
Saat tiba di Villa, Zavier mendapat kabar bahwa Lisa di larikan ke Rumah Sakit. Sekertaris Puy menemani Lisa saat di rawat, membuat Lisa tenang dan tidak mencemaskan Darvi dan Laura.
“ Nyonya, sudah waktunya makan.” ucap Sekertaris Puy dari luar, lalu membuka pintu.
Lisa berbalik muka, memejamkan mata dengan menggigit bibir bagian bawah.
Sekertaris Puy tidak bisa memaksa Lisa, ia menyimpan makanannya di meja dan melangkah keluar. Saat itu juga terdengar suara Darvi dari luar ruangan, Lisa membuka matanya dan melihat ke arah pintu.
“ Nyonya? apa aku tidak salah dengar? sepertinya itu suara tuan muda.” dengan senang.
“ Aku mendengarnya, coba lihat apa itu betul Darvi atau bukan?.” Lisa merubah posisinya menjadi duduk.
Darvi membuka pintu, membawa makanan dan buah-buahan di tangannya.
“ Ibu aku kembali.” tersenyum riang.
“ Darvi, Laura. Kalian sudah pulang nak? lihat ibu, apa kalian terluka?.” Lisa segera mengecek bagian tubuh kedua anaknya dengan teliti.
“ Ibu, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan kami.” ucap Darvi tertawa.
“ Iya benar, kakak tampan dan aku tidak apa-apa. Justru kami yang khawatir pada bibi Lisa, kenapa bibi Lisa tiba-tiba masuk Rumah Sakit? apa karena terlalu memikirkan kami berdua?.” berbicara dengan lembut membuat Lisa tersenyum.
“ Ibu senang akhirnya kalian bisa pulang dengan selamat. Di mana ayah kalian?.” tanya Lisa melihat ke arah pintu.
Darvi dan Laura tersenyum, saling bertepuk tangan agar Zavier masuk ke ruangan inap.
“ Istriku? aku menunggumu dari luar, kenapa baru sekarang mengingat aku?.” cemburu.
“ Maafkan aku suamiku, aku terlalu senang sampai lupa keberadaanmu.” Lisa tidak bisa menahan tawanya melihat sikap Zavier yang cemburu.
Zavier berjalan mendekat, memegang kedua tangan Lisa dan mendekapnya ke dipan ranjang.
“ Istriku mulai tidak merindukan aku sekarang, aku akan menghukumnya.” Zavier mengendus-endus di leher Lisa.
Sekertaris Puy berbalik badan dan menutup matanya dengan malu.
“ Astaga, apa yang sedang mereka lakukan?.” batin Darvi menggelengkan kepala.
Laura sangat menikmati tontonan itu, tapi Darvi segera menutup mata Laura dan menggiringnya keluar.
“ Aduh, kakak tampan kamu kenapa si? selalu saja mengganggu aku. Padahalkan tadi aku melihat sesuatu dari bibi Lisa dan paman Zavier. Siapa tahu aku dapat menirunya ketika dewasa nanti.” melepaskan tangan Darvi dan cemberut.
“ Jangan asal bicara kamu Laura, mana bisa masih kecil begini tapi berpikiran dewasa.”
“ Heheh, sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar lagi, lebih baik kita pergi jalan-jalan saja di depan. Bagaimana?.” Sekertaris Puy memisahkan kedua anak itu yang sedang bertengkar.
__ADS_1
Laura memegang tangan Sekertaris Puy dan mengacuhkan Darvi. Tapi pada saat mereka berjalan beberapa langkah, tidak di sengaja berpapasan dengan Asisten Li. Asisten Li baru saja berobat dan tangannya di perban akibat di tembak musuhnya di tempat Wilson Break.
“ Asisten Li? kamu? apa yang terjadi dengan tanganmu?.” tanya Sekertaris Puy ternganga.
“ Hmm, ini. Aku tidak apa-apa? kalian mau ke mana?.” menjawab lalu mengalihkan pembicaraan.
“ Aku mau ke depan, bawa tuan muda dan nona jalan-jalan di sekitar sini.” balas Sekertaris Puy.
“ Ya sudah, jangan terlalu jauh dari pengawasan Bodyguard.” mengingatkan lalu pergi.
Sejertaris Puy terdiam, dia tidak tega melihat bahu Asisten Li terluka karena tembakan. Sekertaris Puy berniat membantu mengobati luka Asisten Li setelah mereka pulang ke Villa.
Di kediaman Sanjaya.
Saat tuan Sanjaya sedang bersantai di depan kolam renang, tiba-tiba ponselnya berdering. Tuan Sanjaya membuka pesan itu dengan segera, suatu pesan dari Wilson Break yang membuat tuan Sanjaya hampir jantungan.
“ Apa?! sialan! lagi-lagi Zavier membuat masalah, ini menyangkut bisnisku ke depannya.” gumam tuan Sanjaya melemparkan ponselnya ke kolam renang dengan marah.
Bodyguard yang berjaga di samping tuan Sanjaya bereaksi cepat, mereka membantu tuan Sanjaya pergi ke kamarnya, memasangkan oksigen agar detak jantung tuan Sanjaya kembali normal.
“ Pergilah.” mengibaskan tangan dengan angkuh.
Bodyguard itu segera keluar.
“ Ayah, apa ada sesuatu yang mau di bicarakan?.” tanya Zavier di telpon.
