Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part153


__ADS_3

Nyonya Ratih berjemur di pagi hari untuk menyehatkan tubuhnya, di temani dengan cemilan ringan dan jus alpukat membuat nyonya Ratih enggan pergi dari tempat duduknya.


“ Udara yang segar, membuatku betah berlama-lama berjemur di sini.” ujar nyonya Ratih sambil minum jus alpukatnya.


30 menit berlalu, Mika sudah siap dan isi lemari sangat berantakan karena Mika tidak menemukan baju yang di inginkannya.


“ Ibu mertua, ayo aku sudah siap.” ucap Mika.


“ Mika menantuku, kamu sangat cantik nak. Pakaian ini sangat cocok di kulit dan tubuhmu yang bagus ini, ibu jadi pengen muda lagi biar bisa memakai pakaian sepertimu.” nyonya Ratih terpesona dengan pakaian Mika yang pendek dan memperlihatkan pusarnya.


“ Ah, ibu mertua bisa saja. Dulu ibu juga pasti cantik, memakai pakaian seperti ini, benar tidak?.” tanya Mika dengan sungkan.


“ Benar, tapi ibu jarang sekali memakai pakaian begini karena ibu langsung mengandung setelah menikah beberapa bulan. Ibu tidak punya banyak kesempatan setelah itu, ibu hanya pokus pada anak-anak ibu yang masih kecil.” gumam nyonya Ratih.


“ Apa tidak ada suster yang jaga anak-anak ibu?.” bertanya dengan penasaran.


“ Tidak ada, ibu mengurusnya sendiri. Ayahmu tidak suka jika anak-anaknya di biarkan begitu saja bersama suster.” jawab nyonya Ratih dengan sedih.


Mika mengangguk mengerti.


“ Ya sudah ayo kita pergi sekarang.” ujar nyonya Ratih merangkul Mika.


“ Iya.” jawab Mika.


“ Mika! di mana kamu?.” teriak Brian dari atas.


Nyonya Ratih berhenti melangkah dan melihat ke belakang.


“ Brian, ada apa? kenapa teriak-teriak seperti itu? tidak sopan!.” balas nyonya Ratih.


“ Sudahlah bu, biarkan saja dia, dia pasti akan buat masalah lagi denganku. Seharusnya ibu jangan menghentikan hukuman itu semalam, lihat baru juga semalam dia sudah cari masalah lagi denganku.” ujar Mika dengan kesal.


“ Brian?.” mengingatkan.


“ Ada apa bu? aku hanya mau bilang dia harus membereskan kamarku seperti semula.” menjawab dengan nada kesal.


“ Ada apa memangnya?.” tanya nyonya Ratih.


“ Ibu bisa lihat sendiri, dia berantakin barang-barang milikku. Semuanya berantakan seperti kapal pecah, aku tidak mau lagi dia tidur di kamarku.” Brian ingin buktikan betapa jorok nya Mika memakai kamar miliknya.


“ Ibu ayo kita pergi, jangan pedulikan dia lagi. Jika tidak kita akan terlambat, ibu tahu sendiri bukan Brian membenciku dan terus mengerjaiku berbagai cara.” bisik Mika membawa nyonya Ratih pergi.


“ Hei! tunggu Mika! jangan pergi, cepat bersihkan dulu kamarku.” Brian berteriak dengan kesal.


“ Astaga, wanita ini benar-benar buat aku kehabisan kesabaran. Awas saja kau Mika, tiba saatnya aku akan membalasmu, sampai aku puas.” batin Brian menyeringai.


Nyonya Ratih sedang berbelanja di Brand ternama di kota A, toko LV. Tidak di sengaja Lisa juga sedang memilih baju untuknya, di temani Sekertaris Puy di toko LV.


“ Pelayan, saya mau lihat yang ini.” ujar Lisa menunjuk dress berwana merah tua.


“ Baik nona.” jawab pelayan.


“ Tunggu! aku mau baju yang kamu pilih itu, boleh aku meminta kamu berikan baju itu padaku. Aku akan bayar kamu 2 kali lipat.” teriak Mika dari kejauhan, Mika tidak tahu kalau orang tersebut adalah Lisa.


Lisa menengok ke belakang.

__ADS_1


“ Tapi aku juga mau.” gumam Lisa dengan kaget melihat Mika.


“ Kamu! kenapa kamu bisa ada di sini? kamu pasti mengikuti benar 'kan?.” tanya Mika dengan kaget.


