Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part152


__ADS_3

Di kediaman Sanjaya.


Mika Fhui telah mengganti baju dengan piyama tidur, membersihkan tubuh dan memakai wewangian sesuai perkataan nyonya Ratih. Sedangkan Brian tengah sibuk dengan ponselnya sambil berbaring di ranjang.


“ Aku tidak bisa bayangkan betapa sial nya hidupku kali ini, bukan hanya tidak mendapatkan Zavier tapi aku juga harus menikah dengan pria bajingan seperti Brian.” batin Mika sambil menyisir rambut yang masih basah.


“ Untuk apa mandi malam-malam begini? apa kamu lupa kita tidak akan melakukan apapun.” ucap Brian dengan dingin.


“ Siapa juga yang berharap melakukan sesuatu. Aku mandi karena sudah terbiasa bersih, tidak ada hubungannya dengan kamu.” teriak Mika.


“ Bagus jika kamu tahu diri.” gumam Brian dengan suara pelan.


“ Apa katamu? siapa yang kamu bilang tahu diri? jangan coba-coba rendahkan aku ya, kamu lupa kalau aku bisa saja bilang sama ayah mertua kalau kamu semakin gila dan bajingan.” Mika berdiri dan menunjuk ke arah Brian dengan marah.


“ Oh, rupanya mau mengadu ya. Biar aku beritahu bagaimana caranya mengadu pada ayah mertuamu itu.” Brian mendekat dengan melotot.


“ Kamu mau apa Brian? jangan coba-coba sakiti aku.” Mika ketakutan karena Brian berdiri lebih tinggi darinya.


“ Tentu saja membantumu, kamu sangat ingin aku di pukul oleh ayahku bukan.” menyeringai.


Plak plak!


Brian menampar Mika dengan sekuat tenaga, sampai Mika menderita luka memar dan mulutnya berdarah akibat pukulan keras.


“ Ah, kamu! apa kamu gila? ahh, aku akan beritahu ayah mertua kamu memukulku.” Mika kesakitan dan berlari keluar dari kamar pengantin.


Tuan Sanjaya sedang makan malam bersama nyonya Ratih.


“ Ayah mertua, ayah mertua, tolong lihat, Brian memukulku tanpa alasan. Ini sangat sakit, aku mau pulang ke rumah ayahku sekarang juga. Aku tidak betah tinggal di sini, aku mau pulang.” Mika berlari turun dari tangga dengan menangis histeris.


“ Astaga! apa yang terjadi Mika? kenapa kamu bisa terluka seperti ini?.” nyonya Ratih menghampiri Mika dengan khawatir.


“ Ibu mertua, ini semua ulah Brian! dia sudah menamparku beberapa kali, lihat mulutku mengeluarkan darah sebanyak ini. Tolong aku ibu mertua.” Mika memeluk nyonya Ratih meminta pertolongan.


“ Suamiku, bagaimana ini? Brian memukul Mika separah ini, bagaimana kalau tuan Fhui mengetahuinya? dia pasti tidak akan memaafkan kita.” ujar nyonya Ratih dengan panik.


“ Brian! turun sekarang juga.” teriak tuan Sanjaya.


Tak tak!


“ Ada apa ayah?.” Brian bersikap seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.


“ Masih tanya ada apa?.” plak! tuan Sanjaya menampar Brian sampai berbekas di pipi nya.


“ Mika, bagaimana kamu ingin mengurus suamimu?.” melirik ke arah Mika.


“ Aku, aku tidak tahu.” Mika berpura-pura menyedihkan.


“ Jangan takut Mika, jika dia menyakitimu dia juga harus mendapatkan balasannya. Katakan bagaimana kamu ingin Brian di hukum?.” ucap nyonya Ratih mengelus bahu Mika.


“ Aku tidak tahu ibu mertua, tapi dia baru saja memukulku beberapa kali. Bagaimana kalau aku memukulnya kembali.” gumam Mika dengan rencana liciknya.

__ADS_1


“ Suamiku?.” gumam nyonya Ratih.


“ Lakukan, lakukan sesuai yang kamu mau.” tuan Sanjaya duduk kembali di meja makan.


“ Ayo, tidak apa-apa. Brian tidak akan melawan, ini hanya balasan karena dia sudah menamparmu.” nyonya Ratih mendorong Mika dengan perlahan.


“ Baiklah, jangan salahkan aku jika tidak berperasaan. Kali ini habis kau Brian.” batin Mika menggertak gigi.


Plak plak!


Mika menampar Brian seperti latihan saja, di lakukan beberapa kali bahkan mengumpulkan seluruh tenaga untuk menampar Brian.


“ Astaga, tanganku rasanya sakit. Kulit muka Brian terlalu tebal membuatku kesakitan menamparnya, tapi aku rasa tamparan aku kurang keras, dia tidak berekspresi saat aku menamparnya. Mungkin saja pukulanku tidak sebanding dengan pukulannya.” batin Mika dengan heran.


“ Ibu, lihat aku sudah menamparnya tapi dia tidak terluka sepertiku. Tenagaku sangat lemah tidak bisa membalas tamparannya.” gumam Mika merenge pada nyonya Ratih.


“ Lalu apa mau kamu?.” tanya nyonya Ratih dengan bingung.


“ Aku mau dia di cambuk 30x dengan begitu aku bisa memaafkannya.” menunjuk ke arah pengawal.


