Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part169


__ADS_3

Mika pergi ke Barr, mencari pria kaya untuk mendapatkan uang dengan mudah.


“ Di sini tempatnya, pria kaya mana yang tidak akan tergoda dengan kecantikanku ini.” batin Mika menyeringai.


Mika melangkan masuk ke dalam, tiba-tiba ada pria muda dan tampan menghampirinya lalu menciumnya dengan paksa, Mika ketakutan setelah Pria itu menunjukan pistol di dalam bajunya.


“ Dia siapa? kenapa membawa pistol? apa dia penjahat.” batin Mika dengan cemas.


Datanglah beberapa pria tua dan tampangnya menyeramkan.


“ Bekerja samalah denganku jika tidak aku akan menyerahkanmu pada preman itu.” bisik pria misterius itu.


Mika mengangguk, mencium kembali pria itu dan menikmatinya.


“ Sepertinya dia tampan dan masih muda, aku akan mendapatkan uang jika bisa tidur dengannya.” batin Mika merencanakan sesuatu.


“ Ke mana perginya dia? sial, tuan akan marah jika kita tidak berhasil menangkapnya. Dasar Arya sialan, sudah jadi buron saja masih berani kabur.” ucap beberapa pria itu.


“ Jadi namanya Arya, pantas saja orangnya tampan, namanya juga bagus dan tampan seperti orangnya.” batin Mika menatap Arya.


Setelah preman itu pergi Arya melepaskan ciuman itu dan waspada di sekitarnya.


“ Terima kasih. Lain kali aku akan balas budi padamu.” ucap Arya meninggalkan Mika.


“ Aku sudah menolongmu, kau pergi begitu saja setelah puas menciumku.” teriak Mika.


Arya menoleh ke belakang.


“ Lalu apa yang kau inginkan dariku?.” tanya Arya dengan serius.


Mika berjalan mendekat. “ Jangan terburu-buru tuan, aku bisa saja berteriak agar preman itu datang menangkapmu. Bagaimana?” mengelus dada Arya dengan tersenyum.


“ Aku mengerti, ini kartu namaku, kau boleh hubungiku dan meminta apapun yang kau inginkan. Sekarang biarkan aku pergi, masih ada urusan yang belum aku kerjakan di rumah.” memberikan kartu nama pada Mika.


“ Ternyata Anda sangat sibuk, sayang sekali, padahal aku sudah tidak tahan karena ulah tuan yang sembarang menciumku tadi.” dengan ekspresi kecewa Mika terus menggoda Arya.


“ Seperti itu, baiklah ikuti aku.” Arya menarik tangan Mika dan masuk ke dalam mobil yang tidak jauh dari Barr itu.


“ Heheh, bagus! satu pria tampan sudah aku taklukan. Mari kita bermain-main sebentar, kau pasti akan ketagihan padaku.” batin Mika menyeringai.


Arya membawa Mika sangat jauh dari tempat tinggalnya sekarang, bahkan memerlukan Hellikopter agar sampai di tempat persembunyian Arya.


“ Tuan, kapan kita sampai?.” mulai cemas.


“ Sebentar lagi, kau lihat rumah itu. Itu adalah rumahku.” menunjuk ke bawah.


“ Megah sekali! tapi kenapa harus di tempat seperti ini dia tinggal? apa tidak takut?.” batin Mika dengan curiga.


Arya mengenggam tangan Mika dan membawanya masuk.


“ Apa kau menyukainya?.” tanya Arya menatap Mika.


Mika menganggukan kepala dengan tersenyum.


Sesampainya di kamar, Mika di kejutkan dengan kamar yang begitu menyeramkan, bukan hanya dekorasi berwarna hitam saja, tapi kamar itu terlihat ada peti mayat yang di letakan di samping ranjang.


“ Tuan, itu?.” ketakutan.


“ Ya, itu peti mati yang aku siapkan untuk musuhku. Kau jangan khawatir, di sini aman.” ucap Arya sembari membuka pakaiannya.


