
Lisa mengelus kepala Zavier dan menciumnya. “ Aku telah memaafkanmu dengan tulus, tapi tolong! tolong jangan buat aku kecewa untuk kesekian kalinya.”
“ Iya-iya, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku berjanji padamu aku akan berubah jadi pria yang baik dan bertanggung jawab padamu dan anak kita.” Zavier tak kuasa menahan tangisnya karena penyesalannya.
Zavier sangat takut kehilangan Lisa, apa lagi kehilangan kepercayaan yang telah Lisa berikan padanya. Zavier tidak berhenti menangis di pelukan Lisa, tapi Lisa merasa bersalah karena mengungkit kejahatan Zavier di depannya.
“ Sudahlah, jangan menangis lagi.” Lisa mengusap air mata Zavier.
“ Maafin aku sayang.” berkali-kali Zavier meminta maaf pada Lisa.
“ Iya aku sudah memaafkan kamu, jadi sudahi tangismu dan mari kita mandi.”
Zavier dan Lisa membersihkan diri dan berendam bersama, di penuhi dengan bunga mawar merah membuat mereka semakin romantis di dalam bak rendam mandi.
Setelah beberapa saat Lisa dan Zavier selesai berhias dan segera turun ke bawah untuk sarapan pagi. Zavier menyiapkan sarapan dengan telaten dan penuh kasih sayang.
“ Makanlah sayang.” ujar Zavier.
“ Iya. Makasih.”
“ Biarkan aku menyuapimu.” Zavier mengambil makanan punya Lisa.
“ Baiklah.” balas Lisa dengan gembira.
Ketika Lisa sedang asik menikmati suapan dari Zavier, tiba-tiba Darvi datang dan berteriak.
“ Ibu! aku sudah pulang!.” dengan gembira karena membawa banyak mainan.
Lisa segera menyingkirkan tangan Zavier dan bersikap tidak terjadi apa-apa. “ Darvi, kau sudah pulang nak?.”
“ Iya bu.”
“ Wah! mengapa kamu membeli mainan begitu banyak? sudah ibu katakan bukan jangan serakah dan boros, kamu masih kecil, jadi tidak boleh beli mainan sebanyak ini.” Lisa memarahi Darvi karena Darvi tidak menuruti perkataannya.
“ Tidak bu, aku tidak membelinya. Ada orang yang memberi mainan padaku, tapi aku tidak tahu orang itu siapa, aku tidak mengenalnya.” penjelasan Darvi membuat Lisa melongo.
Zavier berhenti makan setelah mendengar perkataan Darvi. “ Siapa? siapa yang memberi mainan pada putraku?.” batin Zavier.
“ Puy, apa kamu mengenal orangnya? siapa dia?.” tanya Lisa.
__ADS_1
“ Iya nyonya, dia,, dia, dia adalah tuan Arya yang sebelumnya pernah nyonya tolong.” sangat menegangkan.
“ Arya? dimana kalian bertemu? karena dia baru saja pulang dari sini.”
“ Kita bertemu di depan Mall. Dia sedang membeli pakaian dan tiba-tiba dia ngajak Darvi untuk membeli mainan. Tapi nyaa, Darvi sempat menolak dan hendak pergi tapi tuan Arya malah menggendongnya dan membawa masuk ke Mall.” dengan gugup.
Lisa sempat berpikir sejenak dan menyuruh Puy membawa Darvi masuk ke kamarnya. “ Baik, aku mengerti. Puy tolong bawa Darvi ke kamar untuk bermain.”
“ Baik nyonya.” Puy membawa Darvi ke kamarnya.
“ Zavier apa kau tahu kenapa Arya membelikan mainan untuk Darvi? kok aku merasa ada yang aneh ya.”
“ Tidak sayang, kalau menurutku si wajar saja dia seperti itu, toh kamu pernah menolongnya bukan.”
“ Iya juga si, tapi aku merasa tidak nyaman aja kalau Arya mendekati Darvi.”
“ Sepertinya Lisa sudah curiga kalau Arya berniat jahat padanya. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus menemui dia secepat mungkin.” batin Zavier.
“ Kamu berpikir berlebihan sayang, mungkin kebetukan saja Arya bertemu Darvi, jadi dia mentraktir Darvi beli mainan.” Zavier mencoba membuat Lisa tidak berpikir yang bukan-bukan.
“ Iya, mungkin itu benar. Karena aku menolongnya murni dari hati, aku tidak berharap balas budi dari dia.”
