Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part114


__ADS_3

Di kediaman Sanjaya.


Tuan Sanjaya khawatir pada istrinya yang tiba-tiba sakit, padahal kemarin baik-baik saja tidak menimbulkan gejala apapun. Dokter sudah meriksa nyonya Ratih dan tidak menemukan penyakit serius, hanya penyakit biasa yang sering terjadi pada orang di atas 40 tahun.


Zavier dan Lisa sampai di kediman Sanjaya, membawa buah-buahan yang segar dan makanan yang khusus di masak Lisa buat nyonya Ratih.


“ Sayang??.” Lisa cemas dan tidak berani masuk ke kediaman Sanjaya.


“ Tidak apa-apa, ada aku tenang saja.” Zavier merangkul Lisa.


Lisa menganggukan kepalanya dengan senyum terpaksa, Lisa harus kuat dan tidak boleh memperlihatkan takut pada siapapun. Darvi sudah tahu segalanya dan mengerti apa yang di rasakan sama ibunya, Darvi menggenggam tangan Laura dan menyuruhnya diam.


“ Aku minta sama kamu jangan banyak bicara saat di sini.” bisik Darvi di telinga Laura.


“ Memangnya kenapa kakak tampan? aku harus diam.”


“ Tidak apa-apa, tapi lebih tepatnya lagi kamu cerewet dan membuat telingaku pecah.”


“ Bukankah cerewet itu tandanya cinta ya?.”


“ Cinta palamu.”


“ Kenapa dari tadi anak-anak terus ribut?.” Lisa penasaran.


“ Tuan muda, Anda datang? silahkan masuk, nyonya besar ada di kamarnya sedang istirahat.” ucap pelayan.


Zavier membawa Lisa ke kamar nyonya Ratih untuk menjenguk. “ Ibu, apa ibu baik-baik saja? bagaimana keadaannya sekarang?.”


“ Zavier? kenapa kamu bisa ada di sini?.” nyonya Ratih agak kaget melihat Zavier tiba-tiba datang.


Zavier mendekati ibunya dan duduk di sampingnya. “ Aku dengar ibu sedang sakit, jadi aku sengaja datang ke sini menjengukmu ibu.”


“ Dari mana kau tahu??.”


“ Kakak, dia memberitahu Lisa kalau ibu sakit dan tidak bisa bangun dari ranjang.”


“ Haish! kakak mu itu memang keterlaluan, sudah kubilang jangan biritahu kamu, tapi dia malah memberitahumu sampai datang ke sini. Ibu tidak mau merepotkan kamu Zavier, makanya ibu sengaja tidak memberitahumu.” nyonya Ratih merasa puyeng.


“ Sudahlah bu, aku juga anak ibu, kenapa harus menyembunyikan hal ini dariku, aku tidak mau ibu kenapa-kenapa.” Zavier menggenggam tangan ibunya.


“ Lisa, bagaimana kabarmu? di mana Darvi?.” nyonya Ratih melirik Lisa yang terus berdiri di depan pintu.


“ Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan ibu mertua apa sudah baikan?.” Lisa menghampiri nyonya Ratih dan menjulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.


“ Aku tidak apa-apa, bawa Darvi kemari, mungkin aku merindukan Darvi sampai sakit seperti ini.”

__ADS_1


“ Darvi, kemarilah, nenek mau memelukmu dan melepas rindu padamu.” panggil Lisa.


Darvi masuk ke kamar dan membawa Laura. Darvi berdiri di samping Lisa dan menunggu nyonya Ratih meraihnya. Nyonya Ratih terus menatap Laura dengan wajah tidak suka, nyonya Ratih semakin kesal karena Darvi menggenggam tangan Laura dengan erat.


“ Siapa gadis kecil ini?? apa ini sodaramu Lisa?.” tanya nyonya Ratih.


“ Dia, dia, namanya Laura, dia teman Darvi.” jawab Lisa dengan gugup.


“ Oo, di mana orang tuanya? apa dia anak dari perusahaan besar?.” dengan tatapan sinis.


Lisa tertegun dan bingung harus jawab apa pada nyonya Ratih, sedangkan nyonya Ratih sangat pemilih dan tidak mengijinkan anggota keluarganya dekat dengan orang miskin.


“ Sudahlah bu, untuk apa tahu lebih banyak tentang gadis ini, dia gadis yang baik dan lebih lagi dia sahabat Darvi, jangan buat keributan karena masalah anak kecil.” jawab Zavier.


“ Itu tidak masalah, yang terpenting dia bukan anak tidak punya yang akan memanfaatkan Darvi cucuku.” gumam nyonya Ratih dengan ketus.


“ Ibu, aku bawa makanan untukmu, aku akan siapkan agar ibu bisa makan sekarang.” Lisa mengalihkan pembicaraan.


“ Baiklah.” saut nyonya Ratih.


Lisa menggiring Darvi dan Laura ke luar dari kamar, Lisa sengaja membawa Darvi ke halaman belakang untuk bermain dengan Laura.


“ Darvi main di sini saja sama Laura, ibu akan kembali setelah menyiapkan makanan untuk nenek.”


Darvi mengerti apa maksud dari perkataan ibunya. “ Baik bu, jaga diri ibu baik-baik di sana, tidak boleh ada orang yang menyakiti ibu. Aku tidak akan pernah memaafkannya sampai kapanpun.” Darvi bersikap layaknya pelindung bagi Lisa.


“ Aku juga akan jadi pelindung buat bibi Lisa, aku tidak mau bibi Lisa di sakiti sama orang jahat. Jadi biarkan Laura dan kakak tampan yang akan menjaga bibi Lisa.” ucap Laura dengan polosnya.