“ Untuk apa aku mengikutimu, aku punya pekerjaan yang lebih penting dari pada mengikutimu.” dengan dingin.


“ Kamu!.” Mika menggertak gigi karena Lisa membuatnya kesal.


“ Kamu mau baju yang mana Mika? katakan pada ibu, ibu akan belikan untukmu.” teriak nyonya Ratih menghampiri Mika.


“ Jadi Mika datang ke sini bersama ibu mertua.” batin Lisa.


“ Ibu? apa kabar bu?.” Lisa mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Nyonya Ratih mlirik Lisa seperti merendahkan, bahkan tidak merespon saat Lisa ingin menjabat tangannya.


Lisa menarik kembali tangannya dengan sakit hati di acuhkan oleh mertuanya sendiri.


“ Heh, kebetulan ada wanita rendahan ini. Sekalian aku akan buat perhitungan dengannya, kau akan mampus kali ini Lisa, tidak ada Zavier yang akan menolongmu saat aku menindasmu.” batin Mika menyeringai.


“ Ibu mertua, aku mau dress yang ini. Bilang pada adik ipar untuk berikan baju ini untukku, boleh 'kan?.” Mika bersikap manja pada nyonya Ratih.


“ Sepertinya Mika ingin aku bantu dia mengerjai Lisa, baik aku akan bekerja sama dengannya. Aku masih kesal padanya karena aku tidak bisa menyingkirkannya. Jadi biarkan dia sendiri yang pergi meninggalkan Zavier, dengan begitu aku tidak akan di sebut mertua yang jahat.” batin nyonya Ratih merencanakan sesuatu.


“ Pelayan, kamu tidak dengar ya? menantuku mau baju yang ini, kenapa malah diam cepat berikan baju itu padanya. Aku akan bayar 3 kali lipat untuk baju ini.” ucap nyonya Ratih dengan bangga.


“ Hah, anu, itu, tapi nyonya, nona ini memilihnya lebih dulu. Aku harus Profesional dalam bekerja, tolong maafkan aku, aku tidak bisa.” pelayan itu kebingungan antara memilih uang tips atau jadi pelayan yang baik dan jujur.


“ Kamu tidak tahu siapa saya? mana Manajer nya, panggilkan dia kemari, aku ingin kamu di pecat karena tidak menghargaiku.” teriak nyonya Ratih dengan marah.


“ Astaga, nyonya Lisa kasihan sekali. Aku harus cari cara untuk bawa nyonya pergi dari sini.” batin Sekertaris Puy dengan cemas.


“ Ada apa ini? kenapa pelanggan kita ingin bertemu denganku. Apa yang sudah pelayan itu lakukan?.” Manajer itu terlihat marah karena di ganggu saat sedang sibuk.


“ Apa kau Manajer di sini?.” tanya nyonya Ratih dengan sombong.


“ Benar, tolong maafkan pelayan kami nyonya besar, dia tidak tahu kalau Anda pelanggap VIP di sini.” dengan ramah Manajer itu menunduk.


“ Tidak masalah, aku hanya ingin beritahu kamu kalau pelayan rendahan ini tidak memberikan baju ini untuk menantuku. Dia tidak menghargaiku sama sekali, aku benar-benar kecewa.” ujar nyonya Ratih dengan sedikit kesal.


“ Kamu! cepat minta maaf pada nyonya besar Sanjaya. Dan aku memecatmu, jangan pernah kembali lagi ke sini.” bentak Manajer ke pelayan itu.


“ Ma maafkan aku nyonya, ini salahku tidak mengenali Anda. Tolong maafkan aku.” menunduk meminta maaf.


“ Cepat berikan baju itu pada menantuku, jangan buat aku kesal.” bentak nyonya Ratih.


Beberapa pelayan datang dan membungkus baju itu lalu memberikannya pada Mika.


“ Manajer, baju itu sudah di pilih oleh nona ini. Dia menunggunya dari tadi, tidak boleh berikan baju itu pada orang lain.” pelayan itu merasa bersalah dengan keegoisan Mika.


“ Kamu tahu apa? nyonya Sanjaya pemilik saham di toko ini, jangan buat masalah lagi. Cepat pergi dari sini, kamu tidak akan dapat gaji sepeserpun dariku.” Manajer mendorong pelayan itu sampai terjatuh.


“ Aduh, sakit.” gumam pelayan mngerutkan dahi.


