
Keesokan harinya.
Mika datang ke Rumah Sakit dengan pakaian ****, Mika tidak menghargai kematian keluarganya karena memakai baju yang tidak sopan.
“ Nona, untunglah Anda sudah datang. Tuan Fhui sudah sadar, dia mencarimu dari tadi.” ucap suster menghela nafas.
“ Ayah? di mana dia?.” dengan senang.
“ Di ruangannya.” jawab suster.
Mika berlari masuk ke ruangan pasien.
“ Ayah? ayah kau sudah sadar?.” Mika menangis melihat tuan Fhui berdiri sambil melamun.
“ Mika, putriku.” tuan Fhui memeluk Mika dengan hangat.
“ Ayah, ibu?.” Mika tidak mampu berkata tentang nyonya Fhui.
“ Ya, ayah tahu. Kita harus ikhlas sayang, bagaimana pun ibumu sudah tenang di sana.” ucap tuan Fhui dengan pasrah.
“ Ayah sudah ikhlas?.” bertanya karena tidak percaya.
“ Iya, ayah masih punya kamu putriku satu-satunya.” mengusap air mata yang tidak sengaja terjatuh.
“ Aku menyayangi ayah.” Mika memeluk tuan Fhui dengan bahagia.
Di pemakaman.
Lisa tiba tepat waktu di pemakaman sebelum Mika dan jenazah nya sampai.
“ Seharusnya kita tidak perlu datang sepagi ini. Lihat cuacanya sangat dingin, sangat nikmat kalau kita tidur bersama dan melakukan sesuatu yang hangat.” mengecup leher Lisa.
“ Sayang, kita lagi di makam, tidak boleh melakukan itu.” Lisa mendorong kepala Zavier.
“ Kalau begitu kita bisa melakukannya setelah sampai di rumah?.” berharap.
“ Baiklah, terserah kamu saja. Jangan lupa nanti sepulang dari sini kita harus pergi ke Rumah Sakit untuk periksa kandungan.” mendekatkan kepala.
“ Iya, aku tidak lupa.” balas Zavier mencium kening Lisa.
Mobil Ambulance tiba di pemakaman, Lisa segera turun dari mobil melihat peti jenazah di keluarkan dari mobil Ambulance.
“ Kamu! kenapa kalian di sini?.” tanya tuan Fhui dengan terkejut.
“ Tuan, Anda sudah sembuh? aku datang kemari berbela sungkawa atas kematian keluarga Anda.” dengan sopan dan menunduk.
__ADS_1
“ Itu bukan urusanmu, aku mau sakit atau sembuh bukan urusan kalian. Untuk apa kalian ke sini? kalian hanya ingin menertawakan kehancuran keluargaku, benar 'kan?.” tuan Fhui semakin marah setelah Lisa menjawab pertanyaannya.
“ Tidak! aku tidak seperti itu. Anda salah paham pada kami.” mengibaskan tangan dengan panik.
“ Sudah, jangan debat dengan dia.” ucap Zavier meraih Lisa dan memeluknya.
“ Ayah, sudah jangan marah lagi. Kasihan ibu dan nenek, ayo kita lakukan pemakamannya sekarang.” Mika memapah tuan Fhui mendekati jenazah keluarganya.
“ Tapi mereka? mereka harus pergi dari sini. Karena mereka penyebab kehancuran keluarga kita Mika.” menunjuk ke arah Lisa dan Zavier.
“ Jangan berbicara lagi ayah, biarkan mereka di sini.” gumam Mika.
“ Dasar tua bangka tidak tahu diri! seharusnya kau senang aku bisa datang ke sini. Jika tidak siapa yang akan mengantar kematian keluargamu? tidak ada orang yang peduli pada kalian, kalian hanyalah sampah yang tidak berguna sekarang.” batin Zavier dengan wajah suram.
Pemakaman selesai di lakukan, Lisa dan Zavier pergi lebih awal karena harus pergi ke perusahaan.
“ Sayang, hari ini kamu jangan pergi ke perusahaan ya. Kamu pergi denganku saja, nanti siang kita makan bersama di kantor.” ucap Zavier sembari menyetir mobil.
“ Tidak bisa, pekerjaanku banyak. Puy akan kesulitas menyelesaikannya tanpa aku.” menolak karena tidak tega pada Sekertatis Puy.
“ Dia bekerja mendapatkan upah, lalu untuk apa kamu memperkerjakan dia kalau kamu masih cape dengan urusan perusahaan?.” Zavier tidak mau di bantah saat menginginkan sesuatu.
