
“ Sayang, kenapa kamu tadi?.”Lisa bertanya tapi Zavier tidak mengijinkannya.
“ Jangan bilang kalau aku terlalu kejam pada mereka. Mereka pantas mendapatkannya karena tidak menghargaimu.” Zavier menutup mulut Lisa dengan telunjuknya.
Lisa menunduk dan tidak menatap mata Zavier.
“ Aku tidak suka kamu di tindas sama orang lain, aku hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan. Percayalah, jika mereka tidak jahat padamu aku tidak akan berlaku jahat pada mereka.” Zavier tidak ingin Lisa mengira kalau dirinya masih sama seperti dulu, menindas orang tanpa perasaan.
“ Aku mengerti. Maaf sudah membuatmu khawatir.” balas Lisa merasa bersalah.
Zavier memeluk Lisa dan mengelus perutnya, mencium dan bergumam seolah-olah sedang bermain dengan calon bayinya.
Asisten Li mengirimi pesan pada Zavier. “ Tuan, Alea berkata kalau orang yang Anda cari ada di perusahaan nyonya Lisa.” isi pesan singkat.
Seketika Zavier tertegun setelah membacanya.
“ Siapa? apa sesuatu terjadi di perusahaan?.” tanya Lisa.
“ Tidak ada, hanya saja aku ada Meeting dengan Klien hari ini. Mungkin 15 menit lagi aku sudah harus sampai di ruang Rapat.” Zavier menggelengkan kepala dan berusaha menahan emosinya.
“ Begitu, ya sudah antar aku ke perusahaan terlebih dulu, setelah itu kamu boleh pergi Meeting. Tidak keberatan 'kan?.” menunggu jawaban.
“ Sayang, sebenarnya aku tidak mau kamu bekerja terlalu lelah. Bagaimana kalau hari ini aku antar kamu pulang ke Villa, setelah selesai Meeting aku akan pulang lebih cepat dari biasanya.” mengalihkan pembicaraan karena Zavier masih ada urusan yang harus di selediki.
“ Tapi?.” dengan bingung.
“ Tidak ada tapi, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Patuhlah padaku, maka semuanya akan baik-baik saja.” mengelus kepala Lisa dan menciumnya.
Lisa menganggukan kepala karena tidak mau melawan Zavier.
“ Siapa? siapa yang di maksud gadis itu? bukankah Lisa berada denganku sekarang, siapa yang pergi ke perusahaan Lin?.” batin Zavier dengan penasaran.
Zavier segera pergi ke perusahaan Lin setelah mengantar Lisa pulang.
“ Tuan, Anda sudah datang?.” Asisten Li menghampiri Zavier saat Zavier sampai di perusahaan.
“ Bagaimana? apa kamu sudah pastikan tidak ada orang yang keluar dari sini?.” tanya Zavier dengan serius.
“ Sudah tuan, semua orang yang ada di sini telah di periksa semuanya. Tinggal tunggu beberapa orang lagi yang belum di periksa.” jawab Asisten Li.
Zavier masuk dan melihat pengecekan yang di lakukan anak buahnya, tidak ada kecurigaan karena Asisten Li sangat pintar dalam menyelesaikan tugasnya.
“ Lapor tuan, tidak ada yang mencurigakan di sini. Hanya karyawan dan beberapa tamu yang datang, tapi mereka orang biasa tidak mungkin orang yang Anda cari.” ucap pengawal.
“ Apa?! cari sekarang juga. Aku tidak mau tahu kalian harus menemukannya, apapun caranya aku harus dapatkan orang itu sebelum 1 jam.” bentak Zavier memukul pengawal itu.
1 jam berlalu, para pengawal itu tidak menemukan orang yang di maksud Zavier.
“ Dasar tidak berguna! cari satu orang saja tidak bisa. Benar-benar bodoh! pergi kalian.” bentak Zavier menendang pengawal itu.
__ADS_1
“ Tuan, maksud Anda kami di pecat?.” tanya pengawal tercengang.
“ Apa lagi yang kalian tunggu? cepat enyahlah dari hadapanku.” dengan tatapan suram.
Para pengawal itu berlarian pergi karena ketakutan, mereka tidak bisa mempertahankan pekerjaannya karena Zavier terlalu angkuh dan kejam.
Di satu sisi, Arya melihat Zavier dari sebrang jalan, menertawai Zavier yang tidak bisa menemukannya. Tapi Arya panik karena rahasianya hampir terbongkar karena ulah Alea.
“ Gadis itu benar-benar bersekongkol dengan Zavier, ternyata dia berusaha mencariku selama ini. Tidak, ini tidak bisa di biarkan, aku harus mendaptkan gadis itu sebelum rahasiaku terbongkar.” batin Arya sedikit cemas.
“ Kalian, pergi tangkap gadis yang bernama Alea. Malam ini aku ingin menemuinya.” gumam Arya sambil menatap Alea yang tengah berdiri di samping Li.
“ Baik tuan.” balas pengawal mengangguk.
“ Kita lihat saja, seberapa hebatnya kamu Zavier.” batin Arya menyeringai.
Asisten Li menunduk dan takut di pecat seperti pengawal lainnya, melihat Zavier pergi meninggalkannya Asisten Li tenang dan berpikir kalau Zavier memaafkan kesalahannya.
Di kediaman Sanjaya.
Nyonya Ratih pulang bersama Mika, membawa belanjaan yang begitu banyak bahkan pelayan dari toko ikut membantunya.
“ Bagus bagus, sudah berapa lama kalian pergi?.” ucap tuan Sanjaya melotot.