“ Kamu tidak apa-apa? ayo aku bantu kamu berdiri.” Lisa berhati lembut, bukan hanya membiarkan baju di ambil oleh Mika tapi juga memperlakukan pelayan dengan baik dan sopan.

__ADS_1


“ Hemm, nona, terima kasih.” ujar pelayan.


“ Sama-sama.” balas Lisa.


“ Mika, aku tidak peduli jika kamu mengambil baju pilihanku, tapi setidaknya kamu harus tahu dia ini seorang pelayan kenapa harus berbuat seperti itu padanya? mungkin dia harus bekerja karena membutuhkan uang, biarkan dia bekerja di sini.” ucap Lisa dengan tegas.


“ Kamu! tahu apa tentang itu, kamu hanya wanita rendahan yang ingin harta pria kaya seperti Zavier. Dasar tidak tahu diri, berani sekali menceramahi aku yang sebagai menantu Sanjaya.” Mika menjatuhkan bajunya.


“ Enyahlah!.” Mika mendorong Lisa sekuat tenaga.


Suasana saat itu sangat menegangkan, apa lagi Mika mendorong Lisa yang hampir terkena meja di belakangnya.


Zavier datang dan menghadang Lisa, memeluknya sekuat tenaga agar Lisa tidak jatuh ke lantai.


“ Apa kamu baik-baik saja?.” tanya Zavier.


“ Ah, siapa? Zavier itu kamu? sukurlah kamu menyelamatkanku, jika tidak aku pasti akan.” Lisa hampir keceplosan dan langsung menutup mulutnya sendiri.


“ Tidak apa, ayo berdiri.” Zavier menggenggam tangan Lisa dengan erat.


“ Kenapa kau mendorong istriku Mika? apa kamu lupa kalau Lisa juga menantu Sanjaya, apa yang kau banggakan dengan itu? sama-sama menantu Sanjaya tapi kamu malah merendahkannya.” gumam Zavier dengan tenang.


“ Itu, aku, aku tidak sengaja Zavier. Tadinya aku mau memeluk Lisa tapi kakiku tergelincir dan tidak sengaja mendorong Lisa. Kamu jangan salah paham padaku ya.” seketika Mika ketakutan.


“ Zavier, Mika benar.” ujar nyonya Ratih menenangkan Zavier.


“ Diam! ibu juga kenapa malah membela menantu ibu yang jelas-jelas bersalah, ibu sengaja ingin melukai istriku.” bentak Zavier.


“ Bukan seperti itu, ibu tidak sengaja.” nyonya Ratih meraih tangan Zavier.


“ Sudahlah bu, aku cape jika harus ribut di sini. Aku akan bawa istriku pulang, jangan harap aku akan tinggal diam dengan perlakuan kalian.” Zavier menepis tangan ibunya dan membawa Lisa pergi.


“ Zavier, tidak boleh begitu, dia ibumu.” gumam Lisa merasa bersalah.


“ Ibu, ibu macam apa yang tega menyakiti istriku?.” balas Zavier dengan dingin.


Zavier berhenti melangkah dan melihat ke belakang.


“ Dan kamu! Manajer aku memecatmu dari sini, aku akan membeli toko ini pada pemiliknya. Silahkan pergi dari sini, kalian pelayan yang tidak tahu diri aku memecatnya.” ucap Zavier menunjuk ke Manajer di toko LV.


“ Hah! tuan, tuan jangan pecat saya, saya tidak tahu kalau nona ini istri Anda, tolong maafkan saya tuan.” Manajer itu histeris dan mengaku bersalah.


“ Li, bereskan semuanya sesuai keinginanku.” gumam Zavier dengan sinis.


“ Baik tuan.” Asisten Li berjalan melewati Sekertaris Puy dengan tersenyum.


Sekertaris Puy terpesona melihat Asisten Li yang serius dalam bekerja, membuat Sekertaris Puy jatuh cinta padanya.


“ Ya ampun, dia sangat tampan dengan wajah serius nya itu. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan jantungku ini.” batin Sekertaris Puy berbunga-bunga.


Seketika Sekertaris Puy menabrak orang yang berjalan di depan.


“ Aduh, maafkan aku, maafkan aku.” Sekertaris Puy menunduk meminta maaf.


Asisten Li melihat ke arah Sekertaris Puy dan tersenyum.

__ADS_1


“ Ada apa denganku? memalukan! berjalan saja bisa menabrak orang. Aku benar-benar sudah gila.” memarahi dirinya sendiri dengan suara pelan.


BERSAMBUNG


__ADS_2