
Zavier membawa Lisa ke suatu tempat yang menurutnya Lisa akan menyukainya. Di perjalanan Zavier mengemudikan mobil dengan perlahan dan santai, karena tidak ingin sesuatu terjadi pada Lisa.
“ Kenapa bawa mobil sepelan ini? kita akan kemalaman jika mobil melaju terlalu pelan.” Lisa merasa panas karena terlalu lama duduk di mobil, tapi tempat yang di maksud Zavier masih membutuhkan waktu lama.
“ Sabar, sebentar lagi kita sampai.” ucap Zavier sambil memperhatikan jalanan.
“ Ya ampun, sudah 20 menit tapi mobilnya masih di sini, berapa lama lagi kita akan sampai? mending tempat yang di maksud Zavier itu dekat, bagaimana kalau jauh, bisa-bisa besok pagi baru sampai.” Lisa tidak sabar dan ingin berjalan-jalan untuk melenturkan kaki nya.
Zavier tetap pokus menyetir dan memastikan jalanan aman untuk di lewati. 45 menit sampai di tempat yang di maksud Zavier, toko pakaian bayi.
“ Untuk apa kita ke sini?.” Lisa melihat toko pakaian bayi depan.
“ Tentu saja membeli baju untuk anak kita.” terparkir di depan toko pakaian bayi.
“ Kamu tidak berencana membeli baju untuk anak yang masih di dalam perutku bukan?.” bertanya dengan curiga.
Zavier tertegun karena takut pada Lisa.
“ Sayang, aku mengajakmu kemari untuk membeli pakaian buat Darvi dan Laura.” menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“ Oo, aku pikir kamu ingin membeli baju untuk anak yang ada di perutku. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja usia kehamilanku masih muda dan tidak boleh membeli barang terlalu cepat. Tunggu setelah usia kandunganku 7 bulan, kita akan pergi membeli perlengkapan anak kita.” Lisa sudah salah paham pada Zavier.
“ Baiklah, aku mengerti.” sahut Zavier sambil keluar dari mobil.
Zavier membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lisa turun, karena khawatir Zavier menuntun tangan Lisa untuk masuk ke dalam toko.
“ Selamat datang tuan dan nyonya.” sapa pelayan di toko.
“ Emm, tunjukan padaku di mana pakaian anak perempuan dan laki-laki.” ujar Zavier.
“ Silahkan ikuti saya tuan.” pelayan itu menunjukan pada Zavier tempat pakaian perempuan dan laki-laki.
“ Sayang, aku mau kamu memilih baju untuk anak-anak. Beli sebanyak mungkin untuk persediaan selama musim gugur, dengan begitu kita tidak perlu mencari baju baru ketika musim gugur tiba.” Zavier menyerahkan tugas memilih pakaian pada Lisa.
“ Baiklah, lebih baik kamu tunggu di sofa, nanti aku kembali setelah selesai.” ujar Lisa sambil menunjuk ke arah sofa itu.
“ Baiklah, jaga dirimu sayang.” Zavier terlalu mengkhawatirkan Lisa.
Lisa tidak sungkan dan membeli pakaian cukup banyak untuk anak-anak. Setelah selesai Lisa pergi ke kasir untuk membayar belanjannya.
“ Sayang, tunggu sebentar!.” Zavier menghampiri Lisa dan menariknya.
“ Ada apa Zavier? kenapa menarik tanganku?.” Lisa hampir terjatuh karena Zavier menariknya dengan tidak hati-hati.
“ Hah, maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud.” Zavier berhenti dan mengecek tubuh Lisa karena takut terjadi apa-apa.
“ Ada apa denganmu? kenapa sembrono sekali?.” Lisa marah karena hampir di buat jatuh oleh Zavier.
“ Maafkan aku sayang, aku salah karena menarikmu tanpa hati-hati.” merasa bersalah.
“ Sebenarnya aku mau nunjukin sesuatu padamu, tapi jika kamu tidak mau tidak apa-apa, kita pulang aja sekarang.” menunduk dengan pasrah.
“ Nunjukin apa? aku minta sama kamu jangan aneh-aneh, kita lagi di luar sekarang, jaga sikapmu dengan baik.” dengan nada marah sambil memalingkan pandangannya.
