Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part64


__ADS_3

Zavier mengantarkan Lisa pulang, Zavier tahu kalau Darvi akan marah padanya kalau mengantarkan Lisa sampai depan rumah. Maka dari itu, Zavier bersabar lebih dikit dan berusaha menahan Nafsunya untuk bertemu dengan putranya itu.


" Sampai di sini aja ya, aku tidak mau Darvi marah padaku jika aku mengantarmu sampai depan rumah." Ucap Zavier dengan sedih.


" Makasih, karena kamu udah nganterin aku pulang."


" Iya sama-sama, bisa jalan sendiri tidak? kalau tidak, biar aku gendong kamu sampai depan rumah aja ya. Tidak papa jika Darvi marah padaku, yang penting kamu sampai rumah dengan selamat." Tanya Zavier.


" Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri kok, lagi pula udah deket ini." Tolakan Lisa.


Lisa turun dari mobil dan meninggalkan Zavier sendirian, setelah Zavier pergi Lisa pun menengok ke belakang sambil tersenyum. Ketika Lisa berjalan lagi tiba-tiba ada suara mobil yang datang, Lisa mengira kalau itu Zavier yang balik lagi, Tapi setelah di lihat, Lisa kaget karena yang datang itu adalah Emma.


" Emma? ngapain dia datang kemari? apa belum cukup peringatan Zavier tadi." Gumam Lisa dalam hatinya.


" Hai! apa kakimu tidak papa? oo ya ampun! Maafkan aku! tadi aku sudah melakukan sesuatu kesalahan yang besar hingga menyebabkan kamu terluka seperti ini." Ledekan Emma.


" Mau apa kau datang ke sini?." Jawab Lisa dengan dingin.


" Tidak usah terburu-buru gitu, aku datang ke sini hanya mau memberitahu kamu, kalau kematian Orang tua kamu itu bukan kebetulan, tapi kecelakaan itu di sengaja oleh seseorang." Ucap Emma sambil menyeringai.


" Apa? itu tidak mungkin, siapa yang mau mencelakai Mama Papa ku sedangkan mereka baru pulang dari rumahku waktu itu." Dengan tidak percaya.


" Itu dia yang kumaksud, apa ini ada hubungannya dengan orang terdekatmu?."


" Tidak, tidak mungkin, jika itu benar katakan padaku siapa dia? siapa orang yang telah membuat Orang tua ku meninggal, siapa?." Teriakan Lisa.


" Kau tenang dulu, jangan terbawa emosi gitu, aku tidak tahu siapa dia, tapi yang jelas ada seseorang yang telah membuat Orang tua kamu sampai kecelakaan." Balas Emma.


" Jika kau tidak tahu, kenapa kau tahu kalau ada penyebab di balik kematian Orang tua ku. Apa maksudmu Emma? apa kau mencoba mempengaruhiku dengan kata-katamu itu." Lisa marah karena merasa di permainkan.


" Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku ke sini hanya untuk menyampaikan itu aja." Emma pergi tanpa memberikan kepastian untuk Lisa.


" Emma, tunggu!." Lisa mencoba mengejar Emma tapi Lisa malah terjatuh karena kakinya masih sakit.


" Aku harus cari tahu siapa penyebab kematian Orang tua Lisa, jika aku tahu aku bisa memanfaatkan hartanya dan akan memeras Lisa habis-habisan karena sudah membuat Keluargaku sampai Bangkrut seperti ini." Gumam Emma di dalam mobil.

__ADS_1


" Apa benar kecelakaan Mama Papa ku ada hubungannya dengan seseorang yang di maksud Emma tadi? tapi siapa yang berani mencelakai mereka? aku harus cari tahu demi keadilan untuk Mama Papa." Lisa beranjak dan pulang ke Villa.


" Ibu? ibu kenapa? kenapa kakinya bisa seperti ini bu?." Darvi kaget karena Lisa terluka.


" Tidak papa tadi Ibu keseleo dan akhirnya jadi gini deh." Senyum Lisa.


" Kebiasaan, ibu selalu ceroboh ketika melakukan apa pun." Dengan marah.


" Darvi, Asisten puy kemana? kenapa ibu tidak melihatnya." Tanya Lisa.


" Aku juga tidak tahu bu, tapi tadi Asisten puy pergi setelah menerima telpon Misterius." Jawab Darvi.


" Telpon Misterius?."


