Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part167


__ADS_3

Di kediaman Sanjaya.


Brian pulang larut malam, semua orang sudah tertidur di kamarnya. Brian hendak mengetuk pintu kamar tuan Sanjaya, tapi tidak punya keberanian. Brian mengurungkan niatnya dan berbalik badan ke kamarnya.


Krek!


Kebetulan nyonya Ratih keluar karena kehausan, melihat Brian berdiri di depan pintu kamarnya, nyonya Ratih memanggilnya.


“ Brian, kau sudah pulang? kau dari mana saja? ibu mencarimu ke mana-mana, takutnya kamu kenapa-kenapa.” menatap Brian.


“ Ibu, apa ayah sudah tidur?.” Brian mengalihkan pembicaraan.


“ Iya, ada apa mencari ayahmu? apa kau mau mempertanyakan tentang keluarga Mika?.” menebak.


“ Tidak, bukan itu yang mau aku bicarakan dengan ayah.” menggelengkan kepala.


“ Lalu apa?.” penasaran.


“ Aku ingin meminta ayah untuk memutuskan pernikahanku dengan Mika, ayah sudah mendapatkan apa yang ayah mau, sudah seharusnya ayah melepaskanku, bukan?.”


“ Bercerai maksudmu?!.” terkejut seketika.


“ Iya, aku rasa pernikahan ini tidak perlu berlanjut.”


“ Tidak! ibu tidak setuju.” bentak nyonya Ratih.


“ Kenapa bu? aku sudah cukup menderita selama menikah dengan dia, lagi pula aku tidak cinta. Sangat sulit bagiku menjalani pernikahan tanpa ikatan cinta.”


“ Diam Brian! ibu tidak setuju jika kalian cerai.”


“ Ibu, aku, aku tidak bisa. Aku tidak cinta padanya, sekarang aku sudah mencintai seseorang.” memelas.


“ Siapa yang kau maksud? gadis rendahan yang ingin kau jadikan istrimu itu?.”


“ Jangan berkata seperti itu bu, di antara kita tidak ada yang berbeda, kita sama-sama manusia.” Brian tidak senang saat nyonya Ratih merendahkan Alea.


“ Jelas berbeda! derajat kita berbeda dengannya. Orang miskin seperti dia tidak pantas menikah dengan orang punya seperti kita, yang ada nanti dia menguras harta kita lalu pergi bersama lelaki lain. Itu sangat sering terjadi di pernikahan yang tidak sederajat.” teriak nyonya Ratih.


Brian terdiam, merasa tidak ada gunanya saat bicara dengan ibunya Brian memutuskan untuk pergi.


“ Percuma saja bicara dengan ibu, dia akan tetap menyayangi Mika sampai kapanpun, dan tidak akan biarkan aku bercerai dengannya. Besok aku akan bicara masalah ini baik-baik dengan ayah, siapa tahu ayah mengerti apa yang aku inginkan.” batin Brian.


Hari telah malam.


Tidak di sengaja Lisa tertidur dan bangun pada pukul 02:30 malam.


“ Astaga! aku ketiduran. Sudah tengah malam, tapi Zavier belum pulang.” melihat jam dengan cemas.


Lisa keluar dari kamarnya menuju dapur.

__ADS_1


“ Aku lapar sekali. Coba aku lihat apa di kulkas ada makanan yang bisa di makan.” gumam Lisa sembari membuka kulkas.


“ Nyonya, kenapa tidak memintaku menyiapkan makanan jika lapar?.” pelayan itu tiba-tiba datang dan membuat Lisa terkejut sampai mundur.


“ Kau! tidak apa-apa. Aku bisa masak sendiri.” mengelus dada dengan tenang.


“ Nyonya, saya di sini sebagai pelayan. Dan tugas pelayan adalah melayani majikannya setiap saat, jadi biarkan aku membuat makanan untukmu.” pelayan itu sembrono dan mendorong Lisa lalu menutup pintu kulkas.


Lisa ketakutan dengan tingkah laku pelayan itu, membuat Lisa tidak nyaman saat berdekatan dengannya.


“ Baiklah, aku akan pergi ke kamar. Beritahu aku jika sudah siap makanannya.” Lisa buru-buru pergi ke kamarnya.


Hmm. Bergumam.


“ Ada yang aneh dengan pelayan itu, tapi apa ya?.” batin Lisa saat tiba di kamar.


Lisa mengecek ponselnya, Lisa ragu saat ingin menghubungi Andra untuk meminta bantuan.


“ Coba saja dulu, siapa tahu Andra tidak sibuk.” gumam Lisa menekan tombol memanggil.


Krek!


Zavier membuka pintu kamar melihat Lisa yang sedang menelpon.


“ Sayang, kau belum tidur?.” sapa Zavier menutup pintu.


Lisa menengok ke belakang. “ Zavier, akhirnya kau pulang juga.”


Zavier terdiam, berjalan duduk di sofa dengan murung.