Tuan Sanjaya mengangguk kepala dan pergi ke ruangan pribadinya.


Brian di bawa ke ruang bawah tanah untuk mendapatkan cambukan, Brian hanya pasrah dan pingsan karena cambukan sebanyak 30x itu sangat banyak dan keras.


“ Hah, bagaimana ini? tuan tertua pingsan. Cepat beritahu nyonya agar cambukan di hentikan saja, jika tidak tuan tertua akan mati kesakitan.” pengawal itu panik karena Brian berhenti menjerit dan langsung pingsan.


Tak tak!


“ Maafkan saya nyonya, tuan tertua pingsan. Baru mencabuk 15x tapi tuan langsung pingsan.” ucap pengawal dengan panik.


“ Apa? Brian pingsan! cepat bawa dia kemari, aku ingin melihatnya.” nyonya Ratih terkejut dan berhenti mengobati luka Mika.


“ Ah, sakit sekali.” Mika sengaja membuat nyonya Ratih lupa pada Brian.


“ Mika, maafkan ibu nak. Sini ibu obati luka memarnya.” nyonya Ratih berubah dan lebih peduli pada Mika.


“ Terima kasih ibu mertua. Maaf merepotkan.” gumam Mika dengan senang.


“ Tidak apa, kamu begini karena Brian. Ibu tahu kalau Brian keras kepala dan suka mukul orang, jadi tidak heran dia berani mukul istrinya sendiri.” gumam nyonya Ratih.


“ Apa maksud ibu mertua?.” tanya Mika dengan perasaan aneh.


“ Tidak, bukan apa-apa. Sekarang sudah malam, cepat kamu tidur. Biarkan Brian tidur di kamar sebelah malam ini, besok setelah kalian baikan baru bicarakan lagi tidur sekamar.” nyonya Ratih memapah Mika pergi ke kamarnya.


“ Baik ibu mertua. Aku istirahat dulu, ibu mertua juga jangan tidur malam-malam.” ujar Mika cari muka.


Nyonya Ratih mengangguk dan pergi menemui Brian.


“ Brian, apa kamu tidak apa-apa?.” tanya nyonya Ratih membuka pintu kamar dan masuk.


Melihat Brian yang hanya diam saja, nyonya Ratih merasa bersalah membiarkan Mika menindas putranya sendiri.

__ADS_1


“ Brian sebenarnya tadi ibu.” kata-kata nyonya Ratih terhenti karena Brian.


“ Sudahlah bu, aku sudah ngantuk. Biarkan aku istirahat.” gumam Brian memotong ucapan nyonya Ratih.


“ Aish! baiklah.” nyonya Ratih terpaksa keluar dari kamar dengan cemas.


Keesokan harinya.


Sudah pukul 7:00 pagi tapi Mika belum keluar dari kamarnya, padahal Brian dan nyonya Ratih beserta tuan Sanjaya sudah menunggu di meja makan.


“ Pelayan, panggilkan nona tertua untuk sarapan.” ucap nyonya Ratih.


Pelayan itu kembali setelah memanggil Mika.


“ Nona tertua masih tidur, dia akan sarapan jika sudah bangun.” ujar pelayan.


“ Makan saja.” gumam tuan Sanjaya.


Brian tidak ***** saat makan, hanya memainkan sendok dan garpu.


“ Jika tidak mau makan jangan duduk di sana! pergi ke kamarmu.” bentak tuan Sanjaya dengan kesal.


Brian langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.


“ Suamiku, tidak baik berbicara seperti padanya. Kasihan Brian.” gumam nyonya Ratih.


“ Kamu! membuatku tidak selera makan.” tuan Sanjaya membanting makanannya dan pergi dengan tergesa-gesa.


“ Astaga, ayah sama anak sama saja. Buatku kesal.” batin nyonya Ratih menggertak gigi.


Nyonya Ratih pergi ke kamar Mika untuk membangunkannya.


“ Mika, bangun! sudah siang, wanita tidak boleh bangun terlalu siang.” nyonya Ratih menepuk bahu Mika dengan perlahan.


“ Emm, aku masih ngantuk, kenapa tidak dengar.” Mika enggan bangun dan malah bersembunyi di bawah selimut.


“ Begitu, tadinya ibu mau ajak kamu pergi jalan-jalan. Jika kamu masih ngantuk ya sudah ibu minta bibi pelayan saja temani ibu.” nyonya Ratih berdiri dan hendak pergi.


“ Tunggu! jalan-jalan ke mana? apa ibu akan mentraktirku belanja?.” Mika membuka selimut dengan semangat.


Nyonya Ratih mengangguk dengan heran.


“ Aku akan bersiap sekarang, tunggu sebentar ibu mertua.” Mika langsung berlari ke toilet.


“ Berapa lama kamu butuh waktu untuk mandi?.” tanya nyonya Ratih.


“ Jangan khawatir ibu mertua, aku tidak akan lama-lama. 30 menit kita berangkat.” sahut Mika dari dalam toilet dengan buru-buru menggosok gigi.


“ Baiklah, ibu menunggumu di luar sambil berjemur.” ujar nyonya Ratih.


“ Ya ya, tidak akan lama kok.” Mika terburu-buru membuka baju dan melemparnya, bahkan sabun cuci muka dan pasta gigi berantakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2