
Di kediaman Arya.
“ Hahah! aku ingin sekali melihat ekspresniya saat ini! dia pasti ketakutan, panik dan cemas. Itulah yang aku inginkan, dia harus merasakan bagaimana kehilangan orang yang paling berharga di hidupnya.” Arya tertawa lepas sambil duduk di sofa mewah yang hanya ada satu di dunia.
Arya menyalakan korek api dan meniupnya kembali.
“ Sekarang aku punya uang, berkat istrimu yang cantik itu akhirnya aku bisa kembali membangkitkan bisnisku ini. Itu sebabnya aku tidak tega jika harus menyerahkan Lisa pada dia, setelah aku tahu kalau kamu menyayangi putra kecilmu itu, muncul 'lah ide di otakku. Mengirimkan anak itu pada dia untuk jadi tameng.” menyeringai sambil menatap korek api yang mengeluarkan asap.
Di penjara bawah tanah milik tuan Wilson Break.
Wilson Break berjalan mendekati Darvi dan Laura yang tengah pingsan di dalam penjara, melihat dengan tatapan sinis membuat Darvi terbangun.
“ Di mana aku? gelap? kenapa gelap sekali?.” Darvi terduduk sambil mengucek mata.
Wilson Break menjentikan jari agar pengawalnya menyalakan lampu.
“ Hmm, ini di mana? kamu siapa?.” menunjuk ke arah Wilson Break.
“ Bocah kecil, bisa tidak berbicara sopan pada orang yang lebih tua darimu?.” melotot dengan suram.
“ Sepertinya dia bukan orang baik, tempat ini juga asing bagiku. Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, siapa dia sebenarnya? kenapa membawaku ke sini?.” batin Darvi bertanya-tanya.
“ Kakek, aku tidak tahu siapa kamu, aku juga tidak mengenalmu. Mengapa kau membawaku kemari?.“ berbicara dengan santai.
“ Siapa yang kakekmu? aku masih muda, belum punya cucu. Jangan sembarang berkata kamu bocah kecil!.” Wilson Break tidak senang di panggil kakek untuk pertama kalinya.
“ Hmm, jika bukan kakek terus apa? kau setua ini masih belum punya cucu, sangat di sayangkan sekali.” mengelengkan kepala dengan heran.
“ Dasar kau bocah tidak tahu diri!.” Wilson Break menjentik jidat Darvi.
Darvi terdiam dan berekspresi suram pada Wilson Break. Menatap seperti ingin menyerang mangsanya.
Wilson Break mundur dengan panik, takut setelah melihat Darvi yang memolototinya persis seperti Zavier saat masih kecil.
“ Aku di mana? eh! kakak tampan kau di sini juga!.” sadar setelah melihat Darvi yang duduk.
“ Laura, kau sudah sadar?.” melirik Laura.
“ Dia? siapa?.” gumam Wilson Break pada pengawalnya.
“ Tuan, dia anak jalanan yang di pungut oleh istri Zavier.” jawab pengawal.
“ Anak jalanan? betulkah?.” Wilson Break merasa ada yang aneh dengan dirinya setelah melihat Laura.
“ Kakak tampan, apa dia kakekmu? dia masih muda. Tapi tidak terlihat mirip denganmu.” menyamakan wajah Darvi dan Wilson Break.
“ Tentu saja tidak mirip! aku tidak mengenalnya.” balas Darvi dengan kesal karena di samakan dengan penjahat.
__ADS_1
“ Diam! kalian jangan berisik di sini. Tunggu ayahmu datang baru kalian bisa pulang dengan selamat, tapi jangan lupa, aku mau membebaskan kalian dengan nyawa ayahmu.” memperingati dengan bentakan.
“ Ayahku? kau tahu siapa ayahku? apa kau tidak tahu kalau ayahku CEO di perusahaan Sanjaya? berani menculikku sama saja mencari mati.” dengan bangga.
“ Hei! bocah kecil! kamu itu pintar ngomong juga ya. Tidak sama seperti anak lain pada umumnya, yang hanya tahu bermain dan makan. Sikapmu ini dari mana kau mendapatkannya?.” menggertak.
“ Sudah kubilang ayahku Zavier! dia akan datang menghajarmu di sini.” teriak Darvi.
“ Sungguh membosankan! tidak seru jika bermain dengan bocah sepertimu. Kau terlalu banyak tahu urusan orang dewasa, membuatku waspada saat berbicara denganmu.” berbisik di telinga Darvi.
“ Berikan mereka makanan atau apapun itu, jangan sampai mereka mati di tempatku.” pergi dengan mengibaskan tangan
“ Baik tuan.” sahut pengawal.
Laura tercengang setelah mendengar ucapan Darvi bersama Wilson Break.
“ Kakak tampan?.” dengan ragu.
“ Sudahlah, sekarang bukan saatnya menangis.” memotong tanpa perasaan.