“ Aku tahu, sudah lanjutkan makannya.”
“ Mengapa terburu-buru sekali? kau baru saja datang, tapi kamu malah mau pergi ninggalin aku.” sedih.
“ Sayang-sayang, hei! jangan sedih seperti itu, nanti malam aku datang ke sini lagi ya. Kamu jangan sedih seperti itu, bukankah cuma beberapa jam aku tinggal.” Zavier mengelus pipi Lisa dan membujuknya agar mengizinkannya untuk pergi.
Lisa menganguk dan memeluk Zavier dengan erat. “ Jangan lama-lama. Aku menunggumu di sini.”
“ Iya sayang.” Zavier mencium kening Lisa.
Zavier pergi dengan wajah yang sedih karena tidak tega meninggalkan Lisa yang tidak ingin jauh darinya. “ Aku harus segera menyelesaikan masalah ini.” Zavier berjalan terburu-buru sekali.
“ Li, antar aku ke Departemen Arya. Sekarang!.”
“ Siap tuan.” Li bergerak cepat tanpa banyak tanya.
Zavier turun dari mobil dan menghampiri Arya yang sedang melihat proyek di lokasi. Dengan wajah yang suram membuat Zavier semakin menakutkan.
__ADS_1
Pak muhid yang bertugas sebagai pembuat proyek dan orang yang di percaya oleh Arya, memberitahu kalau ada orang di belakang Arya.
“ Tuan, ada yang mencarimu. Kalau begitu saya pamit dulu.” ujar pak Muhid.
“ Sudah kuduga, dia akan mencariku dan akan melarangku untuk tidak dekat dengan Darvi.” batin Arya.
Arya berbalik badan dan melihat Zavier dengan senyum yang sinis. “ Tuan? apa Anda mencariku?.”
Zavier hanya menatap Arya dengan penuh kebencian, tanpa kata dan gerakan Zavier sengaja mengabaikan Arya.
“ Tuan, apa yang ingin kau katakan? katakan saja padaku! tidak perlu memendamnya.” Arya sengaja mendekati Zavier dan membuat Zavier emosi padanya.
Arya terus mengoceh dan berkata yang tidak baik, kata-kata yang tidak di sukai Zavier di lontarkan dari mulut Arya. Zavier sangat geram dan tidak tahan melihat kelakuan Arya yang membuat dirinya kesal.
“ Kurang ajar!!.” Zavier memukul Arya sampai berkali-kali.
“ Terus-terus, aku ingin lihat seberapa bencinya kamu padaku. Pukul aku sampai kau puas.” batin Arya.
Arya sengaja mengalah dan tidak membalas pukulan Zavier, hanya karena ingin menjatuhkan nama baik Zavier. Seseorang yang bersembunyi di semak-semak, sengaja mengambil poto Zavier ketika memukul Arya.
“ Hah! apa itu?.” Li melihat kesekeliling karena terdengar suara Camera.
“ Hei! siapa kamu? tunggu jangan lari!.” Li mengejar pria bertopi yang membawa Camera.
Zavier mendengar teriakan Li menoleh kebelakang dan berhenti memukul Arya. Dengan sigap Arya memukul Zavier yang tidak pokus.
Pukulan Arya membuat Zavier sampai terjatuh ke bawah, Arya menarik dasi Zavier dan memukul wajah Zavier sampai berkali-kali.
“ Jangan macam-macam denganku! itu balasannya jika kau berani menghancurkanku.” Arya pergi meninggalkan Zavier yang bersimpuh darah.
Sementara Li terus mengejar pria bertopi tanpa menyadari kalau Zavier terluka parah. “ Mau lari ke mana kamu? hah! sekarang berikan Camera itu lalu aku akan mengampunimu.”
“ Coba saja kalau kamu berani!.” pria bertopi itu tidak takut jika dirinya kalah dari Li.
Li dan pria bertopi saling mukul satu sama lain, sampai akhirnya pria bertopi di kalahkan oleh Li. Li segera mengambil Cameranya dan menghapus semua yang ada di memori itu, kemudian Li membanting Camera sampai pecah parah.
“ Aku akan memberikanmu hukuman nanti. Bodyguard, bawa dia pergi ke markas.” Li sangat lega akhirnya pria bertopi bisa di kalahkan.
“ Siap tuan.”
__ADS_1
“ Tuan, apa kau baik-baik saja? Maafkan aku karena aku tidak melindungi Anda dengan baik.” Li membantu Zavier berdiri untuk pergi ke Rumah sakit.
BERSAMBUNG