“ Aku mengerti, ayo ikuti aku.” Zavier membawa Lisa ke tempat khusus pakaian bayi.
__ADS_1
“ Hemm, ini? ah, lucu banget bajunya!.” Lisa tidak menyangka kalau Zavier akan menunjukan pakaian bayi yang begitu imut padanya.
“ Kamu menyukainya?.” Zavier mendekatkan kepalanya.
Lisa menganggukan kepalanya.
“ Iya, ini sangat imut.” Lisa mengambil baju itu dan memeluknya dengan wajah gemas.
“ Tidak di sangka ternyata selera Lisa sama denganku. Sama-sama menyukai pakaian bayi perempuan, apa jangan-jangan bayi yang ada di perut Lisa berjenis kelamin perempuan?.” batin Zavier dengan penasaran.
“ Sayang, bagaimana kalau kita beli baju yang ini saja. Aku menyukainya, warna merah muda sangat cocok untuk bayi perempuan.” tergoda dengan pakaian bayi.
“ Baiklah, beli sesukamu.” Zavier ikut senang karena Lisa menyukai baju yang ia pilih.
Di Villa, pukul 07:00 malam.
Saat Lisa dan Zavier sedang menikmati makan malam tiba-tiba Li datang dan meminta Zavier untuk keluar sebentar.
“ Tuan.” ujar Li menundukan kepalanya.
“ Sayang aku keluar sebentar, kamu lanjutkan makannya.” Zavier berdiri dan keluar sama Li.
“ Iya.” Lisa menganggukan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Zavier kembali melanjutkan makan bersama Lisa.
“ Ada apa sayang? apa sesuatu terjadi di perusahaan?.” tanya Lisa.
“ Benar, Klien yang bekerjasama denganku mereka menginginkanku pergi ke pelelangan besok malam, ini adalah urusan bisnis antara perusahaanku dengan perusahaan mereka, jadi aku tidak bisa menolaknya.” jawab Zavier sambil menatap Lisa.
“ Ternyata begitu, ya sudah kamu datang saja, kenapa malah murung seperti itu?.”
“ Hah, apa kamu mengijinkanku pergi istriku?.” mendongak dengan terkejut.
“ Iya, masalah pekerjaan tidak boleh di tunda-tunda, kamu boleh pergi besok malam. Aku tidak mau kamu melupakan kewajibanmu hanya karena aku melarangmu.” Lisa bersikap dewasa, memegang tangan Zavier dan menyemangatinya.
“ Baiklah, terima kasih banyak istriku. Kamu memang paling baik, aku mencintaimu.” Zavier senang karena Lisa bisa memahaminya.
“ Aku juga mencintaimu suamiku.” Lisa mendekatkan keningnya dan bersentuhan dengan kening Zavier.
Karena mereka terlalu dekat, Zavier tidak bisa menahan dirinya saat merasakan nafas Lisa yang harum. Perlahan-lahan Zavier mendekatkan bibirnya dan mencium Lisa, Zavier kehilangan kendali dan membuat Lisa kesulitan bernafas, Lisa menggigit bibir Zavier agar melepaskan ciumannya itu.
“ Ah, kenapa menggigitku? sakit sekali.” ucap Zavier sambil mengusap bibir yang mengeluarkan bercak darah.
“ Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tadi kamu membuatku kesulitan bernafas, aku tidak mau mati karena di cium olehmu.” Lisa tidak tega melihat Zavier terluka karenanya.
“ Emm, kamu payah sekali, ini bukan pertama kali kita berciuman, kenapa kamu masih kesulitan bernafas?.” Zavier sedikit kesal pada Lisa karena tidak menikmati ciuman darinya.
“ Kamu menyalahkanku karena hal ini! dasar tidak tahu malu.” plak! Lisa memukul kepala Zavier dengan kesal.
“ Aduh, sakit! sudah di gigit sekarang malah dapat pukulan di kepala. Benar-benar menyedihkan.” ucap Zavier sambil mengusap air mata tipuan.
Lisa memalingkan wajahnya sambil berjalan menuju Lift, tapi Zavier merangkul pinggang Lisa dari belakang dan menggendongnya.
“ Kenapa menggendongku? lepaskan, cepat lepaskan!.” Lisa berontak karena masih kesal pada Zavier.