“ Itu perusahaanku! Puy hanya bekerja membantuku! tidak sepenuhnya mengerjakan semua urusan perusahaan.” balas Lisa agak sedikit ngegas.
Zavier terdiam dan pokus menyetir, menghentikan mobilnya saat tiba di Rumah Sakit.
Suster itu segera pergi mengambil kursi roda untuk Lisa.
“ Ini tuan.” menunduk dan pergi.
“ Ayo sayang, duduk.” Zavier menyuruh Lisa duduk.
“ Sebenarnya ini tidak perlu, aku masih kuat jalan kok.” menolak dengan pasrah duduk di kursi roda.
“ Jangan terlalu cape, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.” mendorong kursi itu masuk ke dalam.
Zavier tidak mau dengar ucapan Lisa, terus mendorong kursi itu sampai di ruangan dokter kandungan.
“ Dok, hari ini jadwal cek kandungan istriku.” ujar Zavier duduk di kursi.
“ Baik tuan, silahkan nyonya berbaring di ranjang. Hari ini kalian akan mendengar detak jantung dari si buah hati kalian. Apa kalian siap?.” berdiri dan mempersilahkan Lisa tiduran.
“ Detak jantung?!.” dengan terkejut.
“ Benar, usia kandungan istri tuan sudah memasuki 16 minggu. Mungkin saja janinnya sudah bisa di cek detak jantungnya.” balas dokter.
__ADS_1
“ Sayang? anak kita sudah ada detak jantungnya. Akhirnya aku akan mendengar detak jantung anakku secra langsung dari perutmu.” Zavier sangat bahagia dan mencium Lisa sebagai tanda bersyukur.
“ Iya aku tahu, ini bukan kali pertamanya untukku.” jawab Lisa sembari tiduran di ranjang.
“ Loh! kenapa bicara seperti itu? aku jadi sedih dan merasa bersalah banget sama kamu.” ekspresi Zavier langsung berubah menjadi sedih.
“ Sudah, jangan bahas itu lagi. Kandunganku sudah hampir besar, tidakkah kamu mengumumkan kehamilanku ini?.” mengalihkan pembicaraan.
“ Itu, aku, nanti aku cari waktu untuk mengumumkannya.” menunduk.
“ Kapan? nunggu anak ini lahir?.” tidak senang.
Zavier memalingkan muka dan menatap dokter.
“ Dok, lakukan sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat anakku.” Zavier membuka baju Lisa agar dokter segera melakukan pengecekannya.
“ Baik tuan.” dokter itu segera mulai pengecekan di perut Lisa.
Zavier senang pertama kalinya ia mendengar detak jantung anaknya secara langsung, pandangan Zavier tidak henti dari laptop usg yang memperlihatkan anaknya.
“ Dok, kenapa janinnya ada dua?.” tanya Zavier menunjuk ke laptop usg.
“ Benar tuan, anak kalian kembar. Selamat ya.” dokter itu tersenyum.
“ Kembar? maksudmu anaknya ada 2?.” Zavier tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“ Iya, kemungkinan jenis kelaminnya perempuan dan laki-laki. Itu hanya 80% di agnosaku, aku tidak bisa memastikan karena janinnya masih terlalu dini.” dokter itu hanya mengatakan hal itu karena tidak mau salah saat mengecek kandungan Lisa.
Lisa menatap janinnya sambil mengelus perutnya.
“ Kembar?.” gumam Lisa tertegun.
“ Dokter apa kau tidak salah?.” Lisa tidak percaya jika kandungannya anak kembar.
“ Nyonya, mana mungkin saya salah. Saya seorang dokter, Anda bisa lihat sendiri kalau janinnya ada 2, suami Anda juga tahu itu.” balas dokter dengan agak sedikit kesal.
“ Aku tahu, maafkan aku.” menunduk.
“ Jangan seperti itu, kamu tidak salah.” menyentuh kepala Lisa dengan lembut.
“ Ini salahku, maafkan saya nyonya.” dokter itu ketakutan setelah Zavier memolototinya.
“ Hanya seorang dokter saja berani membuat istriku sedih, harus di kasih pelajaran baru tahu rasa dia.” batin Zavier menggertak gigi.
Dokter itu menciut dan panik, perasaannya tidak enak setelah di tatap Zavier.
__ADS_1
BERSAMBUNG