“ Sebenarnya orang seperti apa Arya ini? kenapa menyimpan peti mati di dalam kamarnya?.” batin Mika dengan heran.

__ADS_1


“ Masih berdiri di situ? jangan buat aku tersiksa gadis baik.” melirik Mika yang tengah bengong.


“ Ah, iya, maafkan aku tuan. Bolehkah aku minta Wine?.” tersadar.


“ Tentu, pelayan bawakan satu botol Wine ke sini.” Arya berbicara di telpon.


Arya berjalan mendekati Mika, membelai rambut Mika lalu menciumnya.


“ Siapa namamu?.” mengendus di telinga Mika.


“ Mika, Anda boleh memanggilku Mika.” jawab Mika mendesah dan menggigit bibir.


“ Mika? namamu tidak asing di dengar. Apa kau seorang pengusaha?.” berhenti dan mengingat kembali.


“ Ya, tidak heran jika Anda mengenal namaku. Aku adalah putri dari tuan Fhui, kau pasti mengenalnya bukan?.” dengan bangga.


Arya terkejut, berusaha mengingat siapa Mika sebenarnya.


“ Aku ingat sekarang, jadi dia gadis yang mau di jodohkan dengan Zavier, tapi malah menikahi Brian kakak dari pria yang ia sukai. Heh, kebetulan sekali. Tidak perlu susah payah, dia datang sendiri ke padaku.” batin Arya menyeringai.


“ Ada apa tuan? kau sudah mengingatku?.” tanya Mika.


“ Tuan, saya datang membawa Wine untuk Anda.” ucap pelayan dari luar kamar.


Arya mengambil Wine itu dan menuangkannya di gelas.


“ Minumlah, kau pasti akan menyukainya.” memberikan segelas Wine yang telah di beri obat perangsang.


“ Terima kasih.” Mika mengambilnya dan meminum dalam satu tegukan.


“ Bagus, kau menghabiskan minuman itu.” batin Arya melirik Mika sembari minum Wine dengan perlahan.


“ Hmm, Wine yang sangat nikmat. Sudah lama aku tidak merasakan Wine seenak ini, terima kasih tuan.” Mika mulai nakal dan menjilat bibirnya dengan me*um.


“ Apa kau sudah tidak sabar sayang?.” tanya Arya.


“ Aku, aku, iya, aku tidak sabar ingin itu. Bolehkah aku?.” wajah Mika memerah karena kepanasan.


“ Tentu saja, nikmatilah tubuhku ini.” dengan pasrah.


Arya sengaja merekam perbuatannya dengan Mika, untuk mengancam Mika agar menuruti semua permintaannya.


Arya beranjak dari kasur setelah selesai bercinta dengan Mika.


“ Siapkan berkas yang kuinginkan sekarang.” ucap Arya di telpon.


“ Sekarang aku sudah punya orang yang bisa jadi kambing hitam, dengan begitu aku tinggal menyaksikan kehancuran Zavier dan keluarganya. Kita lihat apa yang akan aku lakukan padamu Zavier.” batin Arya mematikan rokok.


Zavier membawa Lisa berkeliling di pantai dan taman, Zavier berharap jika Lisa tidak terlalu memikirkan Darvi dan Laura yang hilang di culik.


“ Aku berharap dengan begini, Lisa bisa tenang dan tidak panik memikirkan anak-anak.” batin Zavier menatap Lisa yang tengah melihat indahnya pantai.


Lisa meneteskan air mata sembari tersenyum, hati dan ekspresinya tidak bisa di bohongi kalau dia sangat cemas pada anak-anaknya.


Zavier meraih Lisa dan memeluknya.


“ Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Begitupun denganku, aku juga khawatir pada anak-anak. Tapi kamu tenang saja, nanti malam aku pasti akan membawa Darvi dan Laura pulang.” ucap Zavier.


Lisa hanya menangis di pelukan Zavier, menatap langit yang cerah tapi tidak secerah hatinya.


Di kediaman Wilson Break.