“ Suamiku, apa yang kau bicarakan? aku baru saja pergi dalam 3 jam. Tidak lama, apa kau menungguku?.” nyonya Ratih tertawa dengan merasa bersalah.
“ Apa yang terjadi padanya? benar-benar tua bangka pemarah, sudah tua tapi prilakunya seperti masih muda. Menjengkelkan sekali.” batin Mika menggertak gigi.
“ Kalian simpan saja barangnya dan pergi dari sini.” ucap nyonya Ratih ke pelayan itu.
“ Baik nyonya.” pelayan itu segera pergi dari kediaman Sanjaya.
“ Suamiku, sekarang bisa katakan apa kesalahanku.” nyonya Ratih mendekat dan duduk di samping tuan Sanjaya.
“ Kau bisa lihat sendiri.” menunjuk ke ponsel yang tergeletak di meja.
Nyonya Ratih mengambil ponselnya dan terkejut dengan berita yang menyalahkan dirinya.
“ Ini, ini tidak benar. Aku tidak melakukan itu suamiku, tolong percaya padaku. Ini pasti ulahnya dia, dia sengaja memfitnahku dan Mika.” nyonya Ratih terlihat panik setelah melihat berita itu.
Mika penasaran karena nyonya Ratih sangat panik sampai menyebut namanya.
“ Ini! ayah mertua apa yang ibu mertua bilang itu benar, aku dan ibu mertua tidak melakukan itu pada Lisa, ini berta palsu, ini tidak benar.” Mika berusaha membela diri.
“ Apa kalian pikir aku bodoh, di photo itu terlihat jelas Mika sengaja mendorong Lisa. Aku tidak peduli pada apa yang kalian lakukan, tapi kalian membuatku rugi dengan ulah yang tidak senonoh ini.” tuan Sanjaya marah dan merasa di bodohi oleh istrinya dan Mika.
“ Hah, suamiku, jika ada masalah tolong jangan libatkan Mika, dia tidak sengaja mendorong Lisa, itu karena Lisa terlalu lemah dan membuat Mika di salahkan seperti ini.” nyonya Ratih tidak terima Mika di salahkan karena Lisa.
Brian berjalan masuk ke rumah, melihat suasana yang tegang Brian sudah tahu ada masalah di antara nyonya Ratih dan Mika. Brian pergi begitu saja tanpa menyapa orang yang ada di depannya.
__ADS_1
“ Brian, bawa istrimu masuk ke dalam.” ujar tuan Sanjaya.
“ Baik ayah.” Brian menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Mika.
“ Ayo, kita masuk ke kamar.” bisik Brian di telinga Mika.
“ Aku tidak mau, aku mau pulang.” bentak Mika berontak.
“ Jangan buat ayah mertuamu semakin marah, jika tidak kau akan tamat di sini juga.” Brian mencengkram tangan Mika sekuat tenaganya.
Brian mencengkram tangan Mika dan melepaskannya setelah sampai di kamar.
“ Brian, kamu keterlaluan sekali! untuk apa bawa aku ke kamar? sudah kukatakan padamu aku mau pulang, aku tidak betah tinggal di sini.” teriak Mika melempar tas ke wajah Brian.
Brian mengambil tas Mika dan melempar balik.
“ Kamu!.” Mika memegang kepala karena kesakitan.
“ Kamu pikir selama ini aku diam karena tidak berani padamu? jangan menganggap dirimu hebat Mika.” dengan tatapan suram.
“ Kamu! apa yang mau kamu lakukan? jangan mendekat!.” Mika ketakutan setelah Brian memolototinya.
“ Kamu kira apa yang akan aku lakukan?.” Brian menarik rambut Mika dan mendongakkan wajah Mika.
“ Sakit! lepaskan, lepaskan Brian, ini sakit sekali.” Mika memukul tangan Brian tapi Brian enggan melepaskan rambutnya.
“ Sakit? sudah tahu sakit, kenapa kamu malah berani padaku? sudah kukatakan jangan buat masalah denganku, apa lagi menyinggungku, tapi perkataanku kamu anggap angin lewat. Benar-benar menganggapku lemah.” Brian semakin kencang menarik rambut Mika.
“ Ayah, ibu, tolong aku! Brian menyakitiku. Tolong!.” teriak Mika dengan keras.
“ Berteriaklah sekeras mungkin, aku ingin lihat siapa yang akan mendengar teriakanmu itu.” menyeringai.
Brian merobek baju Mika dan mengurung Mika di dalam toilet.
“ Tidak! jangan tutup pintunya Brian! cepat buka! aku mau pulang.” Mika memukul pintu toilet dengan histeris.
“ Baik-baik di situ, jangan buat masalah lagi, jika tidak aku tidak akan segan mengurungmu selamanya di situ.” ucap Brian sambil memainkan kunci pintu toilet.
Brian keluar dari kamarnya dengan bangga, merasa sudah puas dengan mengurung Mika di dalam kamar, Brian pergi ke Bar untuk cari kesenangan.
“ Dasar bajing*n! aku akan membunuhmu Brian!.” teriak Mika.
“ Pelayan, beritahu nyonya besar untuk jangan ganggu Mika. Dia sedang istirahat dan mungkin akan lama bangunnya, biarkan dia tidur untuk sementara waktu, sebelum aku pulang jangan biarkan nyonya besar masuk melihat Mika. Mengerti?.” ujar Brian.
“ Mengerti.” jawab pelayan.
“ Saatnya bersenang-senang.” batin Brian berjalan keluar dari rumah.
BERSAMBUNG
__ADS_1