" Iya bu, Asisten puy tidak pamitan sama aku makanya aku tidak tahu kemana dia pergi." Balas Darvi.


Lisa merasa penasaran dengan Asisten puy, karena tidak seperti biasanya Asisten puy pergi tanpa pamitan padanya. Lisa menghubungi Asisten puy tapi tidak di jawab, Lisa cemas dan takut terjadi apa-apa sama Asisten puy.


" Darvi, kamu masuk ke kamar ya, Ibu ada urusan yang harus ibu urus."


" Darvi benar, jika aku pergi mencari Asisten puy aku takut kaki ku semakin parah dan malah ribet nantinya." Gumam Lisa dalam hatinya.


Lisa kembali ke kamarnya untuk istirahat, di temani Darvi yang selalu menemaninya dan melayaninya dengan penuh kasih sayang. Hati Lisa tidak bisa tenang dengan kata-kata Emma tadi, Lisa terus kepikiran dan penasaran dengan orang yang telah membunuh Orang tuanya.


Hari pun telah gelap, tapi Asisten puy tak kunjung pulang juga.


Dring!


Ponsel Lisa bunyi dengan no tidak di kenal, Lisa tidak menjawab telpon tersebut karena menurutnya itu pasti orang iseng yang sengaja mengganggunya. Lama kelamaan Lisa menjawab karena merasa terganggu dengan bunyi Ponselnya.


" Hallo! Maaf anda salah sambung."


" Nona ini aku! tolong aku Nona! aku di kejar penjahat yang ingin membunuhku." Asisten puy dengan panik.


" Apa? sekarang kamu di mana? aku akan kesana, kamu tunggu aku." Dengan kaget.

__ADS_1


" Aku di lorong gedung Klub mewah yang ada di perbatasan jembatan! Nona tolong aku. Hiks." Asisten puy gemetar dengan penuh ketakutan.


" Ya sudah, kamu tunggu aku di sana, jangan kemana-mana." Lisa berdiri dan mengambil tas.


" Ibu mau kemana?." Tanya Darvi.


" Asisten puy dalam bahaya, Ibu harus menolongnya."


" Tapi bu? ibu sedang sakit bagaimana ibu bisa pergi kesana." Dengan cemas.


" Tidak papa, ibu tidak akan pergi sendirian, ibu akan meminta bantuan Polisi untuk membantu Asisten puy di sana."


" Baiklah bu."


Bunyi mobil Polisi membuat para tamu di Klub penasaran dan keluar untuk melihat kejadian. Sedangkan Lisa cemas dan mencari Asisten puy.


" Nona, apa itu teman Anda?." Tunjuk Polisi ke arah Asisten puy.


" Asisten puy? kau tidak papa kan?." Pelukan dengan penuh air mata bahagia.


" Iya, Makasih Nona sudah menyelamatkan aku." Balas Asisten puy.


Lisa membawa Asisten puy pulang dan mencoba menenangkannya dengan pelukannya, para penjahat itu berhasil di tangkap Polisi dan di bawa untuk mempertanggung jawaban atas perbuatannya. Polisi meminta Lisa untuk membawa Asisten puy untuk jadi saksi atas perampokan dan pembunuhan yang hampir terjadi padanya.


Mau tidak mau Lisa harus membujuk Asisten puy untuk datang ke kantor Polisi, di situlah Lisa bisa mengetahui siapa dalang dari perampokan yang mengenai Asisten puy.


Di kantor Polisi Lisa terpaksa meminta bantuan Alvin untuk menemani Darvi semalaman, Karena Lisa tahu kalau dirinya tidak bisa menyuruh Zavier karena Darvi masih tidak menyukai Zavier sampai saat ini.


" Alvin, kamu bisa tidak temani Darvi untuk semalam? aku ada urusan jadi aku tidak bisa pulang ke rumah, begitupun dengan Asisten puy. Bagaimana, apa kamu mau?." Ujar Lisa di telpon.


" Iya tidak masalah, tapi kamu di mana sekarang? kenapa sampai tidak bisa pulang ke rumah?." Dengan heran.


Lisa menceritakan semuanya sama Alvin, Alvin pun kaget dan merasa kasihan sama Asisten puy yang jadi korban perampokan. Alvin mengucapkan turut berduka cita atas musibah yang menimpa Asisten puy, tapi Alvin cemas karena Alvin tahu kalau Lisa terluka di kakinya, Alvin tidak bisa berkata apapun dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi sama Lisa tadi pagi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2