__ADS_1


Sara, istri dari Wilson Break penasaran dan mengikutinya saat pergi ke penjara bawah tanah. Sara mengendap-ngendap dan menghindar dari para pengawal yang berjaga di luar.


“ Tuan.” sapa pengawal.


“ Bagaimana kedua bocah itu? apa mereka menangis? makan tidak?.” tanya Wilson Break.


“ Anu tuan, gadis kecil itu tidak berhenti menangis. Sedangkan bocah lelaki hanya diam dan tidak mau makan apapun.” dengan ragu.


Wilson Break masuk ke dalam untuk melihat Darvi dan Laura.


“ Anak-anak? siapa mereka? kenapa suamiku membawa anak-anak ke penjara?.” batin Sara dengan penasaran.


Saat pintu rahasia tertutup Sara segera berlari mengetuk pintu itu, Sara tidak bisa membukanya karena harus menggunakan sidik jari dari Wilson Break.


“ Pintunya terkunci, bagaimana aku bisa masuk?.” mengedor pintunya.


Wilson Break mendekat, melihat Laura sedang menangis di pangkuan suster Wilson Break tertegun, hatinya rapuh dan tidak bisa melihat seorang gadis kecil menangis karena ketakutan.


“ Ada apa? kenapa menangis?.” tanya Wilson Break mendekat.


Darvi menoleh, berdiri dan memandang Wilson Break dari jeruji besi.


“ Bisa tidak kau melepaskan kami bertiga? sudah berhari-hari kau mengurung kami di sini. Kami sangat bosan, ingin jalan-jalan dan belajar.” berbicara tanpa ekspresi.


“ Bawakan apa yang dia inginkan.” suruh Wilson Break ke pengawal.


Pengawal itu lantas pergi.


“ Bukan itu maksudku, dasar payah. Aku mau kalian membebaskan kami, kami bukan penjahat, kenapa kalian mengurungku?.” bentak Darvi dengan sinis.


“ Iya, kakak tampan benar. Kenapa kakek sangat kejam pada kami? salah kami apa?.” Laura beranjak dan membela Darvi.


Wilson Break tidak bisa berkata apa-apa.


“ Baiklah, dengan satu permintaan. Apa gadis kecil ini akan mengabulkannya untuk kakek?.” Wilson Break bersikap lembut dan tidak mau membuat Laura ketakutan.


“ Hmm. Apa?.”


“ Aku akan melepaskan kalian, asal kau memelukku.” menunjuk ke arah Laura.


“ Apa-apaan orang ini? memintaku agar memeluknya. Dia kira dia siapa? seumur hidup belum ada orang yang minta di peluk olehku, tapi orang ini menjaminkan kami bebas dengan aku memeluknya.” batin Laura dengan heran.


“ Tidak! kau tidak bisa melakukan itu pada Laura. Dia adikku, kau tidak pantas mendapatkan pelukan darinya.” Darvi menghadang.


“ Hei! bocah kecil, apa maksudmu? aku hanya meminta dia, bukan kamu.” melongo.


“ Kakak tampan, biarkan aku bicara padanya.” bisik Laura di telinga Darvi.


Darvi mundur dan percaya bahwa Wilson Break tidak akan menyakiti Laura.


“ Bisa katakan mengapa aku harus memelukmu? baru kali ini ada orang yang memintaku di peluk selain bibi Lisa.” tanya Laura.


“ Aku, aku tidak tahu. Tapi kau sangat manis dan cantik, aku, aku sangat merindukan dia.” tanpa sadar Wilson Break meneteskan air mata untuk pertama kalinya di hadapan orang lain.


Laura tertegun, Laura memutuskan untuk memeluk Wikson Break dan mengelus bahunya.


“ Aku tidak tahu kau merindukan siapa, tapi yang pasti orang yang Anda rindukan sekarang, dia pasti merindukanmu juga.” gumam Laura.


“ Nyaman banget, hati ini rapuh bisa merasakan pelukan dari seorang gadis kecil ini.” batin Wilson Break menyeka air matanya.


Laura melepaskan pelukannya. “ Kakek jangan nangis.”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2