“ Tapi?.”
“ Tidak ada tapi, kamu harus ingat Laura. Sekarang kita di culik, penjahat itu ingin menjebak ayahku agar datang kemari menyelamatkan kita. Jika itu sampai terjadi, ayahku pasti akan kehilangan nyawanya. Jadi kita harus kabur dari sini sebelum ayahku datang kemari.” gumam Darvi membuat Laura mengerti.
“ Hmm, iya, hiks hiks!.” mengangguk dengan paksa.
“ Hampir gelap, tapi aku belum menemukan Darvi.” batin Zavier melamun.
“ Tuan, bisakah kita menyergap sekarang?.” Asisten Li mengagetkan Zavier yang melamun.
Zavier menganggukan kepala.
“ Ayo kita pergi sekarang.” ucap Asisten Li ke pengawal.
Asisten Li mengarahkan semua pengawal untuk berjaga di luar, memastikan Arya dan rekannya tidak bisa kabur dari tempat persembunyiannya.
Zavier maju paling depan, berharap tidak terjadi apa-apa pada anak-anaknya. Menodongkan pistol pada saat masuk ke ruangan itu, Zavier sangat waspada dan tidak ingin terluka karena Arya lagi.
“ Cari Darvi di seluruh ruangan. Jangan terlewatkan.” ucap Zavier melambaikan tangan.
Asisten Li mengangguk bersama para pasukannya. Zavier tidak berhasil menemukan Arya di tempat itu, semua ruangan kosong bahkan dengan barang-barangnya.
“ Kita terlambat. Dia sudah pergi dari sini.” menurunkan pistolnya dengan kecewa.
“ Tuan, apa yang harus kita lakukan? apa kita akan mencari Arya ke kota barat?.” Asisten Li menghampiri Zavier.
“ Kenapa bertanya lagi? enyahlah! aku ingin tahu keberadaan Arya sebelum matahari terbenam.” bentak Zavier.
__ADS_1
“ Iya tuan, maafkan aku.”
Zavier pergi dari ruangan itu, berdiam diri di dalam Hellikopter dengan perasaan gelisah.
“ Darvi, kau harus jaga diri baik-baik, jangan biarkan Arya melukaimu sedikit pun.” batin Zavier sambil memandang ke arah kaca Hellikopter.
Sebuah Villa kecil yang terletak di tengah hutan, Lisa berdiam diri dengan gelisah, berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya.
“ Semoga saja Darvi dan Laura tidak apa-apa.” batin Lisa.
Tak tak!
Suara langkah kaki terdengar sampai kamar, Lisa mengira kalau itu adalah Zavier, Lisa segera keluar menemuinya.
“ Zavier, di mana anak-anak? mereka baik-baik saja 'kan?.” berbicara tanpa melihat orangnya terlebih dulu.
“ Nyonya, aku adalah pelayan di sini. Apa nyonya lapar? perlu aku memasak untukmu?.” jawab pelayan wanita yang masih muda.
“ Tidak perlu, terima kasih.” Lisa kembali masuk ke kamar.
“ Ternyata ada orang di sini selain aku. Aku pikir aku sendirian.” batin Lisa menyandar di balik pintu.
“ Nyonya, ketika malam tiba, tutuplah jendela dan tirainya. Anda bisa memanggilku jika butuh sesuatu, aku ada di dapur setiap saat.” teriak pelayan dari luar kamar.
“Baiklah, kau boleh pergi.” sahut Lisa.
“ Kenapa Zavier belum pulang? buatku cemas saja. Bagaimana keadaan Darvi dan Laura sekarang?.” Lisa merasa lelah dan berbaring di ranjang dengan telentang.
Di rumah Alea.
“ Tuan, apa kau tidak berencana pulang? aku takut istrimu mencarimu ke mana-mana.” ucap Alea menatap Brian.
“ Alea, bisa tidak saat aku ada di sini jangan bahas masalah itu lagi. Aku sudah katakan padamu kalau dia bukan istriku, dia hanya.”
“ Istri kontrak?! tuan, tidak baik berpikir seperti itu. Pernikahan bukan untuk jadi lelucon, Anda harus bisa berpikir kalau pernikahan adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh di permainkan.” Alea tidak suka jika Brian menganggap pernikahan tidak 'lah penting.
Brian tertegun beberapa saat. “ Lalu kau mau aku bagaimana?.” dengan pasrah.
“ Anda tahu apa yang seharusnya Anda lakukan.” percaya.
“ Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukannya? dengan alasan dia bukan wanita yang aku cintai.” berbicara tanpa ekspresi.
Alea tidak bisa menjawab perkataan Brian, Alea tahu kalau cinta tidak bisa di paksakan.
“ Setidaknya, Anda sudah berusaha. Jika memang benar tidak bisa, itu terserah padamu.” ucap Alea.
BERSAMBUNG
__ADS_1