
Hari telah pagi. Jam menunjukkan pukul 04:30.
Zavier membuka mata dan mengintip Darvi yang sedang tidur di sampingnya.
“ Hmm, sepertinya dia sudah tidur nyenyak.” Zavier mengelus dada dan memastikan Darvi benar-benar tertidur.
Zavier turun dari ranjang dan berjalan mendekati Lisa. Mengelus wajahnya dan tidak lupa mencium keningnya. Lisa mengerutkan dahi dan mencoba untuk membuka matanya.
“ Suamiku, kau sudah bangun? kalau begitu aku pergi ke dapur. Hari ini kamu akan kerja ke luar kota bukan?.” Lisa berusaha bangun dengan perut buncitnya.
Zavier meraih tangan Lisa lalu berdiri. “ Tidak perlu istriku.” tiba-tiba Zavier memeluk Lisa dengan erat.
“ Ada apa? apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?.”
Zavier menggelengkan kepala dengan pertanyaan Lisa. Tidak sengaja buah dada Lisa terlihat jelas oleh Zavier, yang membuat Zavier terangsang dengan cepat. Zavier mulai mendekati wajah Lisa dan mencium bibir Lisa, Lisa merasa ciuman itu terasa hangat dan Lisa tidak bisa menahannya.
“ Istriku, bolehkah aku??.” bertanya dengan sungkan.
Lisa menganggukan kepala sambil tersenyum. Zavier segera membawa Lisa ke dalam toilet dan bercinta tanpa mengunci pintu. Suara aneh terdengar jelas dan membuat Darvi terbangun dari tidurnya. Darvi melihat ibunya tidak ada di sampingnya, Darvi khawatir dan mencari suara aneh itu. Tanpa mengetuk pintu Darvi langsung membuka pintu toilet yang membuatnya terkejut. Brak! Darvi segera menutup pintunya kembali setelah melihat Lisa dan Zavier sedang berbaring di bak rendam.
“ Darvi?! ya ampun, ini sangat memalukan.” Lisa yang duduk di badan Zavier tanpa busana memukul dada Zavier dengan malu.
“ Istriku, bagaimana ini? Darvi tidak benar-benar melihat kita bukan?.” bertanya dengan panik.
“ Tidak lihat apanya?! dia menatapku dengan ekspresi terkejut. Dia pasti trauma melihat orang tua macam kita.” bentak Lisa.
“ Terus apa yang harus kita lakukan? akankah kita melanjutkannya, atau pergi menjelaskannya pada Darvi?.”
“ Entahlah, aku tidak tahu. Aku malu jika harus bertemu dengan putraku. Oo ya Tuhan, kenapa Darvi harus melihat kejadian seperti ini?.” gelisah.
Zavier mengangkat Lisa dan membuka pintu untuk memastikan Darvi sudah pergi dari kamarnya.
“ Istriku, ayo kita lanjutkan saja di kamar. Darvi sudah pergi tidur di kamarnya, pintu juga sudah aku kunci. Aman pokoknya, kamu tenang aja.” meraih tangan Lisa dan mengajaknya kembali ke tempat tidur.
“ Kamu yakin mau lanjut??.” dengan ragu.
“ Iya, memangnya kenapa? kamu harus menidurkan burung kecilku, baru bisa memikirkan Darvi.” Zavier sudah siap terbaring di ranjang.
Lisa mengambil bantal dan melemparkannya ke burung Zavier, seketika burung milik Zavier tertidur karena kesakitan.
“ Sayang, ini sakit sekali.” Zavier guling-guling menahan sakit.
Sementara Lisa memakai baju dan mondar-mandir selama beberapa menit.
“ Sayang, sudah jangan gugup seperti itu. Nanti aku akan jelaskan pada Darvi dengan apa yang sudah ia lihat.” memeluk Lisa dengan cemas.
“ Aku takut. Aku takut kalau Darvi akan punya ingatan seperti itu sampai dia dewasa. Itu akan mengganggu tumbuh kembang dia, aku. Aku tidak mau Darvi punya memori kotor di kepalanya.” Lisa menangis karena panik.
Zavier mencoba menenangkan Lisa dan meyakinkan kalau Darvi akan melupakan kejadian tadi. Zavier juga akan mencari psikolog untuk membimbing Darvi sampai dia dewasa.
__ADS_1
Di dalam kamar Darvi bersembunyi di balik selimut untuk menghindari pertanyaan ibunya. Karena terlalu panik sampai-sampai Darvi demam tinggi.
Lisa sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
“ Laura, panggil kakakmu. Sarapan sudah siap.” ujar Lisa pada Laura.
“ Baik bu.” Laura pergi ke kamar Darvi dan membangunkannya, tapi Darvi enggan bangun dan malah menyuruh Laura sarapan terlebih dulu.
“ Kakak tampan kenapa ya? bukankah hari ini paman Andra akan datang.” batin Laura memandang Darvi yang bersembunyi di balik selimut.
Zavier berjalan menghampiri Lisa, memeluk dan mengelus perut Lisa yang sedang menyiapkan sarapan.
“ Ibu, kakak tampan tidak mau bangun. Mungkinkah dia masih ngantuk?.” ucap Laura dari kejauhan.
Lisa menyingkirkan tangan Zavier lalu duduk dengan termenung.
“ Kamu jangan khawatir, aku akan membujuk Darvi untuk bangun.” bisik Zavier sembari mencium kening Lisa.
“ Baiklah.” balas Lisa mengangguk.
Zavier pergi menemui Darvi di kamar, sedangkan Laura menghampiri Lisa dan menatap perut buncitnya.
“ Ibu, apa kau hamil??.” tanya Laura.