“ Kau! dasar anak sialan! kau membuat bisnisku hampir hancur Zavier. Apa yang sudah kau lakukan pada Wilson Break? dia bilang kau membuat istrinya koma, sekarang dia di Rumah Sakit.” walau pun di telpon tapi tuan Sanjaya tetap berteriak dan memarahi Zavier.
“ Apa yang dia katakan itu tidak benar. Kenyataannya dia yang bersalah.” menjawab dengan santai, menaruh ponsel di bahu dan menekannya dengan wajah.
“ Kenyataannya kita akan tahu nanti. Datang ke Rumah Sakit Plita, jam 7 malam.” mengepalkan tangan dan memukul meja beberapa kali.
Zavier tertegun, dia tahu kalau emosi tuan Sanjaya sudah tidak terkontrol.
“ Baiklah, aku akan ke sana.” balas Zavier lalu mematin telponnya.
Zavier melanjutkan membersihkan sela**kangan Lisa menggunakan tisu basah, sedangkan Lisa berbaring sambil menatap Zavier dengan pandangan kosong.
Zavier melirik mata Lisa, lalu menundukan kepala.
“ Ayahku bilang jika di perusahaan ada masalah, dia menelponku dan menarahiku karena teledor. Dia memintaku datang ke perusahaan untuk rapat malam ini. Apa kamu mengijinkanku pergi?.” Zavier sangat peka, dia menceritakan kebohongan untuk membuat hati Lisa tenang.
Lisa tersenyum, menyentuh wajah Zavier dan membelainya.
“ Mau tidak mau aku harus mengijinkanmu pergi, karena ini menyangkut masalah bisnis keluargamu. Aku berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar.”
__ADS_1
“ Terima kasih.” Zavier tersentuh saking terharu dan lupa bahwa dirinya hampir menindih Lisa dengan kuat.
“ Istriku, tolong maafkan aku. Aku lupa kalau kamu sedang hamil. Aku tidak sengaja. Sumpah!.” ucap Zavier dengan panik.
“ Iya tidak apa-apa. Kenapa sepanik itu? anak kita tidak akan kenapa-kenapa. Kamu tenang saja.” tersenyum lucu.
Zavier malu, ia menyandar di perut Lisa dan membiarkan dirinya merasakan di tendang oleh janin yang masih di dalam perut.
Sekertaris Puy kembali dari kantin bersama Darvi dan Laura. Tapi Sekertaris Puy tidak tahu kalau Lisa dan Zavier sudah melakukan hubungan intim.
“ Bagaimana ini, hari hampir gelap. Aku sudah mengajak tuan muda dan nona keliling Rumah Sakit ini, bahkan sudah makan di kantin. Aku tidak tahu apa tuan dan nyonya sudah selesai melakukannya apa belum?.” batin Sekertaris Puy gelisah.
“ Ada apa bibi Puy? kenapa tidak masuk?.” tanya Laura melirik wajah Darvi dan Sekertaris Puy.
Darvi berjalan ke arah pintu, memberanikan diri berteriak pada orang tuanya.
“ Ayah ibu, aku dan Laura sudah kembali. Kami membawa makanan untuk kalian berdua.” dengan ragu.
Krek!
Zavier membuka pintu selebar mungkin, membiarkan Darvi dan Laura masuk menemui Lisa. Tapi Zavier lupa membuang tisu bekas yang masih berserakan di bawah.
“ Kenapa bisa lupa si? gimana kalau anak-anak mengambilnya lalu membuangnya ke tempat sampah, itu sangat menjijikan bagi anak-anak. Mereka akan berpikir jika itu hanya tisu biasa.” batin Zavier memejamkan mata dengan panik.
Tidak mau jika anak-anaknya tahu, Zavier buru-buru mengambil tisu itu dan menyembunyikannya di belakang. Darvi dan Laura menoleh, mereka curiga apa yang sedang Zavier sembunyikan di tangannya.
“ Ayah, kau memegang apa?.” tanya Darvi menunjuk.
“ Hmm, tidak! ayah tidak memegang apa-apa.” menjawab dengan gugup.
Lisa melirik Zavier dengan curiga. Lalu ia mengalihkan pembicaraan agar Darvi dan Laura hanya pokus melihatnya. Kesempatan itu datang, Zavier membuang tisu itu ke tempat sampah.
“ Akhirnya.” menepuk-nepuk tangan dengan perasaan lega.
Sekali lagi mata Darvi dan Laura tertuju ke tangan Zavier yang mencurigakan. Darvi yang masih polos langsung meneriksa seluruh tubuh Zavier, tapi tidak mendapatkan apapun. Kemudian Darvi mencium tangan Zavier, baru saja mengendus tapi Darvi hampir muntah di buatnya.
“ Bau apa itu? ayah apa kau tidak mencuci tangan setelah buang air besar?.” tanya Darvi menutup hidung.
“ Anu, iya. Ayah lupa.” jawab Zavier dengan pasrah.
“ Sangat kotor. Ayah kau harus cepat-cepat cuci tangan, setelah itu makan bersama ibu. Aku sudah membawa beberapa makanan untuk kalian siapa tahu suka.” ucap Darvi.
“ Baiklah, ayah mencuci tangan sekarang.” mengangguk.
BERSAMBUNG
__ADS_1