__ADS_1
“ Berhenti berteriak padaku, aku ini suamimu bukan penjahat.” dengan nada tinggi.
Hemm, Lisa menutup matanya dengan wajah cemberut. Lisa tidak ada Mood untuk bermesraan dengan Zavier apa lagi berhubungan intim.
Tibanya di kamar, Zavier menidurkan Lisa dengan perlahan,membuka baju hingga celananya, Zavier bersiap melakukan hubungan intim dengan Lisa.
“ Hei! apa yang kamu lakukan? cepat pakai kembali bajumu.” teriak Lisa sambil menutup mata.
“ Jangan panik, aku akan lebih lembut dari biasanya, jadi tenanglah istriku.” ucap Zavier sembari menindih Lisa dan membuka tangan Lisa.
“ Tapi? bukankah dokter bilang tidak boleh melakukan hubungan intim untuk beberapa bulan ini, lalu kenapa kamu malah ingin melakukan ini sekarang?.” Lisa gugup karena takut terjadi apa-apa pada janinnya.
“ Itu dokter yang bilang, tapi aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita.” Zavier membuat Lisa percaya padanya.
“ Baiklah, aku percaya padamu.” Sebenarnya Lisa juga tidak berniat menolak ajakan Zavier, tapi mengingat peringatan dokter membuat Lisa ketakutan dan selalu waspada.
Zavier membuka pakaian Lisa dan mencium perutnya sebelum melakukan hubungan intim, saat Zavier kehilangan kendali Lisa memukul Zavier agar tersadar dan mengingat bayi yang ada di perut Lisa.
Keesokan harinya.
Zavier enggan bangun karena dirinya terkena demam tinggi, Lisa yang sudah menyiapkan makanan kembali ke kamar untuk membangunkan Zavier.
“ Sayang, bangun, ini sudah pagi, nanti terlambat ke kantor loh.” membangunkan dengan cara halus sambil membuka selimut.
Zavier menggigil kedinginan saat Lisa menarik selimutnya, karena penasaran Lisa menyentuh tubuh Zavier dengan seksama.
“ Astaga! panas sekali tubuhnya.” Lisa terkejut saat menyentuh jidat Zavier yang panas.
“ Aku harus panggil dokter untuk memeriksanya.” Lisa berlari dan tidak memperhatikan langkahnya yang mungkin akan membahaykan kandungannya.
“ Li, panggilkan dokter untuk datang sekarang.” teriak Lisa sambil membuka pintu utama.
“ Nyonya, siapa yang sakit?.” dengan panik.
“ Zavier, dia demam tinggi sekarang. Cepat suruh dokter datang kemari.” Lisa sangat panik dan menggoyangkan tangan Li dengan tidak sabaran.
“ Nyonya perhatikan dirimu, jangan panik aku akan pergi memanggil dokter sekarang.” Asisten Li menenangkan Lisa yang panik.
“ Iya-iya, cepat panggil dokter.” Lisa tidak tahu harus berbuat apa pada Zavier, untungnya Lisa teringat sejak Darvi demam hanya mengompresnya menggunakan air hangat, itu cara supaya demamnya turun dengan cepat.
Lisa membawa air hangat untuk mengompres Zavier, Lisa telaten saat mengurus Zavier yang sedang sakit.
“ Nyonya, dokter sudah datang.” teriak Asisten Li dari luar.
“ Cepat bawa masuk dokternya.” sahut Lisa sambil sibuk mengelap keringat yang keluar dari tubuh Zavier.
Dokter berjalan dengan terburu-buru.
“ Dokter, tolong periksa suamiku. Tadi dia demam tinggi, tapi sekarang sudah membaik karena aku mengompresnya.” ujar Lisa dengan perasaan sedih.
“ Baik nyonya, saya akan memeriksanya sekarang.” dokter itu mendekat dan memeriksa Zavier.
“ Bagaimana dok? apa yang salah dengan suamiku, kenapa bisa demam tiba-tiba? padahal tadi pagi baik-baik saja.” tanya Lisa dengan penasaran.
“ Bukan apa-apa nyonya, mungkin tuan terlalu lelah bekerja hingga daya tahan tubuhnya tidak berfungsi secara maksimal.” penjelasan dokter mengarah ke tidak memperhatikan tubuh saat bekerja terlalu lelah.
__ADS_1
BERSAMBUNG