 1 jam karena Super Market nya begitu lama buka.” Lisa sibuk memasak.


“ Oo, kenapa tidak memintaku mengantarmu belanja? kenapa malah meminta Li?.”


Lisa yang tengah memasak mendongak. “ Sayang apa maksudmu?.”


Zavier terdiam dan duduk di kursi, Zavier tidak mau menatap Lisa dan malah membungkukkan kepalanya.


“ Sayang apa yang terjadi denganmu? kenapa baru bangun langsung marah seperti itu, aku tidak tahu salahku apa padamu.” Lisa mulai bete melihat Zavier yang mengabaikannya.


“ Aku tidak apa-apa.” saut Zavier dengan ketus.


Lisa mulai panik dan memeluk Zavier. “ Sayang, apa yang membuatmu sampai marah seperti ini? katakan padaku, apa masalahmu.”


“ Apa kau tidak akan menjelaskan apapun padaku?.” tanya Zavier.


“ Menjelaskan apa? apa yang perlu di jelaskan!?.”


“ Aku tahu kamu tidak akan memberi tahuku kalau kamu bertemu dengan kakak dan berbincang bersama di dalam Super Market.” batin Zavier dengan kecewa.


“ Oo, kebetulan sekali kamu bertanya seperti itu, tadi di Super Market aku bertemu kakak ipar, dia bilang ibu sedang sakit.” ujar Lisa.


“ Ibu sakit?? sakit apa?.” Zavier terkejut.


“ Aku tidak tahu, tapi kakak ipar bilang itu penyakit yang biasa terjadi pada orang tua.”


“ Baiklah, aku mengerti.” balas Zavier.


“ Sayang, aku berencana untuk menjenguk ibu, apa kau akan ikut? aku tidak enak hati jika tidak menjenguk ibumu, aku tidak mau di bilang sombong dan menantu yang tidak sayang pada mertuanya.”


“ Baik, kita pergi ke kediaman Sanjaya. Sekalian ajak Darvi dan Laura ke sana.”


“ Terima kasih sayang.”


Zavier membantu Lisa memasak, dengan telaten Zavier sangat menguasai dapur saat memasak dan mengalahkan Lisa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2