“ Zavier, ada apa? di mana anak-anak? mereka baik-baik saja 'kan?.” Lisa melihat ke arah pintu lalu berjalan keluar ingin menemui Darvi dan Laura.


“ Sayang, maafkan aku.” Zavier meraih tangan Lisa agar duduk di pangkuannya.


“ Kenapa minta maaf?! jangan bilang terjadi sesuatu pada anak-anak.” menebak dengan curiga.


“ Tidak, kau jangan salah paham dulu. Anak-anak baik-baik saja, hanya saja untuk saat ini aku belum bisa membawa mereka pulang ke rumah.” Zavier berusaha menjelaskannya pada Lisa.


“ Kenapa? apa yang terjadi? kau bilang mereka baik-baik saja, mana mereka sekarang? aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri.” Lisa beranjak dari pangkuan Zavier dan mundur perlahan.


“ Sayang, sayang maaf.” Zavier bersujud di hadapan Lisa dan membuat Lisa menangis.


“ Kau keterlaluan Zavier! bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka? Darvi, putraku. Hiks hiks! Laura sayang, kalian harus baik-baik di manapun kalian berada.” Lisa tahu apa yang di maksud Zavier, itu sebabnya Lisa tidak bisa berhenti menangis.


Zavier memeluk Lisa untuk menenangkannya.


“ Jangan menangis lagi, bayi kita ikut nangis melihat ibunya menangis.” mengelus rambut Lisa.


“ Zavier, berjanjilah padaku kau akan membawa Darvi dan Laura pulang dengan selamat.” menatap Zavier.

__ADS_1


“ Aku berjanji, jika harus nyawaku taruhannya aku akan berikan, yang penting anak-anak selamat.” mengingkari jari kelilingking bersama Lisa.


“ Kau harus baik-baik saja, kau sama anak-anak harus selamat. Aku tidak mengijinkan di antara kalian ada yang terluka.” mencium jidat Zavier dengan lembut.


Keesokan harinya.


Lisa membuat masalah dengan pelayan muda itu, Lisa tidak senang ada wanita lain yang tinggal seatap bersamanya.


“ Sudah kubilang, makanan ini tidak enak! kenapa kamu tidak ngerti? sudahlah, pergi saja dari sini, besok-besok jangan masak untukku lagi.” membuang muka.


“ Nyonya, aku mencicipi makanan ini sebelum di hidangkan, jadi tidak mungkin kalau makanan ini tidak enak.” ujar pelayan itu.


“ Jadi maksudmu aku mengada-ngada?!.” bentak Lisa.


“ Ada apa ini? sayang kenapa pagi-pagi sudah ribut?.” tanya Zavier turun dari tangga.


“ Lihat dia! dia memasak makanan tidak enak untukku.” menunjuk pelayan itu.


Zavier mencicipi makanan itu kemudian menatap Lisa.


“ Benar, ini tidak enak. Apa kau sengaja memasak makanan seperti ini untuk istriku?.” melirik pelayan itu.


“ Tidak tuan, saya benar-benar sudah mencicipinya, dan rasanya pun enak.” pelayan itu mulai panik.


“ Kau di pecat, pergi kemasi barang-barangmu. Asisten Li akan segera sampai menjemputmu pulang.” Zavier menggenggam tangan Lisa lalu pergi keluar.


“ Punya masalah apa nyonya denganku? bisa-bisanya memfitnahku di depan tuan.” batin pelayan itu tidak senang.


Pagi-pagi buta Brian sudah duduk di sofa menunggu tuan Sanjaya bangun.


Tak tak!


Tuan Sanjaya turun dari tangga, melihat ekspresi Brian yang senang setelah melihatnya tuan Sanjaya menghampiri Brian.


“ Ada apa?.” bertanya dan duduk dengan tumpang kaki.


“ Ayah, aku, aku ingin bicara denganmu.” dengan gugup.


“ Bicaralah, jangan bertele-tele denganku.” tuan Sanjaya sudah tahu maksud Brian menunggunya.


“ Ayah, sebenarnya aku, aku mau berpisah dengan Mika. Ayah tahu kalau aku tidak mencintainya, aku juga sudah punga kekasih yang aku cintai.” dengan ragu.


“ Baiklah, aku mengabulkan permintaanmu.” menurunkan kaki ke bawah.


“ Tapi masalah kau suka pada gadis itu, ayah tetap tidak akan merestui kalian. Kau boleh saja berhubungan dengannya, jika kau ingin menikahinya ayah tidak keberatan, tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh mempublikasikan pernikahanmu dengannya ke media.” ucap tuan Sanjaya dengan serius.


“ Kenapa??.” tertegun.


“ Karena dia tidak cocok dengan keluarga kita.” balas tuan Sanjaya dengan dingin.

__ADS_1


Lagi-lagi tuan Sanjaya merendahkan Alea, membuat Brian sakit hati dengan perkataan tuan Sanjaya.


BERSAMBUNG


__ADS_2