“ Ibu tidak butuh perlindungan dari kalian berdua, yang seharusnya melindungi itu bukan kalian tapi ibu, ibu janji tidak akan pernah bikin kalian menangis dan mengalami hal buruk seperti ibu.” batin Lisa sambil memeluk kedua anak itu.


Setelah menyiapkan makanan Lisa kembali ke kamar membawa makanan itu, saat Lisa sampai di depan pintu Lisa mendengar percakakapan nyonya Ratih dan Zavier.


“ Zavier, ayahmu sudah bicara dengan tuan Fhui, membicakan masalah perusahaan yang sekarang sudah maju bahkan omset nya naik drastis. Itu semua karena tuan Fhui mempunyai banyak Klien yang sudah di perkenalkan dengan ayahmu, mereka semua berinvestasi besar bahkan sampai 1.000 Yuan.”


“ Jadi apa maksud ibu berkata begitu padaku??.” dengan wajah yang suram.


“ Tuan Fhui meminta imbalan kamu harus menikah dengan Mika, tuan Fhui sadar kalau kamu tidak mencintainya dan sudah menikah dengan Lisa. Tapi Mika terus meminta tuan Fhui untuk menikahkannya denganmu Zavier, bahkan Mika sampai rela jadi istri kedua hanya untuk jadi istri sah kamu. Sebenarnya ibu kasihan sama Mika, dia begitu mencintaimu dan rela jadi istri keduamu. Aish! kasihan.”


Lisa mendengar semua percakakapan nyonya Ratih dan Zavier, Lisa terkejut mendengar nyonya Ratih meminta Zavier menikahi Mika untuk jadi istri kedua, Lisa menangis dan menjatuhkan makanannya tepat di kakinya.


Brukk!


“ Apa itu?? apa ada seseorang yang menguping?.” tanya nyonya Ratih.


Zavier ingat kalau Lisa akan kembali dengan cepat membawa makanan untuk nyonya Ratih, Zavier segera melihat keluar.

__ADS_1


“ Sayang?? sedang apa kamu di sini? di mana anak-anak?.” tanya Zavier dengan panik.


Lisa tak kuasa menahan tangisnya dan berlari keluar sambil menangis.


“ Sayang? tunggu aku! kamu mau pergi ke mana?.” teriak Zavier.


“ Menciptakan satu masalah lebih baik dari pada mereka harus terus bersama, aku sangat muak harus berpura-pura baik di depan jalang itu. Ternyata ada untungnya juga aku sakit, aku senang melihat mereka bertengkar, bertengkar sampai bercerai itu lebih bagus.” batin nyonya Ratih dengan senang.


Brian baru pulang dari bar terkejut melihat Lisa berlari keluar dari rumah sambil menangis. Brian menahan Lisa dan bertanya. “ Adik ipar kamu kenapa? kenapa bisa nangis seperti ini?.”


“ Brian! lepaskan istriku sekarang juga!.” teriak Zavier.


“ Oo, maaf Zavier, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong jangan salah paham padaku, aku hanya khawatir melihat adik ipar menangis dan keluar dari rumah mertuanya, aku pikir ibu menyakitinya.” Brian melepaskan Lisa dan melambaikan tangannya.


“ Itu bukan urusanmu, lebih baik urusi hidupmu jangan campuri masalah keluargaku. Apa kau mengerti?.” dengan nada dingin.


“ Ayolah Zavier, kenapa kau harus seperti ini padaku, aku ini kakak mu, tidak baik bersikap seperti itu. Apa karena masalah waktu itu? kau jadi benci padaku, aku sudah jelaskan padamu kalau aku benar-benar mabuk dan tidak mengenali siapapun.” Brian membujuk Zavier.


“ Cukup! berhenti bicara omong kosongmu Brian, aku tidak akan memaafkanmu sampai kapanpun, camkan itu.” peringatan Zavier untuk Brian.


Lisa membawa mobil dan menyuruh Li turun dari mobil itu, Li ketakutan dan segera turun dengan keringat dingin. Lisa membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Lisa terus menancap gas sampai mobil oleng.


“ Tuan, itu nyonya.”


“ Diam! kenapa kamu malah turun dan memberikan mobil itu pada Lisa?.”


“ Aku tidak tahu kalau nyonya akan pergi.”


“ Sudahi omong kosongmu itu, kau pergi bawa anak-anak pulang ke kediaman Lisa.”


“ Baik tuan.” Li segera melaksanakan perintah Zavier.


Tidak ada mobil yang terparkir di depan rumah, semuanya ada di garasi dan di kunci, Zavier terpaksa membawa mobil Brian.


“ Hei! mau di bawa ke mana mobil milikku??.” teriak Brian.


Zavier tidak memperdulikan Brian dan pergi dengan kecepatan tinggi. Zavier khawatir dan sempat memukul setir beberapa kali karena merasa bersalah pada Lisa, Zavier tahu kalau perkataan ibunya sudah di dengar oleh Lisa.


“ Sial! ini semua gara-gara ibu, dia sengaja berkata seperti itu saat Lisa kembali ke kamar. Aku terlalu lengah sampai Lisa mendengar hal bodoh itu dari mulut ibu.” gumam Zavier.


Zavier kehilangan jejak saat mengejar Lisa di jalanan raya, jalanan begitu macet menyebabkan Zavier tidak bisa mengejar Lisa.


“ Sial! aku tidak bisa menerobos lampu merah di sini, aku terlambat karena Brian terlalu banyak omong sampai membuatku kehilangan mobil Lisa.” Zavier semakin panik dan takut terjadi apa-apa pada Lisa.


“ Sayang, kamu harus baik-baik saja. Tidak boleh terjadi sesuatu padamu.” gumam Zavier dengan gelisah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2