Lisa terkejut dengan pertanyaan Laura, Lisa tidak mau menyembunyikan kehamilannya dari siapapun, akhirnya Lisa mengatakan yang sebenarnya bahwa ia sedang hamil anak kembar.
“ Benarkah? ibu Lisa hamil bayi kembar! aku tidak sabar menunggu kelahiran bayi ini. Mereka pasti setampan dan secantik aku.” Laura bahagia ketika tahu dirinya akan mempunyai adik kembar.
“ Suamiku, tunggu aku! aku akan ikut bersamamu.” teriak Lisa dengan cemas.
Zavier pergi ke Rumah Sakit bersama Asisten Li, sedangkan Lisa yang mengkhawatirkan keselamatan Darvi memutuskan untuk pergi mengikuti Zavier.
“ Ibu, kakak tampan??.” Laura berdiri dengan sedih.
“ Naiklah.” menghela nafas dan berusaha tenang.
“ Terima kasih ibu.” Laura naik ke mobil bersama Lisa.
Penjaga yang berdiri di depan gerbang tidak sadar kalau Lisa mengemudi mobil dan menerobos pagar sebelum penjaga itu menututupnya.
“ Siapa itu? bukankah tuan baru saja pergi. Lalu siapa yang mengemudi mobil barusan? tidak! nyonya hentikan mobil itu.” teriak penjaga dengan panik.
Penjaga itu segera mengemudi mobil bersama rekannya, berniat ingin mengejar Lisa dan menghentikannya.
“ Bagaimana ini? tuan pasti marah pada kita.” ucap rekannya.
“ Kau bisa diam tidak! aku sedang berusaha mengejar nyonya sekarang. Jadi diam dan perhatikan mobil nyonya di depan.” bentak sang sopir.
Zavier keluar dari mobil sembari menggendong Darvi masuk ke dalam Rumah Sakit.
__ADS_1
“ Dok, Dokter. Periksa putraku sekarang.” Zavier berlari menemui Dokter.
“ Tuan, Anda?.” Dokter itu terkejut akan kedatangan Zavier di Rumah Sakit.
“ Kenapa? cepat lihat putraku. Dia sedang kesakitan sekarang.” Zavier sangat panik dan menyuruh Dokter untuk tidak melamun.
“ Ba, baik tuan. Sus, bawa pasien ke IGD.” Dokter itu ketakutan setelah melihat mata Zavier.
Zavier menunggu dengan cemas di luar. Sedangkan Lisa melaju kencang di jalanan, Lisa tidak memperhatikan keselamatannya dan lupa bahwa dirinya sedang hamil.
“ Ibu, aku takut. Pelankan mobilnya bu.” Laura gemetar ketakutan.
“ Kamu tenang saja Laura. Ibu tidak akan mencelakaimu.” tengok Lisa ke belakang.
Setelah melaju dengan kencang akhirnya Lisa sampai di depan Rumah Sakit. Ia terburu-buru masuk dan meninggalkan Laura di dalam mobil.
“ Lisa?? kenapa kau kemari? bukankah aku menyuruhmu untuk diam di rumah. Dengan siapa kau ke sini sayang.” karena terkejut Zavier sampai lupa menyebut nama istrinya.
“ Di mana Darvi?.” Lisa mengacuhkan pertanyaan Zavier dan sedikit kebingungan karena tidak melihat Darvi.
“ Dia di dalam. Dokter sedang memeriksanya.” menunjuk ke ruang pasien.
Lisa melangkah ingin masuk, tapi Zavier menarik tangannya. “ Darvi sedang di tangani oleh Dokter. Dia akan baik-baik saja.”
Penjaga dan sopir membawa Laura masuk.
“ Tuan, maafkan aku.” ucap sopir dengan ragu.
Zavier mengerti apa yang di maksud sang sopir. Zavier menggelengkan kepala dan menyuruh sopir untuk membawa Laura pulang ke Villa.
“ Istriku, kamu mengendarai mobil bersama Laura? kau sedang hamil, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu. Apa yang akan aku lakukan?.” khawatir.
“ Bukankah aku baik-baik saja. Kenapa berisik sekali. Lagi pula ini kesalahanmu Zavier, kau meninggalkanku dan pergi membawa Darvi. Apa kau pikir aku tidak akan mengkhawatirkan Darvi? dia putraku, seharusnya kau juga membawaku kemari. Bukan malah meninggalkanku.” balas Lisa dengan kesal.
“ Baiklah, ini salahku. Maafkan aku.” Zavier hendak memeluk Lisa tapi nyonya Ratih tiba-tiba datang bersama Mika Fhui.
“ Ehem! Zavier. Apa yang terjadi pada cucuku?.” tanya nyonya Ratih menatap Zavier.
“ Dia, dia demam.” melirik Lisa dengan ragu.
“ Orang tua macam apa kamu ini? mengurus anak kecil saja tidak bisa. Kalau kalian tidak bisa mengurus Darvi dengan baik, biarkan ibu yang mengurus Darvi.” mengejek.
“ Sudahlah bu. Mungkin Darvi masuk angin, kenapa ibu harus bicara seperti itu.” Zavier menggenggam tangan Lisa.
Nyonya Ratih membuang muka karena Zavier tidak pernah mendengarkan ucapannya. Tak tak! suara langkah terdengar dari belakang, semua orang melihat ke datangan tuan Sanjaya bersama para Bodyguarnya.
“ Tuan, putra Anda baik-baik saja. Kami sudah memberikan obat untuknya. Sekarang dia sedang istirahat.” ucap Dokter keluar dari ruangan pasien.
“ Darvi?? apa aku bisa melihatnya?.” tanya Lisa.
__ADS_1
“ Iya, kenapa tidak. Putra Anda hanya demam biasa, itu bukan masalah besar.” mempersilahkan Lisa masuk ke dalam.
BERSAMBUNG